Hukum orang tua yang mempersulit PERNIKAHAN anaknya


Kepada Ustadz, semoga Allah merahmati Ustadz dan kita semua. Saya ingin menanyakan beberapa hal kepada Ustadz.
1.    Bagaimana apabila orang tua tidak mau menikahkan anak laki-lakinya dengan alasan belum punya pekerjaan atau tidak punya ketrampilan sehingga menyebabkan anaknya itu mengalami gangguan saraf karena tidak menikah?
–    Salahkah perbuatan orang tua itu?
–    Apa yang harus diperbuat si anak?
2.    Bagaimana hukum orang tua yang mengatakan kepada anaknya “Lebih baik saya mati daripada punya anak senakal kau.” Anak itu berusia enam atau tujuh tahun.
Demikian pertanyaan saya. Atas jawaban Ustadz, saya ucapkan Jazakumullah khairan katsira.
(UF di Makassar)

Dijawab oleh
Al-Ustadz Abu Ishaq Muslim:
1.    Sesungguhnya Allah I menyatakan:
“Sesungguhnya Allah memerintahkan untuk berbuat adil dan ihsan.” (An-Nahl: 90)
“Berbuat baiklah kalian, sesungguhnya Allah menyukai orang-orang yang berbuat kebaikan.” (Al-Baqarah: 195)
Dari kedua ayat ini kita diperintah untuk berbuat baik dan berbuat adil karena dengan melakukan kedua perbuatan ini kita dicintai Allah I.
Sebagai orang tua hendaknya dia membantu anaknya dalam segala kebaikan, termasuk membantu pernikahannya, karena ini termasuk perkara kebaikan dan keadilan tersebut.
Terlebih lagi bila anak itu telah sampai pada saat yang wajib untuk menikah, agar tidak terjadi fitnah di muka bumi ini. Adapun mengenai persyaratan orang tua yang mengharuskan kerja atau mengatakan anak tidak punya ketrampilan, dalam hal ini anak sendirilah yang lebih mengerti akan dirinya. Kalau yang dimaksud pekerjaan adalah pegawai negeri, maka orang yang menikah itu tidak harus pegawai negeri. Orang bisa menikah walaupun bukan pegawai negeri atau tidak memiliki pekerjaan tetap namun bisa berwiraswasta.
Menganggap anak tidak punya ketrampilan, maka hal itu adalah suatu kekeliruan. Banyak orang yang dianggap tidak punya ketrampilan ternyata menjadi orang besar, karena ketrampilan itu sendiri banyak dan tidak terbatas. Tidak hanya sebatas menguasai teknik mesin, teknik bangunan atau yang semacamnya.
Sedangkan yang harus diperbuat oleh anak tersebut, yang pertama ia harus menunjukkan bahwa ia mampu menghidupi keluarga setelah menikah dan mampu bekerja, melakukan pekerjaan apa saja yang halal sehingga nantinya ia bisa memberi makan anak istrinya. Namun kalau toh setelah diusahakan orang tua tetap melarangnya, maka anak itu bisa melangkah untuk menikah walaupun orang tua tidak memperkenankannya, bila kewajiban telah melekat pada dirinya. Maka ia berhak untuk menikah.
Di dalam syariat Islam, anak laki-laki bisa menikah walaupun tanpa izin orang tuanya, tidak seperti anak perempuan, karena anak perempuan harus ada izin walinya (orang tuanya).

“Wanita mana pun yang menikah tanpa izin walinya, maka nikahnya batil, batil, batil.” (Shahih, HR. Al-Imam Abu Dawud, At-Tirmidzi, Ibnu Majah. Dikatakan Asy-Syaikh Muqbil dalam Ash-Shahihul Musnad, 2/493: Ini hadits shahih)
Sementara anak laki-laki tidak mensyaratkan adanya wali dalam pernikahan. Namun sebagai anak yang shalih tentunya dia harus memberitahukan kepada kedua orang tuanya apa yang hendak dilakukannya tersebut. Wallahu ta’ala a’lam bish-shawab.
2. Untuk jawaban pertanyaan berikutnya, sebaiknya orang tua memiliki pandangan bijaksana terhadap anaknya. Ini bila ditinjau dari beberapa sisi:
Pertama, anak ini masih kecil, belum bisa membedakan mana yang benar dan yang salah.
Kedua, kalaupun berbuat salah, maka dosanya belum tercatat di sisi Allah I dengan dalil hadits yang sanadnya shahih:

“Diangkat pena dari tiga golongan (di antaranya) dari anak kecil hingga dia mencapai usia baligh.” (Diriwayatkan Ashabus Sunan, Al-Imam Al-Hakim dan Al-Imam Ahmad, dan sanad hadits ini dishahihkan oleh Asy-Syaikh Ahmad Syakir dalam tahqiq beliau terhadap kitab Musnad Al-Imam Ahmad no. 940 dan 1183)
Ketiga, anak pada usia tersebut tumbuh untuk berkembang dan beraktivitas. Apabila dilontarkan perkataan semacam itu, dikhawatirkan akan mengakibatkan anak takut untuk berbuat sehingga cenderung menjadi orang yang penakut dan minder.
Para ulama mengatakan bahwa usia ini adalah usia yang dapat menerima masukan apa pun, baik dari bapaknya, ibunya atau yang lainnya. Perkataan semacam ini bila sering didengar anak akan masuk dan mempengaruhi jiwanya.
Keempat, dilihat dari sisi syariat perkataan ini tidak syar’i karena kita dilarang untuk minta mati seperti datang dalam hadits yang diriwayatkan Al-Imam Al-Bukhari dan Al-Imam Muslim:
“Janganlah kalian mengharapkan kematian karena suatu musibah yang menimpa. Apabila kalian mesti berharap, hendaklah mengatakan “Ya Allah, hidupkanlah aku selama kehidupan itu baik bagiku dan matikanlah aku bila kematian itu baik bagiku.”
Wallahu a’lamu bish-shawab.

Allah Ta’ala menciptakan sesuatu di dunia ini berpasang-pasangan. Ada malam dan siang, ada matahari dan bumi. Hewan saling berkawin. Begitun dengan manusia, antara laki-laki dan perempuan pastilah ada perasaan cinta dan ingin menikah. Ya, hal itu wajar. Mencintai adalah fitrah manusia. Tidak ada manusia yang sanggup hidup sendirian di dunia ini. Setiap orang pasti berharap bisa membangun rumah tangga yang bahagia, bersama pasangan yang baik dan memiliki buah hati nan lucu.

Tapi menikah bukanlah perkara yang mudah. Untuk bisa menikah, seseorang harus meminta izin kepada kedua orang tuanya. Dan inilah yang sering menjadi problematika. Dimana orang tua tidak menginzinkan anaknya menikah dengan alasan-alasan tertentu. Nah, kira-kira bagaimana islam memandang masalah ini? Berikut ini penjelasan lengkap tentang hukum orang tua melarang anaknya menikah.

Pandangan Islam untuk Orang Tua Melarang Anaknya Menikah

Hukum orang tua yang melarang anaknya menikah bisa jadi diperbolehkan, namun juga bisa haram. Hal itu bergantung pada alasannya.

  1. Diperbolehkan

Orang tua memang mempunyai hak untuk menolak atau menerima calon menantunya. Namun demikian, penolakan harus didasari oleh alasan-alasan yang jelas dan syar’i. Misalnya saja:

  • Tidak seagama (non muslim).
  • Ada hubungan mahram.
  • Akhlaknya buruk (pemabuk, penjudi, pencuri, pembunuh).
  • Anak belum cukup umur.
  • Anak masih sekolah.

Dengan alasan-alasan diatas orang tua boleh saja melarang anaknya menikah. Namun sebagai gantinya, jika anak perempuan maka harus dicarikan jodoh lain yang lebih baik. Dan jika laki-laki diberikan kesempatan untuk bertaaruf dengan perempuan lain.

  1. Haram

Apabila si anak telah mencapai usia yang matang (dewasa), sudah mampu secara mental, maka orang tua wajib menikahkan anaknya. Terlebih lagi jika si anak telah memiliki calon maka tidak boleh orang tua melarang hanya karena alasan duniawi. Misalnya saja:

  • Faktor harta kekayaan.
  • Pekerjaan yang dianggap kurang mapan.
  • Gelar dan jabatan.
  • Paras wajah dan bentuk fisik.
  • Dan sebagainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya untuk mengutamakan ketaatan bergama dan akhlak dalam memilih calon pasangan. Sebagai sabda beliu:

“Bila datang seorang laki-laki yang kamu ridhoi agama dan akhlaknya, hendaklah kamu nikahkan dia, karena kalau engkau tidak mau menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

A. Pendapat Ulama yang mengharamkan orang tua yang melarang anaknya menikah, sementara anaknya sudah siap

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tatkala ditanya : ” Bagaimana hukum orang tua yang menghalangi putrinya yang sudah kuat (keinginannya) untuk menikah tetapi mereka masih menyuruh putrinya melanjutkan kuliah?” Maka beliau menjawab: ” Tidak diragukan lagi bahwa orang tuamu yang melarangmu (menikah padahal kamu) sudah siap menikah hukumnya adalah haram. Sebab, menikah itu lebih utama dari pada menuntut ilmu, dan juga karena menikah itu tidak menghalangi untuk menuntut ilmu, bahkan bisa ditempuh keduanya. Jika kondisimu demikian wahai Ukhti! Engkau bisa mengadu ke pengadilan agama dan menyampaikan perkara tersebut, lalu tunggulah keputusannya.” (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin)

  • Firman Allah Ta’ala yang menjelaskan tidak boleh menghalang-halangi perempuan menikah

Dalam surat Al-Baqarah juga dijelaskan bahwa wali tidak boleh menghalang-halangi perempuan janda untuk menikah lagi.

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 232)

Dalil-Dalil yang Menjelaskan Perintah Menikah

Ulama mengatakan bahwa belum lengkap agama seseorang jika tidak menikah. Ya, menikah dianggap sebagao penyempurna separuh agama. Menikah adalah sesuatu yang sakral. Dengan menikah, maka hati bisa menjadi lebih tentram. Selain itu, menikah juga menghindarkan diri dari fitnah dunia.

Ketika seseorang sudah memasuki usia baligh biasanya syahwatnya akan semakin menggepu. Ada perasaan mencintai dan ingin dicintai. Daripada harus melampiaskan hal itu dalam kubangan dosa seperti berpacaran, alangkah mulianya jika menikah menjadi pilihan utama. Namun jika memang belum mampu, maka lebih baik berpuasa untuk menahan pandangan dari hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala.

Anjuran untuk menikah tertuang pada ayat-ayat Al-Quran dan Al-Hadist, diantaranya:

a. Ayat Al-Quran:

  1. AR-Rum ayat 21

“Dan diantara tanda-tanda kekuasaanNya ialah Dia menciptakan untukmu isteri-isteri dari jenismu sendiri, supaya kamu cenderung dan merasa tenteram kepadanya, dan dijadikanNya diantaramu rasa kasih dan sayang. Sesungguhnya pada yang demikian itu benar-benar terdapat tanda-tanda bagi kaum yang berpikir.” (Qs. Ar. Ruum (30) : 21).

  1. Yaa Siin ayat 36

¨Maha Suci Allah yang telah menciptakan pasangan-pasangan semuanya, baik dari apa yang ditumbuhkan oleh bumi dan dari diri mereka maupun dari apa yang tidak mereka ketahui.” (Qs. Yaa Siin (36) : 36).

  1. An-Nahl ayat 72

“Bagi kalian Allah menciptakan pasangan-pasangan (istri-istri) dari jenis kalian sendiri, kemudian dari istri-istri kalian itu Dia ciptakan bagi kalian anak cucu keturunan, dan kepada kalian Dia berikan rezeki yang baik-baik.” (Qs. An Nahl (16) : 72).

  1. An Nisaa’ ayat 1

“Wahai manusia, bertaqwalah kamu sekalian kepada Tuhanmu yang telah menjadikan kamu satu diri, lalu Ia jadikan daripadanya jodohnya, kemudian Dia kembangbiakkan menjadi laki-laki dan perempuan yang banyak sekali.” (Qs. An Nisaa: 1).

  1. An Nuur ayat 26

“Wanita yang baik adalah untuk lelaki yang baik. Lelaki yang baik untuk wanita yang baik pula (begitu pula sebaliknya). Bagi mereka ampunan dan reski yang melimpah (yaitu : Surga).” (Qs. An Nuur:26).

  1. An Nisaa’ ayat 3

“..Maka nikahilah wanita-wanita (lain) yang kamu senangi dua, tiga, atau empat. Kemudian jika kamu takut tidak akan dapat berlaku adil, maka (nikahilah) seorang saja..”(Qs. An Nisaa’: 3).

b. Al-Hadist

  1. Hadist riwayat Al-Baihaqi

Anas bin Malik, Nabi shallallahu ‘alaihi wa sallam bersabda: “Ketika seorang hamba menikah, berarti dia telah menyempurnakan setengah agamanya. Maka bertaqwalah kepada Allah pada setengah sisanya.” (HR. Al Baihaqi dalam Syu’abul Iman)

  1. Hadist riwayat Muslim

“ Wahai para pemuda, apabila kalian telah mampu menikah maka menikahlah. Dan barangsiapa yang belum mampu maka hendaklah berpuasa, karena sesungguhnya puasa itu benteng baginya” (H.R Muslim).

Hak Seorang Perempuan Untuk Menentukan Calon Pasangannya

Orang tua memang memiliki kewajiban mencarikan calon suami untuk anak perempuannya. Tapi hal ini juga harus dimusyawarahkan dengan si anak. Tidak boleh orang tua mengambil keputusan sendiri tanpa meminta pendapat anak gadisnya. Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengatakan bahwa anak perempuan memiliki hak penuh untuk menentukan calon suaminya. Jika si anak tidak setuju, maka orang tua juga tidak boleh memaksakan.

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda:

“Gadis tidak boleh dinikahkan hingga dimintai izin, dan janda tidak boleh dinikahkan hingga dimintai persetujuannya.” Ada yang bertanya; ‘ya Rasulullah, bagaimana tanda izinnya? ‘ Nabi menjawab: “ tandanya diam.” (HR. Bukhari)

Dalam riwayat Aisyah radhiallahu ‘anha berkata: “Saya bertanya kepada Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam mengenai seorang gadis yang dinikahkan oleh keluarganya, apakah harus meminta izin darinya atau tidak? Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam bersabda kepadanya: Ya, dia dimintai izin. Aisyah berkata: Lalu saya berkata kepada beliau bahwa sesungguhnya dia malu (mengemukakannya). Maka Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda: Jika dia diam, maka itulah izinnya.” (HR. Muslim)

Dari Ibnu Abbas, “bahwasannya anak perempuan Khidzam menemui Rasul shallallahu ‘alaihi wasallam dan menceritakan bahwa ayahnya telah menikahkan dirinya, padahal ia tidak menyukainya. Maka Nabi shallallahu‘alaihi wasallam memberinya hak untuk memilih. (HR. Ahmad)

Dari Khansa’ binti Khidzam Al Anshariyah, “bahwa ayahnya mengawinkannya (ketika itu ia janda) dengan laki-laki yang tidak disukainya, kemudian dia menemui Nabi shallallahu ‘alaihi wasallam dan beliau membatalkan pernikahannya. “ (HR. Bukhari)

Kriteria Memilih Calon Pasangan Hidup

Terdapat beberapa kriteria dalam memilih calon pasangan hidup berdasarkan islam, diantaranya yaitu:

  1. Harta-Nasab-Kecantikan-Agama (Utamakan Agamanya)

Rasulullah shallallahu‘alaihi wasallam bersabda: “Perempuan dinikahi karena empat faktor. Karena hartanya, nasabnya, kecantikannya dan karena agamanya. Maka menangkanlah wanita yang mempunyai agama, engkau akan beruntung.” (HR Bukhari, Muslim, al-Nasa’i, Abu Dawud Ibn Majah)

  1. Akhlak

“Bila datang seorang laki-laki yang kamu ridhoi agama dan akhlaknya, hendaklah kamu nikahkan dia, karena kalau engkau tidak mau menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

  1. Bukan orang musyrik

“..Janganlah kamu menikahkan orang-orang musyrik (dengan wanita-wanita mu’min) sebelum mereka beriman. Sesungguhnya budak yang mu’min lebih baik daripada orang musyrik walaupun dia menarik hatimu. Mereka mengajak ke neraka, sedang Allah mengajak ke surga dan ampunan dengan izin-Nya..” (Q.S. Al-Baqarah: 221).

Demikianlah penjelasan mengenai hukum orang tua melarang anaknya menikah. Pada intinya, jika si anak telah siap menikah (siap lahir dan batin) dan telah ada calon pasangan yang baik (dari segi agama dan akhlak) maka orang tua tidak boleh melarang anaknya menikah hanya karena alasan duniawi. Allahu A’lam bishawab.

Bolehkah Orang Tua Larang Anaknya untuk Menikah?

TANYA: “Saya sudah niat lurus untuk menikah. Calonnya sudah ada. Tapi, orang tua melarang. Apa yang sebaiknya saya lakukan?”

JAWAB: Pertama kali, kita bersedih melihat fenomena akhir zaman ini. Ada begitu banyak sebab yang membuat pernikahan terhambat. Jika alasannya syar’i, tentu hal ini tidak menjadi masalah. Pasalnya, kebanyakan kalangan yang mempersulit pernikahan sering kali menggunakan dalih yang tak logis. Cenderung mengada-ada.

Maka, coba bertanya jujur dari hati ke hati kepada orang tua, “Apa yang menjadi alasan pelarangannya?”

Jika mereka melarang karena mengetahui hal buruk dalam diri pasangan calon, apalagi keburukan tersebut berlangsung dalam masa yang lama; sebaiknya tunda dulu. Sampaikan temuan orang tua kepada wali si calon. Benarkah? Selalu demikian? Atau hanya tindakan insidentil?

Hindari bertanya kepada calon secara langsung. Selain memungkinkan dimanipulasi, hal ini bisa mengundang setan untuk mengacaukan niat tulus kita dalam menyempurnakan separuh agama.

Kedua, pahamkan orang tua tentang pernikahan dari segi Islam. Sampaikan dengan santun. Hindari dan tinggalkan kesan menggurui. Bicarakan dengan hikmah dari hati ke hati. Bahwa menikah merupakan ibadah unggulan, sunnah Nabi yang mulia, dan bisa mencegah manusia dari berbuat zina. Sebab, ketertarikan kepada lawan jenis merupakan salah satu fitrah penciptaan manusia.

Sampaikan bahwa dirimu sudah siap. Sampaikan bahwa engkau meminta doa dan restu agar rumah tangga yang kelak dijalani membawa keberkahan untuk semua keluarga.

Bagi orang tua, sadari satu hal; menikah tidak bisa diwakilkan. Pahamilah anakmu dengan baik. Jangan cegah ia dari niat baiknya. Jadilah orang tua baik hati dengan menjadi pendukung pertamanya. Siapkan kebutuhannya sesuai dengan kemampuanmu. Ingatkan agar dirinya senantiasa mendekatkan diri kepada Allah Ta’ala, agar keberkahan senantiasa diperoleh.

Ingatlah, kebutuhan akan nikah itu asasi. Tidak bisa diwakili. Ianya harus dijalani oleh siapa yang membutuhkannya. Jika cara yang baik dihalangi, maka anak-anak Anda berpeluang amat besar untuk melampiaskannya kepada hal-hal yang dilarang Islam dan norma yang berlaku di masyarakat. Wallahu a’lam. []

Dilarang Menikah Oleh Orang Tua

Hukum orang tua yang melarang anaknya menikah bisa jadi diperbolehkan, namun juga bisa haram. Hal itu bergantung pada alasannya.

Diperbolehkan

Orang tua memang mempunyai hak untuk menolak atau menerima calon menantunya. Namun demikian, penolakan harus didasari oleh alasan-alasan yang jelas dan syar’i. Misalnya saja:

Tidak seagama (non muslim).

Ada hubungan mahram.

Akhlaknya buruk (pemabuk, penjudi, pencuri, pembunuh).

Apabila laki-laki, jika ia belum mempunyai pekerjaan sama sekali (pegangguran) maka boleh ditolak. Sebab dikhawatirkan tidak sanggup menafkahi. Namun jika si lelaki telah memiliki pekerjaan walaupun hanya serabutan maka hal itu tidak boleh dijadikan asalan penolakan.

Anak belum cukup umur.

Anak masih sekolah.

Dengan alasan-alasan diatas orang tua boleh saja melarang anaknya menikah. Namun sebagai gantinya, jika anak perempuan maka harus dicarikan jodoh lain yang lebih baik. Dan jika laki-laki diberikan kesempatan untuk bertaaruf dengan perempuan lain.

Haram

Apabila si anak telah mencapai usia yang matang (dewasa), sudah mampu secara finansial dan mental, maka orang tua wajib menikahkan anaknya. Terlebih lagi jika si anak telah memiliki calon maka tidak boleh orang tua melarang hanya karena alasan duniawi. Misalnya saja:

Faktor harta kekayaan.

Pekerjaan yang dianggap kurang mapan.

Gelar dan jabatan.

Paras wajah dan bentuk fisik.

Dan sebagainya.

Rasulullah shallallahu ‘alaihi wa sallam mengajarkan kepada umatnya untuk mengutamakan ketaatan bergama dan akhlak dalam memilih calon pasangan. Sebagai sabda beliu:

“Bila datang seorang laki-laki yang kamu ridhoi agama dan akhlaknya, hendaklah kamu nikahkan dia, karena kalau engkau tidak mau menikahkannya, niscaya akan terjadi fitnah di muka bumi dan kerusakan yang meluas.” (H.R. Tirmidzi dan Ahmad).

Pendapat Ulama yang mengharamkan orang tua yang melarang anaknya menikah, sementara anaknya sudah siap

Syaikh Ibnu Utsaimin rahimahullah tatkala ditanya : ” Bagaimana hukum orang tua yang menghalangi putrinya yang sudah kuat (keinginannya) untuk menikah tetapi mereka masih menyuruh putrinya melanjutkan kuliah?” Maka beliau menjawab: ” Tidak diragukan lagi bahwa orang tuamu yang melarangmu (menikah padahal kamu) sudah siap menikah hukumnya adalah haram. Sebab, menikah itu lebih utama dari pada menuntut ilmu, dan juga karena menikah itu tidak menghalangi untuk menuntut ilmu, bahkan bisa ditempuh keduanya. Jika kondisimu demikian wahai Ukhti! Engkau bisa mengadu ke pengadilan agama dan menyampaikan perkara tersebut, lalu tunggulah keputusannya.” (Fatwa Syaikh Ibnu Utsaimin)

Firman Allah Ta’ala yang menjelaskan tidak boleh menghalang-halangi perempuan menikah

Dalam surat Al-Baqarah juga dijelaskan bahwa wali tidak boleh menghalang-halangi perempuan janda untuk menikah lagi.

“Apabila kamu mentalak isteri-isterimu, lalu habis masa iddahnya, maka janganlah kamu (para wali) menghalangi mereka kawin lagi dengan bakal suaminya, apabila telah terdapat kerelaan di antara mereka dengan cara yang baik. Itulah yang dinasehatkan kepada orang-orang yang beriman di antara kamu kepada Allah dan hari kemudian. Itu lebih baik bagimu dan lebih suci. Allah mengetahui, sedang kamu tidak mengetahui.” (QS. Al-Baqarah: 232)

Dalil-Dalil yang Menjelaskan Perintah Menikah

Ulama mengatakan bahwa belum lengkap agama seseorang jika tidak menikah. Ya, menikah dianggap sebagao penyempurna separuh agama. Menikah adalah sesuatu yang sakral. Dengan menikah, maka hati bisa menjadi lebih tentram. Selain itu, menikah juga menghindarkan diri dari fitnah dunia.

Ketika seseorang sudah memasuki usia baligh biasanya syahwatnya akan semakin menggepu. Ada perasaan mencintai dan ingin dicintai. Daripada harus melampiaskan hal itu dalam kubangan dosa seperti berpacaran, alangkah mulianya jika menikah menjadi pilihan utama. Namun jika memang belum mampu, maka lebih baik berpuasa untuk menahan pandangan dari hal-hal yang diharamkan Allah Ta’ala.

Orangtua Menghalangi Nikah Anaknya=BENCANA (PEREMPUAN MAUPUN LAKI-LAKI?)

Jika datang kepada kalian seorang pelamar putri kalian yang kalian ridhoi akhlaknya dan agamanya maka nikahkanlah, jika kalian tidak melakukannya maka akan terjadi fitnah (bencana) di muka bumi dan kerusakan yang luas.” (Sabda Nabi Muhammad s.a.w. dalam Jami at-Tirmidzi, Sunan Ibn Majah)

Dalam Faidh al-Qadir, Imam Al-Munawi berkata fitnah ini antara lain nikah makin susah (banyak laki tanpa istri dan sebaliknya), lalu merebak zina dan lain-lain. Menurutnya, ini adalah ketika wali si putri lebih condong melihat harta dan kedudukan dan bukannya akhlaq dan agama.

Memang betul: nikah makin dipersulit = zina akan makin mudah. Ini betul dalam tatanan individu maupun masyarakat luas.

Tapi perenungan lebih dari hadits ini menghasilkan sesuatu yang ekstra. Jangan-jangan kenapa yang disebut hanyalah putri saja (bukan putra) adalah karena seorang wali bisa secara hukum menghalangi nikah seorang perempuan. Kalau laki-laki, orangtua tidak bisa menghalangi secara hukum. Jika demikian, mungkin kita bisa bertadabbur lebih.

Kalau hikmah di balik hadits tersebut adalah dihalanginya nikah akan berakibat fitnah dan bencana. Maka, jika ada sebuah keadaan di mana si laki-laki dapat dihalangi nikahnya (dengan cara-cara non-hukum) padahal calonnya adalah yang bagus akhlaq dan agamanya, tentu fitnah dan bencana sebagaimana disebutkan di hadits tadi akan terjadi juga.

wallaahu’alam

Orang Tua Melarang Anak Menikah Dengan Alasan yang Tidak Syar’i, Bagaimana Sikap Kita?

Para pembaca Bimbinganislam.com yang mencintai Allah ta’ala berikut kami sajikan tanya jawab, serta pembahasan tentang orang tua melarang anak menikah dengan alasan yang tidak syar’i, bagaimana sikap kita?
selamat membaca.

Pertanyaan :

بسم اللّه الرحمن الر حيم

السلام عليكم ورحمة الله وبركاته

Semoga Allah senantiasa memberikan nikmat dan rahmat-Nya kepada Ustadz dan keluarga. Aamiin
‘Afwan Ustadz izin bertanya.

Bagaimana hukumnya kita sebagai anak, disaat kita sudah ingin dan sudah siap untuk menikah bahkan sudah mencapai ba’ah, tapi orangtua melarang karena menyuruh bekerja terlebih dahulu, dan dilarang melangkahi kakaknya ?
Beliau berusia 18 tahun, ba’ah itu seperti keinginan cenderung untuk bersama lawan jenis.

Baca Juga:  Zakat Dengan Uang Haram, Bagaimana Hukumnya?

Jazaakallahu khairan wa barakallahu fiik.


Jawaban :

وَعَلَيْكُمُ السَّلاَمُ وَرَحْمَةُ اللّهِ وَبَرَكَاتُهُ

بِسْـمِ اللّهِ

Alhamdulillah, wa laa haula wa laa quwwata illaa billaah, wash shalaatu was salaamu ‘alaa rasulillaah, Amma ba’du.

Semoga Allah memudahkan urusan penanya dan urusan seluruh kaum muslimin.

Pertama, kami ingin meluruskan makna lafazh ba’ah (الباءة), para ulama menjelaskan makna ba’ah adalah kesanggupan untuk mencari biaya pernikahan dan kehidupan berumah tangga, sebagian mereka mengatakan maknanya adalah sanggup untuk berjima’.
Maka makna sabda Rasulullah shallallahu ‘alaihi wasallam :

يَا مَعْشَرَ الشَّبَابِ مَنْ اسْتَطَاعَ منكُم الْبَاءَةَ فَلْيَتَزَوَّجْ

Adalah : wahai para pemuda, siapa diantara kalian yang sudah memiliki ba’ah -sanggup berjima’ dan memikul biaya rumah tangga- , hendaklah dia menikah
(HR. Bukhari : 5066).

Kedua, memang yang menjadi dilema seorang anak -terlebih perempuan- adalah ketika orang tua melarang anaknya untuk segera menikah, dengan alasan yang sangat tidak syar’i, seperti karir, belajar dan lainnya, padahal si anak telah sangat ingin menikah.

Maka, kami katakan tidak boleh orang tua melarang seorang anak untuk menikah. Bahkan orang tua hendaknya mencarikan pasangan untuknya, karena itu akan membuat harga diri anak terjaga. Dan lebih menyelamatkan agamanya apabila suaminya adalah seorang yang sholih.

Maka, saya nasihatkan kepada penanya untuk bersabar dan selalu mengangkat tangan berdoa kepada Allah terutama di waktu mustajab, agar Allah melembutkan hati orang tua. Dan ajaklah orang tua untuk mengikuti kajian – kajian Islami yang sesuai sunnah, sehingga orang tua bisa memahami agama yang sebenarnya.

Apa hukumnya jika orang tua melarang anaknya menikah?

Jika orang tua tersebut melarang anaknya untuk menikah, maka orang tua dapat terjerumus kepada perbuatan dosa dan haram hukumnya. Demi terhindarnya dari kemudharatan yang disebabkan anak telah memiliki hasrat kuat untuk menikah, terlebih lagi telah memiliki calon suami atau istri.

Apakah orang tua wajib menikahkan anaknya?

Kewajiban orang tua terhadap anak yang terakhir namun tidak kalah penting yaitu menikahkan anak. Dalam hal ini, orang tua wajib mengantarkan anak hingga memperoleh kehidupan keluarganya.

Apakah orang tua berhak menentukan jodoh anaknya?

Dalam Islam, ia menjelaskan, ada keseimbangan peran antara orang tua dan anak. Seorang anak dalam Islam berhak menentukan pilihannya sendiri, namun orangtua juga harus diberi informasi tentang calon pasangannya. Orangtua harus memenuhi pilihan anaknya apabila memenuhi syarat yaitu agamanya baik.

Laki laki menikah tanpa restu orang tua dalam Islam?

Perihal hukum lakilaki menikah tanpa izin orang tua, jika kedua orang tua lakilaki tidak memberikan restu atau izin, maka tidak akan mempengaruhi sahnya pernikahan.



Selengkapnya Disini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *