Peternakan sapi perah banyak terdapat di daerah


Bisnis.com, JAKARTA – Belum ada alternatif lain untuk memindahkan sentra produksi susu sapi dalam negeri dari Pulau Jawa. Pulau Jawa dinilai masih menjadi wilayah strategis untuk mengembangkan produksi susu sapi.

Ekonom Pertanian dari Institut Pertanian Bogor (IPB) Bayu Krisnamurthi mengatakan sampai saat ini belum ada kapasitas industri di luar Jawa dengan skala industri yang cukup daya saingnya. Menurutnya Jawa masih menjadi primadona dalam industri sapi perah karena memenuhi tiga prasyarat utama.

Pertama, daerah yangg tinggi diatas permukaan laut untuk pengembang biakan sapi perah. Kedua, memiliki kemudahan dan bisa mencapai industri dalam waktu singkat. Ketiga, peternak memiliki etos yang kompeten dan disiplin.

“Jawa punya 3 kombinasi yang menjadi prasyarat sapi perah. Dibutuhkan minimal 2 dari 3 prasyarat tersebut yang dipenuhi untuk bisa mengembangkan [peternakan] sapi perah,” katanya kepada Bisnis, Minggu (22/4).

Dia mengambil contoh di Malang Selatan terdapat pembudidayaan susu sapi perah, meskipun berada di dataran rendah lokasi tersebut memenuhi kedua syarat lainnya. Oleh sebab itu pembudidayaan tetap tumbuh.

Bayu mengakui, permasalahan defisit produksi susu sapi perah nasional sudah menjadi isu lama. Namun seharusnya terdapat kajian khusus untuk menanggulangi masalah ini karena produk susu bukanlah produk tunggal yang seragam.

“Secara total defisit memang sejak lama. Namun seharusnya bisa dilakukan pendalaman atas produk-produk berbahan baku susu. Dairy product is not uniform-single product,” tutupnya.

Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan,  jumlah peternakan sapi perah nasional berjumlah 34 perusahaan pada tahun 2020. Jumlah ini lebih sedikit dibandingkan jumlah tahun sebelumnya yang sebanyak 37 perusahaan.  Jawa Barat menempati posisi pertama sebagai provinsi terbesar jumlah perusahaan peternakan sapi perah yakni 11 perusahaan pada 2020.

Sebagian besar perusahaan peternakan sapi perah nasional berbentuk PT/CV/Firma sebesar 55,88%, lalu koperasi 29,41%, dan yayasan 14,71%. Jumlah pekerja selama tahun 2020 sebesar 1.327 orang atau meningkat 21,63% dibanding tahun 2019. Adapun 93,07% dari total pekerja merupakan laki-laki.

(Baca Selengkapnya: Dengan Sikomandan Tingkatkan Populasi Sapi dan Kerbau) 

Populasi sapi perah betina pada akhir 2020 berjumlah 26.749 ekor. Dari jumlah tersebut, selama satu tahun sapi betina produktif dapat menghasilkan susu segar sebanyak 221,87 juta liter atau 6,53 juta liter tiap perusahaan.

Pada 2018, peternakan sapi perah terbesar di Indonesia telah resmi dibuka di Kecamatan Wlingi, Kabupaten Blitar, Jawa Timur dengan luas mencapai 172 hektar. Peternakan tersebut dikelola oleh PT Greenfield Indonesia dan dapat menampung hingga 10.000 ekor sapi.

Peternakan sapi di Kecamatan Wlingi ini menjadi peternakan kedua yang dimiliki PT Greenfields Indonesia di Indonesia. Sebelumnya, produsen susu segar yang sudah populer ini sudah memiliki peternakan sapi perah di Desa Babadan, Kecamatan Ngajum, Malang. 

Solopos.com, BOYOLALI — Eksistensi Boyolali yang identik dengan sapi dan susu ditandai dengan adanya patung sapi yang banyak terpajang di berbagai lokasi, baik di kawasan kota maupun perdesaan di kabupaten setempat. Image itu dikuatkan dengan adanya monumen susu murni atau patung susu tumpah yang ada di pusat kota Boyolali serta landmark patung sapi Lembu Sora di kompleks terpadu Pemkab Boyolali.

Ya, Kota Susu adalah julukan dari Kabupaten Boyolali yang lokasinya di kaki sebelah timur Gunung Merapi dan Gunung Merbabu. Sebutan itu tersemat sejak lama karena Boyolali merupakan salah satu sentra terbesar penghasil susu sapi segar di Jawa Tengah. Tak ayal, populasi sapi di Boyolali juga lebih banyak jika dibandingkan dengan wilayah lain di sekitarnya.

PromosiTokopedia Hijau Ajak UMKM dan Masyarakat Usung Produk Ramah Lingkungan

Peternakan sapi perah di Boyolali umumnya berada di daerah selatan dan dataran tinggi yang berhawa dingin. Dukungan lain berupa pakan hijau yang melimpah serta sumber air bersih yang memadai membuat Boyolali sangat pas untuk dijadikan sentra peternakan sapi perah.

Melansir wikipedia, Cepogo ditetapkan menjadi lokasi agrowisata sapi perah. Di sana, Anda dapat melihat proses pemerasan susu sapi atau juga berpartisipasi memerah susu sapi dengan tuntunan peternak. Jika ingin lebih ke atas ke dekat puncak Merapi dan Merbabu, di kawasan Kecamatan Selo terdapat Desa Wisata Samiran yang juga menjadi basis agrowisata sapi perah di Boyolali.

Mengutip jurnal yang ditulis Riski Lunika Parmawati, Iwan Ady Prabowo, serta Teguh Susyanto dari Program Studi Teknik Informatika, STMIK Sinar Nusantara, Solo, setidaknya terdapat delapan kecamatan di Boyolali penghasil susu yakni Kecamatan Ampel, Boyolali, Cepogo, Mojosongo, Musuk, Selo, Simo, dan Teras. Sebagian besar susu sapi perah di Boyolali digunakan sebagai bahan baku pembuatan keju, yoghurt, dodol susu dan didistribusikan di industri pengolahan susu.

Baca juga: Keistimewaan Boyolali, Aneka Kuliner Lezat hingga Ikon Monumen Dunia

Produk turunan tersebut bertujuan agar susu sapi sepenuhnya bisa dipakai secara maksimal tanpa ada yang dibuang karena kelebihan kuota. Hal itu tentunya akan
meningkatkan pendapatan para peternak karena hasil turunan olahan susunya bisa dimanfaatkan dan bernilai ekonomis.

Susu Banyak Dibutuhkan Masyarakat

Prospek Boyolali sebagai daerah penghasil susu murni dinilai akan terus lestari, Hal itu karena susu adalah salah satu bahan pangan penting yang banyak dibutuhkan oleh masyarakat untuk mencukupi kebutuhan gizi. Susu murni dari sapi perah sangat dikenal oleh banyak orang karena bisa dikonsumsi oleh segala umur, Sehingga susu murni terus mengalami peningkatan permintaan setiap tahunnya.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang dikutip Senin (23/5/2022), mengungkap pada 2020 populasi sapi perah di Boyolali 94.143 ekor, yang merupakan terbanyak di kawasan Soloraya. Puluhan ribu sapi itu pada tahun yang sama menghasilkan 51.388,02 kiloliter susu segar, di mana angka tersebut juga terbanyak di Soloraya. Dua tahun sebelumnya yakni pada 2018 populasi sapi perah di Boyolali sebanyak 92.856 ekor dan tahun 2019 ada 94.088 ekor.

Baca juga: Berburu Spot Sunrise Dekat Merapi dari Tikungan Irung Petruk Boyolali

Selain produsen susu segar, Boyolali juga dikenal sebagai pusat daging sapi lokal, dengan Kecamatan Ampel sebagai tempat pemotongan hewan serta pusat produsen berbagai macam abon sapi. Populasi sapi potong di Kabupaten Boyolali mengutip data BPS pada 2018 sebanyak 99.311 ekor, tahun 2019 dan 106.599 ekor, dan pada 2020 sejumlah 106.765 ekor.

Karena keunikannya sebagian salah satu daerah penghasil susu segar dan daging sapi, Boyolali juga disebut nieuw Zeeland van Java Belanda atau Selandia Baru di Pulua Jawa. Hal itu dikarenakan Boyolali dinilai mirip dengan Negara Selandia Baru yang terkenal sebagai negara produsen susu dan daging sapi.

Dimana peternakan sapi terbesar di Indonesia?

Jawa Timur
Di urutan pertama, provinsi dengan jumlah populasi sapi terbanyak adalah Jawa Timur (Jatim). Pada tahun 2019, populasi sapi di wilayah ini tercatat mencapai 4.705.067 ekor. Angkanya kemudian naik menjadi 4.823.970 ekor pada tahun 2020.

Di manakah peternakan sapi banyak diusahakan?

Daerah penghasil ternak sapi adalah Sumatera (Aceh), Jawa, Madura, Bali, Nusa Tenggara Barat (Lombok dan Sumbawa).

Apakah di Maluku terdapat ternak sapi perah?

Adapun Pulau Maluku dan Papua tidak terdapat perusahaan ternak sapi perah.

Apakah di Indonesia ada sapi perah?

Ada 2 jenis sapi perah yang dipelihara di Indonesia yaitu sapi Friesien Holstein (FH) dan Sapi Jersey. Sapi peranakan Friesian Holstein (PFH) dikenal dengan ciri warna bulu belang hitam dan putih, mempunyai ukuran tubuh besar dan beratnya hampir sama dengan sapi FH. Produksi susu sekitar 15-20 liter per hari.



Selengkapnya Disini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *