Cara mengganti nama facebook yang ditolak


JAKARTA – Kisah para relawan Piala Dunia 2022 dari Indonesia yang berbagi pengalaman mereka di Qatar.

Dikutip dari BBC, mereka mengaku kalau perjalanan ke Qatar tersebut bukan semata-mata bisa bertemu bintang sepak bola secara langsung, tapi juga mencari pengalaman baru dan pertemanan.

Adapun FIFA merekrut 20.000 relawan Piala Dunia dari seluruh dunia dan hanya belasan orang yang terpilih dari Indonesia.

 BACA JUGA:FIFA Resmi Rilis Al Hilm, Bola Pengganti Al Rihla untuk Semifinal dan Final Piala Dunia 2022

Di mana para ini memiliki 30 tugas yang berbeda di delapan stadion yang digunakan untuk Piala Dunia.

Seorang relawan bernama Rusmayani (35), pun membagikan pengalamannya berangkat ke Qatar.

“Kopernya kecil saja, enggak apa-apa. Yang penting bajunya cukup buat sebulan. Baju dan makanan utamanya,” kata Maya sapaan Rusmayani saat ditemui BBC News Indonesia.

Dia adalah satu dari belasan orang Indonesia yang terpilih menjadi relawan Piala Dunia 2022.

Maya mendapat surat elektronik dari FIFA pada pertengahan Agustus, sebagai kloter pertama dari seluruh dunia yang akan berangkat ke Qatar.

“Excited (senang) banget, tadinya berpikir enggak terpilih,” kata Maya.

Diketahui, Maya di sana mendapat tugas di bagian layanan informasi suporter di Stadion Lusail lokasi pembukaan sekaligus final Piala Dunia 2022.

Tugas Maya adalah memberi informasi yang dibutuhkan penonton, mengatur alur keluar masuk penonton atau menerima keluhan untuk ditindaklanjuti bagian lainnya.

Dia juga ternyata pernah belasan kali menjadi marshal MotoGP petugas yang membantu di lintasan balapan untuk kebersihan termasuk ketika terjadi insiden dalam balapan.

“Sebagai marshal di MotoGP COTA (Circuit of the Americas), sirkuit di Philip Island Australia sama sirkuit Assen di Belanda,” jelasnya.

Maya pun pertama kali terlibat sebagai relawan Piala Dunia.

Baca Juga: Kids Life’s Adventure Park Suguhkan Edukasi Literasi Digital lewat Keseruan Tanpa Batas

Follow Berita Okezone di Google News

Sebelumnya, dia sempat diterima menjadi relawan Piala Dunia 2018 di Rusia, tapi saat itu kantor tempatnya bekerja tidak mengizinkan.

“Ya mau tidak mau kita withdraw (mundur) pada saat diterima. Ini bisa dibilang pembalasan dendam, Rusia tidak diambil. Qatar kita ambil,” katanya sambil menambahkan bahwa kantornya yang baru kali ini mengizinkan pergi dan tetap bisa bekerja dari Qatar.

Maya juga mengungkapkan FIFA tidak membayar ongkos pesawat dan penginapan bagi para relawan.

Ternyata induk organisasi sepak bola dunia ini hanya mengurus memudahkan pembuatan visa, menyediakan makanan utama, dan menanggung seluruh transportasi lokal para relawan di Qatar.

“Jangan berpikir ini akan dibayar dan segala macam, No! Karena ini memang sukarela… Tapi ini pengalaman spesial, ini empat tahun sekali yang tidak tiap tahun kalian dapatkan. Pengalaman yang istimewa, kemudian network (jaringan),” tambahnya.

Bahkan, Maya menawarkan diri untuk jasa penitipan barang bagi warga Indonesia yang berada di Qatar.

“Lumayan untuk tambahan, dimanfaatkan saja,” bebernya.

Adapun relawan lain bernama Nanda Nifri, yang berangkat ke Qatar dengan uang tabungannya bekerja di sebuah perusahaan teknologi di kawasan Depok.

“Jadi, kita sudah beli tiket pergi sendiri. Sudah siapkan semua sendiri. Kita masih bingung, akomodasi kita bagaimana, tiket pulang bagaimana,” kata perempuan yang lulus kuliah 2021 silam, sambil menambahkan sempat ragu untuk ikut andil dalam Piala Dunia.

Mereka juga mencari sponsor untuk mendapat biaya tambahan.

dengan satu kepentingan: mencari sponsor untuk mendapat biaya tambahan.

Mereka bersepakat membuat proposal, lalu menyebarkannya ke lebih dari 100 perusahaan swasta, kementerian, institusi olahraga dan BUMN.

Di mana dari ratusan proposal yang disebarkan ini, kebanyakan ditolak, tak dijawab atau berakhir dengan cuma balasan email bilang terima kasih. Hanya tiga perusahaan yang merespons.

Sampai akhirnya sebuah BUMN membantu biaya tiket pesawat dan tambahan akomodasi penginapan.

Mereka juga mendapat produk perjalanan dari sebuah perusahaan outdoor serta bantuan dari sebuah platform media sosial berbagi video.

“Jadi, aku punya pengalaman yang aku nggak bisa beli dengan uang tabunganku yang semuanya terkuras. Kesempatan aku merasakan berada di mega event seperti ini tak akan terbeli. (Juga) bertemu teman-teman baru,” kata Nanda yang bertugas di Stadion Khalifa.

Ada lagi, Sofia Rahman yang berasal dari Solo, Jawa Tengah.

Sofia Rahman, mahasiswa yang sedang menanti masa wisudanya.

“Ini seperti mimpi yang bisa aku peluk,” kata perempuan 22 tahun.

Dia mendarat ke ke Qatar karena ada privilege orang tua yang mampu buat bantu.

Karena dia mengaku ketinggalan pesawat karena nama di paspor berbeda dengan Kartu Hayya. kartu visa Qatar.

Tiket yang sudah dibeli seharga Rp9 juta akhirnya hangus begitu saja.

“Untung ada orang baik yang mau mengganti tiketnya,” jelasnya.

Sofia enggan menyebut besaran uang yang sudah dikeluarkan dari koceknya sejauh ini untuk terlibat dalam Piala Dunia.

Tapi dia memperkirakan, tanpa adanya sponsor, uang yang harus disiapkan setiap relawan antara Rp30 hingga 45 juta.

“Dari tiket, karena [harga] tiket kan traffic-nya waktu datang semua mahal ya. Yang biasa dapat Rp5 juta itu, jadi Rp9 juta. Penginapan, makan, terus lain-lain yang tak terduga…,” katanya.

Sebagai informasi, Maya, Nanda dan Sofia telah lolos menjadi relawan FIFA usai melakukan pendaftaran.

Mereka mendaftar di situs resmi FIFA. Email yang didaftarkan nantinya akan terus memberi informasi tentang agenda FIFA.

“Walaupun itu hanya pemberitahuan ada pertandingan,” kata Maya.

FIFA juga akan mengumumkan pembukaan relawan setiap kali terdapat hajatan olah raga internasional.

Untuk persyaratannya adalah kemampuan berbahasa Inggris, melewati tes wawancara serta hadir dalam semua pelatihannya.



Selengkapnya Disini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *