Apa judul lagu Bangun tidur ku terus mandi?


Dari Wikibuku bahasa Indonesia, sumber buku teks bebas

Loncat ke navigasi Loncat ke pencarian

Bangun Tidur
Penggubah: Pak Kasur

Bangun tidur, ‘ku terus mandi
Tidak lupa menggosok gigi
Habis mandi, kutolong ibu
Membersihkan tempat tidurku


Artikel ini mengandung lirik lagu yang mungkin memiliki hak cipta. Artikel ini dapat dihapus sewaktu-waktu jika diketahui melanggar hak cipta. Apabila Anda mengetahui informasi mengenai hak ciptanya, Anda dapat menambahkan informasi tersebut di halaman diskusi.

Innosanto Nagara wrote: “There is a tradition amongst kids to throw in the line (very quickly), ‘Bantal guling bau pesing!’ at the end of the song. It means ‘Pillows and bolsters smell sour (a.k.a. smell like pee)’. It’s considered a bit naughty, just enough that the teachers are supposed to frown on it, but kids all yell it together and end up in fits of giggles.”

*****

Ira said he welcomes suggestions to fine-tune the translation.

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Jakarta

BUMI Oleh Tere Liye

GM 312 01 14 0003

Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama Gedung Gramedia Blok I, Lt. 5 Jl. Palmerah Barat 29–33, Jakarta 10270 Desain sampul: eMTe

Diterbitkan pertama kali oleh Penerbit PT Gramedia Pustaka Utama anggota IKAPI, Jakarta, Januari 2014 www.gramediapustakautama.com

Hak cipta dilindungi oleh undang-undang. Dilarang mengutip atau memperbanyak sebagian atau seluruh isi buku ini tanpa izin tertulis dari Penerbit.

ISBN 978-602-03-011 2-9

Dicetak oleh Percetakan PT Gramedia, Jakarta Isi di luar tanggung jawab Percetakan

TereLiye “Bumi” 1

AMAKU Raib. Aku murid baru di sekolah. Usiaku lima belas tahun. Aku anak tunggal, perempuan. Untuk remaja se-umuranku, tidak ada yang spesial tentangku. Aku berambut hitam, panjang, dan lurus. Aku suka membaca dan mempunyai dua ekor kucing di rumah. Aku bukan anak yang pintar, apalagi populer. Aku hanya kenal teman-teman sekelas, itu pun seputar anak perempuan. Nilaiku rata-rata, tidak ada yang terlalu cemerlang, kecuali pelajaran bahasa aku amat menyukainy a. Di kelas sepuluh sekolah baru ini, aku lebih suka menyendiri dan memperhatikan, menonton teman-teman bermain basket. Aku duduk diam di keramaian di kantin, di depan kelas, dan di lapangan. Sebenarny a sejak kecil aku terbilang anak pemalu. Tidak pemalu- pe malu sekali mema ng , meskipun satu-dua kali jadi bahan tertawaan teman atau kerabat. Normal- norm al saja, tapi sungguh urusan pemalu inilah yang membu at k u berbeda dari remaja kebanyakan. Aku ternyata amat berbeda. Aku memiliki kekuatan. Aku tahu itu sejak masih kecil meskipun hingga hari ini kedua orang-tuaku, teman- teman dekatku tidak tahu. Waktu usiaku dua tahun, aku suka sekali bermain petak umpet. Orangtuaku pura-pura bersembuny i, lantas aku sibuk mencari. Aku tertawa saat menemukan mereka. Kemudian giliranku bersembuny i. Kalian pernah melihat anak kecil usia dua tahun mencoba bersembuny i? Kebany a ka n mereka hanya berdiri di pojok kamar, atau di samping sofa, atau di belaka ng meja, lantas menutupi wajah dengan kedua telapak tangan. Mereka merasa itu sudah cukup sempurna untuk bersembu ny i. Kalau sudah me-nut u p i wajah, gelap, sudah tersembuny i semua, padahal tubuh mereka amat terlihat. Aku juga melakukan hal yang sama saat Papa bilang, ”Raib, ay o bersembunyi. Giliran Mama dan Papa yang jaga.” Maka aku tertawa come l, berlari ke kamarku, berdiri di samping lemari, me-nutupi wajah denga n kedua telapak tanganku.

asi.com

TereLiye “Bumi” 2

Usiaku saat itu bahkan baru dua puluh dua bulan, belum genap dua tahun. Itu permainan hebat pertama yang pernah ku-mainkan denga n penuh antusias. Namun, ternyata permainan itu tidak seru. Orangtuaku cu-rang . Waktu giliranku jaga dan mereka bersembuny i, aku se-lalu berhas il menemukan mereka. Di balik gorden, di balik pot bunga besar, di belaka ng apalah, aku bisa menemukan mereka meskipun sebenarny a aku tahu dari suara mereka menahan tawa. Tetapi saat aku yang bersembuny i, mereka tidak pernah berhasil me-nemukanku. Mereka hanya sibuk memanggil- manggil nama-ku, tertawa, masuk kamarku, sibuk memerik s a seluruh kamar. Mereka melewatkanku yang berdiri persis di samp ing lemari. Aku sebal. Aku mengintip dari balik jemari kedua telapak tanga nk u . Orangtuaku pastilah pura-pura tidak melihatku. Bagaimana mungk i n mereka tidak melihatku? Itu berkali-kali ter-jadi. Saat aku bersembuny i di ruang tengah, mereka juga ber-pura-pura tidak melihatku. Bahkan saat aku hanya bersembu ny i di tengah ruang keluarga rumah kami, menutup wajah dengan telapak tangan, mereka juga pura-pura tidak melihatku. Saat kesal, kulepaskan telapak tangan yang menutupi wajah k u . Mereka hanya berseru, ”Astaga, Raib? Kamu ternyata ada di situ?” atau ”Aduh, Raib, bagaim ana kamu tiba­tiba ada di sini? Kami dari tadi melew at i tempat ini, tapi tidak melihatm u.” Lantas mereka memasang wajah seperti terkejut melihatku yang berdiri polos. Mereka memasang wajah tidak mengerti bagai- mana aku bisa tiba-tiba muncul. Padahal aku sungguh sebal me-nunggu kapan mereka akan berhenti berpura- pura tidak me-lihatku. Permainan petak umpet itu hanya bertahan satu-dua bulan. Aku bosan. Aku sungguh tidak menyadari saat itu. Itulah kali pertama kekuata n itu muncul. Kekuatan yang tidak pernah berhasil aku me-ngerti hingga hari ini, kekuatan yang kurahasiakan dari siapa pun hingga usiaku lima belas. Aku tinggal menutupi wajahku de-ngan kedua telapak tangan, berniat bersembunyi, maka seke-tika, seluruh tubuhku tidak terlihat. Leny ap. Orangtuaku sung-guh tidak punya ide bahwa anak

asi.com

TereLiye “Bumi” 3

perempuan mereka yang ber-usia kurang dari dua tahun bersembuny i persis di depan mereka, berdiri di tengah karpet, mengintip dari sela-sela jariny a. Namaku Raib, gadis remaja usia lima belas tahun. Aku bisa menghilang, dalam artian benar-benar menghilang.

asi.com

TereLiye “Bumi” 4

DUH, Ra, berhentilah mengagetkan Mama!” Mama berseru, wajahnya pucat. Papa yang tergesa-gesa menuruni anak tangga, bergabung di meja makan, tertawa melihat Mama yang sedang mengelus dada dan mengembuskan napas. Mama menatapku kesal. ”Sejak kapan kamu sudah duduk di depan meja makan?” ”Dari tadi, Ma.” Aku ringan mengangkat bahu, meraih kotak susu. ”Bukanny a kamu tadi masih di kamar? Berkali­kali Mama te­riaki kamu agar turun, sarapan. Sampai serak suara Mama. Ini sudah hamp ir setengah enam. Nanti terlambat. Eh, ternyata kamu sudah di sini?” Mama menghela napas sekejap, lantas di kejap berikut- nya, tanpa menu ng g u jawabanku, sudah gesit mengangkat roti dari pemanggang, masih bersungut-sungut. Celemekny a terlihat miring, ada satu-dua noda yang tidak hilang setelah dicuci ber-kali-kali. Ramb ut di dahinya berantakan, menut u p i pelipis. Mama gesit sekali bekerja. ”Ra sudah dari tadi duduk di sini kok. Mama saja yang nggak lihat .” Aku menuangkan susu ke gelas. ”Beneran.” ”Berhenti menggoda mamam u, Ra.” Papa memperbaiki dasi, me­narik kursi, duduk , lalu tersenyum. ”Mamamu itu selalu tidak mem­perhat ika n sekitar, sejak kamu kecil. Selalu begitu.” Aku membalas senyum Papa dengan senyum tanggung. Itu adalah penjelasan sederhana Papa atas keanehan keluarga kami sejak usiaku dua puluh dua bulan. Sejak permainan petak umpet yang tidak seru. Sesimpel itu. Mama tidak memperhatikan sekitar dengan baik. Padahal, kalau aku sedang bosan, tidak mau dilihat siapa pun, atau sedang iseng, aku menutupi wajahku dengan telapak tangan, menghilang.

asi.com

TereLiye “Bumi” 5

Seperti pagi ini, Mama ber-teriak membangunkan Papa dan meneriakiku agar bergegas. Mama sibuk memulai hari, menyia pk a n sarapan, dan membereskan kamar. Mama selalu begitu, terlihat sibuk. Terlepas dari peraturanny a aku benci peraturan- peraturan Mama yang ka lau dibukukan bisa setebal novel Mama ibu rumah tangga yang hebat, cekat- an, mengurus semua keperluan rumah tangga sendirian, tanpa pembantu. Dulu, sambil menunggu Papa turun bergabung ke meja makan, aku suka memperhatikan Mama bekerja di dapur. Tentu saja kalau aku hany a duduk bengong menonton, paling bertahan tiga detik, sebelum Mama segera melemparkan celemek, me-nyuruhku membantu. Jadi, untuk menghind a r i disuruh mencuci wajan dan sebagainy a, aku iseng ”menonton” sambil bertopang tangan di meja dengan kedua telapak tangan menutupi wajah , membuat tubuhku menghilang sempurna, mengintip Mama yang sibuk bekerja. Mama sibuk meneriakiku, ”Raaa! Turun, sudah siang.” Lantas dia mengomel sendiri, bicara dengan wajan panas di depanny a, ”Anak gadis remaja sekarang selalu bangun kesiangan. Alangkah susah mendid ik anak itu.” Lantas dia menoleh lagi ke atas, ke anak tangga, berteriak, ”Papaaa ! Turun, sudah jam enam lewat. Bukankah ada rapat penting di kantor?” Lantas dia mengomel lagi sendirian, bicara dengan wajan panas lagi, sambil membalik omelet, ”Kalau mandi selalu saja lama. Contoh yang buruk. Bagai- mana- Ra akan bisa tangkas mengerjakan pekerjaan rumah kalau papany a juga selalu santai. Anak sama papa sama saja kelaku­an­ nya.” Dulu aku suka tertawa melihat Mama mengomel sendiri. Lucu sekali. Aku mengintip dari balik jari, bersembu ny i, sambil menguap karena masih mengantuk walau telah mandi. Aku bisa bermenit- menit diam, bertopa n g tangan, menonton Mama. Itu mem-buatku tidak perlu bekerja pagi- p a g i membantuny a, sekali-gus tahu banyak rahasia, misalnya apakah aku jadi dibelikan se-peda atau tidak, apa hadiah ulang tahunku besok, dan sebagai- nya. Sekarang serunya hanya sedikit, tidak sesering dulu. Sejak usia belasan aku lebih dari tahu tanggung jawabku. Sekali- dua kali saja isengk u kambuh. Seperti pagi ini, aku sebenarnya sudah sejak tadi turun

asi.com

TereLiye “Bumi” 6

dari lantai dua rumah kami, rapi mengenakan seragam sekolah, bergabu n g di meja makan. Tetapi karena bosan menunggu Papa turun, daripa d a disuruh­suruh Mama, aku me­mutuskan ”bersembuny i”, iseng menonton. ”Kamu sudah lama menunggu, Ra?” Papa bertanya, meng­ambil koran pagi. ”Papa tahu tidak, tarif air PAM sekarang naik dua kali lipat?” Mama lebih dulu memotong, berseru soal lain. Tanganny a cekatan me-minda h ka n omelet ke atas piring. ”Oh ya?” Papa yang mulai membuka koran pagi mengangkat wajah. ”Itu artinya Papa jangan mandi lama­lama,” aku menyikut Papa, berbisik pelan, membantu menjelaskan maksud celetukan Mama. Papa ber-oh sebentar, tertawa, mengedipkan mata, mengernyit tidak bersalah. ”Siapa sih yang mandi lama­lama?”

pura- pur a

”Memang selalu susah mengajak kalian bicara serius. Sudah­lah, mari kita sarapan,” Mama melotot, memotong kalimat Papa lagi, menarik kur si. Semua hidangan sarapan sudah tersedia di atas meja. ”Kamu mau sarapa n apa, Ra?” ”Omelet menunjuk.

terlezat sedunia, Ma. Minum ny a segelas susu ini,” aku

Mama tertawa yang segera membuat wajah segarnya kem-bali. ”Nah, Papa mau apa?” ”Roti panggang penuh cinta,” Papa nyengir, meniru teladan­ku. ”Jangan gombal.” ter-sungging senyum.

Mama

melotot,

meski

di separuh

wajah ny a

”Siapa yang gombal? Sekalian jus jeruk penuh kasih sayang.” Aku tertawa. ”Tentu saja gombal, Pa. Jelas­jelas itu hanya roti dan jus jeruk.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 7

Mama tidak berkomentar, menuangkan jus jeruk, ikut tertawa, sedikit tersipu. Lantas Mama mengambil sisa makanan yang belum diambil, meraih sendok dan garpu. Kami mulai sibuk dengan menu masing- masing. ”Kita sepertinya harus mengganti mesin cuci,” Mama bicara di sela mulut menguny ah. Papa menelan roti. ”Eh, sekarang rusak apanya?” ”Pengeringnya rusak, tidak bisa diisi penuh. Kadang malah tidak bergerak sama sekali. Tadi sudah diotak-atik. Mama menyerah, Pa. Beli baru saja.” Aku terus menghabiskan omelet, tidak ikut berkoment ar . Pembicaraan sarapan pagi ini sudah dipilih. Mesin cuci. Itu lebih baik — daripada Mama tiba-tiba bertanya tentang sekolah baru-ku, bertanya ini, bertanya itu, menyelidik ini, menyelid ik itu, lantas membacakan sepulu h peraturan paling penting di keluarga kami. ”Mau Papa temani ke toko elektronik nanti malam?” Dua-tiga menit berlalu, mesin cuci masih jadi trending topic. ”Tidak usah. Nanti sore Mama bisa pergi sendiri. Sekalian meng ur u s keperluan lain. Paling minta ditemani Ra. Eh, Ra mau menemani Mama , kan?” Papa mengangguk takzim. Mama memang selalu bisa diandal- k a n — tadi waktu bilang sudah diotak-atik, itu bahkan berarti Mama sudah berprofesi setengah montir amatir. Aku juga meng-angguk sekilas, asy ik mengunyah ”omelet terlezat sedunia”. Ponsel Papa tiba-tiba bergetar, menghentikan sarapan. Papa menyambar ponselnya, melihat sekilas nama di layar. Aku dan Mama bertatapan. ”Ya, halo.” Papa bicara sejenak, lantas menjawab pendek­ pen­dek, ya, oke, baik, ya, oke, baik. Papa meletakkan ponsel sambil menghela napa s panjang.

asi.com

TereLiye “Bumi” 8

”Papa minta maaf, sepertiny a lagi­lagi tidak bisa menghabis ka n sarapan bersama. Tiga puluh menit lagi Papa harus segera ada di kantor. Tuan Direktur memanggil.” Tuan Direktur? Aku menepuk jidat. Selalu begitu. Papa tertawa. ”Ayolah, Papa harus bergegas, Ra. Papa janji, Ma, gantinya kita makan malam bersama nanti.” Mama menghela napas tipis. Kecewa. Baik. Sepertinya aku juga harus menyudahi sarapanku yang belum sepertiga nasibku sama dengan banyak remaja lain, ha-rus berangkat ke sekolah bersama orangtua. Mereka buru-buru, maka aku ikut buru-bur u . Mereka telat, aku juga ikut telat. Aku meletakkan sendok, beranjak berdiri, lantas berlari naik ke kamar, mengambil tas dan keperluan sekolah. ”Jangan lupa sarapan lagi di kantor, Pa.” ”Tentu saja. Bila perlu, Papa akan sarapan sambil rapat dengan T uan Direktur. Itu pasti akan menarik.” Papa mengedip­kan mata, bergurau. Mama melotot. Papa buru­buru memperbaiki ekspresi wajah. ”Papa tidak akan lupa, Ma. Peraturan ketujuh keluarga kita: sarapan selalu penting.” Papa meniru gayaku, tangan hormat di dahi. Mama tersenyum. Papa memang sedang berada di titik paling penting karier pekerjaanny a—setidakny a demikian kalau Papa menjelaskan kenapa dia harus pulang larut malam, kenapa dia harus bergegas pagi­pagi sekali. ”Papa harus berhasil melewati fase ini dengan baik, Ra. Sekali Papa berhas il memenangkan hati pemilik per-usahaan, karier Papa akan melesat cepat. Posisi lebih baik, gaji lebih tinggi. Keluarga kita harus kompak menduk u ng , termasuk kamu. Toh pada akhirny a kamu juga yang diuntungkan. Mau liburan ke mana? Mau beli apa? Semua beres.” Aku hanya bisa meng-angguk, setengah paham (soal jalan- jalan atau belanja), se-tengah tidak (soal memenangkan hati pemilik perusahaan).

asi.com

TereLiye “Bumi” 9

”Dasi Papa memperbaiki.

miring.”

Mama

menunjuk,

beranjak

mendek at ,

”Terima kasih.” Papa tersenyum, melirik pergelangan tanga n. ”Celemek Mama juga miring.” Papa ikut memperbaiki, meski sekali lagi melirik pergelangan tangan. ”Jangan pulang larut malam, Pa.” ”Mama lupa ya? Kan tadi Papa bilang nanti malam kita makan mala m bersama. Spesial. Tidak akan terlambat.” Papa men­dongak. ”Alang ka h lamanya anak itu mengam bil tas se­ko­lah.” ”Tentu saja.” ”Tentu saja apanya?” ”Tentu saja Ra lama. Meniru siapa lagi? Selalu lama melaku- ka n sesuatu, dan terbirit­birit panik kalau sudah kehabisan waktu.” Mama tersenyum simpul. ”Oh, itu entahlah meniru siapa.” Papa pura­pura tidak me­ngert i, sambil ketiga kaliny a melirik jam tangan. ”Yang Papa tahu, anak itu cantikny a meniru siapa.” Mama tersipu. Mereka berdua tertawa. Papa melihat jamnya lagi, mengeluh. ”Lima menit? Lama sekali anak itu mengambil…” ”Ra sudah selesai dari tadi kok.” Aku nyengir, menurunkan telapak tangan. ”Eh? Ra?” Papa berseru kecil, hampir terlonjak melihatku tiba- tib a sudah berdiri di anak tangga terakhir. ”Bagaimana kamu sudah ada di sana? Kamu selalu saja mengejutkan orang­tua.” Papa bersungut­sungut, meski sungutnya lebih karena dia harus bergegas. ”Jangan menggoda papamu, Ra. Dia selalu saja tidak mem­per­ hatikan. Sejak kamu kecil malah.” Sekarang giliran Mama yang menggunakan kalimat itu, tersenyum.

asi.com

TereLiye “Bumi” 10

Aku tersenyum tanggung membalas senyum Mama. Itu juga menjadi penjelasan sederhana Mama atas keanehan keluarg a kami sejak usiaku dua puluh dua bulan. Sejak per-main- an petak umpet. Sesimpel itu. Papa tidak memperhatikan sekitar dengan baik. Padah a l, kalau aku lagi bosan, tidak mau dilihat siapa pun, atau sedang iseng, aku tinggal menutup i wajah dengan kedua telapak tangan, menghilang. Seperti pagi ini, aku iseng ingin melihat percakapan akrab orangtu ak u . Sudah sejak tadi aku turun mengam bil tas, berdiri di anak tangga paling bawah de-ngan kedua telapak tangan menutupi wajah, mengintip wajah me-reka yang saling tersipu. Baik dulu maupun sekarang, itu selalu seru. ”Ayo berangkat.” Papa berjalan lebih dulu. Aku mengangguk. ”Jangan lupa sarapan lagi di sekolah, Ra.” ”Ra tidak akan lupa, Ma. Peraturan ketujuh keluarga kita: sarapa n selalu penting.” Aku mengangkat tangan, hormat. Mama mengacak poni rambutku. Lima menit kemudian, mobil yang Papa kemudikan sudah melesat di jalanan. Pagi itu aku sungguh tidak tahu, setelah sarapan bersama yang selalu menyenangkan, beberapa jam lagi, kejutan itu tiba. Ada yang tahu rahasia besarku, bukan hanya satu, melainka n susul- meny usul. Seluru h kehidupanku mendadak berubah seratus delapan puluh derajat. Perang besar siap meletus di Bumi. Aku tidak bergurau.

asi.com

TereLiye “Bumi” 11

ERIMIS turun sepanjang perjalanan menuju sekolah. Papa mengemu dikan mobil dengan cepat, menerobos jutaan tetes air. Aku menatap jalanan basah dari balik jendela. Aku selalu suka hujan. Menata p butiran air jatuh, itu selalu menyenangkan. ”Kamu nanti pulang sore?” Papa bertanya, tanganny a meneka n klakson, ada angkutan umum mengetem sembarangan, meng-ham bat lalu lintas pagi yang mulai macet di depan. ”Tidak ada les, Pa. Ra langsung pulang dari sekolah,” aku men­ja w a b tanpa menoleh, tetap menatap langit gelap. ”Oh. Berarti kamu bisa ya, menemani Mama ke toko elektronik?” Aku mengangguk. Tanganku menyentuh jendela mobil. Dingin. ”Mesin cuci itu. Kamu pernah memikirkannya, Ra?” Papa sepertinya masih tertarik dengan percakapan di meja makan tadi. Ia menekan klakson, menyuruh dua motor di depan yang sembarangan menyelip di tengah kemacetan agar menyingkir. ”Ya?” Aku ikut menatap ke depan. ”Usianya sudah lima tahun, mem-bayangkan sekaligus berhitung.

bukan?”

Papa

tertawa

kecil,

”Ya?” ”Kamu tahu, kalau setiap hari mesin cuci itu mencuci pakaia n sebanyak dua puluh potong, maka selama lima tahun, itu berarti lebih dari 36.000 potong pernah dicuciny a, hingga akhirnya rusak, minta diga nt i. Hebat, bukan?” Aku mengangguk pelan, menatap halte yang baru saja kami lewati. Ada lima-enam anak sekolah sepertiku sedang menunggu angkutan umu m dan beberapa pekerja kantoran. Lampu kendara- an menyala,

asi.com

TereLiye “Bumi” 12

kedip-kedip. Beberapa pedagang asongan berdiri dan seorang penga me n membiarkan gitarnya tersampir di pun-dak. Pemandangan yang biasa sebenarny a, tapi hujan gerimis membuat suasana terlihat berbeda. ”Konsisten. Eh, bukan, persisten maksud Papa. Ya, itu kata yang lebih tepat. Kamu tahu, Ra, persisten membuat kita bisa melakukan hal hebat tanpa disadari. Seperti mesin cuci itu. Sedikit setiap hariny a, tapi dala m waktu lama, tetap saja hebat hasilny a. Coba kamu bayangkan 36.000 potong pakaian, itu lebih banyak dibanding koleksi seluru h department store besar.” Papa tertawa lagi. Aku mengangguk. Aku tahu kebiasaan keluarga kami. Papa selalu suka ”menasihatiku” dengan caranya sendiri. Seperti mengajak bicara hal unik pada pagi yang basah menuju sekolah ini. Mungkin orangtua kebany a ka n lainnya juga seperti itu. Selalu merasa penting mengajak anak- a na k remajanya bicara se-suatu, menasihati, dan berharap kalimat- kalimat itu bekerja baik—meskipun hanya urusan mesin cuci. Terlepas dari kesibuk- anny a—juga topik pembicaraan yang kadang tidak me-nyam b u n g dengan situasi—bagiku Papa menyenangkan. Dia se-lalu ada saat aku butuh seorang papa. ”Dan satu lagi, Ra. Urusan mesin cuci ini masih punya satu lagi yang hebat.” ”Oh ya?” Aku memperhatikan wajah Papa yang riang. ”Coba kamu hitung. Jika setiap hari Mama mencuci lima potong pakaianmu, maka selama lima belas tahun terakhir, di-hitung sejak kamu bayi, itu jumlah ny a sekitar, eh, 30.000 potong lebih. Atau, untuk Papa, tujuh belas tahun sejak menikah, angka- nya lebih banyak lagi. Bisa 40.000 potong. Papa lebih banyak ganti baju, bukan? Total 70.000 potong lebih. Untung saja Mama tidak menarik uang laundry ke kita ya, Ra? Kalau satu potong Mama tarik seribu perak saja, wuih, banyak sekali tagih­anny a .” Papa tertawa. Aku ikut tertawa, mengangguk. Pembicaraan mesin cuci ini terus menjadi trending topic hingga mobil yang dikemudikan Papa tiba di depan gerbang sekolah. Gerimis mende ra s , para siswa yang satu sekolah denganku ber-hamburan turun

asi.com

TereLiye “Bumi” 13

dari angkutan umum, mobil pribadi, motor, atau jalan kaki. Mereka bergegas masuk menuju bangunan yang kering. ”Kamu bawa saja payungny a, Ra.” Papa menoleh, menunjuk ke belakang. ”Tenang saja, di kantor nanti Papa bisa minta tolong satpam mem-bawakan payung ke parkiran. Atau menyuruh siapalah untuk me­markirkan mobil.” Papa seakan mengerti apa yang kupikir­kan. Tanpa banyak bicara, aku meraih payung di belakang kursi, menciu m tangan Papa, membuka pintu mobil, lalu beranjak turun. ”Dadah, Papa!” ”Dadah, Ra!” Aku menutup pintu mobil. Dua detik kemudian, mobil Papa kembali masuk ke jalanan. Petir menyambar selintas, disusul gemuruh guntur memenu hi lang it . Aku mendongak, sengaja belum mengem bangkan payung. Awan hitam terlihat memenuhi atas kepala sejauh mata me- mand a ng . Bergumpal-gum pal, terlihat begitu suram. Terlihat seperti menyembunyikan sesuatu. Entahlah. Aku selalu suka hujan. Semakin lebat, semakin seru. Aku membay angkan awan-awan gelap itu dan berdiri di antaranya. Dulu waktu usiaku masih empat-lima tahun, setiap kali hujan aku selalu memaksa bermain di halaman. Sesekali Mama mengizinkan mala h menawari. Itu permainan kedua yang kukenal, setelah petak umpet yang berakhir membosankan. Aku berlari melintasi rumput yang basah, menggoyang dahan pohon mangga yang menjatuhkan airnya dari daun, menduduki lumpur, me-lempar sesuatu, menendang sesuatu, dan tertawa gembira. Itu selalu seru. Sayangny a, Mama memiliki definisi ketat soal main hujan- huja n a n. ”Masuk, Ra, sudah setengah jam. Cukup.” Aku menggeleng, tidak mau. ”Ra, tanganmu sudah biru kedinginan. Masuk. Besok kan bisa lagi.” Mama melotot—Papa mengam ini, juga menyuruhku masuk. Aku kalah suara, dua banding satu. Aku merengut, terpaksa menerima uluran handuk kering . Atau, ”Aduh, Ra, kan baru kemarin kamu main hujan­ hujanan?” Mama menggeleng tegas. ”Sebentar saja, Ma. Kan kata Mama

asi.com

TereLiye “Bumi” 14

besok bisa main lagi,” kilahku. Mama tetap menggeleng. ”Lima menit?” Tidak. ”Tiga menit?” Tidak. Seberapa pun aku merajuk, me-nangis, jawaba n Mama tetap tidak Papa mengam ini. Aku kalah suara lagi, dikurung dala m rumah. Usiaku baru empat-lima tahun. Rambutku masih tampak lucu dikepang dua oleh Mama. Aku hanya bisa protes dalam hati, bukan- k a h kemarin-kemarin Mama yang menyuruhku main hujan- hujanan, kenapa jadinya sekarang dibatasi banyak peratur-an? Karena itu, rasanya senang sekali saat aku dapat izin bermain hujan-hujan-an. Aku berlari ke sana kemari dan mem-bujuk dua kucingku agar ikut bermain air kucing k u mengeong panik, lari masuk ke dalam rumah. Aku tertawa, membiar ka n tubuhku kotor oleh lumpur. Akhirny a setelah lelah, aku duduk di hala m a n, mendongak menatap langit gelap. Awan hitam. Aku mem-bayangkan apa yang sedang berkecamuk di awan-awan itu. Tetes air hujan deras menerpa wajahku. Aku meletakkan telapak tanganku, berusaha melindungi mata. Saat itu aku belum tahu, masih terlalu kecil. Tepat saat telapak tanganku melindungi wajah, seluruh tubuhku hila ng begitu saja. Tubuhku menjadi lebih bening dibanding kristal air, menja d i lebih transparan di-banding tetes air. Aku asyik mendongak menatap langit , belum me-nyadari bahwa jutaan tetes air hujan itu hanya melew at i tubuh-ku, tidak pecah saat mengenai wajah. Ini main hujan yang me-nyenangkan, melamun menatap langit langsung di bawah tetes air dan yang lebih penting lagi, setiap kali aku duduk ber-simpu h di rumput halaman, mendongak melindungi wajah de-ngan telapak tangan, entah bagaimana caranya, aku bisa bermain hujan lebih lama. Mama di dala m rumah hanya sibuk mengomel mencariku, bukan meneriakiku agar bergega s masuk. ”Pagi, lamunanku.

Ra,”

Seli,

teman

satu

mejaku,

berseru

membuy ark a n

Kepalaku yang mendongak menoleh. ”Kenapa kamu bengong di sini, Ra?” Seli tertawa riang. Dia baru turun dari mobil yang mengantarny a, mengembangkan payung berwarna pink.

asi.com

TereLiye “Bumi” 15

”Eh, tidak apa­apa. Pagi juga, Sel.” Aku menyeka wajah yang basah oleh gerimis. ”Cepat, Ra, sebentar lagi bel.” Seli sudah berlari­ lari kecil melint a s i gerbang sekolah. Aku mengembangkan me-nyejajariny a.

payungku,

menyusul

langkah

Seli,

”Kamu sudah mengerjakan PR dari Miss Keriting?” Seli me­nole h , wajahnya seperti sedang membay angkan sebuah bencana jika aku menja w a b tidak. Aku tertawa. ”Sudah dong.” ”Oh, syukurlah.” Seli ikut menghela napas lega. ”Aku baru tadi subuh menyelesaikannya. Semalam aku lupa kalau ada PR, malah asyik nonton serial Korea. Miss Keriting bisa mengam uk kalau ada yang tidak mengerjakan PR-nya lagi. Iya kalau cuma dimarahi, kalau disuruh berdiri di dekat papan tulis selama pelajaran? Itu memalukan, bukan?” Aku tidak berkomentar, menguncupkan payung. Kami sudah tiba di bangunan sekolah, melangkah ke lorong, menuju anak tangga. Kelas sepulu h terletak di lantai dua bangunan sekolah. Bel berdering persis saat kami hendak naik tangga, mem-buyar- kan dengung suara keramaian anak- ana k bercampur suara ge-rimis. Sialnya, saat bergegas menaiki anak tangga , Seli ber-tabrak-an dengan teman lain yang juga bergegas. ”Heh, lihat­lihat dong!” Seli berseru ketus. ”Kamu yang seharusnya lihat!” yang ditabrak balas berseru ketus. ”Jelas­jelas kami duluan. Sabar sedikit kenapa?” Seli melotot. ”Duluan dari mana? Aku lebih cepat.” ”Semua orang juga tahu kamu yang menabrak dari belakang!” suara Seli melengking. Aku menyikut Seli, memberi kode, cueki saja. Pertama, ka-rena sudah bel, teman-teman lain juga terhambat naik, berdiri menonton di

asi.com

TereLiye “Bumi” 16

lorong lantai satu. Kedua, yang lebih penting lagi, kami tidak akan merusak mood pagi yang menyenangkan dengan ber-tengkar dengan Ali teman satu kelas yang terkenal sekali suka mencari masalah. Lihatlah, Ali hany a cengar- cengir, tidak peduli. Dia sejenak menatap Seli, lantas bergega s menaiki sisa anak tangga. Dia sama sekali tidak merasa bersalah. ”Dia selalu saja menabrak orang lain, mengajak bertengkar. Jang a njangan matanya ditaruh di dengkul,” Seli mengomel pelan, menep u k lengannya yang terhantam dinding, beranjak ikut naik tangga. Keributan di anak tangga mencair. Guru-guru sudah keluar dari ruang guru, menuju kelas masing- masing. Tidak ada yang ingin terlambat saat pelajaran dimulai. ”Kayaknya sih Ali matanya bukan di dengkul, Sel,” aku berbis ik , menahan tawa. ”Memangny a di mana?” ”Di pantat kayaknya.” Seli menatapku sejenak, lantas ikut tertawa. Kami berlari- la r i melintasi lorong lantai dua, segera masuk kelas, mencari meja. Anak- a na k lain sudah membongkar tas. Ali yang duduk di pojokan terlihat mengg ar u k kepala. Seperti biasa, kemeja se-ragam- ny a berantakan, dimasuk ka n separuh. Aku hanya melihat selintas —paling juga si biang kerok itu sedang mencari buku PR-nya. Suara sepatu Miss Keriting terdengar bahkan sebelum dia tiba di pintu kelas. Dalam satu bulan, semua murid baru sekolah ini tahu dialah guru paling galak di sekolah. Wajahnya jarang tersenyum, suaranya tegas, dan hukumanny a selalu mem-buat murid merasa malu. Aku sebenarny a tidak punya masalah dengan guru galak, tapi itu tetap bukan kabar baik bagiku , karena Miss Keriting mengajar matematika, pelajaran yang tidak terlalu kukuasai. ”Pagi, anak­anak,” Miss Keriting memecah suara hujan. Kami menjawab salam.

asi.com

TereLiye “Bumi” 17

”Keluarkan buku PR kalian. Sekarang.” Kalimat standar pembu k a pelajaran Miss Keriting. Kelas bising sejenak, teman-teman sibuk mengambil buku PR. Aku seketika tertegun. Di mana buku PR matematikaku? Aduh, ini sepertiny a akan menjadi pagi yang buruk. Aku me-numpahkan buku dari dalam tas. ”Ada apa, Ra?” Seli bertanya. Aku tidak menjawab, berpikir cepat. Buku PR itu tertinggal di kamar. Aku menyeka dahi, gerah. Aku ingat sekali tadi malam sudah mengerja ka n PR itu, meletakkan buku PR di atas meja. Tadi pagi, saat Papa memint a k u buru-buru berangkat, aku lupa memasukkannya. ”Yang tidak mengerjakan PR, sukarela maju ke depan, sebelum Ibu periksa.” Suara tegas Miss Keriting membuatku meng­ hela napas tertahan. ”Ayo, maju. Sekarang!” Miss Keriting menyapu wajah­wajah kami. Aku menggigit bibir. Mau apa lagi? Aku melangkah ke de-pan. ”Ra?” Seli menatapku bingung. Aku tidak menjawab, terus melangkah ke depan di bawah tatapan teman-teman. ”Kamu tidak mengerjakan PR, Ra?” Miss Keriting menatapku tajam. ”Saya mengerjakan PR, Bu.” ”Lantas kenapa kamu maju ke depan?” ”Saya lupa membawa bukuny a.” Teman-teman tertawa. Satu-dua menepuk meja, lalu terdiam saat Miss Keriting mengangkat tangan. Miss Keriting menatapku lamat­lamat. ”Itu sama saja dengan tidak mengerjakan PR. Dengan amat menyesal, kamu terpaksa Ibu keluarkan dari kelas. Kamu menunggu di lorong selama pelajaran berlangsung. Paham ?” Suara Miss Keriting sebenarny a tidak menunjukkan intonasi

asi.com

TereLiye “Bumi” 18

”menyesal”, karena sedetik kemudian, saat aku mengangguk pelan, dia kem-bali sibuk menatap teman-teman lain, tidak peduli, mem-biar-k a nk u beranjak gontai ke bingkai pintu kelas. Petir menyambar terang. Suara guntur mulai terdengar meng-gele g ar . Hujan turun semakin deras. Udara terasa lebih dingin dan lembap. Aku melangkah malas, mencari lokasi menunggu yang baik di lorong. Nasib, aku menghela napas sebal. Padahal aku sudah susah payah mengerjakan PR itu. Aku melirik jam di pergelangan tangan, masih dua jam lima belas menit hingga pelajaran Miss Keriting usai. Sendirian di lorong yang tempias, basah. Itu bukan hukuman yang menyenangkan meski dibandingkan berdiri di depan kelas ditonton teman-teman. Aku mendongak menatap langit. Petir untuk kesekian kali menyambar, membuat gumpalan awan hitam terlihat memerah sepersek ia n detik, seperti ada gumpalan api memenu hi awan-awan hitam itu. Guntur bergemuruh membuat ngilu telinga. Aku menghela napas, suasana huja n pagi ini terlihat berbeda sekali. Lebih kelam daripada biasany a. Ternyata kabar buruk itu belum berakhir. Diiringi sorakan ramai teman sekelas, Ali juga dikeluarkan Miss Keriting. Ali bertahan beberap a menit, mengaku sudah mengerjakan PR, tapi belum selesai. Dia memperlihatkan bukuny a yang hanya berisi separuh halaman. Miss Keriting tanpa ampun juga ”mengusirny a”. Aku mengeluh melihat Ali melang k a h keluar kelas, hendak bergabung di lorong lantai dua yang lengang. Kenap a pula aku harus menghabiskan dua jam bersamany a di lorong? Aku me-ny eka dahi yang berkeringat —y ang membuatku melupakan sesuatu, kenapa aku terus berkeringat sejak tadi, padahal dingin udara terasa mencekam. Sial. Aku tidak akan menghabiskan waktu bersama si biang kerok itu. Itu situasi yang tidak menarik, menyebalkan malah. Baiklah, se-belu m Ali melihatku, aku memutuskan mengangkat kedua telapak tanga nk u , meletakkanny a di wajah. Petir mendadak menyambar terang sekali, membuatku terperanjat , mendongak ke atas—meski tidak mengurungkan gerak-an tanganku

asi.com

TereLiye “Bumi” 19

menutup mata. Suara guntur terdengar membah ana, panjang dan suram. Hujan deras mulai disertai angin kencang, membuat bendera di lapa nga n sekolah berkelepak laksana hendak robek. Tubuhku segera menghi la n g sempurna saat telapak tanganku menutupi wajah. Ali melangkah di lorong. Aku melihatnya dari sela jari, mem-per- hatikan wajahnya yang tidak peduli menatap sekitar mung- k in sedang mencariku. Ali menyeka rambutnya yang berantakan. Dia meng om e l sendirian, melintasiku. ”Dasar guru sok galak. Tidak tahu apa, tamb a h keriting saja rambutny a setiap kali dia marah­ marah.” Aku menahan tawa melihat tampang sebal anak lelaki itu. Aku hendak iseng menam ba h i kesalnya dengan mengait kakinya. ”Halo, Gadis Kecil.” Suara dingin itu lebih dulu mengagetkanku. Petir menyambar terang sekali. Sosok tinggi kurus itu entah dari mana datangny a telah berdiri di depanku. Matanya menatap memesona.

asi.com

TereLiye “Bumi” 20

EMI mendengar sapaan suara dingin itu dan menatap sosok kurus tinggi yang entah dari mana datangny a tiba-tiba telah berdiri persis di depanku —aku berseru tertahan, kaget, kehilangan keseimbangan, refleks berusaha meraih pegangan di dinding kelas. Saat telapak tanganku terlepas dari wajah, tubuhku otomatis kembali terlihat. Kejadian itu cepat sekali. Saat aku berhasil menyeimbangkan tubuh, mendongak, kembali menatap ke depan, memastikan siapa yang tiba-tiba menyapaku, sosok tinggi kurus itu telah lenyap, me-nyisa-kan hujan deras sejauh mata memandang. Angin kencang mem-buat bendera di lapangan sekolah berkelepak. Tempias air me-ngenai lorong lantai dua tepercik ke wajahku yang setengah pucat. Jantungku berdetak kencang. Astaga, aku yakin sekali melihat sosok itu. Wajahnya yang tirus dan senyumny a yang tipis, bah-kan aku ingat sekali bola matanya yang hitam memesona. Ke manakah dia sekarang? Mataku menyapu sepanjang lorong, memastikan, memerik sa semua kemungkin a n. Aku hendak ber-anjak mendekati tepi lorong, tidak peduli tempias lebih banyak mengenai seragam sekolahku. ”Hei, Ra, apa yang barusan kamu lakukan!” Seruan Ali memb u at kakiku berhenti. Aku menoleh, baru menyadari bahwa Ali berdiri pucat di belakang k u , menatapku yang kuyakin juga pucat. Bedanya, ekspresi wajah Ali seakan baru saja melihat sesuatu yang menarik sekali. Sedangkan ekspresi wajah k u pasti sebaliknya.

”Bagaimana caranya kamu tiba­tiba muncu l di sini?” Ali mendek at , wajahnya menyelidik. Aku mengeluh dalam hati, melangkah mundur ke dinding lorong . Kenapa pula urusan ini harus terjadi dalam waktu ber-samaan? Kenapa pula si biang kerok ini ada di sini saat aku masih penasaran setengah

asi.com

TereLiye “Bumi” 21

mati siapa sosok tinggi kurus tadi? Aku bahkan sempat berpikir, janga njangan sosok itu hanya bisa kulihat jika aku menangkupkan kedua telapak ta-ngan ke wajah. Aku hendak bergegas kembali menutup mata sebelu m sosok itu pergi, tapi itu tidak mungkin kulakukan dengan tatap-an mata Ali yang penuh rasa ingin tahu.

”Apa yang kamu lakukan barusan, Ra?” Ali bahkan sekarang menyelidik seluruh tubuhku. ”Aku yakin sekali, kamu tadi tidak ada di sini. Lorong ini kosong. Kamu tiba-tiba muncul di sini. Iya, kan? Ini menarik sekali.” ”Apanya yang menarik?” Aku membalas pura-pura tidak mengerti. ”Kamu jangan percaya.

tatapan menyelidik

pura­pura tidak mengerti,

Ali,

Ra,” Ali tidak muda h

”Aku dari tadi memang di sini. Apanya yang pura­pura?” aku akhirny a berseru ketus. ”Kamu tidak bisa memboh ongiku.” Ali nyengir lebar. ”Aku me- ma ng pemalas, tapi aku tidak bodoh. Bahkan sebenarny a, kamu tahu, sebagia n kecil para pemalas di dunia ini adalah orang- orang genius. Aku yakin seratus persen kamu tadi tidak ada di sana. Tidak ada siapa pun di lorong. Lantas petir me-nyambar, kamu tiba-tiba ada di sana. Tiba-tiba muncul. Aku yakin sekali.” Aku mengeluh dalam hati, masih berusaha membalas tatapan Ali dengan pura-pura tidak paham. Urusan ini bisa panjang. Ali benar. Dia memang terlihat pemalas, urakan, suka bertengkar, tapi dalam pelaja r a n tertentu dia bisa membuat guru-guru ter-diam hanya karena pertany aa n masa bodohnya. ”Bagaimana kamu melakukanny a?” ”Aku tidak melakukan apa pun.” ”Kamu jangan bohong, Ra.” Ali menatapku seperti sedang menat a p anak kecil yang tertangkap basah mencuri permen tidak bisa menghindar.

asi.com

TereLiye “Bumi” 22

”Siapa yang berbohong!” suaraku terdengar cemas.

aku berseru ketus sebenarny a separu h

”Ali! Ra!” Suara tegas Miss Keriting menyelamatkanku. Kami serempak menoleh. ”Suara percakapan superpenting kalian mengganggu pelajaran.” Miss Keriting melotot, berdiri di bawah bingkai pintu kelas, tangannya memega n g penggaris kayu panjang. ”Sekali lagi kalian bercakap­cak ap terlalu kenca ng , Ibu kirim kalian ke ruang BP, dan semoga ada yang menyelamatkan kalia n dari pemanggilan orangtua ke sekolah.” Mulut Ali yang hendak mencecarku dengan banyak pertany a- a n terpaksa bungkam. Dia menunduk, mengusap- usap rambut- nya yang berantakan. Aku juga menund uk. ”Benar­benar brilian. Sudah tidak membuat PR, berteriak­teriak pula di lorong kelas. Pasangan paling serasi pagi ini.” Miss Keriting kemba li masuk setelah memastikan kami diam beberapa detik. Teman- teman sekelas yang ikut melihat ke luar tertawa ramai, lalu diam kembali saat Miss Keriting menunjuk papan tulis. Suara Miss Keriting terdengar samar di antara suara hujan deras yang mengguy ur sekolah. Aku masih penasaran siapa sosok tinggi kurus yang tiba-tiba muncul di depanku tadi. Aku meme-riksa sekitar, berusa h a mengabaikan Ali yang terus menatapku. Tidak ada. Sosok itu benar-be na r sudah pergi. Mungkin aku bisa pura-pura ke toilet sebentar, meninggalkan Ali, menutup wajah di sana, lantas berjalan kembali ke lorong lantai dua. Deng a n begitu aku bisa mencari sosok tinggi kurus itu, sekaligus juga bisa menghilang dari si biang kerok ini. Tetapi itu ide buruk. Ali yang penasar a n, bahkan sangat pe-nasaran, pasti akan mengikuti ke mana pun aku pergi, dan dia bisa mengacaukan banyak hal. Miss Keriting, dengan kejadian ribut barusan, bisa kapan pun memeriksa lorong lantai dua lagi, memastikan kami patuh pada hukumanny a. Aku mendongak, menatap siluet petir yang kembali menyam b ar . Suara guntur bergemuruh. Sepertiny a pagi ini aku benar-benar akan

asi.com

TereLiye “Bumi” 23

menghabiskan dua jam bersama biang kerok ini. Baiklah, aku memutu sk a n duduk bersandar di dinding kelas, berusaha lebih santai, menghela napas pelan. ”Hei, Ra?” Ali berbisik. Aku melirik dengan ujung mata, dia ternyata ikut duduk, tiga langka h dariku. ”Kamu bisa menghilang, ya?” Ali berbisik lagi, berusaha mem-buat keributan baru, matany a berbinar oleh rasa ingin tahu.

tidak

Aku mengabaikan Ali, kembali menatap hujan. ”Ini hebat, Ra. Dari dulu aku selalu yakin ada orang yang bisa melakukan itu. Tidak hanya di film­film .” Ali bahkan tidak merasa perlu menunggu jawabanku. ”Kamu gila,” aku kembali menoleh, melotot, balas berbisik. ”Apanya yang gila?” ”Tidak ada yang bisa menghilang.” ”Banyak yang bisa menghilang, Ra. Banyak yang tidak terlihat oleh mata, tapi sebenarny a ada.” Ali mengangkat bahu. ”Tidak ada yang tidak terlihat oleh mata,” aku bersikukuh, mulai sebal. ”Kecuali yang kamu maksudkan hantu­ hantu, cerita­cerita seram itu.” ”Kata siapa tidak ada?” Ali nyengir. ”Dan jelas maksudku bukan hantu­ hantu itu. Coba, lihat.” Tangan Ali menggapai ke depan. ”Setiap hari, setiap detik, kita selalu hidup dengan sesuatu yang tidak terlihat oleh mata. Udara. Kamu bernapas denganny a, tanpa pernah berpikir seperti apa wuju d asli udara. Apakah udara seperti kabut? Seperti uap? Apa itu oksige n? Bentukny a seperti apa? Kotak? Lonjong?” Aku mengeluh pelan, semua orang juga tahu, Ali pendebat yang baik.

asi.com

TereLiye “Bumi” 24

”Bahkan, kamu tidak perlu jadi setipis udara untuk tidak ter­lihat.” Ali menatapku antusias, merapikan rambut berantakan yang mengenai ujun g mata. ”Jika kamu terlalu kecil atau sebalik­ nya terlalu besar dari yang melihat, kamu bisa menghilang dalam definisi yang berbeda. Semut, misalnya, kamu coba saja lihat semut yang ada di lapangan sekolah dari lantai dua ini, dia meng-hilang karena terlalu kecil untuk dilihat. Sebalik ny a , Bumi, misalny a, karena bola Bumi terlalu besar, tidak ada yang bisa melihatnya benar-benar mengambang mengitari matahari. Kita hanya tahu dia mengam bang lewat gambar, televisi, tapi tidak pernah melihat denga n mata kepala sendiri. Tidak terlihat dalam definisi lain.” ”Sok tahu,” aku berbisik ketus. Ali hanya tertawa pelan, tidak tersinggung seperti biasany a tepatny a tidak tertarik bertengkar seperti biasanya. ”Aku tahu sekali, Ra. Internet. Aku membaca lebih banyak dibanding siapa pun di sekolah ini. Termasuk Miss Keriting dengan semua PR menyebalkan ny a. Pelajaran matemat ik a penting katanya, puh, itu mudah saja. Bahkan kalau sekarang masih di sekolah dasar, aku bisa mengerjakan PR itu. Kamu sungguhan bisa menghilang ya, Ra?” Aku hampir berseru jengkel bilang tidak, tapi itu bisa me-manc in g Miss Keriting keluar. Aku segera menurunkan volume suara, menja w a b datar. ”T­i­d­a­k.” ”Kamu justru sedang menjawab sebalikny a, Ra. Iya, kamu bisa menghilang.” Ali mengepalkan tangannya, bersorak dengan bahasa tubuh. ”Terima kasih, Ra. Itu berarti aku tidak seaneh yang sering orangt u a k u katakan.” Aku mengembuskan napas sebal. Sudah kujawab tidak, Ali tetap menganggap aku menjawab iya. Aku kembali menatap hujan, memutuskan menyerah me-nang g a p i rasa ingin tahu Ali. Aku sepertiny a telah keliru, bukan hanya dua jam pa gi ini saja akan menghabiskan waktu bersama si biang kerok ini. Kemungk ina n seharian ini, bahkan besok-besok- ny a lagi, dia akan terus tertarik mengikutiku, me-mastikan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 25

Hujan deras terus mengguy ur sekolah, Seli dan teman-teman yang lain pasti sedang pusing mengikuti pelajaran Miss Keriting di dalam kelas yang kering, sama pusingny a dengan aku menghadapi Ali di lorong yang tempia s basah.

asi.com

TereLiye “Bumi” 26

ASANGAN serasi.” Seli memajukan bibir, menahan tawa. Aku tidak menanggapi, hanya mengangkat sedotan dari gelas. Awas saja kalau keterusan, akan aku lempar dengan sedotan ini. ”Bercanda, Ra.” Wajah Seli memerah, separuh karena kepedas a n, separuh masih menahan tawa. ”Miss Keriting memang sok galak, menyebalkan, banyak ngasih PR, tapi itu yang aku suka dariny a. Dia selalu telak menyindir orang. Pasangan paling serasi pagi ini. Hehehe. Eh, lagia n kenapa pula kalian harus berteriak-teriak di lorong, membuat semua teman sekelas menoleh ingin tahu,” Seli membela diri, berusaha berlind ung dari lemparan sedotan. Bel istirahat pertama sudah bernyany i lima menit lalu. Hujan deras sudah reda, menyisakan rintik kecil yang bisa dilewati tanpa terlalu membuat basah. Udara dingin dan lembap. Seli mengajakku ke kantin, menghabiskan semangkuk bakso dan segelas air jeruk hangat, pilihan yang baik dalam suasana se-perti ini. Seli bilang dia yang traktir. Aku awalny a tidak ter-tarik. Se-telah dua jam lebih saling ngotot menghabiskan waktu bersama Ali, yang membuat mood–ku hilang, aku sebenarny a lebih tertarik menghabiskan waktu sendirian di kelas, duduk di kursi, me-mikirkan siapa si tinggi kurus itu. Apakah itu hanya imajinasiku karena belasan tahun menyimpan rahasia? Tetapi melirik gelagat Ali yang juga akan ikut menghabiskan waktu di kelas, menye-lidikiku, aku menerima tawaran Seli. ”Kalian sebenarnya membicarakan apa sih? Sampai bertengk ar begitu?” Sayangny a Seli yang sambil ber­hah kepedasan meng­ habis ka n semangkuk baksony a seperti kehabisan ide percakapan selain tent ang kejadian di lorong kelas. ”Tidak membicarakan apa pun.” Aku malas menanggapi. ”Masa iya?” Seli menyelidik. ”Sampai bertengkar begitu.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 27

”Siapa yang bertengkar? Dia saja yang selalu menyebalkan. Menca r i masalah,” aku mengarang jawaban. ”Eh, kalian tidak sedang membicarakan PR matematika, kan? Mengerjakan PR di lorong tadi?” Seli tertawa dengan kalimatny a sendiri. Aku melotot, mengancam Seli dengan bola bakso. ”Bercanda, Ra. Kamu sensitif sekali pagi ini. Aku saja yang dia tabrak tadi di anak tangga nggak ilfil. Biasa saja.” Seli nyengir tanpa dosa. Semangkuk bakso kantin ini lumayan lezat, apalagi saat udara ding in, tapi topik pembicaraan ini memengaruhi lidahku. Apalagi menatap wajah jail Seli. ”Kamu tahu, Ra,” Seli tiba­tiba berbisik, menurunkan volume suara, di tengah ingar- bingar kantin yang dipenu hi teman-teman sekolah, yang cepat merasa keroncongan saat udara dingin begini. ”Tahu apanya?” Aku tidak semangat menatap wajah penuh rahasia Seli. ”Ali pernah ikut seleksi Olimpiade Fisika,” Seli masih ber­bisik. ”Terus apa pentingnya?” Aku mengangkat bahu tidak peduli. ”Dia peserta seleksi olimp iade paling muda sepanjang sejarah, Ra. Waktu itu dia masih kelas delapan. Dia nyaris masuk dalam tim yang dikirim ke entah apa nama negarany a, Uzbekistan kalau tidak salah. Dia termasu k enam siswa paling pintar, genius malah. Itu penting sekali, bukan?” Seli ber­hah kepedasan, meraih botol kecap. ”Tapi si biang kerok itu batal dikirim. Pada minggu ter-akhir seleksi, dia meledakkan laboratorium fisika tempat karantina peserta seleksi. Iseng melakukan percobaan entah apa. Betul-betul meledak, Ra.” ”Dari mana kamu tahu itu?” aku basa­basi menanggapi. ”Perusahaan tempat papaku bekerja jadi sponsor utama tim olimpiade itu, Ra. Kejadian itu dirahasiakan, wartawan hanya tahu tim olimpiade pulang membawa beberapa emas dua minggu kemudian. Kata papaku, profesor pembimbing tim olimpiade tetap ngotot membawa Ali,

asi.com

TereLiye “Bumi” 28

bilang bahwa anak itu yang paling pintar. Dan menurut sang profesor, rasa ingin tahu kadang membuat seseorang nekat melakukan sesuatu, dan itu bisa di-maklu mi, tapi panitia lokal menolaknya. Ali batal jadi peserta Olimpiade Fisika termuda sedunia.” Melihat wajah Seli yang semangat bercerita, aku setengah tidak percaya, setengah hendak tertawa. Lihatlah, Seli berbisik seperti sedang menceritakan kisah berkategori top secret—Seli sepertiny a terlalu bany ak menonton serial Korea. ”Nah, Ali juga sudah empat kali pindah­ pindah sekolah selama SMP.” Seli mengambil sambal setengah sendok, tadi dia kebany a ka n menumpahkan kecap, membuat baksonya jadi terasa manis. ”Empat kali, Ra. Itu rekor.” ”Kamu tahu dari mana?” ”Kalau yang ini sih sudah rahasia umum.” Seli ber­hah ke­pedasa n lagi, volume suarany a kembali normal. ”Semua anak di sekolah ini juga tahu. Kamu saja yang tidak memperhatikan, lebih suka menyendiri di dalam kelas saat bel istirahat. Ali di-keluarkan dari sekolah, katanya sih karena sering berkelahi.” Aku tidak tertarik dengan cerita Seli. Aku sedang menatap kasiha n temanku itu. Lihatlah, dia sekarang menumpahkan kecap lagi. Sudah empat kali Seli bolak-balik menambahkan sambal dan kecap di mangkuk baksony a , membuat bening kuah bakso berubah hitam. ”Nah, saat penerimaan sekolah baru kemarin, banyak SMA yang menolak menerimany a. Katanya sih bukan semata- mata karena dia sering berkelahi. Tapi seram saja.” Seli menyeka keringat di dahi. ”Seram apanya?” ”Seram kan kalau kamu harus menerima murid sepintar dia? Guruguru kita saja sering grogi di kelas kalau dia mulai ber-tanya yang anehaneh. Kalau kamu dalam posisi harus mengajari anak sepintar dia, pasti kamu salah tingkah. Horor dalam arti berbeda. Hanya Miss Keriting yang tidak peduli, bahkan tega menghukumnya.” Seli nyengir lebar.

asi.com

TereLiye “Bumi” 29

Aku ber-oh pelan. Aku lebih tertarik menghabiskan bakso-ku. ”Sebenarnya sih… eh, tapi kamu jangan marah ya?” Seli tiba-tiba terlihat seperti menahan tawa. Apa lagi ini? Tanganku yang menyendok bakso terhenti. ”Tapi kamu jangan marah ya, Ra…,” Seli mengulangi. Aku menggeleng. ”Kenapa aku harus marah? Aku tidak peduli kamu cerita tentang si biang kerok itu.” ”Ali tuh sebenarny a termasuk gwi yeo wun…” Seli kini sunggu h- a n tertawa. ”Gwi yeo wun?” Dahiku terlipat. ”Cute, Ra. Kalau saja dia lebih rapi, sikapnya lebih manis, rambut ny a diurus, pasti mirip bintang serial Korea yang aku tonton. Serasi sekali dengan Ra yang manis dan berambut pan­jang.” Kali ini aku sungguhan menimpuk Seli dengan bola bakso. Seli tertawa dan cekatan menghindar. Tapi gawat! Baksoku me-ngenai kepala anak kelas dua belas! Kami terpaksa bergegas kabur dari kantin, sambil berteriak ke tukang bakso bahwa bayar-nya nanti- nanti. ”Kamu cari masalah, Ra. Cewek itu ketua geng cheerleader.” Seli berlari- lari kecil menarikku, berbisik sebal. Aku patah-patah mengik u t i langkah kaki Seli, melewati keramaian kantin. Tadi itu jelas-jelas bukan salahku. Sasaranku kepala Seli, dan salah siapa mereka duduk persis di belakang Seli? ”Semoga mereka tidak tahu kita yang melemparny a.” Seli nyengir . ”Bakso yang kamu lempar telak mengenai kepalany a. Mereka pasti lagi marah- marah mencari tahu siapa yang me­lempar.” Kami bergegas kembali ke kelas. Ruangan kelas X-9 masih kosong , hanya ada Ali yang entah kenapa sedang berada di meja kami, seperti habis melakukan sesuatu. Seli me-lotot, mengusir- ny a.

asi.com

TereLiye “Bumi” 30

Ali hanya mengangkat bahu, merasa tidak bersalah. ”Sejak kapan orang dilarang duduk di kursi mana saja saat istirahat?” dalihny a. Dia bersiap mengajak bertengkar. Aku menyikut Seli, menyuruhnya tidak menanggapi Ali. Setidakny a, hingga bel sekolah berbuny i, tidak ada kejadian yang membuatku tambah jengkel. Pelajaran bahasa, aku suka. Aku memasa n g wajah semringah selama pelajaran berlangsu ng. Sepertinya hampir seluru h teman sekelas menyukai guru bahasa kami. Dia persis seperti tutor acara berbahasa yang baik dan benar di siaran televisi nasional, pintar, tampa n, dan pandai bergurau. Hanya Ali yang tampak kusut, dengan wajah tertekuk di pojokan kelas. Aku tertawa dalam hati, melirikny a, mengingat cerita Seli di kantin tadi—yang entah betul atau tidak, mungk in Ali benci pelajaran ini karena tidak tahu bagian mana yang bisa diledakkannya. Bel pulang sekolah bernyany i kencang, dengung gaduh me-menu h i seluruh bangunan sekolah. Aku pulang naik angkutan umum bersama Seli. Sayangny a, tiba di rumah aku menemukan masalah baru. Masala h dengan dua kucingku. Dan itu lebih serius dibanding kejadian tadi pagi di sekolah dengan sosok tinggi kurus yang mendadak muncul kemudian hila ng di depan mata-ku.

asi.com

TereLiye “Bumi” 31

ISA hujan sepanjang pagi sudah menguap di jalanan saat angk ot yang kutumpangi merapat di depan rumah. Seli bilang nanti dia yang bay ar. Aku mengangguk, lalu turun dari angkot. Aku berlari-lari di rumput halaman, membuka pintu depan, ber-teriak mengucap salam—suara Mama terdengar menjawab dari dapur. Aku naik ke lantai dua, menuju kamarku, melempar tas sekolah sembarangan ke atas kasur. Mama yang sedang memasak di dapur meneriakiku agar bergega s ganti baju, makan siang, dan bersiap-siap. Pukul tiga kami harus segera be­rangkat ke toko elektronik. Aku balas berteriak, ”Siap, Ma!” Aku tertawa riang. Jalan bersama Mama selalu menyenangkan. Hal pertama yang kulakukan kemudian adalah melongok ke sana kemari. Ini aneh sekali, biasanya dua kucingku sudah riang menyambut saat aku masuk ke dalam rumah. Tapi tadi yang loncat dari balik pintu hanya si Putih. Si Hitam tidak kelihatan sama sekali. ”Hei, si Hitam mana, Put?” Si Putih seperti biasa menyundul- nyundul manja betisku, menge on g pelan. ”Kamu lihat di mana si Hitam, Put?” Aku lembut mengangkat­ ny a dengan kedua telapak tangan, memelukny a, terus memeriksa kamar sambil menggendong si Putih. Aduh, ke mana pula ku-cing-ku yang satu lagi? Tidak ada di kamarku. Juga tidak ada di kamar lain lantai dua. Aku beranja k menuruni tangga, boleh jadi si Hitam sedang malas- malasan di dapur, menghabiskan makanan. ”Kamu belum berganti pakaian, Ra?” Mama menegurku. Aku menggeleng, masih sibuk mencari. Si Hitam tidak ada di dapur. Tidak ada juga di bawah meja makan, di sebelah lemari, atau di tempat favoritnya selama ini. Aku menghela

asi.com

TereLiye “Bumi” 32

napas. Ini jarang sekali terjadi, bahkan seingatku tidak pernah ter-jadi. Dua kucing ”kembar”­ku ini selalu ber­sama­sam a menyambut­ku. Selalu berdua ke mana- mana, ber-main berdua, kompak. ”Apa si Hitam sakit, Put?” Si Putih yang sedang kugendong hanya mengeong. Mata bulat- ny a bekerjap-kerjap. Baiklah, aku beranjak memeriksa ruang tengah, ruang tamu, kamar mandi, bahkan garasi, apa pun tem-pat yang mungkin. Lima menit sia-sia, aku kembali masuk ke dapur. ”Kamu belum berganti pakaian, Ra? Ayo bergegas, lama-lama di toko elektronik. Mama harus menyiapkan papamu pulang lebih awal malam ini.” Mama me­natapku Gerakan tangannya yang sibuk mem-bereskan peralatan sejenak, memperhatikanku yang sedang mencari sesuatu.

kita tidak bisa makan mala m , tidak mengert i. masak terhenti

Aku menggeleng. ”Kamu mencari apa sih, Ra?” ”Ma, lihat si Hitam?” ”Si Hitam? ke­sayanganm u?”

Bukanny a

kamu

sedang

menggendong

kucing

”Bukan yang ini, Ma. Satunya lagi.” ”Satunya lagi apa?” ”Iya, kucing Ra yang satunya lagi, Mama nggak lihat?” ”Aduh, Mama nggak ngerti deh. Kamu jangan aneh­aneh lagi kay ak waktu SD dulu. Jelas­jelas sejak dulu hanya ada satu kucing di rumah ini.” Mama melotot, lantas sedetik kemudian t-angan- nya kembali membere sk a n peralatan. ”Ayo cepat ganti se­ragammu, lalu makan siang. Janga n keseringan menggoda Mama seperti yang sering papamu lakukan, Ra.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 33

Aku menelan ludah. Sebenarnya aku ingin mengelu h, karena Mama terlihat santai-santai saja padahal kucingku hilang satu, tapi aku langs u n g mengurungkanny a. Aku seketika tertegun. Eh, Mama barusan bilang apa? Satu ekor? Aku benar-benar baru menyadari hal itu sekarang, detik ini. Seperti ada yang melemparkan pemikiran itu di kepala. Ditam- bah dengan kejadia n tadi pagi, melihat sosok tinggi kurus di sekolah, tiba-tiba membu at k u berpikir ada yang benar-benar keliru dengan dua ekor kucing ”kembar” kesayanganku selama ini. Setelah enam tahun punya kucing, aku pikir itu semua hanya gurauan Mama dan Papa. Jangan-jangan… ”Ayo, cepat ganti seragam. Jangan malah bengong,” Mama ber­seru mengingatkan. *** Sejak usia enam tahun aku ingin punya kucing. Saking inginny a, aku pernah menculik kucing anggora milik Tante Anita, adik Mama, waktu kumpul arisan keluarga di rumahnya. Aku sehari-an bermain bersam a kucing itu, memegang buluny a yang tebal seperti beludru KW1, hang at memelukny a sambil tiduran, ber-lari mengejarny a di taman. Akhirnya saat pulang, aku gemas dan me–masuk–kan kucing itu ke dalam tas. Dua hari kucing itu ku-sem-buny i-kan di kamar. Persis hari ketiga, Mama menemukan- ny a. Mama marah besar, bilang tanteku justru cemas mencari ke sana kemari kucing kesayangannya dua hari terakhir. Aku hanya menatap polos . ”Kucingnya lucu, Ma. Lagian Tante juga bilang, kalau Ra mau, kucing ny a boleh dipinjam beberapa hari.” Mama tambah marah. ”Dipinjam itu berarti bilang­bilang. Kamu mencuriny a.” Papa hanya tertawa, meredakan marah Mama, bilang bahwa aku masih enam tahun. Papa lantas mengantar kembali kucing itu pulang ke rumah Tante Anita, membiarkan aku merengek menangis.

asi.com

TereLiye “Bumi” 34

”Nanti­ nanti, kalau Ra sudah besar dan bisa mengurus kucing peliharaan sendiri, baru boleh,” Mama tegas berkata, dan itu berarti tidak bisa ditawar-tawar lagi. Tiga tahun berlalu sejak kejadian itu. Persis ulang tahunku yang kesembilan, kucing ”kembar” itu hadir di rumah kami. Aku yang tahu hari itu ulang tahunku berseru-seru riang me-nuru n i anak tangga. Sambil mengucek mata, me-nguap, masih ileran, rambut panjang berantakan, aku berteriak­teriak, ”Mama! Papa! Ra ulang tahun. Mana hadiahny a?” Mama dan Papa yang sudah bangun lebih awal tertawa. Mereka menungguku di meja makan sejak tadi. Aku ikut tertawa demi melih at tumpukan kotak hadiah di lantai. Aku langsung loncat bersemangat. Ada enam kotak hadiah— dua dari Papa dan Mama, yang lain dari saudara dekat dan tetangga. Persis saat aku selesai mem-bongkar kotak keenam dan tertawa membentangkan sweter hi-jau, bel rumah diteka n seseorang, bernyany i nyaring. ”Biar Ra yang buka.” Aku beranjak berdiri—siapa tahu itu kadoku yang ketujuh. ”Sejak kapan Ra mau disuruh membukakan pintu kalau ada tamu?” Mama tertawa, menggoda. ”Yang ada malah berteriak­teriak meny ur u h orang lain.” Aku menjulurkan lidah. ”Biarin. Hehe.” Aku berlari­ lari kecil ke pintu de-pan. Dugaanku tepat, itu kado ketujuh. Kado paling spesial. Di dala m kardus berwarna pink, beralaskan talam lembut, ditutup kain sutra, hadia h ulang tahunku menunggu. Saat aku membuka kain sutra tipis, dua anak kucing berbulu tebal terlihat mengeong tidak sabar, saling gelitik, bermain satu sama lain. Aku sungguh kehilangan ekspresi terbaik, tidak bisa ber-kata-kata lagi. Aduh, dua anak kucingny a lucu sekali. Mata mereka bundar bercahaya, bulunya lebih lebat daripada yang bisa kubayangkan. Dua anak kucing anggora usia dua minggu. Kedua- nya tampak mirip. Warna bulu mereka hitam dengan bintik-bintik putih, atau

asi.com

TereLiye “Bumi” 35

boleh jadi sebenarny a putih dengan bintik-bintik hitam, saking ratany a warna hitam- putih tersebut. Dua ekor kucing itu tidak bisa dibeda k a n, kembar. ”Mama yang membelikan kucing?” Papa berbisik. Papa dan Mama sudah berdiri di belakangku. Mama menggeleng. ”Mungkin dari tantenya.” ”Aduh lucunya.” Itulah kalimat pertamaku setelah terdiam satu menit menatap dua makhluk menggemaskan itu. Aku akhir-nya merengkuh dua ekor kucing itu, menoleh ke Mama dan Papa. ”Boleh Ra pelihara ya, boleh ya, Ma?” Mama mengangguk, dan aku sudah rusuh membawa kotak itu ke dalam, berlari, bahkan sebelum anggukan Mama ter-henti. *** Masih enam tahun lalu, saat usiaku sembilan tahun. ”Kamu sudah memberi nama kucingmu, Ra?” Papa ber­tany a, me-letakkan secangkir minuman hangat ke atas meja. Kami se- dang berkumpul di ruang keluarga, habis makan ma-lam ulang tahun- k u . Sekarang jadwal menonton DVD, film kar-tun favorit-ku. ”Sudah, Pa,” aku menjawab pendek, sedang asyik bermain ber­ sama dua ekor kucing baruku di atas karpet. ”Papa boleh tahu namany a?” Papa antusias, mendekat. ”Si Hitam dan si Putih,” aku menjawab, tersenyum manis. ”Si Hitam atau si Putih, maksudm u?” Papa mendekat lagi, kening ny a berkerut tipis, ikut melihat kucing yang merangkak naik di pahaku. ”Bukan, Pa. Si Hitam dan si Putih.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 36

”Eh? Maksudm u, nama kucingny a ada dua? Dikasih dua nama ya, karena warna bulunya tidak bisa dibedakan hitam berbelang putih atau putih berbelang hitam?” Papa bingung. ”Bukan, Pa.” Aku menoleh. Masa Papa nggak ngerti juga, ujarku dala m hati. ”Kucingny a kan ada dua, Pa. Jadi yang satu namanya si Hita m , satunya lagi si Putih.” Waktu itu aku tidak terlalu menganggap penting percakapan tersebut. Mama menyikut pelan Papa, mengedipkan mata. Papa mengangkat bahu, menoleh, menatap Mama tidak mengerti, lalu kem-bali duduk di sofa. ”Biasa, Pa. Beberapa anak juga begitu. Selalu puny a ‘teman lain’, ” Mama berbisik. ”Teman lain?” Papa ikut berbisik. ”Teman imajinasi.” Mama tersenyum simpul. ”Bermain denga n imajinasi. Karena kucingny a hanya satu, biar seru, mungkin Ra mengang g a p ada anak kucing lain, biar ada temannya. Jadilah dia seperti punya dua kucing.” ”Mama serius?” Papa menelan ludah. ”Tentu saja. Coba Papa tanyakan ke teman kantor, tetangga, kenala n, mereka pasti bilang anak-anak biasa mengalami fase itu. Tidak berbahay a , lama-lama hilang sendiri.” ”Tapi Ra kan sudah sembilan tahun, Ma?” Mama tertawa pelan. ”Bukannya Papa sendiri yang bilang bahwa Ra masih bayi? Setiap malam selalu mengecup dahiny a, bilang, ’Selamat tidur, bayi besarku.’” Papa tertawa, lalu mengangguk. Dia meraih remote DVD play er . ”Mama benar. Ra masih anak­anak. Setidakny a dia senang sekali denga n kucing barunya. Bahkan film kartun ke-sayangannya pun diabaikan. Kita nonton yang lain saja. Mum­pung Ra tidak akan protes.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 37

Malam itu, aku telanjur senang dengan hadia h kucing di dalam kotak berwarna pink itu. Aku sedikit pun tidak mem-per-hatikan percakapan Papa dan Mama. Dan karena sejak usiaku dua puluh dua bulan, sejak bermain petak umpet itu, keluarga kami terbiasa dengan hal- hal aneh, soal kucing itu cepat atau lambat juga dianggap biasa saja. Bahkan saat arisan keluarga diadakan di rumah kami beberapa bula n kemudian, Tante Anita berseru riang, ”Aduh, sejak kapan Ra punya kucing ? Kok nggak bilang- bilang sih, Ra. Cantik sekali. Kayaknya lebih cantik di-banding kucing Tante, ya.” Sebelum aku menjawab, Mama justru memotong, bertanya balik ke Tante, ”Bukanny a kamu yang kirim kotak pink itu? Hadiah ulang tahun Ra enam bulan lalu?” Tante Anita menggeleng bingung. ”Aku kan mengirimkan sweter. Lagi pula kalau kucing­ nya secantik ini, lebih baik untuk aku saja.” Tante Anita lantas tertawa. Tidak ada yang tahu siapa sebenarny a yang mengirimkan kotak berwarna pink, beralaskan beludru dan ditutup kain sutra terbaik itu, dan tidak ada yang berusaha mencari tahu siapa yang me-ngirim—kan- ny a . Seiring waktu yang berjalan cepat, tidak ada yang terlalu memperhat ika n saat aku bermain kejar-kejaran dengan dua kucingku di taman, saling menggelitiki, basah-basahan, memberi-kan susu, dan menyia p ka n makanan. Bagiku, kucing itu selalu ada dua, si Putih dan si Hitam. Aku tidak pernah merasa kucing itu ha-nya satu seperti yang dilihat Papa, Mama , tetangga, atau ke-ra-bat. Me-reka hanya tahu aku punya seekor kucing anggora lucu. *** ”Ra!” Suara Mama mengagetkanku. Mama sudah berdiri di depan pintu kamar. Aku menoleh. ”Aduh, berapa kali lagi Mama harus bilang. Cepat ganti baju, lalu makan siang. Kita harus jalan sekarang. Kalau kesorean, nanti tok o elektroniknya tidak bisa mengantar mesin cuciny a hari ini. Mama juga harus masak makan malam.” Mama seperti­nya ter­lihat marah, menatapku, tidak mengerti kenapa aku masih mengena- kan seragam

asi.com

TereLiye “Bumi” 38

sekolah. ”Ayo, Mama tunggu lima belas menit di garasi, sekalian Mama membereskan garasi. Kalau kamu tidak siap­siap juga, Mama tinggal.” ”Iya, Ma,” aku menjawab pelan. ”Dan satu lagi. Bermain kucingny a bisa nanti­ nanti. Si Putih atau si Hitam kan bisa main sendiri. Dari tadi kucingny a di-gendong, dibawa ke mana­ mana.” Mama menunjuk kucing yang masih kugendong. Aku menelan ludah, mengangguk. Punggung Mama hilang dari bingkai pintu, turun ke lantai satu menuju garasi. Sekarang suasana hatiku benar-benar berubah. Suram. Separuh hatiku sedih karena si Hitam tetap tidak berhasil ku-temuka n setelah hampir setengah jam memeriksa rumah—aku mulai cemas jangan-jangan si Hitam kenapa- napa, separuh hatiku bingung denga n semua pemikiran baru yang ber-kembang di kepalaku. Bagaimana mungk in kucing itu hanya satu? Aku sendiri yang setiap hari menyusuinya denga n botol susu hingga usia beberapa bulan, memberikan piring berisi makan- a n, me-mandikannya, mengeringkan bulunya, menyisir bulu-ny a. Mama pasti keliru. ”Kamu lihat si Hitam tidak, Put?” aku berbisik. Kucing yang kugendong hanya mengeong pelan. Mata bulat- ny a terlihat bercahaya seperti biasa, manja menyundul- ny und ul-kan kepala ny a ke lenganku. ”Sungguhan tidak lihat?” Aku mengelus kepalany a. Kucing yang kugendong tetap mengeong pelan. Baiklah. Aku menghela napas, meletakkan si Putih di lantai, beranja k merapikan isi lemariku yang tadi kubongkar. Aku me-masukkan kemba li kotak berwarna pink yang enam tahun lalu tergeletak rapi di depan pintu rumah kami, tanpa pernah tahu siapa yang mengantarnya, tidak ada siapa-siapa di halaman, tidak ada kurir atau petugas yang mengantar ka n kotak itu.

asi.com

TereLiye “Bumi” 39

Baiklah. Urusan ke mana perginy a si Hitam bisa kuurus se-telah pulang menemani Mama ke toko elektronik. Saatnya ber-ganti seragam , makan siang dengan cepat. Siapa tahu saat aku pulang dari toko, dua kucingku sudah bermain bersama lagi.

asi.com

TereLiye “Bumi” 40

IMA belas menit kemudian, setelah mengunci pintu dan menut u p gerbang pagar, Mama memboncengkan aku dengan Vespa, melaju di jala na n pukul tiga sore. Belum terlalu macet, cahaya matahari mulai terasa lembut , meski udara pengap kota tetap terasa. Mama gesit menyalip kendaraan lain kalau saja aku lebih riang, aku akan menceletuk, ”Salip lagi yang di depan, Ma! Lebih cepat!” dan tertawa. Mama akan balas tertawa. ”Tapi janga n bilang papamu kalau kita ngebut.” Mama ke mana- mana lebih suka mengendarai motor, jago sejak kuliah. Menurut cerita versi Papa, bahkan dulu waktu kuliah Mama pernah ikut balapan motor, tapi aku memutuskan tidak percaya. Setengah jam acara salip- menyalip, Vespa Mama sudah ter-parkir rapi di basement pusat perbelanjaan besar. Aku ber-usaha menyejajari langk a h Mama yang kalau jalan juga selalu super-cepat menuju tangga eskalat or . Tujuan pertama kami adalah toko elektronik. Aku sering ke toko ini, menemani Mama, tapi belum pernah ke bagia n mesin cuci. Terhampar di bagian tersendiri, berpuluh-pu luh model mesin cuci berjejer. Aku menatap terpesona seluruh mesin cuci itu sambil berpik ir , ternyata tidak berbeda dengan ponsel, bany ak model, banyak fitur, bany ak spesifikasi, dan jelas banyak mereknya. ”Tergantung kebutuhannya, Bu,” petugas sales toko elektronik sudah melesat menyambut kami, tersenyum dua senti sesuai SOP, memu la i strategi menjualny a. ”Kalau Ibu butuh mesin cuci yang bisa mencuci pakaia n sekotor apa pun, kinerjany a kinclong, Ibu pilih saja yang front load ing . Kapasitasnya besar, listrikny a lebih hemat, dan efisien tempat. Meskip u n kekurangannya, mesinny a lebih bergetar, suarany a lebih berisik, agak beraroma karena sering menyisakan air di dalam, dan lebih mahal.” Aku tertawa dalam hati, melihat gaya petugas sales membay angkan Ali dalam versi lebih dewasa, sok tahu sedang

itu. Aku

asi.com

TereLiye “Bumi” 41

menjelaskan teori menghilang, eh mesin cuci. Seli salah, apanya yang cute, Ali itu lebih mirip petugas sales ini, malah lebih rapi petugas sales- nya. ”Atau kalau Ibu hanya mencuci pakaian yang tidak terlalu kotor, bujet terbatas, dan tidak punya masalah dengan tempat di rumah, pilih saja yang top loading. Kinerja mencuciny a tidak sebaik front loading, tapi siapa pula yang hendak mencuci se-ragam penuh lumpur? Anak Ibu tidak suka pula ng kotor­kotor, kan?” Petugas sales tertawa, menunjukku. ”Atau Ibu mau men-coba jenis mesin cuci terbaru kami, hybrid dua model yang say a jelaskan sebelumny a, high efficiency top loading? Ini paling mutak h ir , meski paling mahal.” Sedetik tertawa dengan gurauan­ nya, petugas sales sudah kembali lagi dengan jualannya. Lima belas menit mendengarkan cuap-cuap petugas sales, Mama menunjuk pilihanny a. Model mesin cuci yang sama persis dengan puny a kami yang rusak di rumah. Aku bingung menatap Mama. ”Setidaknya Mama tahu, yang ini bisa awet hingga lima tahun ke depan, Ra. Tidak perlu yang aneh­aneh,” Mama berbisik, menjelas ka n alasanny a. ”Terus kenapa Mama tadi sok mendengarkan penjelasan petugas sales kalau memang akan memilih yang ini?” balasku, juga dengan berbisik. ”Yah, setidakny a Mama jadi tahu model terbaru mesin cuci, kan? Lagi pula, kasihan petugas sales­nya kalau dicuekin.” Aku menepuk dahi, akhirny a tidak kuat menahan tawa. Betul, kan. Jalan- jalan bersama Mama selalu menyenangkan. Petugas sales yang sedang mengepak mesin cuci yang kami beli menoleh, tidak mengerti kenapa aku tiba-tiba tertawa, berbisik-bisik. Setelah memastikan mesin cuci itu akan diantar sore ini juga ke rumah, paling telat tiba nanti malam, kami meninggalkan toko elektronik , pindah ke supermarket. Mama belanja keperluan bulanan. ”Kamu tidak

asi.com

TereLiye “Bumi” 42

mau ke toko buku?” Mama bertanya, men­dorong troli masuk ke lorong detergen dan teman-teman- nya. ”Buku yang kemarin­kemarin saja belum Ra baca. Lagian banyak PR dari guru, Ma. Nggak sempet baca novel.” Aku meng­geleng. ”Nah, lalu jatah uang bulanan buat beli bukumu kamu pakai buat apa?” Mama menunjuk dompetnya di saku. ”Buat nambah in beli keperlu a n Mama saja ya.” Mama mengedipkan mata. ”Nggak boleh. Curang,” aku buru­buru berseru, memotong. ”Sebent ar , Ra punya ide lebih baik.” Aku bergegas meninggalkan Mama, pindah ke lorong lain di supermarket. Aku kembali lima menit kemudian, saat Mama sudah mendorong troli di lorong minyak goreng dan teman-temannya. Aku ter­senyum, meletakkan satu kotak es krim batangan ke dalam troli. ”Ide bagus, kan?” Mama menghela napas, tidak ber-komentar. Itu pula enaknya pergi bersama Mama, aku bebas belanja apa saja sepanjang itu memang jatahk u . Persis jam tangan menunjukkan pukul lima sore, aku dan Mama membawa kantong plastik belanjaan ke parkiran motor. Jalanan semakin padat, suara klakson dan asap knalpot ber-gabung dengan kesibukan orang pulang kantor dan aktivitas lainnya. Setelah hujan sepanjang pagi tadi, lang it sore ini terlihat bersih, awan tipis tampak jingga oleh matahari senja. Mama gesit mengem udikan Vespa-nya, menaklukkan kemacetan. Satu tangank u memegangi belanjaan, satu tangan lagi berpegangan. Rambut panja ng k u berkibar keluar dari helm. ”Jangan bilang­ bilang Papa kita ngebut, ya,” Mama berseru. Aku tertawa, tidak menimpali. *** Tiba di rumah, tetap hanya si Putih yang berlari-lari me-nyambut- k u . Aku menelan ludah, hendak menggendong kucingku — namun urung, takut Mama mengomel. Aku membantu meletak-kan

asi.com

TereLiye “Bumi” 43

belanjaan di dapur, beres-beres sebentar, lantas buru-buru menyingk ir sebelum Mama menyuruhku membantu memasak. ”Ra ke kamar ya, Ma, ada PR.” Aku meraih kotak es krim ba­tang­anku, dan sebelum Mama berkomentar, aku sudah menuju ruang tengah, diikuti si Putih. Setelah lima belas menit mengerjakan PR matematika dari Miss Keriting, aku berpendapat bahwa yang menyusun jadwal pe-lajaran kelas X-9 pasti genius seperti Ali. Bayangkan, dua hari berturut-turut pelaja ra n pertamanya adalah matematika—mood-ku menyelesaikan PR langs u n g menguap. Mataku me-mang me-natap angka-angka di atas kertas, tetapi kepalaku me-mikirkan hal lain. ”Kira­kira si Hitam ke mana ya, Put?” Aku beranjak meraih si Putih yang melingkar anggun di ujung kaki, menemaniku me-ngerjakan PR. Si Putih hanya mengeong. Mata bundarny a mengerjap ber-cahaya. ”Atau jangan­ jangan tadi dia menemukan kucing betina ya, Put? Jatuh cinta? Jadi minggat?” Aku nyengir dengan ide yang melintas jail itu. Si Putih tetap mengeong seperti biasa, manja minta dielus dahiny a . Aku tertawa sendiri. Itu ide buruk. Sepertinya aku harus membaca buku tentang kucing lagi, supaya tahu kenapa kucing minggat dari rumah. Iya kalau cuma minggat? Kalau kenapa- napa? Aku menelan ludah, buru- buru meng us ir jauh-jauh kemungkinan buruk itu. Atau jangan- jangan Mama benar? Memang hanya ada satu kucing di rumah ini sejak dulu. Si Hitam hany a imajinasiku. Teman ”lain”. Aku menelan ludah lagi, buru­ buru meng us ir penjelasan itu. Aku tahu persis ada dua kucing di rumah ini. Aku menamai yang satu si Hitam dan satunya lagi si Putih karena meski nyaris ter-lihat sama, dua kucing itu berbeda. Warna bulu yang me-ngelilingi bola mata mereka berbeda. Si Hitam seperti mengena-kan kacamata hitam tipis, dan si Putih sebaliknya. Hingga Mama meneriakiku agar segera mandi, bergegas turun makan malam, aku lebih sibuk memikirkan kucing-kucing itu dibanding PR matematika. Sempat untuk kesekian kali aku berusaha mencari si Hita m , berkeliling rumah dengan kedua telapak tangan menutupi wajah, agar Mama tidak melihatku. Si Hitam tidak ada di mana- mana, di

asi.com

TereLiye “Bumi” 44

halaman depan maupun bela-kang. Kucingku itu sepertiny a betulan minggat. Aku sementara menyerah. Sudah pukul tujuh malam, setengah jam lewat dari jadwal biasa- ny a Papa pulang. Setelah mandi, membantu Mama menyiap-kan makan mala m di meja, membantu Mama mengurus mesin cuci yang diantar toko elektronik, aku dan Mama duduk di ruang keluarga, menunggu Papa pulang . ”Papa kenapa belum pulang juga ya, Ma?” aku bertanya. ”Mungkin macet.” Mama memencet remote, mengganti saluran stasiun televisi. ”Kita makan duluan yuk, Ma.” ”Tunggu Papa, Ra,” Mama menjawab pendek. ”Tapi Ra lapar, Ma.” Aku nyengir —mem asang wajah seperti tidak makan tiga hari. Mama tertawa, melambaikan tangan. ”Bukanny a kamu menghabiskan tiga batang es krim sore tadi? Dasar gembul.”

sudah

Aku memajukan bibir. Namanya lapar, ya tetap saja lapar. Pukul delapan malam, Papa belum pulang juga. Gerimis turun membasuh rumah. Belum deras, tapi cukup mem-buat jendela terlihat basah, berembun. ”Tetap nggak diangkat, Ma,” aku berseru dari meja telepon. Baru saja, untuk yang keempat kali aku menelepon ponsel Papa. Mama menghela napas. ”Kantor juga mulai kosong, sudah pada pulang.” Aku men­dekati sofa; aku juga barusan menelep on ke kantor. ”Kata sat­pam kantor yang menerim a telepon, Papa dari tadi siang nggak ada di kantor. Ra makan duluan ya, lapar berat, hampir sem-poy ongan jalanny a nih.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 45

Mama menatapku yang pura­pura melangkah gontai. ”Ya sudah, kamu makan duluan saja.” ”Terima kasih, Ma.” Aku tersenyum lebar, langsung sigap menu ju meja makan. Pukul sembilan malam, Papa belum pulang juga. Hujan turun semakin deras. Hari-hari ini musim hujan, cerah sejenak seperti sore tadi bukan berarti cuaca tidak akan berubah dalam hitung- an jam. Petir menya m b ar terlihat terang dari jendela dengan tirai tersingkap. Gelegar guntur mengikuti. Aku bahkan sudah dua kali naik-turun kamar, ruang keluarg a , mengerjakan PR matematika, mengecek Mama yang masih me-nu ng g u sambil menonton televisi. Urusan kucingku si Hitam se-dikit terlupa ka n — aku menghibur diri dengan meyakini si Hitam minggat ke rumah tetangg a , nanti­ nanti juga pulang. ”Mungkin Papa tiba-tiba diajak pemilik perusa h aa n pergi ke luar negeri kali, Ma? Kayak enam bulan lalu.” Waktu itu, Papa mala h baru pulang besok sorenya, mendadak diajak survei mesin pabrik yang baru. Tetapi setidaknya, waktu itu Papa menelepon, memberitah u, jadi tidak ada yang menunggunya. Mama menoleh, terlihat mengantuk. ”Kamu tidur duluan saja, Ra. Biar Mama yang menunggu Papa.” Aku menggaruk kepala yang tidak gatal, kasihan melihat Mama yang pasti keukeuh tidak akan tidur, tidak akan makan sebelum Papa pulang. ”Atau jangan­ jangan Papa lagi berusaha memenangkan hati pemilik perusahaan, Ma? Eh, misalny a dengan bikin konser musik di rumah ny a , ngasih hadiah kejutan, kali-kali saja pemilik perusahaan ulang tahun hari ini.” Mama tertawa kecil. ”Kamu ada­ada saja. Sudah, kamu tidur dulu a n. Paling juga papamu pergi ke pabrik luar kota. Ponselny a ketinggalan di kantor. Lupa memberitahu.” Pukul setengah sepuluh, setelah dipaksa Mama, aku akhirnya naik kembali ke kamar. Kucingku si Putih sudah malas- malasan meringkuk

asi.com

TereLiye “Bumi” 46

tidur di pojok ranjang. Hujan deras membungkus rumah kami. Aku mengintip dari sela tirai kamarku. Halam an basah, sejauh mata memand a n g hanya kerlip cahaya lampu di antara jutaan butir air. Aku menghela napas pelan, setidakny a Papa kan naik mobil, jadi kalau sekarang dalam perjala na n pulang tidak akan kehujanan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 47

APA baru pulang lewat pukul sepuluh. Aku yang belum tidur, meski sudah mematikan lampu sejak tadi, bergegas turun saat mende n g ar mobil memasuki garasi. Aku menempelkan ke-dua telapak tangan ke wajah , mengintip dari sela jemari, berdiri di anak tangga. ”Papa minta maaf, Ma.” Suara Papa terdengar lelah, menyeka rambut di dahi. ”Hari ini di pabrik kacau sekali. ”Tadi pagi Papa buru­buru berangkat ke kantor, karena jadwa l pengoperasian mesin yang dibeli enam bulan lalu itu ternyata dimajuk a n hari ini. Pemilik perusahaan mengajak beberapa mana- jer senior ke pabrik , melihat seberapa baik mesin itu bekerja.” Papa mengembuskan napas, mengem paskan tubuh di sofa, me-lepa s sepatu. ”Setengah jam pertama, mesin itu sepertinya tidak bermasa la h , bahkan sangat prima, tapi entah kenapa, persis saat kami akan kembali ke kantor, salah satu sabuk mesin terlepas. Itu mesin pencacah raksasa, terbayang saat sabuk dengan lebar se-tengah meter, panjang tiga pulu h meter, terlempar begitu saja ke udara. Sebelas karyawan luka parah seketika, dilarikan ke rumah sakit. Belasan lain luka ringan, terkena bahan mentah yang seperti peluru ditembakkan ke segala penjuru. Rombon ga n dari kantor beruntung ada di boks terlindung kaca, hanya dindingny a yang retak.” ”Tapi tidak ada yang meninggal, kan?” Mama bertanya pri­hat in, membantu membereskan sepatu dan kaus kaki Papa. Papa menggeleng. ”Tetap saja itu kecelakaan paling serius yang pernah terjadi. Operasional pabrik terpaksa dihentikan hingga mesin itu diperbaiki, kemungkinan hingga seminggu ke depan. Dan itu otom at is berarti Papa harus berangkat pagi pu-lang malam seminggu ke depan. Semua ini benar-benar seperti di luar akal sehat. Itu mesin baru. Teknisi bule yang memasang- ny a bahkan masih ada di pabrik. Sabuk setebal itu putus begitu saja, seperti ada yang memotongny a dengan benda tajam.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 48

Mama tidak berkomentar lagi, hanya tatapan matanya yang lembut seolah berkata sebaikny a Papa mandi dulu, makan malam, istirahat, semua masalah pasti bisa diselesaikan. ”Belum lagi, pemilik perusahaan marah­ marah, dan Papa­lah yang paling kena batunya. Papa yang menyarankan membeli mesin itu, memeriksa spesifikasiny a, memilih vendorny a, dia bahkan berteriak-ter ia k mengancam akan memecat siapa saja yang tidak becus. Hari ini melela h ka n sekali, mengurus buruh yang terluka, juga mengurus bos besar yang mengam uk. Papa minta maaf lupa menelep on. Ponsel Papa ketinggalan di kantor, tidak tahu kalau Ra dan Mama sudah menelep on berkali-kali, cemas menunggu makan malam bersama.” Papa me-nyisir rambut- nya denga n jemari, menatap Mama, merasa ber-salah. Mama tersenyum anggun. ”Ya sudah. Sekarang Papa cepat mand i, pasti jadi lebih segar.” Aku yang mengintip dari balik jari tengah dan telunjuk di anak tangga menghela napas. Kalau sudah begini, pasti urusan di kantor besok-be s ok akan tambah rumit. Kalau sudah begini, siapa pula yang sedang berusa h a memenangkan hati pemilik perusahaan dengan konser musik? Aku beranja k naik ke lantai atas, kembali ke kamar. ”Papa sudah makan?” ”Belum sempat. Tepatnya tidak kepikiran. Mama sudah?” ”Belum. Hanya Ra yang sudah. Dia pura­pura mau pingsan bahka n sejak pukul tujuh. Anak itu semakin susah disuruh makan malam bersam a .” Suara bergurau Mama terdengar lamat-lamat, juga tawa Papa yang lelah. Aku pelan mendorong pintu kamarku. Aku menatap kamarku yang gelap, menyisakan selarik cahaya dari lampu jalanan. Hujan deras terus turun di luar. Si Putih tidur me-ringkuk di pojokan kasur. Jam dindin g berbuny i pelan detik demi detik. Aku menghela napas, melangkah ke ranja ng sambil menatap cermin besar di meja belajar. Eh? Bukankah itu…? Aku hampir berseru kaget. Remang cahaya lebih dari cukup untuk melihat pantulan cermin, dan lihatlah, ada si

asi.com

TereLiye “Bumi” 49

Hitam di cermin, tidur di dekat si Putih. Aku refleks menoleh ke atas ranjang. Tidak ada. Refleks kembali menoleh ke cermin. Tidak ada. Aku menelan ludah, melangkah lebih dekat ke cermin besar persis di samping ranjangku, memasti-kan. Aku tidak mungkin salah lihat, aku tadi melihatnya di da-lam cermin, si Hitam tidur di sebelah si Putih. I ni benar-benar ganjil. Aku menatap lamat-lamat cermin besar, yang sekarang hany a memantulkan apa yang ada di kamar. Hanya ada si Putih dan aku—y a ng merapikan rambut panjangku, sambil menatap sekitar dengan bingung. Ini bukan hari terbaikku. Tadi pagi aku dihukum Miss Ke-riting , menunggu di lorong kelas selama pelajaranny a, bertengkar de-ngan Ali. Siangnya, pulang sekolah, kucingku hilang satu. Malam ini, baru saja aku tahu Papa punya masalah di kantor, ditambah pula aku jadi susah tidur. Aku sudah berbaring, menutup tubuh dengan selimut, me-melu k guling, tapi aku hanya menatap cermin di kamar. Aku mematut- mat ut , meletakkan tangan di wajah, menghilang, lantas meng-intip dari sela jari, menatap cermin besar itu, berharap melihat se-suatu. Tidak ada si Hitam di sana. Suara hujan deras me-menuh i langit-langit kamar. Kelebat petir terlihat dari balik tirai jendela. Guntur menggelegar. Ca-haya remang kamarku terlihat memantul di cermin besar. Temaram. Tidak ada apa pun di sana. Aku menghela napas kecewa. Aku yakin sekali tadi melihat si Hitam di dalam cermin. Hingga satu jam berikutnya, tetap tidak ada apa pun dan siapa pun di cermin besar itu. Aku kelelahan, dan jatuh tertidur. *** Pagi sekali, jam beker alami rumah kami, Mama, sudah ber-teriakteriak membangunkan. ”Ra, bangun! Papa harus berangkat pagi, ay o bangun!”

asi.com

TereLiye “Bumi” 50

Aku menguap, menyingkap selimut. Si Putih masih malas meringk u k di ujung kakiku. Teringat percakapan orangtuaku tadi malam, aku bergega s loncat dari ranjang. Aku harus mem-bantu Papa, setidakny a dengan tidak merepotkan membuatny a menungguku. Aku mandi dengan cepat, bergant i seragam, me-nyiapkan tas sekolah, memastikan buku PR matematika itu ku-bawa. Lantas bergabung turun. ”Pagi, Ra,” Papa menyapaku. Papa sedang sarapan—tidak me-nyentu h koran pagi. ”Pagi, Pa.” Aku langsung menyeret kursi. ”Kamu mau sarapan apa, Ra?” ”Nasi goreng saja, Ma.” Mama menyendok nasi goreng dari atas wajan. ”Bagaimana sekolah kamu kemarin?” Papa bertanya. ”Seperti biasa, Pa.” Papa mengangguk, tidak bertanya lagi. Aku bergegas meng- habis ka n sarapanku. Mama sibuk membereskan peralatan masak kotor. Sarapa n cepat, sepuluh menit aku sudah melangkah di belakang Papa menuju garasi. Kucium tangan Mama, dan tiga puluh detik kemudian, mobil yang dikemudikan Papa meluncur ke jalan raya. Sepanjang perjalanan Papa lebih sering me-nelepon dan di-telep o n. Aku bisa mendengar percakapan Papa karena ponsel Papa disetel menggunakan pengeras suara. Tentang buruh di ru-mah sakit, apaka h keluarga mereka sudah datang, Papa ber-tanya memastikan. Juga tentang mesin pencacah raksasa, tadi malam teknisi bule itu pulang jam berapa. Papa mengangguk mendengar jawabannya. Aku menatap pembicaraan.

ke luar jendela,

tidak

terlalu tertarik

mengu p in g

Pagi ini cerah, wajah- wajah sibuk menyambut pagi disiram cahay a lembut matahari. Langit terlihat bersih, hanya sisa air hujan di ujung atap rumah, halte, pepohon-an, juga genangan kecil di jalan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 51

”Bagaimana mesin cuci Mama? Oke, bukan?” ”Eh?” Aku menoleh ke depan. ”Kamu kemarin jadi menemani Mama ke toko elektronik?” Papa bertanya, tersenyum. ”Oh, jadi, Pa. Tapi Mama cuma beli model dan merek yang sama persis dengan yang lama kok. Kata Mama biar sama awetnya, lima tahun.” Aku nyengir lebar. Papa mengangguk. ”Kamu hari ini pulang sore?” Aku menggeleng. ”Tidak ada les, Pa. Pertemuan Klub Menulis juga ditiadakan.” Mobil hampir tiba di sekolah. Dengan kesibukan baru Papa, hanya itu percakapan kami. Tidak sempat ada momen Papa mem-berikan petuah saktinya—meskipu n kadang tidak nyam-bung. Aku bersiap- s ia p menyandang tas di punggung. Mobil merapat ke gerbang sekolah. Aku memajukan kepala, mendekat ke Papa. ”Semangat ya, Pa!” ”Eh?” Papa menoleh, tidak mengerti. ”Semangat buat apa?” ”Pokokny a semangat aja!” Aku tertawa. ”Semangat ya, Pa!” Papa diam sejenak, menyelidik, akhirny a mengangguk. ”Iya, kamu juga semangat ya!” ”Dadah, Papa!” Aku membuka pintu mobil, beranjak turun. ”Dadah, Ra!” Mobil segera meninggalkan gerbang sekolah. Aku menatapny a hing g a hilang di kelokan jalan. Sejak aku sudah mengerti, aku tahu bahwa di keluarga kami juga ada peraturan tidak tertulis—di luar peraturan Mama yang se-tebal novel itu. Papa tidak akan pernah mem-bicara-kan masalah kantor kepadaku. Juga Mama, tidak akan pernah membicarakan masalah apa pun di luar sana kepadaku. Mereka berjanji tidak akan melibatkanku yang masih

asi.com

TereLiye “Bumi” 52

kecil (sekarang sudah remaja), membuatku ikut memikirkan, cemas, meng-ganggu jam belajarku. Biarkan Ra menikmati masa-masa terbaik ny a , demikian penjelas-an Mama yang aku tahu dari meng-intip di balik sela jemari. Biarkan masalah- masalah itu hanya ada pada Mama dan Papa. Aku berlari kecil melewati lapangan sekolah yang masih sepi. Sepertinya aku orang pertama yang tiba di sekolah pagi ini. Aku menaiki anak tangga, berjalan di lorong lantai dua, masuk ke kelas. Lengang. Aku menuju meja, meletakkan tas, melihat se-kitar yang kosong, dan melangkah ke lorong depan kelas. Se-pertinya aku lebih baik menunggu teman-teman di sini, sambil menatap lapangan sekolah. Mungk in asyik menatap bangunan sekolah yang lengang. ”Pagi, Ra.” Suara khas itu membuatku menoleh. Itu bukan suara Seli. Itu suara Ali. Tapi sejak kapan si biang kerok ini ramah menegur orang lain? Biasany a dia tidak peduli, jalan seradakseruduk, mencari masalah. Sejak kapan pula dia datang sepagi ini? Bukankah biasanya dia nyaris terlambat? ”Kamu tidak menjawab salamku, Ra?” Ali menatapku sambil cengar- cengir, tidak membawa tas, menepuk- nepukkan tanganny a untuk membersihkan debu. Sepertiny a dia habis melakukan se-suatu, habis memasang sesuatu, entahlah. ”Kamu sudah datang dari tadi?” aku menyelidik. ”Setengah jam lalu. Gerbang sekolah malah masih dikunci.” Ali tertawa. ”Kamu belum menjawab salamku, Ra? Tidak sopan lho, disap a baik-baik tapi malah dijawab dengan pertanyaan.” ”Bodo amat,” jawabku, lalu kembali menatap lapangan. ”Bagaimana kabar kucingm u? Si Hitam sudah ketemu?” Aku refleks menoleh, mematung sejenak, menatap Ali tidak mengert i.

asi.com

TereLiye “Bumi” 53

Si biang kerok itu tertawa, melambaikan tangan, melangkah masuk ke kelas.

asi.com

TereLiye “Bumi” 54

H, hei.” Aku bergegas menyejajari langkah Ali. ”Dari mana kamu tahu si Hitam hilang?” Sambil nyengir, Ali tidak mengacuhkan pertanyaanku, dan terus berjalan. ”Dari mana kamu tahu?” Aku menghalangi langkahny a. Sebal. ”Jawab dulu salamku yang tadi,” Ali kupikirkan akan memberitahumu atau tidak.”

berkata

santai,

”baru

Aku melotot, sebal bukan kepalang. Kutatap wajah Ali dengan galak, tapi tidak mempan. Sepertinya aku tidak punya pilihan. Ali tidak akan mengalah hanya karena aku cewek. Baik-lah. ”Pagi juga,” jawabku. ”Ah, itu sih bukan menjawab salam. Itu orang lagi ketus.” Ingin rasanya aku mendorong tubuh si biang kerok itu. ”Coba diulangi. Nah, selamat pagi, Ra….” Aku menelan ludah, meremas jemari. ”Selamat pagi, Ra,” Ali mengulang salamny a, cengar­cengir, sengaja benar menunggu jawabanku. ”Selamat pagi, Ali.” Aku benar­benar kalah. ”Masih belum pas, Ra. Masih kayak orang kebelet ke toilet.” Ali tertawa. Aku hampir mendorong badannya, jengkel. ”Selamat pagi, Ra,” Ali mengulang salamny a sambil menahan tawa. ”Selamat pagi, Ali.” Kali ini aku menjawab sungguh­sungguh.

asi.com

TereLiye “Bumi” 55

”Nah, itu baru keren. Bye! Aku lapar, Ra, mau ke kantin dulu.” Ali justru balik kanan, kembali ke lorong, hendak menuju anak tangga. ”Eh, hei, nanti dulu!” Aku bergegas menghalangi. ”Tadi kamu sudah janji mau kasih tahu aku dari mana kamu tahu kucingku hilang.” ”Siapa yang janji?” Ali memasang wajah paling bodoh se­dunia — maksud ekspresi wajah itu sebenarny a adalah akulah yang paling bodoh sedunia karena tidak mengerti kalimatny a. ”Aku tadi hanya bilang nanti kupikirkan akan memberitahumu atau tidak. Hanya itu.” Aku terdiam, menggeram. ”Atau kamu mau mentraktirku bubur ayam, Ra?” Ali ter­seny um , mengedipkan mata. ”Nanti baru kupikirkan lagi apakah akan memberitahu mu atau tidak.” ”Tidak mau.” Sebalku nyaris di ubun­ ubu n. ”Atau kamu jawab dulu pertanyaanku kemarin. Kamu sungguh­ ­ a n bisa menghilang, kan? Nanti akan kuberitah u apa pun pertanyaa nm u , bahkan termasuk misalnya, apakah Miss Keriting itu rambutny a benarbenar keriting atau hanya wig.” Aku berpikir sejenak, lantas mengem buskan napas, berusa h a mengempiskan rasa jengkel. Urusan ini sama seperti yang ku-bilang pada Seli. Percuma, tidak pantas ditanggapi. Semakin ditanggapi, Ali mala h semakin senang, dan dia semakin punya amunisi. Aku menyeka dahi, memutuskan melangkah meninggal-kan Ali. ”Hei, Ra, kok kamu malah pergi?” Ali mengangkat bahu-, bingung. Aku masuk me-nyusulku.

ke

dalam

kelas,

tidak

menoleh.

Tapi

Ali

sudah

”Kita ngobrol di kantin yuk, mumpung sepi. Nanti aku beritahu dari mana aku tahu kucingmu hilang. Di sana tidak akan ada yang mengu p in g pembicaraan tentang hilang­ meng­ hilang itu.” Ali berusaha membu j uk , sedikit menyesal gagal men­jebakku mengaku. ”Atau kamu mau tahu sesuatu? Misalnya, apa-kah si Hitam itu sungguhan ada atau tidak? Aku bisa mem­bantu.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 56

Aku sudah memutuskan tutup telinga, melangkah menuju meja. Ali memang genius, serbatahu, banyak akal, tapi dia lupa satu hal: kegeniu sa n dan rasa ingin tahunya itulah yang menjadi kelemahannya. Cepat atau lambat, karena rasa penasaran, dia akan mengalah, dan aku akan tahu dari mana dia bisa tahu si Hitam hilang—ter- masuk seruannya barusan. ”Dasar jerawatan! Begitu saja marah, cewek banget.” Ali bergum a m kesal, menyerah, meninggalkanku sendirian di kelas. Apa Ali bilang? Jerawatan? Kalau saja menurutkan perasaan, sudah kutimpuk si biang kerok itu dengan sepatu. Sejak kapan ada yang mengataiku jerawatan? Dia itu—yang seluruh se-kolah juga tahu—s u d a h berantakan rambutnya, ketombean pula. *** Matahari beranjak naik, langit cerah, membuat cahayany a me-nerab a s lembut melewati kisi-kisi ruangan. Sekolah mulai ramai, teman-te m a n sekelas satu per satu masuk, meletakkan tas. Mereka saling sapa. Suara dengung percakapan, teriakan, ada yang ber-main bola di lapangan, apa saja memenu hi sekolah. Seli tiba setengah jam kemudian, menyapaku. ”Pagi, Ra.” Aku tersenyum, mengangguk. ”Kamu tidak ketinggalan buku PR Miss Keriting lagi, kan?” Seli tertawa, sambil memasukkan tas ke laci meja. Aku mengangkat buku PR matematikaku. Pukul 07.15, bel bernyany i nyaring, menghentikan seluru h ke-ramaian. Anak-anak bergegas masuk ke kelas. Pelajaran per-tama hari ini akan segera dimulai. Seperti biasa, ketukan suara sepatu Miss Keriting terdengar di lorong , jauh sebelum dia tiba di kelas. Hari ini dia me-ngenakan kemeja cokelat lengan panjang, celana kain berwarna senada, dan sepatu hitam. Cocok dengan wajahnya yang penuh disiplin. Rambut keritingny a terlihat rapi. Eh, apakah itu rambut asli atau wig? Aku buru-buru mengusir pertanyaan dala m hati saat melihat rambut Miss Keriting—ini pasti gara- gara Ali baru- san, semua yang keluar dari mulutny a memancing rasa pe-nasaran. ”Selamat pagi, anak­anak.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 57

”Pagi, Bu,” kami kompak menjawab. ”Keluarkan buku PR kalian.” Itu selalu kalimat standar pem­buka Miss Keriting. Dia tidak merasa perlu mengabsen kami, cukup mengabsen buku PR. Anak-anak bergegas mengeluarkan buku PR dari dalam tas. Rasa sebalku dibilang jerawatan oleh Ali akhirnya terbayar. Lihat-lah, Ali lagi- lagi tidak mengerjakan PR. Tepatnya dia mengerja-kan, hanya saja salah halaman. ”Brilian sekali, Ali. Ibu suruh kerjaka n halaman 50, kamu mala h me-ngerjakan halaman 40. Sebagai informasi, itu PR kita minggu lalu. Makanya lubang telingam u yang besar itu harus sering­sering dibersihkan.” Teman-teman sekelas tertawa. Satu-dua menepuk ujung meja. Seli menyikutku, memasang wajah senang (yang jahat). Kami me-natap Ali meninggalkan kelas. Sambil menggaruk kepalany a, rambutny a beranta k a n, dia melangkah menuju pintu. Aku me-natap punggu ng Ali, menilik raut wajahnya, sepertinya dia tidak malu atau keberatan diusir dari kelas pagi ini, malah senang. Pelajaran matematika yang selalu terasa lebih lama daripada biasa ny a dimulai. Satu jam berlalu, tiga-empat orang teman me-ngu a p memperhatikan seliweran rumus di papan tulis. Mereka mulai gelis a h , seperti duduk di bangku panas. Miss Keriting sebenarny a guru yang baik. Dia menjelaskan denga n terang dan sistematis. Dua jam berlalu, separuh teman menyusul menguap, me-ngeluh tidak mengerti, konsentrasi berkurang cepat, meskipun Miss Keriting berusah a bergurau di tengah pelajaran, intermezzo. Akhirny a bel istirahat pertama berbuny i nyaring, menyelam atkan sisa teman yang belum mengu a p . Dengung riang memenuhi langit-langit kelas, meski bungkam sejenak saat Miss Keriting berseru minggu depan ulangan sumatif. Tidak apala h , setidakny a masih minggu depan penderitaan ulangan itu. ”Ra, temani aku ke kantin, yuk!” Seli memegang lenganku. Isi kelas tinggal separuh.

asi.com

TereLiye “Bumi” 58

”Aku tidak lapar.” Aku menggeleng malas. ”Ayolah, aku traktir makan bakso lagi.” Seli mengedipkan mata. Aku nyengir lebar. Bukan soal ditraktir atau tidak. Aku lagi malas ke mana- mana, lebih suka duduk di kelas. Tapi Seli ber-hasil membujukku. Kelas dengan segera kosong. Teman-teman memilih me-lemas- ka n badan di luar setelah sepagian menatap rumus matematika, menyisakan satu anak di kelas, dan itu adalah Ali. Dia justru melangkah masuk ke kelas, menepuk- nepukkan tanganny a, mem-bersihkan debu, lagi-lagi seperti habis memasang sesuatu. Kayak-nya Ali akan tinggal di kelas. Dia bahkan melirik mejaku. Baiklah, lebih baik aku ikut Seli ke kantin. Letak kantin ada di belakang sekolah, bangunan tersendiri, persis di sebelah parkiran motor dan bangunan gardu listrik dengan tiang-t ia n g tinggi. Aku dan Seli berjalan cepat menuruni anak tangga, melintasi lorong bawah, sesekali menyapa dan disapa teman yang lain. Kantin tidak serama i kemarin, tapi tetap tidak mudah memperoleh meja kosong. ”Jangan di sana, Ra.” Seli mendadak menahan lenganku. ”Eh, bukanny a kita mau makan bakso?” Aku menatap Seli tidak mengerti. ”Ada kakak kelas geng cheerleader kemarin. Yang kamu timpu k kepalany a.” Seli menarik tanganku, berbisik cemas. Lalu ia ngacir sambil berkata, ”Kita makan batagor saja, ya.” Aku tertawa, menatap kerumunan kakak kelas itu. ”Tapi bisa jadi mereka sudah lupa kejadian kemarin, kan? Kita tetap makan bakso, ya?” Seli menggeleng tegas. Baiklah, aku mengikuti punggung Seli. Lima menit menunggu, dua piring penuh batagor terhidang. ”Kamu tidak sempat sarapan di rumah, Sel?” Aku menatap Seli yang antusias meraih sendok.

asi.com

TereLiye “Bumi” 59

”Sarapan kok. Selalu.” Seli menyendok dua potong batagor sekalig u s . ”Lapar saja. Pelajaran Miss Keriting menghabiskan banyak energi, Ra.” Aku tertawa, mengangguk setuju, meraih piringku. ”Kamu tahu tidak, rambut Miss Keriting itu asli keriting atau bohongan?” Aku asal comot ide percakapan, tiga menit setelah diam, karena Seli asyik sekali dengan batagornya. ”Eh?” Dahi Seli terlipat. ”Rambut asli, kan? Memangnya wig, Ra?” Aku mengangkat bahu. Aku juga bertanya. Penasaran gara- gar a ucapan Ali tadi pagi. Dua gelas es jeruk dikirimkan ke meja kami. Seli berhah kepedasan, bilang terima kasih. ”Kamu sekarang jerawatan ya, Ra?” Seli menyelidik, menatap jidatk u , sambil meneguk sepertiga isi gelasny a. Eh? Aku refleks menyentuh jidat yang ditatap Seli. Jadi ingat lagi tadi pagi diumpat Ali. Benar, ternyata di jidatku ada benjol kecil. Aku mengangkat sendok, melihat bayangan jerawat di jidat. Aku mengeluh. Sebenarnya aku tidak jerawatan. Jerawat seperti ini selalu munc u l kalau aku lagi banyak pikiran. Sepertinya, memikirkan kejadian si Hita m hilang dan masalah kantor Papa semalaman sukses membuatku berjeraw at , merekah seperti jamur pada pagi penghujan. ”Itu bakal jadi jerawat besar lho, Ra.” Aku memegang- megang jerawatku, memang terasa besar. Seli menepis tangan­ku. ”Jangan dipegang, Ra. Nanti tambah besar. Apalagi kalau kamu pencet-pencet, nanti bisa pecah dan beranak- pinak, jadi tambah banyak. Horor, Ra.” Wajah Seli serius sekali—seperti wajah dokter spesialis kulit dan kecantikan para boyband Korea yang digemariny a. Aku melotot. Bukanny a menghibur teman yang jerawatan, Seli mala h menakut- nakuti. Apa mau dikata, usiaku masih lima belas tahun,

asi.com

TereLiye “Bumi” 60

kelas sepuluh, dan seperti kebanyakan remaja seumuranku, jerawat satu saja bisa bikin rusak suasana hati. Aku akhirnya hanya mampu menghabiskan separuh porsi batagor k u . Selera makanku hilang. Seli menawarkan diri menghabiskan batagor- k u . Tuntas satu menit, aku mengajak Seli kembali ke kelas, menunggu bel masuk yang tinggal beberapa menit lagi. ”Lusa kantinnya tutup lho, Neng. Sudah tahu belum?” Ma­ ma ng batagor basa-basi mengajak bicara, sambil mencari uang kembalian dari sakunya. ”Tutup? Kok tidak ada pengumu man jauh­jauh hari?” Seli yang selalu berkepentingan dengan kantin bertanya memasti-kan. ”Mendadak, Neng. Itu gardu listrik dekat kantin mau diper­ba ik i. Karena kantin ini dekat gardu, jadi diminta ditutup sama petugasny a. Tadi baru saja petugas PLN-nya bilang. Cuma tutup sehari kok. Eh, nggak ada kembalianny a nih. Gimana?” ”Ya sudah, sekalian buat bayar Mamang bakso. Kemarin saya beli dua mangkuk. Tolong dibayarkan, ya. Sama es jerukny a juga.” Seli gesit puny a ide lain—melirik meja dekat gerobak bakso yang masih diisi geng cheerleader. Mamang batagor mengangguk, sudah pembayaran ”canggih” seperti ini di kantin.

terbiasa

dengan

pola

Sisa pelajaran hari ini lebih santai, teman-teman lebih banyak tertawa mengikuti pelajaran sejarah. Gurunya kocak, meski sudah beruban, sepuh , hampir pensiun. Mr. Rosihan lebih banyak mengajar dari pengalama n ny a diband ing buku teks yang kami pegang, membawa kliping-kliping koran ke dalam kelas yang tebalny a membuat kami semakin respek padany a . Menurut bisik-bisik Seli, Mr. Rosihan bahkan kenal dengan beberapa tokoh nasional dalam buku sejarah kami. Lewat istirahat kedua, jam pelajaran terakhir adalah bahasa Inggris . Mr. Theo, guru yang tampan dan pintar berbahasa Inggris itu (lima tahun pernah tinggal di London), menyuruh kami bermain drama, praktik conversation. Seli—yang ngefans berat dengan Mr. Theo—terlihat

asi.com

TereLiye “Bumi” 61

menyunggingkan senyum sepanjang pelajaran. Dia lebih bany ak memperhatikan wajah Mr. Theo lantas mengangguk sok paham diband i ng menyimak penjelasan. Dua kali Seli salah paham, sok siap maju ke depan kelas padahal belum dipanggil. Teman sekelas ramai tertawa, Seli hany a cemberut kembali ke bangku. Aku juga suka pelajaran ini, juga pelajaran sejarah, tapi jerawat siala n di jidat membuatku tidak konsen. Meskipun Seli sejak dari kantin berkali­kali menyikut, berbisik, ”Jangan di­pegang­ pegang, Ra. Nanti menular ke pipi, dagu, hidung, ke mana­ mana,” aku tetap saja refleks memegang jerawat itu. Rasa-nya ingin kupencet kuat-kuat. Ini situasi yang menyebal-kan, belum lagi aku satu kelompok dengan Ali mementas ka n drama. Si biang kerok itu berkali-kali sengaja menunjuk jidatku denga n ujung bibirny a. Bel pulang berbunyi nyaring. Mr. Theo menutup pelajaran denga n mengajak kami bertepuk tangan, mengapresiasi pentas drama amatiran di depan kelas barusan. Teman-teman bergegas membereskan buku dan tas. Aku melangkah malas kembali ke meja. Hari yang buruk, sekali lagi aku refleks menyentu h jerawat besar di jidat, me-ngeluh dalam hati, jangan-jangan dua-tiga hari ke depan aku akan terus berurusan denga n jerawat ini—hingga kempis dan hilang sendiri. Aku sama sekali belum menyadari, justru gara-gara jerawat batu inila h terjadi sesuatu yang mencengangkan beberapa jam ke depan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 62

KU boleh mengerjakan PR bahasa Indonesia nanti sore di rumahmu ya, Ra?” Seli memegang lenganku. Kami dalam per­jala n­ a n pulang sekolah. Angkutan umum yang kami tumpangi penuh. Aku menoleh. ”Di rumah­ku?” ”Kamu yang paling pandai di kelas soal bahasa, Ra. Meskipun Ali bisa membuat mobil terbang, tidak mungkin aku belajar mengarang denganny a . Aku belajar di rumahmu saja, ya? Boleh?” Seli memajukan bibirny a. Aku berpikir sejenak. ”Oke deh.” ”Trims, Ra. Nanti sore jam setengah tiga, ya. Biar nggak ke­mala m a n pulang.” Seli tersenyum riang. Angkutan umum terus mengam bil jalur kiri, merangsek macet, membuat tambah macet—meski penumpang seperti kami senang- se na n g saja, jadi lebih cepat. Aku tiba di rumah sesuai jadwal. Seli bilang dia saja yang traktir bay ar ongkos. Aku menggeleng, tapi Seli duluan berseru ke sopir. ”Nanti saya yang bayar, Pak.” Aku tersenyum, turun dari angkot tanpa membayar. Aku membuka gerbang pagar, melangkah di halaman rumput terpangkas rapi, mendorong pintu, berseru memanggil Mama. ”Ra su dah pulang, Ma!” Lagi-lagi hanya si Putih yang riang berlari menuruni anak tangga menyambutku, mengeong- ngeong antusias. Aku melepas sepatu, melemparkanny a sembarangan ke rak. ”Halo, Put.” Aku meraih kucingku, menggendongny a. Si Putih menyundul- ny undulkan wajah manja. Bulu tebalny a terasa lembut di lengan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 63

”Si Hitam belum kembali juga, ya?” Aku menatap sekitar, me­meriks a . Si Putih mengeong pelan. Mata bulatnya bercahaya. Aku berjalan melewati ruang keluarga, menuju dapur. Biasa- ny a baru mendengar pintu didorong pun Mama sudah tahu aku yang pulang , menyuruh bergegas makan. Tapi kali ini tidak ada yang menyambutku. Aku tahu penyebabnya saat tiba di bela-kang rumah. Mama dengan tanga n penuh busa dan rambut berantak- an sedang mencuci pakaian. ”Kamu sudah pulang, Ra? Tidak ada pertemuan Klub Me­nulis ?” Mama bertanya, tanganny a tetap sibuk mengucek pakaian di dalam ember besar. ”Eh, kenapa nggak pakai mesin cuci baru, Ma?” Aku tidak men­ja w a b , sebaliknya bertanya sambil menatap bingung. ”Mesin cuci baru itu rusak, Ra.” Suara Mama terdengar sebal. ”Dari tadi Mama utak-atik, tetap saja tidak menyala. Awas saja kalau mereka tidak datang sore ini, bakal Mama tulis ke semua koran bahwa toko elektronik itu tidak becus. Tega sekali mereka menjual barang rusak.” Aku terdiam sejenak, berusaha mengerti kalimat Mama, lantas sejenak tersenyum kecil, menahan tawa. Lihatlah, wajah Mama yang menggelem bung bete selalu lucu. ”Masa sudah rusak, Ma?” ”Kamu lihat saja, Ra. Tuh, sama rusaknya seperti mesin cuci yang lama. Malah lebih parah. Tidak mau dinyalakan sama sekali.” Mama menunjuk pojok belakang rumah dengan jari penuh busa. ”Mereka janji datang sebelum jam tiga, ditukar dengan mesin cuci yang baru. Tadi Mama sudah ancam, telat satu menit pun, Mama akan bikin konferensi pers. Tantemu kan wartawan televisi, bila perlu Mama masuk liputan berita.” Aku benar-benar tertawa sekarang. Kalau lagi sebal, Mama suka berlebihan. ”Kenapa malah tertawa? Sana cepat ganti seragam. Makan siang .” Mama melotot. ”Aduh, masa tiba di rumah langsung main dengan kucing?

asi.com

TereLiye “Bumi” 64

Si Hitam atau si Putih itu kan bisa main sendiri, atau mainny a nantinanti?” Aku buru-buru melipat tawa, mengangguk. Kalau Mama sudah bete, memang lebih baik segera menyingkir. Kalau tidak, bakal ikutan kena semprot. Aku meletakkan si Putih di lantai, berlari kecil menaiki anak tangga, masuk ke kamar, melemparkan tas ke kursi, refleks melihat cermin, teringat tadi malam aku melihat bayangan si Hitam di sana. Tidak ada. Aku mengeluh dalam hati, kenapa aku jadi aneh sekali? Aku berhara p menemukan si Hitam di dalam cermin. Itu mustahil, kan? Telanjur menata p cermin, aku sejenak menatap jidatku, menghela napas. Jerawatku terlihat seperti bintang terang di gelap malam—atau malah bulan saking besarny a . Hendak ku-pencet, tapi urung. Lebih baik segera menyibukkan diri, su-pay a aku lupa ada jerawat batu sialan di jidat. Mood Mama membaik saat aku duduk hampir menghabiskan makan siang setengah jam kemudian. Mama mengeringkan tangan denga n handuk, bergabung ke meja makan. ”Sudah selesai, Ma?” ”Sudah,” Mama menjawab pendek. ”Ma, nanti sore Seli mau main ke sini, mengerjakan PR bareng. Boleh ya?” Aku teringat percakapan di angkot tadi, memberi­tahu. Mama mengangguk, meraih piring, mendekati rice cooker. ”Setidaknya mencuci dengan tangan bikin Mama jadi berke­ringat, olahraga.” Mama bergumam, beranjak membuka tutup mangkuk sup daging. ”Eh, kamu habisin semua sup dagingnya, Ra?” Aku mengangkat bahu. ”Kirain Mama sudah makan.” ”Aduh, Ra, kan kamu bisa tanya Mama dulu.” Mama meng­om e l, membuka mangkuk lainnya. ”Kamu seharusny a tahu, Mama butuh makan banyak setelah menaklukkan seember besar cucian.” Aku menahan tawa, sebenarny a Mama selalu melampiaskan sebal dengan makan. Semakin bete, Mama semakin sering dan banyak makan. ”Setidaknya Mama tidak melampiaskanny a dengan belanja, Ra. Itu

asi.com

TereLiye “Bumi” 65

berbahay a, bisa membuat bangkrut ke­luarga,” Papa dulu pernah berbisik saat Mama uring- uringan dua hari karena Papa lupa tanggal ulang tahun pernikahan. ”Untung­ ny a Mama hanya punya dua pelampiasan ya, Ra. Satu makan, satunya lagi kamu tahu sendiri deh apa.” Mama mengambil apa pun masakan yang tersisa di atas meja, lalu duduk, mengembuskan napas, mulai makan. Aku tidak banyak komen t ar , ikut menghabiskan makanan di piringku. ”Eh, Ma, Ra boleh tanya sesuatu?” tanyaku setelah lima menit hany a terdengar suara sendok. ”Ya?” Mama mengangkat kepala. ”Mama dulu waktu remaja jerawatan nggak sih?” Mama menyelidik wajahku, melihat jidatku. ”Jerawatan itu biasa, Ra.” ”Tapi nggak sebesar ini, Ma. Lihat, besar banget, sudah kayak bisul.” Aku kecewa melihat ekspresi Mama—mengira Mama bakal bersimpati. ”Wajah kamu tetap manis bahkan dengan jerawat dua kali lebih besar diband ing itu. Percaya Mama deh.” Mama menunjuk jidatku denga n sendoknya. Aku menyeringai. Tentu saja Mama akan bilang begitu, aku jelas- jelas anak gadisnya—dalam situasi sebal sekalipun Mama pasti akan memili h menyemangatiku. ”Ada obatnya nggak sih, Ma?” aku bertanya lagi setelah diam sejenak . ”Nanti juga hilang sendiri.” ”Iya kalau hilang, kalau tambah banyak?” Mama tertawa. ”Kamu ada­ada saja. Kalaupun tambah ba­ny ak, wajahm u tetap manis. Eh, atau jangan- jangan kamu malu pu-nya jerawat , ya?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 66

Aku menggeleng. Siapa pula yang malu, ini cuma menjengkel-kan. ”Atau jangan­ jangan kamu malu dilihat teman laki-laki di se-kolah- , ya? Ada yang naksir, Ra? Atau sebalikny a? Kamu naksir seseorang?” Mama menyelidik. ”Siapa sih, Ra?” Aku memony ongkan bibir. Mama itu tidak seru kalau lagi sebal. Hal kedua pelampiasan Mama yang dibilang Papa dulu, selain makan, apa lagi kalau bukan menggodaku. ”Papa pulang pembicaraan.

malam

lagi,

Ma?”

aku buru­buru

banting

setir

”Iya, tadi Papa telepon. Papa lagi punya banyak urusan di kantor .” Mama menghela napas prihatin, enggan bercerita lebih detail—mesk ip u n sebenarny a aku sudah tahu dari me­nguping semalam. ”Bos Papa marah­ marah terus.” Mama mengedip­kan mata, tersenyum tipis. ”Nah, setidak ny a , nanti malam kamu boleh makan lebih dulu, tidak perlu menunggu Papa pulang.” Aku balas tersenyum tipis. Semoga Papa terus semangat. Agar uring- uringan Mama tidak menjadi- jadi, aku menawar-kan diri mencuci piring, juga membersihkan meja dan peralatan masak. Ma ma membawa ember ke halaman belakang, menjem ur pakaian basah. Tidak banyak yang kulakukan setelah itu, me-milih membawa buku pelaja ra n turun ke ruang tamu, menunggu Seli sambil membaca novel—ser ay a berkali-kali refleks me-megang jerawat di jidat, memencet- mencet gemas. Pukul setengah tiga persis bel rumah berbuny i nyaring. ”Ra, ada tamu tuh!” Mama berteriak dari dalam. Aku mengangguk, lalu berdiri hendak membuka gerbang pagar. Seli sepertinya sudah tiba. Si Putih berlari menemaniku melewati hala ma n rumput. Eh? Gerakan tanganku terhenti saat hendak membuka gerbang , menatap ke depan. Bukan Seli yang datang.

asi.com

TereLiye “Bumi” 67

ELAMAT siang, Ra,” suara tegas dan disiplin itu me­nyapa. ”Miss Ke—” Aku buru­buru menelan ludah, menghentikan nama panggilan itu, hampir saja aku kelepasan menyebut Miss Keriting. ”Miss Selena? Eh, selamat siang, Bu.” Aku bukan saja bingung karena ternyata bukan Seli yang datang, tapi lebih dari itu. Kepalaku segera dipenuhi banyak pertanyaan. Kenapa guru matematikaku ada di sini? Di depan gerbang rumahku? Kalau guru BP yang datang, masih dengan mudah dicerna. Kali-kali saja aku sudah melang g ar peraturan sekolah tanpa sadar. ”Boleh Ibu masuk, Ra?” Miss Keriting tersenyum. Eh? Aku buru-buru mengangguk, balas tersenyum sebaik mungk i n. ”Silakan, Bun. Maaf, saya tadi kaget. Kirain siapa yang datang.” Aku bergegas membuka gerendel gerbang, mendorongnya. ”Kamu sedang menunggu tamu lain, Ra?” Miss Keriting me­lang k a h masuk. Aku menggeleng, kemudian mengangguk. ”Iya, Bu. Saya me­nu ng g u Seli. Kami mau belajar bareng.” ”Oh.” Miss Keriting tersenyum tipis. Wajah ny a yang tegas dan disip lin terlihat mengesankan dari jarak sedekat ini. Meskipun aku bingung, kenapa Miss Keriting tiba-tiba datang ke rumah, aku setengah kaku segera menyilakan Miss Keriting jalan dulu a n. Guru matematikaku itu berjalan dengan langkah teratur, berirama. Suara sepatunya yang mengentak tegel taman terdengar pelan. Masih denga n pakaian tadi pagi, kemeja lengan panjang berwarna cokelat, celana kain berwarna senada, dan sepatu hitam—bedany a, sekarang Miss Keriting membawa tas jinjing ber-ukuran sedang, bermotif simpel, berwarna gelap. Rambut ke-riting- nya bergerak lembut seiring gerakan tubuh tinggi

asi.com

TereLiye “Bumi” 68

ramping- ny a. Dari jarak sedekat ini pula, aku baru me-nyadari postur Miss Keriting terlihat ber-beda. Dia tidak seperti wanita usia empat puluh a n kebanyak- an. Dia berbeda sekali. Sepertinya aku—dan teman sekelas—t id a k memperhati-kan Miss Keriting de-ngan baik di kelas, lebih dulu takut dengan rumus matematika di papan tulis. Aku membukakan pintu depan. ”Eh, sepatunya boleh dipakai kok, Bu. Tidak apa­apa.” Di rumah, Papa biasa mengenakan sepatu hingga ruang depan, Mama juga tidak melarangku. ”Terima kasih, Ra.” Miss Keriting tetap melepas sepatunya, anggu n dan cepat, tanpa sedikit pun membungkuk. ”Orangtuamu ada di rumah?” ”Seli sudah datang, Ra? Kalian mau dibuatkan minum apa sambil belajar?” Suara Mama lebih dulu terdengar sebelum aku menjaw ab. Mama melangkah dari ruang tengah, bergabung, sambil menyeka tanganny a yang basah dengan handuk. ”Eh?” Mama terdiam sejenak, menatap ruang tamu, menatapku, pindah me-natap Miss Keriting. ”Ini guru Ra, Ma,” aku segera menjelaskan. ”Guru mate­matika. Nah, ini mama saya, Miss Selena. Kalau Papa masih di kantor, belum pulang.” ”Saya minta maaf karena tidak memberitahu lebih dulu akan bertamu.” Miss Keriting maju satu langkah, tangannya terulur, terseny u m . Masih separuh bingung, Mama ikut tersenyum, menerima ulura n tangan Miss keriting. ”Eh, tidak apa. Hanya saja, aduh, saya berpaka ia n seadany a, kotor pula.” Mama melirik pakaianny a yang basah habis mengurus dapur. Beberapa bercak minyak dan kotoran terlihat. ”Selena.” Miss Keriting menyebut nama. ”Selena?” Mata Mama membulat, mulai terbiasa. ”Aduh, Selena itu kan nama yang kami rencanakan untuk Ra sebelum dia lahir. Artinya bulan. Tapi orangtua kami tidak setuju, me-nyuruh menggantinya menjadi Raib. Mereka bilang itu nama leluhur yang harus dipakai bayi kami. Eh, maaf, jadi mem­bahas hal­hal yang tidak perlu.” Mama tertawa, segera meny eb ut namany a, balas memperkenalkan diri.

asi.com

TereLiye “Bumi” 69

Aku yang berdiri di antara mereka menatap lamat-lam at wajah Mama—aku tidak tahu cerita itu. Mama dan Papa tidak pernah bercerit a bahwa aku dulu hampir diberi nama Selena. ”Ra tidak membuat masalah di sekolah, bukan?” Mama menole h kepadaku, sedikit cemas. Miss Keriting menggeleng. ”Ra murid yang baik. Kalian akan bangg a memiliki anak dengan bakat hebat seperti dia. Satu-satuny a masalah yang pernah Ra buat hanya lupa membawa buku PR-nya. Tapi siapa pula yang tidak pernah lupa?” ”Oh, syukurlah.” Mama meme luk bahuku. ”Saya pikir Ra mem­ bu at masalah. Oh iya, silakan duduk.” Mama menoleh lagi ke­pada­ku. ”Ra, tolong bikinkan minum, ya. Biar Mama yang menemani Ibu Selena.” Aku mengangguk, tapi Miss Keriting menahan gerakan tangan-ku. ”Saya hanya sebentar. Waktu saya amat terbatas, dan tidak leluasa, karena itulah dari sekolah saya bergegas menemui Ra.” Suara Miss Keriting terdengar lugas. Dia mengambil sebuah buku dari tas jinjing berwarna gelapnya. ”Nah, Ra, ini buku PR mate­matika­ mu yang kamu kumpu lka n tadi pagi. Sudah Ibu periksa. Meski lebih sering kesulitan, kamu selalu berusaha me-ngerjakan tugas dengan baik. Saran Ibu, apa pun yang terlihat , boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apa pun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawab-an dari tempat-tempat yang hilang. Kamu akan memper- oleh semua jawab a n. Masa lalu, hari ini, juga masa depan.” Aku menatap Miss Keriting dengan bingung. Bukan saja bingu n g dengan kalimat terakhirnya yang begitu misterius, tapi bingung kenapa Miss Keriting sendiri yang mengantarkan buku PR matematikaku ke rumah. Sore ini? Mendadak sekali? Kenapa tidak besok pagi? Di sekolah? ”Saya harus bergegas, Bu. Mengejar waktu dan dikejar waktu.” Miss Keriting mengulurkan tangan kepada Mama, hendak ber­pamitan. ”Sekali lagi, saya minta maaf kalau mengganggu. Saya sungguh merasa tersanju n g Ibu dulu hampir memberikan nama itu kepada Ra. Selena. Ibu benar, itu artinya bulan. Bagi bangsa tertentu, artinya bahkan lebih dari

asi.com

TereLiye “Bumi” 70

sekadar ‘bulan yang indah’, tapi juga pemberi petunjuk, penjaga warisan, benteng terakhir.” Eh? Mama menelan ludah, lebih bingung lagi menatap wajah Miss Keriting yang tersenyum cemerlang. Ragu-ragu, Mama ikut mener im a uluran tangan Miss Keriting. ”Selamat sore, Bu.” Miss Keriting mengangguk, melepas jabat tanga n. ”Dan kamu, Ra, jangan lupa baca buku PR­mu,” ujar Miss Keriting sambil mengedipkan mata, tersenyum. Sedetik, tubuh tinggi ramping Miss Keriting sudah melangkah ke pintu, mengenakan sepatu, tanpa membungkuk sedikit pun. Aku seketika teringat sesuatu saat melihat gayanya membalik bada n dan memakai sepatuny a. Itu kan persis sekali dengan cara pemain drama Korea dengan latar belakang cerita bangsawan yang sering ditonton Seli bedanya tentu saja Miss Keriting tidak sedang berakting, dan dia melakukannya seperti memang dia adalah golongan itu. Terlihat angg u n, cekatan. Lima detik, Miss Keriting sudah berjalan cepat di sepanjang hala ma n rumput. Suara ketukan sepatuny a terdengar pelan, ber-irama. Aku dan Mama ikut mengantar ke depan, masih belum mengerti—dan tidak sempat bertanya—menatap punggungnya. Miss Keriting menaiki mobil berwarna gelap yang terparkir rapi di depan gerbang, melambaikan tangan. Jende la kaca mobil lantas naik menutup. Mobil bergerak maju, dengan cepat hila ng di kelokan jalan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 71

URUMU berbeda sekali, Ra.” Mama masih berdiri di depan rumah. Aku menoleh, melihat Mama yang masih menatap jalanan. ”Beda apanya, Ma?” ”Zaman Mama dulu sih masih ada guru seperti itu, rajin mengunju n g i rumah muridny a, bertanya ke orangtua, bicara tentang kemajuan kami. Tetapi sekarang murid kan ribuan, itu tidak mudah dilakukan. Belum lagi kesibukan-kesibukan lain.” Aku mengangkat bahu. Sebenarny a, aku belum mengerti kenapa Miss Keriting sengaja datang mengantarkan buku PR matematika. Aku balik kanan, masuk ke dalam rumah. ”Seli jadi datang, Ra?” Mama ikut melangkah masuk. Bel pagar berbuny i nyaring sebelum aku menjawab. Aku dan Mama menoleh. Panjang umur, teman satu mejaku itu sudah berdiri di gerbang , melambaikan tangan. Aku tersenyum, yang ditunggu datang juga, berlarilari kecil ke pagar. ”Ra…!” Begitu masuk, Seli langsung memegang lenganku. ”Tadi itu Miss Keriting, kan?” Seli berseru, menatapku pe­nasa­r­an setengah mati. ”Iya, pasti Miss Keriting. Aku melihatny a naik mobil pas aku turun dari angkot. Sekilas, tapi aku yakin sekali. Miss Keriting, kan?” Aku mengangguk, berjalan melintasi halaman rumput. ”Aha. Tebakanku tepat. Eh, Ra, kenapa dia ke sini?” Aku menjawab pendek, ”Mengantarkan buku PR.” Aku mengang k at buku PR-ku, memperlihatkannya pada Seli. ”Buku PR? Memangny a kenapa dengan buku PR­mu?” Seli tidak mengerti, menatap buku PR-ku seperti sedang me-natap buku mantra

asi.com

TereLiye “Bumi” 72

sakti atau menatap buku diary penuh rahasia dalam drama Korea yang sering ditontonny a. ”Tidak tahu.” ”Ini sungguhan buku PR­mu, kan?” ”Ya iyalah.” Aku tertawa. ”Tidak usah di­pelototi. Nanti ter­bakar.” ”Dia tidak bicara sesuatu, kan? Maksudku, kamu tidak kenapa­ kenapa, kan? Seharusnya kan guru BP yang datang kalau kamu kenapanapa, kan ya? Eh?” ”Cuma mengantarkan buku PR, Seli.” Aku mengangkat bahu, mengembuskan napas. ”Tidak ada yang lain. Aku juga tidak tahu kenapa dia harus mengantarkannya langsung. Jangan- jangan habis dari rumahku, dia ke rumahm u, mengantarkan buku PR berikutnya.” ”Jangan bergurau, ah.” Seli masih melotot. ”Siapa yang bergurau?” Aku nyengir lebar. ”Aku serius nih, Ra, kenapa Miss Keriting ke sini? Jangan­ja n ga n kamu merahasiakan sesuatu, ya?” Seli menyelidik, ingin tahu—sudah mirip kelakuan Ali. ”Kalian mau minum apa?” Suara Mama memotong bisik-bisik Seli. ”Mau Mama buatkan pisang cokelat dan jus buah?” ”Eh, selamat siang, Tante.” Seli menoleh, buru­buru meng­ang g uk , lupa belum menyapa tuan rumah, padahal sudah sejak tadi rusuh masuk ke ruang tamu. ”Apa saja, Tante, asal jangan me­repotkan.” Mama tersenyum. ”Tidak merepotkan kok.” ”Apa saja, Ma. Asal yang banyak. Soalny a Seli suka makan.” Aku tertawa, menambahkan. Seli menyikut lenganku. Sebal. Mama ikut tertawa. ”Nah, selamat belajar ya. Mama ke bela­kang dulu.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 73

Kami berdua mengangguk. Tetapi lima belas menit berlalu, jangankan mengerjakan PR, membuka buku bahasa Indonesia pun tidak. Seli lebih tertarik dan memaks a ingin tahu kenapa Miss Keriting datang ke ru-mahku. Aku mau jawab apa, coba? Seli bahkan memeriksa buku PR-ku, penasaran, apa istimew a ny a buku PR itu hingga diantar lang-sung Miss Keriting. Lima menit sibuk memeriksa, Seli menyerah-kan lagi buku itu sambil menghela napas kecewa. ”Tidak ada apa­apany a. Sama saja dengan buku PR­ku, malah nilainy a lebih bagus punyaku. Kenapa sih Miss Keriting ke rumahmu, Ra?” ”Aku tidak tahu.” Aku melotot, bosan memegang buku bahas a Indonesia yang sejak tadi tidak kunjung dibuka. ”Atau begini saja, besok kamu tanyakan ke dia langsung. Kan jadi jelas. Nanti aku temani.” Seli memajukan bibirnya, lagi-lagi hendak berkomentar sesuatu, tapi suara bel gerbang depan sudah berbuny i nyaring. ”Biar Mama yang buka, Ra.” Suara Mama terdengar dari dalam . ”Kalian belajar saja.” Aku tertawa. Apanya yang belajar? Aku beranjak berdiri. Seli juga ikut berdiri, mengikutiku ke depan hendak membuka gerbang. Dua kary awan toko elektronik terlihat sedang repot menurunkan boks besar dari mobil. ”Ma, mesin cucinya datang!” aku berteriak dari halaman. Sekitar lima belas menit kami menonton Mama mengomeli kary awa n yang sibuk bolak- balik menukar mesin cuci baru, meng-uji coba mesin cucinya, memastikan kali ini tidak ada masa-lah. Mereka terlihat serbasa la h , mengangguk- angguk mendengar omelan Mama. ”Ternyata mamamu sama seperti mamaku, Ra,” Seli berbisik . Karyawan toko elektornik itu untuk kesekian kali minta maaf, membungk u k , hendak berpamitan. ”Apanya yang sama?” Aku menoleh ke Seli. Kami masih berdiri menonton. ”Galak! Kasihan karyawan tokony a,” Seli bergumam pelan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 74

Aku tertawa, tidak berkomentar, memperhatikan karyawan toko yang akhirny a bernapas lega, buru-buru menaiki mobil, lantas cepat mengemu dikan mobil, hilang di kelokan jalan. Setidakny a, selingan menonton mesin cuci baru ditukar mem- bu at rasa penasaran Seli tentang Miss Keriting berkurang ba-nyak. Kami bisa mulai mengerjakan PR bahasa Indonesia, mem-buat karangan dengan jenis persuasif sebanyak dua ribu kata. Apalagi saat minuman dan makana n diantar Mama, Seli me-mutuskan melupakan Miss Keriting. Sayangny a, baru pukul setengah empat, kami baru sepertiga jala n mengerjakan PR, bel gerbang depan berbunyi lagi. Nyaring. Aku mendongak, mengangkat kepala. Alangkah banyakny a orang yang bertamu ke rumah kami hari ini. Ini sudah keempat kali-nya. Seli di sebelahku masih asyik menuliskan karangannya. ”Biar Mama yang buka, Ra.” Mama yang sedang santai me­nonton di ruang tengah sudah beranjak lebih dulu ke depan. Aku kembali menat a p buku PR-ku. Paling juga tetangga sebelah, perlu sesuatu. Atau tukang meteran listrik, PAM. Atau pedagang keliling. ”Selamat siang, Tante.” Eh, aku mendongak lagi. Suara itu khas sekali terdengar — m es k i jaraknya masih sepuluh meter dari ruang tamu. Suara yang menyebalk a n, aku kenal. Mama menjawab salam. ”Ra ada, Tante?” Mama mengangguk, lalu bertanya, ”Ini siapa ya?” ”Saya teman Indonesia.”

sekelas

Ra, mau

ikutan

mengerjakan

PR bahas a

Aku langsung meloncat dari posisi nyaman menulis. Seli yang kaget ikut meloncat, tanpa sengaja mencoret buku PR-nya, me-natapku sebal. ”Ada apa sih, Ra?” Aku tidak menjawab. Aku sudah bergegas ke depan rumah. Seli ikutan keluar rumah. Sial! Lihatlah, Mama bersama tamu keempat sore ini, Ali si biang keerok, berjalan menuju kami.

asi.com

TereLiye “Bumi” 75

”Katanya hanya Seli yang datang, Ra?” Mama mengedipkan mata. ”Kamu tidak bilang­ bilang akan ada teman sekelas yang lain?” Aduh. Aku seketika mematung melihat Ali. Lihatlah, si biang kerok itu bersopan santun sempurna, berpakaian rapi. Ya ampun, rapi sekali dia. Berkemeja lengan panjang, bercelana kain, berikat pinggang, bersepat u , bahkan aku lupa kapan terakhir kali melihat rambutnya disisir rapi, terlihat lurus, hitam legam, dan tersenyum seperti remaja paling tahu etika sedunia. ”Selamat sore, Ra. Selamat sore, Seli. Maaf aku terlambat.” Bahkan Seli, kali ini pun ikut mematung, menatap Ali yang seratus delapan puluh derajat berubah tampilan, di halaman rumput, di bawah cahaya matahari sore yang mulai lembut.

asi.com

TereLiye “Bumi” 76

NI akan jadi momen paling ganjil sejak aku remaja. Aku melot ot , hendak mengusir Ali dari halaman rumah. Di sam-pingku Seli bengon g melihat penampilan Ali yang berubah, susah membedakanny a denga n pemain drama Korea favoritny a. Sementara Ali tersenyum lebar seolah tidak ada masalah sama sekali, seolah aku dan Seli memang habis bercakap sebal karena Ali tidak kunjung datang untuk belajar bareng. ”Ra, Seli, kenapa kalian malah bengong di situ?” Mama yang tidak memperhatikan, telanjur masuk ke ruang tamu, menole h, kepalanya munc u l dari bingkai pintu. ”Ayo, ajak temanmu ma­suk. Ayo, Nak Ali, masuk.” Sebelum aku bereaksi atas tawaran Mama—misalny a denga n mencak- mencak mengusir Ali, anak itu mengangguk amat sopan, (purapura) malu melangkah ke teras. ”Anggap saja rumah sendiri, ya.” Mama tersenyum. ”Iya, Tante.” Ali mengangguk lagi. Aku benar-benar kehabisan kata. Aduh, kenapa Mama ramah sekali pada si biang kerok itu? Aku menyikut Seli, menyadar-kan ekspresi wajah Seli yang berlebihan, mengeluh kenapa Seli juga ikut tertipu denga n tampilan baru Ali. Aku bergegas ikut melangkah masuk ke ruang tamu. ”Nak Ali mau minum apa?” ”Nggak usah, Tante. Nanti merepotkan.” ”Tentu saja tidak. Tunggu sebentar ya, Tante siapkan di dapur.” Belum sempurna hilang punggung Mama dari bingkai pintu, aku sudah loncat, mencengkeram lengan baju Ali. ”Kamu, ke-napa kamu datang , hah? Tidak ada yang mengajakm u belajar bareng?” Ali hanya nyengir. ”Aku datang baik­baik lho, Ra.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 77

”Bohong! Kamu pasti ada mauny a,” aku berseru ketus. ”Eh, iya dong. Tentu saja ada maunya.” Ali menatapku, ter­seny um . ”Maunya adalah belajar bareng. Minta diajari me­ngarang jenis persuas if . Kamu kan yang paling pintar soal bahasa Indo­nesia.” ”Bohong! Kamu pasti sedang menyelidiki sesuatu.” Ali mengangkat bahu, wajahnya seolah bingung. Dia menoleh ke Seli— yang serius menonton kami bertengkar. Jangan- jangan Seli berpikir ada adegan drama Korea live di depannya. Aku menelan ludah. Cengkeram an tanganku mengendur. Aku tidak mungkin menuduh Ali sengaja datang untuk menyelidiki apakah aku bisa menghilang atau tidak. Ada Seli di ruang tamu, urusan bisa tambah kacau. ”Karanganm u sudah berapa kata, Sel?” Mengabaikanku, Ali beranja k mendekati Seli. ”Boleh aku lihat?” Ali menunjuk buku PR Seli. ”Eh, silakan,” Seli nyengir, ”tapi nggak bagus kok. Baru tiga paragra f. ” Aku menepuk dahi. Nah, sejak kapan pula Seli jadi ikutan ramah pada Ali? Bukannya kemarin dia marah- marah karena ditabrak Ali di anak tangga? ”Wah, ini bagus sekali, Sel.” Ali membaca sejenak. ”Oh ya?” Aku menyikut lengan Seli, mengingatkan dia sedang ber-cakap- cakap dengan siapa. ”Sebenarnya bagusan karangan Ra. Tadi aku juga dikasih ide tulisa n sama dia.” Seli tidak merasa aku menyikutny a. Dia malah menunjuk buku PR milikku di ujung meja. ”Boleh aku lihat karanganmu, Ra?” Ali menoleh padaku.

asi.com

TereLiye “Bumi” 78

”Enak saja. Nggak boleh.” Aku bergegas hendak menyambar buku PR-ku. ”Nah, satu gelas jus buah tiba.” Mama lebih dulu masuk ke ruang tamu, menghentikan gerakan tanganku. ”Silakan, Nak Ali. Jangan malu­ malu.” ”Terima kasih, Tante.” Ali menerima minuman sambil ter­seny um santun. ”Ra tidak pernah cerita punya teman laki­laki di se­kolah.” Mama duduk sebentar, bergabung, seolah ikut punya PR bahasa Indone s ia — tepatnya Mama sengaja menggodaku. ”Mereka berdua tidak temanan, Tante,” Seli yang menjawab, tertawa. ”Tidak temanan?” Mama menatapku dan Ali bergantian. ”Di sekolah mereka lebih sering bertengkar.” ”Oh ya?” Mama ikut tertawa. Sore itu berakhir menyebalkan. Selama satu jam kemudian aku terpaksa mengalah, membiarkan Ali mengeluarkan buku dari tasnya, ikut mengerjakan PR di ruang tamu. Sebenarny a, terlepas dari mendadak ny a , tidak ada yang aneh dari kedatangan Ali. Dia sungguh-sungguh mengerja ka n PR mengarang. Seli membantu menjelaskan ide tulisan— seperti yang aku jelaskan kepada Seli. Ali mengarang dengan serius. Setengah jam kemudian Ali minta izin ke toilet. Karena Mama sedang memakai kamar mandi bawah, aku ketus menyuruh- ny a naik ke lantai atas. Ada toilet di sebelah kamar-ku. ”Kamu memang mengajak Ali belajar bareng, Ra?” Seli ber­bisik, saat kami tinggal berdua. ”Tidak,” aku menjawab ke­tus. ”Kok dia tahu kita belajar bareng?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 79

”Mana aku tahu.” Aku melotot ke Seli, menyuruh dia me­nyelesai­ ka n karanganny a. Tidak usah membahas hal lain. Seli nyengir, balik lagi ke buku PR. Hening sejenak. ”Gwi yeo wun, Ra,” Seli berbisik lagi. ”Apanya yang yeo wun?” Aku sebal menatap Seli—sejak ke-datanga n Ali, aku mudah sebal pada siapa saja. ”Benar kan yang kubilang, Ra.” Seli tersenyum lebar, matany a bekerjap­kerjap. ”Ali itu aslinya cute, gwi yeo wun. Dengan pakai-an rapi, rambut disisir lurus, eh—” ”Kamu mau menyelesaikan PR atau tidak? Sudah hampir jam lima , tahu.” ”Eh, iya­iya, ini juga lagi diselesaikan.” Seli kembali ke buku. ”Kamu kenapa pula sensitif sekali, jadi mudah marah.” Pukul setengah enam, Ali dan Seli pamit. Mama mengantar ke halaman, bilang hati-hati di jalan. Aku masuk ke rumah setelah mereka naik angkutan umum. Segera kubereskan piring dan gelas. ”Ternyata…” Wajah Mama terlihat menahan tawa, melangkah ke dapur. ”Kalau Mama mau menggoda Ra, tidak lucu, Ma.” Aku cem­berut galak. ”Dia yang membuat kamu malu punya jerawat di jidat.” Mama tetap tertawa. ”Dia tampan dan sopan sekali lho, Ra. Pantas saja.” Aku hampir menjatu hkan piring. Pantas apanya? *** Sore berlalu dengan cepat. Gerimis turun membungkus kota saat lampu mulai dinyalakan satu per satu. Awan hitam ber-gelung memenu h i setiap jengkal langit. Kilau tajam petir dan gelegar guntur menghiasi awal malam.

asi.com

TereLiye “Bumi” 80

Pukul tujuh, aku makan malam sesuai jadwal. Mama me-nemani- k u — hanya menemani. ”Mama makanny a nunggu Papa pulang, Ra.” Aku mengangguk, mengerti. Pukul delapan, gerimis berubah menjadi hujan deras. Aku duduk di ruang keluarga, malas belajar. Daripada di kamar sibuk memencet jerawat , kuputuskan membaca novel saja, menemani Mama yang menonton telev isi. Sialny a, tetap saja aku refleks me-megang- megang jerawat sambil memba c a . Urusan jerawat selalu begitu, semakin berusaha dilupakan, semakin sering aku mengin gatnya. Aku mengeluh dalam hati, hampir bertanya untuk kesekian kaliny a kepada Mama, apa obat mujarab jerawat, tapi kemud ia n aku mengurungkanny a. Nanti Mama jadi punya amunisi kemba li menggodaku. ”Ma, Papa sudah telepon lagi atau belum?” ”Sudah,” Mama menjawab pendek. ”Papa bilang pulang jam berapa?” Aku memperbaiki posisi duduk , membiarkan si Putih meringkuk manja di ujung kakiku. Bulu tebalnya terasa hangat. ”Sampai urusan di kantor selesai, Ra. Belum tahu persisnya.” Mama menghela napas tipis, berusaha terdengar biasa-biasa saja. Aku mang g utmanggut, tidak bertanya lagi. Kembali kubaca novel, tangan kiriku juga kembali memegang- megang jidat. Pukul sembilan, hujan deras mereda. Mama menyuruhku tidur lebih dulu. Aku mengangguk, sudah waktuku masuk kamar. Baiklah, aku menut u p novel yang kubaca. Si Putih ikut bangun, berlari- lari menaiki anak tangga. Meski sudah masuk kamar, aku tidak bisa segera tidur seperti mala m sebelumnya. Banyak yang kupikirkan. Lewat tirai jendela, kutatap kerlap-kerlip lampu di antara jutaan tetes air. Aku menghela napas, semog a Papa baik-baik saja di kantor, urusan hari ini lebih mudah. Refleks aku memegang jidat. Si Putih mengeong, naik ke atas tempat tidur. Aku menoleh. ”Kamu tidur duluan saja, Put. Aku belum mengantuk.” Aku kembali mengintip

asi.com

TereLiye “Bumi” 81

lewat sela-sela tirai jendela. Semoga si Hitam, di mana pun dia ming g at sekarang, juga baik-baik saja. Hujan deras seperti ini, semoga dia menemukan loteng kering untuk tidur. Sudah dua hari kucingku itu tidak pulang. Aku refleks memegang jidatku. Aku juga memeriksa buku PR matematika dari Miss Keriting, duduk di atas kasur. Lima menit sibuk membolak-balik halaman, tidak ada yang istimewa, hanya buku PR-ku seperti biasa. Aku mengingat- ingat pesan Miss Keriting, apa dia bilang? Apa pun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apa pun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawaban dari tempat-tempat yang hilang. Entah la h . Kalimat itu aneh sekali. Hujan di luar semakin deras. Aku hendak memasukkan buku- ku kembali ke dalam tas, tapi sepertiny a tasku ketinggalan di ruang televisi. Ah, rasanya malas turun mengambil tas. Jadi aku beranjak, duduk di kursi belajar, menatap cermin besar, memperhatikan jerawatku. Jerawatk u besar sekali—m erah, dengan bintik putih tipis. Aku mematut- matut beberapa menit, akhirnya gemas me-mencetny a. Tidak meletus, hany a menyisakan sakit dan semakin merah di sekitarnya. Aku mengeluh dala m hati, menyesal sudah memencetnya. Pukul sepuluh, langit gelap kembali menumpahkan hujan. Le- bih deras daripada sebelumny a. Kilau petir membuat berkas cahaya di dala m kamar, guntur terdengar menggelegar. Aku masih termangu menata p jidatku, sudah tiga kali memencet jerawat-ku. Aku menyesal, kupencet lagi, menyesal lagi. Begitu-begitu saja, tambah geregetan. Kenapa pula jerawat ini datang pada waktu yang tidak tepat? Susah sekali membuatny a meletus. Aku menatap cermin dengan kesal. Kenapa aku tidak bisa membuatnya menghilang seperti saat aku membuat tubuhk u menghilang dengan menempelkan telapak tangan di wajah? Telunjuk k u geregetan terus menekan- nekan. Atau aku bisa membuatnya menghi la n g seperti itu? Aku menelan ludah. Kenapa tidak? Apa susahnya memb u at jerawat batu ini hilang? Jangan- jangan, aku bisa menyuruhnya meng- hila ng . Telunjukku terangkat, sedikit gemetar menunjuk jerawat itu.

asi.com

TereLiye “Bumi” 82

Saat telunjukku terarah sempurna ke jerawat, aku bergu m a m , ”Menghilanglah,” dan kilau petir menyambar begitu terang di luar ke-laziman. Suara guntur bahkan terdengar lebih cepat daripada biasa- ny a , berdentum kencang. Aku hampir terjatuh dari kursi, me-nutup mulut karena hampir berseru. Lihatlah! Jerawat di jidatku sungguhan hilang. Aku sedikit gemetar memastikan, berdiri, mendekatkan wajah ke cermin. Benar-benar hilang. Aku hampir bersorak senang, se-belum sesuatu menghentikannya. ”Halo, Gadis Kecil.” Sosok tinggi kurus itu telah berdiri di dala m cermin, menatapku lamat-lamat dengan mata hitam meme-sona-. Kali ini aku benar-benar terjatuh dari kursi. Kaget. Apa yang barusan kulihat? Sosok itu? Aku bergegas berdiri, refleks menoleh ke belakang, tidak ada siapa-siapa berdiri di dalam kamarku . Kembali aku menoleh ke cermin, sosok tinggi kurus itu masih ada di sana, tersenyum. Matanya menatap me-mesona. ”Kamu sepertinya baru saja berhasil menghilangkan Nak. Selamat.”

sebuah jerawat ,

asi.com

TereLiye “Bumi” 83

IAPA kamu?” aku berseru dengan suara bergetar bukan karena takut, lebih karena kaget setengah mati melihat ada sosok yang tiba- tib a berdiri di dalam cermin besar. Ini bukan imajinasiku. Ini nyata, senyata aku berusa h a me-ngendalikan napas. Jantungku berdetak amat kencang. Sosok itu benar-benar ada di dalam cermin besar, hanya di dalam cermin, tanpa ada fisikny a di kamarku. Perawakannya tinggi dan kurus. Wajah ny a tirus. Telingany a mengerucut. Rambutnya meranggas. Bola matanya hitam pekat. Dia mengenakan—aku tidak tahu, apa-kah itu pakaian atau bukan kain yang seolah melekat ke tubuhnya, berwarna gelap. Sejenak tersengal menatap sosok itu, aku melompat. Tanganku refleks menyambar apa saja di atas kasur, mencari senjata, dan mengeluh, karena yang ada hanyalah novel tebal. Sementara suara hujan deras di luar semakin keras, membuat keributan di kamar tidak terdengar hingga ruang tengah , tempat Mama sedang menonton televisi—menunggu Papa pulang. Kila u petir dan gelegar guntur susul- meny usul. Napasku menderu kencang. ”Siapa kamu?” aku berseru, suaraku serak. ”Aku siapa?” Suara sosok itu terdengar seperti mengambang di langit-langit kamar, seolah dia bicara dari sisi kamar mana pun, bukan dari dalam cermin. ”Kalau mau, kamu bisa me-manggilku ‘Teman’, Nak.” Aku menggeleng, beringsut menjaga jarak. Mataku menyelidik setiap kemungkinan. Tanganku bergetar mencengkeram novel. Kalau sosok ganjil ini tiba-tiba menyerangku, akan kupecahkan cerminnya dengan novel tebal di tanganku—dan semoga dia tidak justru keluar dari cemin pecah itu, mala h bisa berdiri nyata di tengah kamarku. ”Kamu mau apa? Kenapa kamu ada di dalam cerminku?” aku berseru, bertanya, terus berhitung dengan posisiku.

asi.com

TereLiye “Bumi” 84

Sosok itu tidak langsung menjawab. Diam sejenak lima be-las detik. Kucingku si Putih meringkuk tidur, tidak ter-ganggu de-ngan segala keributan. Menyisakan aku dan sosok tinggi ku-rus di dalam cermin saling tatap dengan pikiran masing- masing. ”Ini menarik, Nak.” Sosok itu akhirny a bersuara setelah me­nata p­ k u lamat­lamat. ”Kebany akan orang dewasa menjerit ke­takutan melih at cermin di hadapanny a yang tiba-tiba berisi bayangan orang lain. Ini menarik sekali, rasa penasaran yang kamu miliki ternyata lebih besar dibanding rasa takut. Rasa ingin tahu yang kamu miliki bahkan lebih besar diband i ng me­mikirkan risikonya. Aku siapa? Kamu selalu bisa memanggilku ‘Teman’. Apa mauku? Apa lagi selain menemuimu?” Aku menggeleng, memutuskan tidak mudah percaya, berjaga- ja g a kalau ada sesuatu yang mencurigakan. Tanganku semakin dekat untuk melemparkan novel tebal ke arah cermin. Sosok tinggi kurus itu mengangguk. ”Baik, kamu benar, aku mungk in bukan teman. Tidak ada teman yang datang lewat cermin, bukan? Membu at semua akal sehat terbalik. Siapa pula yang akan riang gembira saat sedang menatap cermin tiba-tiba ada sosok lain di dalamnya. Sayangny a, kita tidak leluasa ber-temu. Belajar dari pengalam an dua hari lalu, kini aku tidak bisa berharap kamu akan bersedia menangkungkan telapak tanganm u ke wajah , bukan? Mengintip dari sela jari agar aku bisa terlihat berdiri di kamar ini. Kamu pasti tidak mau melaku­kannya.” Angin kencang yang menyertai hujan di luar membuat tetes air menerpa jendela kaca. Aku tetap berusaha konsentrasi me-natap sosok tinggi kurus di dalam cermin. ”Sayangny a ini pertama kali kita berbicara. Kamu belum siap mendengar penjelasan, Gadis Kecil. Sebesar apa pun bakat yang kamu milik i sekarang, kamu belum siap. Jadi aku tidak akan lama. Dua hari lalu, amat mengejutkan ternyata kamu bisa me-lihatku, tapi kupikir itu kebetula n. Malam ini, kamu mampu melakukan hal yang lebih menarik, berhas il menghilangkan jerawat di wajah, karena itu aku memutuskan sudah saatny a menyapa.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 85

Sosok tinggi kurus itu diam sejenak, mengembuskan napas. Dia sungguh nyata. Lihatlah, cerminku berembun oleh napasny a yang hangat. ”Kamu pasti punya banyak pertanyaan, Nak.” Sosok itu meng­h a p u s embun di cermin dengan jari­jariny a yang kurus dan panjang. ”Tapi mala m ini aku tidak akan menjawabnya. Aku pernah melakukan kesalahan denga n terlalu banyak menjelaskan.” Gerakan tanganny a terhenti. Mata hitam ny a menatap tajam ke arah lain. Aku tahu apa yang didengar sosok di dalam cermin. Aku juga mendengar suara mobil masuk ke halaman rumah. Papa sudah pulang. ”Ingat baik­baik yang akan kusampaikan, Gadis Kecil.” Dia menata p k u tajam. ”Peraturan pertama, jangan pernah memercay ai siapa pun. Teman dekat, kerabat, orangtua, siapa pun. Aku tidak akan mengajarim u agar tidak bercerita ke orang lain, lima belas tahun kamu berhasil menyimpan rahasia sendirian. Itu tidak pernah terjadi sebelumny a. Jadi, kita hilangkan saja peraturan kedua.” Sosok tinggi itu diam sejenak, kembali menatap tajam ke arah lain. Suara percakapan Papa dan Mama di ruang tengah terdeng ar sayup-sayup di antara suara hujan. Papa menany akan apakah aku sudah tidur atau belum. ”Ingat baik­baik peraturan tersebut. Sekali bercerita kepada orang lain, kamu bisa membuat semua menjadi di luar kendali. Semua bakat besar itu akan berubah melawan dirimu sendiri, dan membahayakan orang- ora n g yang kamu sayangi.” Mata hitam itu menyapu seluruh tubuhku. Aku menelan ludah, tidak semua kalimat sosok di dalam cermin itu bisa aku mengerti. Jemariku semakin bergetar men-cengkeram novel tebal. ”Apa yang kamu inginkan dariku?” Sosok tinggi kurus itu mengangguk. ”Kamu memiliki bakat hebat, Nak. Kamu tidak hanya bisa menghilang dengan me-nangkupkan kedua telapak tangan ke wajah. Kamu bisa melaku-kan lebih dari sekadar mengintip orang dari sela jari. Kita akan segera melihatny a, apa-kah hanya kebetulan kamu bisa meng-hilangkan jerawat atau lebih dari itu. Buku tebal yang kamu pegang, itu tugas pertama, kamu akan

asi.com

TereLiye “Bumi” 86

menghilangkanny a dalam waktu dua puluh empat jam ke depan. Aku akan kembali besok malam, memastikan kamu mengerjakan pekerjaan itu denga n sungguh­ sungguh.” Sosok di dalam cermin lantas perlahan menyingkap pakaian- ny a — ternyata itu tidak menempel ke kulit, pakaian di pinggang- nya longgar dan menjuntai. Entah dari mana datangnya, dia mengeluarkan kucing berbulu tebal. Aku hampir berseru tertahan, itu si Hitam! Sosok tinggi kurus itu tersenyum tipis. Jarinya yang panjang menge lu s kepala kucingku. ”Sejak usia sembilan tahun kamu telah diawasi, Gadis Kecil. Itu cara terbaik untuk memastikan kamu tidak bersentuhan denga n sisi lain. Tapi dua hari lalu, keber-adaanm u diketahui, itu memicu semua sinyal di empat klan. Kamu bisa membuat pekerjaan ini menjadi mudah atau sulit, tergantung dirimu sendiri. Camkan baik-baik, kamu tidak pernah dimiliki dunia ini, bahkan sejak lahir. Kamu dimiliki dunia lain. Selalu ingat itu.” Aku tidak mendengarkan kalimat berikutny a dari sosok itu denga n baik, aku sedang berseru tanpa suara. Astaga, aku sungguh tidak percaya apa yang kulihat. Itu kucingku, si Hitam, ber-ada di pangkuan sosok yang berada dalam cermin. ”Nah, saatnya mulai berlatih, Nak.” Sosok tinggi kurus itu menep u k pelan kucing di pangkuannya, lalu berbisik, ”Kamu temani dia.” Denga n suara meong yang amat kukenal, si Hitam lompat dari tanganny a , menembus cermin, mendarat di meja be-lajarku. Aku tertegun. Si Hita m sudah meloncat ke lantai, lang-sung me-nuju kakiku, seperti biasa, henda k antusias me-nyundul- ny undul-kan kepalanya ke betisku. Aku terkesiap. Entah harus melakukan apa. Kakiku bergetar saat disentuh bulu lembut si Hitam. Apa yang baru saja kulihat? Kucing k u menembus cermin? Aku menatap si Hitam yang manja berada di antara kakiku. Jadi, kucingku ini nyata atau bukan? Atau pertanyaanny a adala h , ini kucingku atau bukan? Apa yang dikatakan sosok tinggi kurus itu? Aku telah diawasi sejak lama?

asi.com

TereLiye “Bumi” 87

Kilau petir menyambar terang, aku mengangkat kepala, menatap ke depan. Cermin itu hanya memantu lkan bayanganku sekarang, kosong. Sosok tinggi kurus itu telah pergi.

asi.com

TereLiye “Bumi” 88

ELAMAT pagi, Ra.” Mama sedang menggoreng sosis saat aku menuruni anak tangga. Mama tertawa kecil. ”Wah, ini rekor baru kamu bangun pagi. Jam segini malah sudah siap be­rangkat sekolah.” ”Pagi, Ma,” aku menjawab pendek, menarik kursi, meletakkan tas. ”Tidur nyenyak, Ra?” Perhatian Mama kembali ke wajan, ti­dak menunggu jawabanku. ”Hujan deras semalam an selalu bikin nyenyak tidur lho.” Aku menghela napas pelan, menatap punggu ng Mama yang asy ik meneruskan menyiapkan sarapan. Sebenarny a aku tidak bisa tidur t adi malam. Siapa yang bisa tidur nyenyak setelah tiba-tiba ada sosok tingg i kurus berdiri di dalam cermin kamar kalian? Bicara panjang lebar tentang hal-hal yang tidak aku mengerti, penuh misteri. Belum lagi si Hitam. Itu yang paling susah membuatku ti-dur— tidak peduli seberapa manjur suara hujan mampu me-nina- bobokan. Bagaim a na kalian akan tidur jika di atas kasur me-ringkuk kucing kesayangan kalia n, yang ternyata selama ini tidak terlihat oleh siapa pun, yang ternyata bisa menembus cermin. Dan itu belum cukup—kucing itu ternyata juga memata- matai kalian se-lama enam tahun terakhir! Itu mimpi buruk yang nyata. Meski-pun si Hitam sebenarnya terlihat biasa- biasa saja, dia me-natapku dengan bola mata bundar bercahaya, manja menempel- ka n badan- ny a yang berbulu tebal ke betis, meringkuk tidur. Setengah jam sejak sosok tinggi kurus itu pergi, situasi ganjil di kamarku masih tersisa pekat. Aku menatap si Hitam dengan kepala sesak oleh pikiran. Sikapku jelas berbeda kalau si Hitam hanya minggat karena naksir kucing tetangga. Ta-ngan-ku gemetar berusaha menyentuh kepala si Hitam. Kucing itu mengeong, me-natapku, sama persis seperti kelaku a n kucing ke-sayanganku selama ini. Aku terdiam. Lihatlah, si Hitam amat nyata, sama nyata-nya dengan si Putih yang sejak tadi terus tidur, tidak merasa terganggu dengan keributan. Aku meng-gigit bibir. Bagai- m a na mungkin si Hitam ”makhluk lain”? Bagaim ana mungkin matanya yang

asi.com

TereLiye “Bumi” 89

indah itu ternyata meng-awasi-ku selama ini? Bagai- mana mungkin dia kucing paling aneh sedunia, bukan hanya karena tidak ada yang melihat ny a , tapi boleh jadi dia juga punya rencana-rencana di kepalanya. Melapor ka n kepada dunia lain? ”Lho, Ra, kok malah melamun?” Mama menumpahkan sosis goreng ke piring di atas meja. ”Pagi-pagi sudah melamun. Itu tidak baik untuk anak gadis.” Aku menggeleng, tersenyum kecut. ”Papa semalam baru pulang jam sepuluh. Larut sekali.” Mama memberitahuku—y ang aku juga sudah tahu. ”Pekerjaan kantor Papa semakin menumpuk. Seperti biasa, sibuk berat.” Hanya itu penjela sa n Mama. Aku mengangguk. ”Mama senang, dua hari terakhir kamu selalu siap sekolah sebelu m Papa berangkat. Jadi Mama tidak perlu teriak­teriak membangunkanm u .” Mama menatapku, tersenyum, tangannya masih memegang wajan kosong . ”Kita semua harus mendukung Papa pada masa­masa sibuknya.” ”Iya, Ma,” aku menjawab pendek. ”Kamu mau sarapan duluan?” ”Nanti saja, Ma. Tunggu Papa turun.” Mama mengangguk, kembali ke kompor gas, melanjutkan aktiv itas masak-memasaknya. Aku menatap lamat-lam at mengembuskan napas pelan.

piring

berisi

sosis

di

hadapa nk u ,

Tadi malam, berkali-kali aku menatap si Hitam —aku urung menge lu s bulu tebalny a, membiarkan dia meringkuk tanpa diganggu. Aku berkali- k a li menatap cermin besar, memastikan tidak ada siapa pun lagi di dala m ny a yang tiba-tiba menyapa. Aku berkali-kali meletakkan telapak tangan di wajah, mengintip dari sela jemari, siapa tahu sosok tinggi kurus itu ada di dalam kamarku, hanya kosong, tetap tidak ada siapa-siapa.

asi.com

TereLiye “Bumi” 90

Bahkan aku yang bosan tidak bisa tidur-tidur juga akhirnya memutus ka n beranjak duduk. Teringat percakapan dengan sosok itu, aku menatap nov el tebal di atas kasur, menghela napas. Aku berkonsentrasi, berkali- kali menyuruh novel itu menghilang—lima belas menit berlalu, novel tebal itu tetap teronggok bisu. Akhirny a aku menarik selimut lagi, berusaha tidur, hingga jatuh tertidur pukul dua malam. Di luar sana, hujan deras terus menyiram kota. Lampu seluruh kota terlihat kerlap-kerlip oleh tetes air. Irama konstan air menerpa atap, jalanan, dan pohon. Aku terbangun mendengar kesibukan Mama di dapur. Me-lihat jam di dinding, pukul lima, rasanya baru sebentar sekali aku tidur. Aku memutuskan turun dari ranjang, memulai aktivitas pagi. Di luar hujan sudah reda, masih gelap, menyisakan halaman rumput yang basah. Si Putih mengeong riang, menyapa. Aku balas menyapa. ”Pagi, Put.” Tapi tidak ada si Hitam. Kucingku itu jika aku masih bisa menyebutny a ”kucing­ku” tidak terlihat di kamarku. Aku merapikan poni yang berantakan di dahi, menatap cermin, tidak ada hal yang ganjil di dalamny a. Kuperiksa kamar, si Hitam tetap tidak ke-lihatan. Aku menggaruk kepala, sebaik- nya aku mandi dan ber- siap berangkat sekolah. ”Eh, Ra? mengagetkan.

Jerawatmu

sudah

hilang,

ya?” Seruan

Mama

sedikit

Aku mendongak. Entah sejak kapan, Mama sudah berdiri di hadapanku. Tangannya memegang wajan kosong, habis meng-goreng telur dadar. Aku tadi pasti lagi-lagi melamun. ”Wah, benar­benar hilang! Kamu pencet, ya? Tapi kenapa tidak ada bekasnya?” Mama tertarik ingin tahu. ”Nggak tahu, Ma. Hilang begitu saja.” ”Hilang begitu saja?” Mama tertawa antusias. ”Wah, ini hebat, Ra. Hanya dalam satu malam, jerawat sebesar itu sembuh. Kamu kasih obat

asi.com

TereLiye “Bumi” 91

apa sih? Kita bisa buka klinik khusus jerawat lho. Mahal bayarannya. Nanti Mama suruh tantemu bantu cari modal. Dia relasiny a kan luas.” Aku tersenyum kecut menatap Mama—y ang biasa berlebihan kalau sedang semangat. Seandainy a Mama tahu bahwa jerawatku memang hila ng begitu saja saat aku suruh meng- hilang, Mama mungkin akan berteriak panik. Mama tidak pernah suka cerita horor, kejadian penuh misteri, dan sejenis- nya. ”Pagi, Ra, Ma.” Papa ikut bergabung, menyapa, menghentikan kalim at rencana­rencana Mama tentang klinik jerawat. ”Ternyata Papa terakhir yang bergabung ke meja makan. Padahal tadi Papa sudah mandi ngebut sekali lho.” Aku dan Mama menoleh. Papa sudah rapi. ”Kalian sedang membicarakan apa?” ”Jerawatny a Ra, Pa.” Mama tertawa. ”Oh ya? Ra jerawatan lagi? Seberapa besar?” Papa ikut ter­tawa. Sarapan segera berlangsung dengan trending topic jerawatku. Sempat diseling Papa bertanya soal mesin cuci baru yang diga nt i, Mama bilang sejauh ini penggantiny a tidak bermasalah. Mama juga sempat bilang tentang rencana arisan keluarga minggu depan di rumah. Papa diam sejenak, mengangguk. ”Semoga minggu depan Papa sudah tidak terlalu sibuk lagi di kantor, Ma, jadi bisa membantu.” Papa melirikku sekilas. Aku tidak ikut berkomentar. Aku tahu, maksud kalimat Papa sebenarnya adala h semoga masalah mesin pencacah raksasa di pabrik sudah beres. Lima belas menit sarapan usai, aku berpamitan pada Mama, duduk rapi di kursi mobil di samping Papa. Papa mengemu dikan mobil melew at i jalanan yang masih sepi. Baru pukul enam, itu berarti jangan- jangan aku orang pertama lagi yang tiba di sekolah. ”Bagaimana sekolah mu, Ra?” Papa bertanya, di depan sedang lamp u merah.

asi.com

TereLiye “Bumi” 92

”Seperti biasa, Pa,” aku menjawab pendek, menatap langit mend u ng . Ribuan burung layang- layang terbang memenuhi atas kota, sepertiny a selama ini aku mengabaikan pemandangan itu. ”Kamu tidak punya sesuatu yang seru yang hendak kamu ceritaka n kepada Papa?” Papa menoleh, mengedipkan mata, timer lampu merah masih lama. ”Selain soal jerawat lho.” ”Eh, tidak ada, Pa.” Aku menggeleng. ”Sungguhan tidak ada?” Papa tetap antusias. Aku menggeleng lagi. Aku tahu, Papa sedang mencari topik pembicaraan, lantas memberikan nasihat yang menyambung de-ngan topik itu, menasih ati putrinya. Papa kembali memperhatikan ke depan. Aku menatap jalanan dari balik jendela. Teringat percakapan dengan sosok tinggi kurus tadi mala m . Itu benar, bertahun-tahun aku mampu me-nyimpan rahasia itu sendir ia n. Tidak bocor sedikit pun, tidak tem-pias satu tetes pun. Aku tidak pernah membicarakannya kepada Papa dan Mama. Mereka dengan sendir iny a terbiasa, selalu punya penjelasan sederhana setiap melihat hal ganjil di rumah kami. Aku yang tiba-tiba muncul. Aku yang tiba-tiba tidak ada di sekitar mereka. Bahkan tentang kucingku, mereka selalu bilang si Hita m atau si Putih, bukan si Hitam dan si Putih. ”Papa minta maaf ya, Ra.” ”Eh? Minta maaf apa, Pa?” Aku menoleh ke depan. Lampu merah berikutnya. ”Hari­ hari ini Papa jadi jarang memperh atikan kamu, meng­ a ja k ngobrol. Tidak ada makan malam bersama. Sarapan juga serba-cepat. Papa cemas, kemungkinan Sabtu-Minggu lusa Papa juga harus lembur di kantor. Rencana weekend kita batal.” Aku mengangguk, soal itu ternyata. ”Tidak apa kok, Pa. Ra paham. Kan demi memenangkan hati pemilik perusahaan.” Papa ikut tertawa pelan. ”Kamu selalu saja pintar menjawab kalim at Papa.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 93

Lampu hijau, iringan kendaraan bergerak maju. Lima belas menit kemudian tiba di gerbang sekolah, aku meng-ang k at tas, membuka pintu, berseru, berpamitan. Mobil Papa hilang di keloka n jalan. Aku menatap lapangan sekolah yang lengang. Langit semakin mendung. Ribuan burung layang-layang masih ada di atas gedung- ge d u n g kota, terbang menari menanti hujan. Aku menghela napas, berusaha riang melangkah masuk ke halaman sekolah. Setidaknya, dengan segala kejad ia n aneh tadi malam, hari ini aku tidak perlu menutupi jidatku. Jerawatku sudah hilang.

asi.com

TereLiye “Bumi” 94

KU langsung menuju kelasku, kelas X-9. Tiba di kursiku, aku memasukkan tas ke laci meja. Sekolah masih lengang. Di kelas tidak ada siapa-siapa. Tidak ada yang bisa kulakukan ke-cuali melamun menung g u . Baiklah, aku mengeluarkan novel tebal yang sudah seming gu tidak tamattamat kubaca—pe- ngarang yang satu ini novelny a semakin tebal saja, menguras uang jatah bulanan dari Mama. Aku teringat lagi percakapan tadi malam. Aku tidak mau patuh pada sosok tinggi kurus dalam cermin itu. Aku belum tahu dia berniat baik atau buruk, tapi kalimat-kalim atny a mem-buatku penasaran. Apakah aku memang bisa menghilangkan novel tebal ini—juga benda- benda lain. Aku menatap konsentrasi novel tebal beberapa detik, meng- h e la napas, mengarahkan telunjukku, bergumam pelan menyuruh- ny a menghilang. Sedetik. Aku mengembuskan napas. Sama se-perti tadi mala m , novel itu tetap teronggok bisu di atas meja. Se-kali lagi aku mengulanginy a , lebih berkonsentrasi. Tetap saja, jangan-kan hilang seluruhny a, hilang semili pun tidak. Aku me-lempar tatapan ke luar jendela kelas, lengang. Hanya suara pe-tugas kebersihan yang sedang menyapu lapangan dari dedaunan kering. Aku berkali-kali mencoba, memperbaiki posisi duduk —kalau sampa i ada yang mengintip, pasti akan aneh melihatku sibuk menunjuk- nunju k buku tebal. Teman-teman mulai berdatangan, menyapa. Aku mengang g u k , tersenyum tipis, memasukkan kembali novel ke dalam tas. Se-tengah jam berlalu, sekolah ramai oleh dengung suara. Beberapa teman duduk di dala m kelas dan berdiri di lorong. Anak-anak cowok bermain basket atau bola kaki. Lapangan basah, mereka tidak peduli, bahkan lebih seru, lebih ramai tertawa.

asi.com

TereLiye “Bumi” 95

”Halo, Ra,” Seli menyapaku. ”Halo, Sel,” aku balas menyapa. ”Kamu datang pagi lagi, ya?” Aku mengangguk. Aku menghitung dalam hati, satu, dua, tiga, dan persis di hitungan ketujuh, Seli yang menatapku sambil memasukkan tas ke laci meja berseru, ”Eh, Ra? Jerawatm u yang besar itu sudah hilang, ya?” Aku tertawa. Benar kan, tidak akan lebih dari sepuluh hitung-an. ”Beneran hilang, Ra. Kok bisa sih?” Saking tertariknya, Seli bahkan memegang jidatku, melotot, memeriksa, untung saja tidak ada kaca pembesar, yang boleh jadi akan dipakai Seli. ”Wah, beneran hilang. Bersih tanpa bekas. Diobatin pakai apa sih?” Aku tidak menjawab, menyeringai. ”Pakai apa sih, Ra? Ayo, jangan rahasia­rahasiaan. Pasti obat­ ny a manjur sekali. Semalaman langsung mulus!” Seli penasaran, memega n g lenganku, membujuk. ”Ini ngalah in treatment wajah artis­artis Korea lho, Ra. Tokcer.” ”Nggak diapa­ apain.” Aku menggeleng. ”Nggak mungkin.” Bukan Seli kalau mudah percaya. ”Beneran nggak diapa­ apain. Aku hanya tunjuk jerawatny a, bila ng ‘hilanglah’, eh hilang beneran.” Demi mendengar kebiasaan Seli yang mula i menyebut- nyebut drama favorit Korea-ny a, dan setengah jam terakhir bosan menatap novel tebal di atas meja yang tidak kunjung berhasil kuhilang k a n, aku jadi menjawab iseng. ”Jangan bergurau, Ra.” Seli melotot memangnya aku anak kecil bisa dibohongi, begitu maksud ekspresi wajahnya. Aku tertawa. ”Beneran. Memang begitu. Kusuruh hilang.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 96

Setidakny a itu manjur. Seli masih melotot setengah menit, lantas wajahnya berubah menyerah, malas bertanya lagi. ”Temani aku ke kantin yuk. Cari camilan.” Aku mengangguk, bosan di kelas terus. Kami bergegas keluar kelas, menuruni anak tangga, bel masuk tidak lama lagi. Sayangny a, Seli bertabrakan dengan seseorang yang sebalik ny a hendak naik. ”Lihat­lihat dong!” Orang itu berseru ketus. ”Eh, Ali?” Seli mencoba tersenyum, setengah bingung. Wajah Seli seolah mengatakan ”Bukankah kamu baru kemarin belajar bareng bersamaku? Terlihat rapi dan menyenangkan. Tapi kenapa pagi ini kemba li terlihat acak-acakan, dan tantrum seperti balita gara-gara senggolan kecil?” ”Makany a, kalau jalan, mata tuh jangan ditaruh di pantat.” Ali melot ot menjawab sapaan Seli, lantas berlalu. Dia terlihat buru-buru menaiki anak tangga. ”Bukankah, eh?” Seli menatap punggung Ali, menoleh, me­nata p­ k u tidak mengerti. ”Makany a, jangan tertipu penampilan. Jelas­jelas anak itu b iang kerok. Apanya yang gwi yeo wun. Sekali biang kerok, suka bertengkar, itula h sifat aslinya.” Aku mengangkat bahu, tertawa. Aku berjalan lebih dulu, menarik tangan Seli, sebentar lagi bel. ”Tapi kemarin kan…?” Seli menyejajari langkahku. ”Kemarin apa? Tampilanny a kemarin itu menipu, karena dia lagi ada maunya.” Aku nyengir. ”Ada mauny a? Memang apa mauny a Ali?” Seli bingung. ”Mana kutahu.” Aku mengangkat bahu. ”Ali menyelidiki rumahm u ya, Ra? Ini jadi aneh. Kemarin Miss Keriting juga datang ke rumahm u. Ada apa sih, Ra?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 97

Aku menelan ludah, bergegas mengalihkan percakapan, menat a p kasihan Seli. ”Entahlah. Aku tidak tahu. Nah, yang aku tahu persis, kamu apes sekali, Sel.” ”Apes apanya?” ”Barusan Ali bilang, matamu jangan ditaruh di pantat, kan?” Seli melotot sebal. Aku tertawa. Setidakny a hingga hampir pulang sekolah, aku (dan Seli) tidak bermasalah dengan Ali. Anak lelaki itu masih sering mengamati-ku dari bangkuny a, tapi tidak tertarik memperhatikan jidatku yang sudah bersih dari jerawat. Sepertiny a anak cowok selalu begitu, tidak peduli dengan hal baik dari anak cewek, sukanya memper- hati–kan yang burukny a saja. Pelajaran terakhir adalah bahasa Inggris. Mr. Theo me-nyuruh kami mengeluarkan kertas ulangan. Aku meng-angguk riang. Aku meny uk a i pelajaran bahasa, tidak masalah walau- pun ulang-an mendadak. Mr. Theo membagikan soal, empat puluh soal isian. Seli di sebelahku mengeluarkan puh pelan, mengeluh. Aku tertawa dalam hati, padahal Seli selalu meng-aku fans berat Mr. Theo, ternyata itu tidak cukup untuk membuatny a menyukai ulangan mendadak ini. Yang jadi masalah adalah ketika bel pulang tinggal lima belas menit lagi, Mr. Theo mengingatkan, ”Selesai­tidak selesai, kumpul­kan jawaba n kalian saat bel.” Aku meringis. Tinta bolpoinku habis. Aku bergegas meng-a m b il bolpoin cadangan di dalam tas. Ada dua bolpoin yang ku-keluarkan. Eh, aku sedikit bi-ngung kenapa ada bolpoin ber-warna biru. Bukankah aku tidak pernah punya bolpoin seperti ini? Mungkin bolpoin Papa yang tidak senga ja kutemukan di mobil atau ruang tamu. Tapi tidak apalah, yang penting bisa buat menulis. Aku memutuskan meng-gunakanny a, tapi tidak bisa, tintany a tidak keluar. Aku menggerutu, kenapa aku menyimpan bolpoin ini di dalam tas kalau tintanya habis. Aku hendak menukarny a dengan bolpoin cadang a n yang lain, tapi gerakanku terhenti. Ada yang aneh dengan bolpoin biru ini.

asi.com

TereLiye “Bumi” 98

Aku memperhatikan lebih detail, menyelidik. Bolpoin ini terlalu berat dan sepertinya ada sesuatu di dalamny a. Aku perlahan membuka bolpoin itu. Yang keluar bukan batang isi bolpoin seperti lazimny a, tapi benda kecil, ber­kelotak pelan menimpa meja. Aku bergumam pelan, ”Benda apa ini?” Bentukny a mungil, ada kabel-kabel kecil. Seli di sebelahku ber-ssst menyuruhku diam. Dia sudah pusing denga n soal ulang-an, merasa terganggu pula dengan kesibukanku. Aku ba las ber-ssst menyuruh Seli diam. ”Is there something wrong, Ra?” Mr. Theo menoleh ke mejaku. ”Nothing’s wrong, Sir. My pen jammed,” aku buru­buru men­jawab, menelan ludah. Mr. Theo memastikan sejenak, kembali menatap ke arah lain. Aku mengamati benda itu lamat-lam at. Ini apa? Buat apa? Kenap a benda berkabel ini ada di dalam bolpoin biru yang ru-sak? Setengah menit , aku teringat cerita Seli tentang Ali yang suka sekali membuat peralata n ”canggih”, meledakkan laborato-rium . Aku berseru dalam hati. Aku tahu benda ini, setidakny a aku bisa menebak benda ini untuk apa. Dasar Ali! Tentu saja dia tahu aku kehila ng a n si Hitam, dia tahu aku dan Seli mengerja-kan PR kemarin sore, karena genius amatiran itu menyelundu p-kan bolpoin berisi alat penyadap ke dala m tasku. Dia pasti me-lakukanny a beberapa hari lalu, setelah pe-nasar a n dengan ke-jadian aku dihukum Miss Keriting menunggu di lorong ke-las. Ternyata itu tidak spesial—aku pikir dia tahu dari manalah, de- nga n cara lebih canggih atau misterius. Ternyata hanya karena bolpoin biru ini. Aku tersenyum lebar, teringat sesuatu, setidaknya tadi malam tasku tertinggal di ruang televisi, jadi dia tidak bisa me-nguping percakapanku di kamar dengan sosok dalam cermin. Tapi senyumku segera terlipat , jangan-jangan kemarin sore dia ke rumah, berpakaian rapi, menipu Mama dan Seli, untuk me-nyelundupkan alat pengintai. Aku menyibak poni di dahi. Nanti setiba di rumah, aku akan periksa setiap pojok ruangan. Awas saja, tidak akan kubiarkan lagi.

asi.com

TereLiye “Bumi” 99

Bel pulang berbuny i nyaring, memutus pikiranku. ”Collect your answer sheet now!” Mr. Theo berseru tegas. Aku mengeluh, menyesal telah menghabiskan waktu berharg a- k u untuk bolpoin biru rusak. Aku bergegas menyelesaikan soal yang tersisa. Teman-teman sekelas lainnya juga ikut bergegas, terutama Seli. Dia terlihat panik, menulis secepat tangannya bisa. Sudah seperti cabai keriting bentuk tulisannya. ”Come on. Time’s up, students!”

asi.com

TereLiye “Bumi” 100

APANGAN sekolah dipenuh i anak-anak yang baru saja keluar dari kelas, hendak pulang. Juga lorong kelas dan anak tangga. Suara mereka bagaikan dengung lebah mengisi langit- langit. Sementara itu, di lang it sesungguh ny a, gumpalan awan tebal mengisi setiap pojokan. Musim huja n, pemandangan biasa. Aku bergegas mengejar Ali di antara ke-ramai- a n, sedikit menyikut teman yang lain. ”Hei! Tunggu sebentar!” aku meneriaki Ali. Ke­rumunan anak yang hendak menuruni anak tangga membuatku terhambat. ”Hei, Ali! Tunggu!” aku meneriakkan namany a. Ali menoleh sekilas, tidak tertarik melihatku mengejarny a, tetap berjalan santai. Aku berhasil mengejarny a, menutup jalan di depanny a. ”Nih, hadia h buatmu.” Aku nyengir, menyerahkan bolpoin biru. Demi menatap bolpoin biru yang kusodorkan ke depan wajah- ny a, si genius itu termangu. Tebakanku tadi saat me-ngerjakan ulangan bahas a Inggris benar, kurang- lebih begini-lah ekspresi khas orang tertangk a p tangan. Benda ini memang milik si biang kerok ini. ”Brilian sekali, kamu mematai­ mataiku selama ini. Tapi lain kali jangan gunakan bolpoin bodoh seperti ini, gampang ketahu-an. Lakuka n dengan lebih cerdas.” Aku sengaja meniru intonasi dan cara bicara Miss Keriting satu-satuny a guru yang cuek meng–usir si genius ini. Ali menelan ludah, ragu-ragu menerima bolpoin itu. Dia ce-ngengesan. Sepertiny a itu ekspresi terbaik rasa bersalah yang dia milik i. Aku menatapny a galak. ”Nah, sebaiknya kamu tahu, rumah­ku bukan laboratorium fisika tempat kamu bebas bereksperimen, meledakk a n apalah, menyelidiki entahlah. Sore ini aku akan me-meriksa

asi.com

TereLiye “Bumi” 101

seluruh rumah. Kamu pasti juga meletak-kan sesuatu setelah kemarin jual muka kepada Mama dan Seli. Awas saja kalau aku menemukannya.” Aku meninggalkan Ali yang entahlah mau bilang apa. Aku segera bergabung dengan kerumunan anak-anak yang hendak me-nuruni anak tangga. Seli menunggu di lapangan. Kami selalu pulang bareng. Dia bertany a kenapa aku lama sekali keluar dari kelas. Aku mengangkat bahu, menu nju k langit mendung, lebih baik bergegas mencari angkutan umum yang kosong. *** Setiba di rumah, Mama terlihat repot mengangkat jemuran. Gerimis turun saat aku turun dari angkot. Mama menyuruhku memb-antu, aku mengangguk. Tanpa meletakkan tas sekolah, aku mem-bantu memba w a sebagian tumpukan pakaian, meletak-kan- ny a di ruang depan. Masih lembap, Mama bilang biar di-jemur lagi di halaman belakang yang semi tertutup. ”Halo, Put,” aku menyapa kucingku yang riang menyambutku di ruang tengah. Kepalanya menyundul- ny und ul ke betis. Bulu tebalny a teras a hangat. ”Kamu sudah makan siang?” aku bertanya. Si Putih mengeong pelan, manja kuusap- usap kepalanya. Aku teringat sesuatu, menoleh sekitar. Baru saja aku bertanya dala m hati, ke mana kucing satunya itu pergi sejak tadi pagi, si Hitam justru terlihat berjalan pelan menuruni anak tangga. Mata bundarnya menatapku. Aku tidak tahu persis, apakah ka-rena kejadian tadi malam, kali ini aku merasa si Hitam sedang menatapku tajam, bukan tatapan antusias menyamb ut k u pulang seperti enam tahun terakhir. Aku merasa kucing itu tidak se-kadar kucing lagi. Dia mengawasiku. Dan lihatlah, si Hitam duduk diam di anak tangga terakhir, kepalany a mendongak, tidak meloncat menyamb ut k u seperti biasanya. ”Kamu lihat si Hitam di sana, Put?” aku berbisik pada ku­cing­ku. Si Putih balas mengeong pelan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 102

”Kamu hari ini bermain denganny a, tidak?” aku berbisik lagi. Si Putih tetap mengeong seperti biasa. Aku menghela napas . Seandainy a tahu bahasa kucing, aku bisa bertanya pada si Putih, apakah si Hitam sungguh an tidak terlihat. Apakah si Putih selama ini sebenar ny a hanya bermain sendirian. Apakah si Putih berteman dengan si Hitam? ”Lho, kenapa belum berganti pakaian, Ra? Ayo, bergegas, se­ragam m u itu kan juga lembap terkena gerimis. Nanti masuk angin.” Mama yang membawa sisa jemuran menegurku. ”Iya, Ma.” Aku mengangguk. ”Kita ke kamar yuk, Put,” aku berbisik ke kucingku, lantas beranjak menaiki anak tangga, melewati si Hitam yang tetap tidak bergerak dari dudukny a, ha-nya melihatku. Kecuali merasa ganjil karena terus diperhatikan si Hitam, sisa hariku berjalan normal. Aku berganti seragam, makan siang, mem-bantu Mama mencuci piring dan peralatan dapur, lantas bebas sepanjang sore. ”Kamu sebenarny a mencari apa sih, Ra?” Mama yang sedang menyetrika bingung melihatku mondar- mandir satu jam kemudi- an. ”Ada yang hilang, Ra?” Mama yang sudah pindah merapikan keping DVD di ruang televisi bertanya untuk kesekian kali-nya. Aku mengangkat bahu. ”Bolpoin Ra hilang, Ma.” ”Bolpoin? Segituny a dicari? Kan bisa beli lagi?” Aku nyengir. Namany a juga alasan asal, mana sempat ku-pikirk a n baik-baik. Tapi setidakny a Mama tidak bertanya lagi, membiarkanku terus mengacak-acak rumah. Dua jam tidak kunjung lelah, aku akhirny a mengembuskan napas sebal. Tidak ada sesuatu yang ganjil. Ali boleh jadi tidak sempat memasa n g sesuatu, atau dia kali ini memang genius sekali, meletakkan alat peny ad a p yang tidak bisa ditemukan. Satu jam lagi berlalu sia-sia, aku mengempaskan tubuh di kursi kamarku, juga tidak menemukan apa pun.

asi.com

TereLiye “Bumi” 103

Jam bebasku habis percuma. Padahal aku sudah mem-bayang- k a n menemukan alat penyadap yang besok bisa kulemparkan kepada Ali. Aku bergegas mandi sore setelah diingatkan Mama. Lampu jalanan mulai menyala, matahari beranjak tenggelam . Gerimis tetap begitu-begitu saja, tidak menderas, tidak juga me-reda. ”Papa pulang malam lagi ya, Ma?” aku bertanya saat makan ma­ la m , ditemani Mama. ”Iya. Tadi siang Papa sudah menelepon. Kemungkinan Papa pula ng lebih ma-lam dibandingkan kemarin. Pekerjaan Papa di kantor semakin menumpuk.” Mama menghela napas prihatin. Aku sedikit menyesal bertanya soal Papa. Seharusny a aku bisa mencari topik percakapan yang lebih baik, bukan bilang apa saja yang terlintas di kepalaku. Asal komen. ”Minggu depan, pas arisan, semua keluarga datang ya, Ma?” Aku kali ini sengaja memilih topik yang pasti membuat Mama lebih tertarik, lebih riang. Mama tersenyum, mengangguk. ”Iya, tantemu bahkan mau mengin a p semalam .” ”Oh ya?” aku berseru riang—tuh semangat.

kan, bahkan aku sendiri

ikut

”Iya, Tante Anita bilang bakal bawa si Jacko, biar bisa ber­ main ber-sama si Putih atau si Hitam.” ”Sungguh?” Mataku membesar. ”Mama tidak sedang meng-goda Ra, kan?” Mama tertawa, mengangguk, itu sungguhan. Jacko itu nama kucing milik Tante Anita. Makan malam selesai setengah jam ke-mudian, dihabiskan denga n membahas rencana arisan keluarga minggu depan. Di luar hujan mulai turun dengan lebat.

asi.com

TereLiye “Bumi” 104

*** Agak ajaib memang hari ini, tumben tidak ada PR yang harus ku-kerjakan untuk besok. Aku malas belajar matematika per-siapan ulanga n minggu depan, masih lama, nanti- nanti saja, juga malas membaca nov el tebal itu. Aku akhirny a hanya bermain dengan si Putih. Tapi itu pun tidak lama. Rasanya ganjil sekali me-lempar gulungan benang wol, lantas si Putih riang me-nyambar- nya, antusias membawanya kembali ke pangkua nk u . Se-men-tara si Hitam, kucing satunya lagi, duduk di atas kasur, memperhatikan, tidak tertarik. Aku melirik si Hitam, lalu berbisik kepada si Putih yang manja kugendong. Aku bertanya lagi apakah si Putih melihat si Hitam yang duduk mengawasi. Mana ada kucing normal yang tidak tertarik main lempar- lem paran? Bukankah dulu si Hitam senang sekali melakukanny a . Atau tidak? Aku menghela napas, beranjak berdiri, meletakkan si Putih. Baru pukul sembilan, aku memutuskan tidur lebih awal. Tidak ada hal seru yang bisa kulakukan dengan seekor kucing aneh terus mengawasiku. Aku malas mengenakan sandal, pergi ke kamar mandi, gosok gigi. Keluar dari kamar mandi, aku benar-benar melupakan se-potong kalimat percakapan tadi malam. Tepatnya, aku tidak mem-perhat ika n bahwa kami ada ”janji pertemuan” berikutnya. Aku bersenandung pelan, kembali ke kamar, menutup pintu, me-nguap, bersiap meloncat ke atas kasur. Saat itu telingaku men-dengar si Hitam justru menggeram di atas kasurku. Belum genap aku memperh atikan kenapa si Hitam terdeng ar begitu galak, sosok tinggi itu telah berdiri di dalam cermin. ”Halo, Gadis Kecil.” Aku refleks menoleh. ”Kamu sepertinya tidak sedang menungguku.” Sosok tinggi kurus itu tersenyum suram. Cerminku terlihat lebih gelap di-banding biasanya. Tidak ada bayangan apa pun di dalamny a selain wajah tirus, kuping mengeru c ut , rambut meranggas. Sosok tinggi kurus itu telah kembali, memanda ng k u dengan tatapan ber-beda seperti malam sebelumnya. Dia marah.

asi.com

TereLiye “Bumi” 105

Aku refleks meraih sesuatu. Sial, tidak ada yang bisa kujadi- k a n senjata selain sandal jepit yang kukenakan. Aku menyesal meletakk a n pemukul bola kasti di dalam lemari. ”Seharusny a kamu mulai terbiasa, Nak,” sosok tinggi kurus itu berkata datar, menatap sandal jepit yang kupegang. Suaranya mengam bang di seluruh ruangan —meski dia bicara dari dalam cermin dua dimensi, tidak berkurang jelasnya, padahal hujan deras turun di luar. ”Bagaimana latihanm u hari ini?” sosok itu bertanya, langsung ke pokok persoalan. ”Latihan apa?” aku balas bertanya, menatap tidak mengerti ke dala m cermin. Si Hitam menggeram keras. Aku menoleh. Kucing itu me-loncat ke kursi tempat tas sekolahku berada. Dengan mulut dan cakar kakinya, si Hitam menarik keluar novel tebal itu, me-ngeong galak. Dia menunjuk ka n novel dengan mulutny a. Aku menelan ludah. Ternyata latihan itu. ”Bukankah sudah kukatakan, Gadis Kecil, kita bisa melakukan ini dengan mudah, atau dengan sulit, tergantung dirimu sendiri.” Sosok tingg i kurus itu menatapku kecewa. ”Kamu tidak me­laku­kan perinta h k u . Bahkan kamu menganggap ringan perintahku.” Aku refleks mundur satu langkah. ”Kamu tahu, kamu seharusnya sudah bisa menghilangkan novel itu!” sosok tinggi itu membentak. Cerminku semakin gelap, bahkan aku bisa melihat cermin itu seolah mengerut ka-rena amarah. ”Eh, aku sudah melakukanny a,” aku menjawab ketus, mekanis­ m e bertahanku muncu l. ”Bukan salahku kalau novel itu tidak mau menghila n g .” ”Itu karena kamu tidak sungguh­ sungguh! Kamu pikir ini se­ mua lelucon?” Sosok tinggi kurus tidak mengurangi volume bicara­ ny a. Napas ny a menderu, menimbulkan embun tebal di cer-min.

asi.com

TereLiye “Bumi” 106

”Baik. Dia membutuhkan motivasi untuk melakukannya.” Sosok itu menoleh ke si Hitam. ”Kamu berikan apa yang dia butuhkan!” Sebelum aku mengerti maksud kalimat sosok tinggi kurus di dala m cermin, si Hitam menggeram kencang, loncat ke atas kasur, menyergap si Putih. Gerakannya cepat sekali, bahkan se-belum si Putih sempat bereaksi, dua kaki depan si Hitam sudah mencengkeram leher si Putih. Si Hita m mendesis galak, me-natapku. ”Inilah motivasinya, Gadis Kecil.” Sosok tinggi kurus itu me­nata p tipis. ”Akan kuhitung sampai sepuluh. Jika kamu tidak berhas il menghilangkan buku tebal itu, si Hitam akan merobek kepala kucing kesayanganmu.” Kilau petir menyambar terang di ujung kalimat nya. Gelegar guntur membuat ngilu. Hujan deras terus membungkus kota. Aku memat u ng , bukan karena menyaksikan sosok tinggi kurus itu menatapku begitu marah , atau cerminku yang gelap sem-purna menyisakan sosok itu, tapi karena melihat dua kucingku. Si Putih mengeong lemah, seperti minta tolong, sama sekali tidak bisa bergerak. Tubuhnya dikunci si Hitam di atasnya. Mulut si Hitam membuka, memperlihatkan taring panjang, suarany a mend es is mengancam. Bulu tebalny a yang lembut se-karang berdiri. Aku tidak akan pernah bisa mengenali lagi si Hitam, kucingku itu.

asi.com

TereLiye “Bumi” 107

AKIKU gemetar karena rasa marah yang menyergap. Suara mengeong si Putih semakin lemah. Matanya menatapku me-mint a pertolongan. Sementara si Hitam yang mengunci tubuh-ny a dari atas, entah dia sebenarny a makhluk apa, tubuhny a mem-besar sedemikian rupa hingga empat kali lipat dalam hitung-an detik. Ekornya bergerak garang . Kupingny a memanjang. Bulu tebalnya berdiri seperti ribuan jarum tipis. Mata bundar yang dulu aku suka berubah menjadi kuning pekat. Taring ny a memanjang. Suara geramanny a membuat kamarku seperti mati rasa. Si Hitam berubah sebesar serigala. ”Konsentrasi, Nak!” sosok tinggi kurus di dalam cermin mem­bentakku. ”Konsentrasi pada buku tebalnya. Tidak yang lain.” Aku menoleh ke arah cermin, menoleh lagi ke si Putih di atas kasur. Bagaim ana aku bisa konsentrasi dalam situasi seperti ini? Bagaim ana aku bisa konsentrasi ke novel tebal di atas kursi? ”Kamu siap atau belum, hitungannya akan kita mulai.” Suara sosok tinggi kurus itu terdengar mengancam . Aku menggigit bibir. Aku tidak punya banyak pilihan. Waktu-ku amat sempit untuk berhitung atas situasi yang kuhadapi. Sandal jepit yang kupegang bahkan boleh jadi tidak bisa me-lawan si Hitam yang beruba h menjad i sangat mengerikan. Si Putih dalam bahay a. Suara mengeon g ny a begitu menyedihkan. Aku menelan ludah kecut. Bagaimana mungkin dia dikhianati teman sepermainannya sejak ditemukan dalam kotak berwarna pink, beralas kain beludru, dan bertutup kain sutra? Atau tidak? Karena memang kucing itu tidak pernah hadir kasatmata di rumah kami? Si Hitam tidak pernah menjad i teman si Putih? ”Satu…” Sosok tinggi mengembuskan napas, mulai meng­hitu ng. Kali ini bahkan uap dari napasny a seperti melewati cer-min kamarku , mengam bang.

asi.com

TereLiye “Bumi” 108

Napasku menderu kencang. Jatungku berdetak lebih cepat. Apa yang harus kulakukan? ”Dua…” Aku melepaskan sandal jepit ke lantai. Tidak banyak pilihan yang kupuny a. Dari terbatasnya pilihan, aku tidak akan membiar-kan si Putih disakiti. Baiklah. ”Tiga…” Tanganku bergetar menunjuk novel tebal di kursi. Jika semua ini hanya permainan, ini permainan paling mahal yang pernah kulakukan. Aku bertaruh dengan seekor kucing yang kupelih ara sejak kecil, kususui denga n botol… ”Empat. Kosentrasi. Hilangkan buku tebal itu!” mem-bentakku, menyuruhku berhenti memikirkan hal lain.

sosok

itu

Baiklah. Aku mendesis dengan bibir gemetar. ”Menghilanglah!” aku menyuruh novel tebal di kursi hilang seperti jerawatku ke-marin mala m . Satu detik senyap, hanya suara hujan deras mengenai jendela, atap, dan halaman. Novel itu tetap teronggok membisu di kursi. Aku mengeluh. ”Lima. Berusaha sungguh­su ngguh atau kamu akan kehilangan kucing kesayanganmu.” Sosok tinggi kurus dalam cermin tidak menuru nk a n volume suara. Aku menggigit bibir, lebih konsentrasi. Kutatap novel tebal untuk kedua kaliny a. Telunjukku semakin bergetar, mendesis menyuru h ny a menghilang. Senyap. Tetap tidak terjadi apa pun. ”Enam. Kamu sunggu h akan mengecewakan teman terbaikmu selam a ini, Nak.” Aku menggigit bibir, memejamkan mata. Untuk ketiga kaliny a aku berusaha konsentrasi, menyuruh novel itu meng-hilang. Apa susahny a . Ayolah. Aku membuka mata. Tapi percuma. Tidak terjadi apa pun. I ni benar-benar tidak mudah. Bahkan se-benarnya kemarin malam saat

asi.com

TereLiye “Bumi” 109

jerawat itu berhasil ku-hilangkan, aku tidak ingat bagaimana caranya. I ni tidak seperti menutup wajah dengan kedua telapak tangan, lantas tubuhk u hilang seketika. Itu mudah dilakukan. Suara mengeong si Putih semakin lemah. Geraman buas si Hitam yang berubah menjadi kucing berukuran besar semakin memenuhi langit- lang it kamar. ”Tujuh. Jangan menyalahkan siapa pun kalau kamu kehilangan kucing….” ”Aku tidak bisa menghilangkannya!” aku memotong kalimat­ ny a , balas menatap galak sosok di dalam cermin. Aku sudah empat kali mencobany a, novel itu tetap tidak hilang. ”Sejak tadi pagi aku sudah berusaha melakukanny a. Novel itu tidak bisa hilang.” ”Delapan…” Sosok tinggi kurus menatap dingin. ”Kamu, kamu tidak boleh melakukanny a!” Aku mulai ber­teriak panik , bahkan tidak peduli seandainy a Mama yang sedang menonton televisi bisa mendengar keributan di lantai dua. ”Sembilan…” Sosok tinggi kurus menoleh ke si Hitam. ”Kamu, awas saja kalau kamu berani menyuruhnya!” Aku ge­metar menunjuk ke cermin, berusaha mengancam dengan kali-mat kosong — waktuku hampir habis, entah apa yang harus ku-laku-kan. ”Sepuluh….” Sosok itu menyeringai tidak peduli. ”Habisi kucing lema h itu.” Belum hilang kalimat sosok tinggi kurus di dalam cermin, si Hita m sudah menggeram panjang kegirangan. Mata kuningnya berkilat-kilat . Kakiny a yang sekarang lebih besar dibanding kepala si Putih terangkat naik, siap mematuhi perintah pemilik asliny a. Astaga! Apa yang bisa kulakukan sekarang? Aku sunggu han panik. Si Hitam menghantamkan kakinya ke kepala si Putih. menyambar terang. Cahayanya berkelebat masuk ke kamar. Guntur

asi.com

Petir

TereLiye “Bumi” 110

menggelegar. Dalam hati aku berseru, tidak ada yang boleh menyakiti si Putih. Sepersekian detik sebelum kaki si Hitam mencakar si Putih yang tidak berdaya, lima jemari tangan kananku bergerak cepat, mendes is . ”Menghilanglah!” Geraman si Hitam lenyap bagai suara televisi dipadamkan. Juga bulunya yang berdiri, ekornya yang tegak, taringnya yang panjang, dan matanya yang kuning lenyap bagai kabut terkena matahari terik. Tidak berbekas apa pun di atas kasur. Langit- langit kamarku lengang sejenak. Bahkan si Putih yang terbaring di kasur tidak mengeong. Dia meringkuk gemetar. Tubuhny a terlalu lemah. Mungkin takut hingga batas terakhir. Si Putih menata pk u . Mata bundarny a terlihat buram, penuh sorot berterima kasih. Sosok tinggi kurus itu juga menatapku lamat-lam at, seperti habis menyaksikan pertunjukan yang tidak dia kira. Aku ter-sengal. Napas k u menderu. Tanpa memedulikan sosok tinggi ku-rus itu, aku meloncat ke kasurku, menarik si Putih, meng-gendongny a erat-erat, melindunginy a dari kemungkinan apa saja. ”Semua akan baik­baik saja, Put,” bisikku lirih sambil terus me-meluk kucing kesayanganku itu. ”Kamu? Ini menakjubkan, Gadis Kecil.” Sosok tinggi kurus masih menatapku, suaranya kembali datar. ”Ini sama sekali di luar dugaan­ku.” Aku tidak mendengarkan dengan baik sosok tinggi kurus itu. Aku merapat ke dinding, menatap cermin dengan galak, jemari tangan kanank u mengacung ke cermin. ”Bagaimana kamu melakukannya?” sosok tinggi kurus itu ber­tany a. Aku menggeleng, berusaha mengendalikan napas. Aku sung-guh tid ak tahu bagaim ana aku bisa menghilangkan monster kucing yang memiting si Putih. Kejadianny a terlalu cepat. Aku panik. ”Aku tidak tahu,” aku menggeleng sekali lagi. ”Pergi! Kamu pergi jauh­jauh dari sini!” Lima jemariku mengarah ke cermin, mengancam.

asi.com

TereLiye “Bumi” 111

AMU tidak bisa menghilangkan sesuatu yang sejatiny a sudah tidak kasatmata, Nak.” Sosok tinggi kurus di dalam cer­min tertawa pelan. Aku tidak mengerti kalimatnya, tapi itu tidak masalah, karena aku juga tidak peduli padany a sekarang. Si Putih mengeong pelan di gendonga nk u , meringkuk memasukkan kepalanya. Aku masih bersandarkan dindin g kamar. Sosok tinggi kurus itu bergumam . Tanganny a terangkat se-dikit seperti menggapai udara. Lantas suara sesuatu, seperti ge-lembung air pecah, terdengar pelan. Si Hitam, entah dari mana datangnya, sudah berada di pangkuanny a, dengan bentuk nor-mal, menggeram panjang. ”Tetapi ini sungguh menarik. Pertunjukan yang hebat.” Sosok tingg i kurus itu mengelus tengkuk si Hitam. ”Kamu berhasil meng­ hilangk a n kucingku. Kamu tahu, sejenak aku hampir khawatir, kucingku hila ng sungguhan.” ”Kamu, siapa pun kamu, pergi dari kamarku!” Suaraku men­des is galak, tidak peduli dengan tawa bergurauny a. ”Kita sedang berlatih, Nak. Aku sedang melatihmu. Bagai­ m a na mungkin kamu mengusirku?” Sosok tinggi kurus itu meng­geleng. ”Soal kucingm u tadi, aku minta maaf. Aku tahu itu sedikit berlebihan, tapi itu terpaksa kulakukan. Kita tidak akan pernah tiba di lev el berikutnya kalau tidak dipaksa.” ”Aku tidak peduli!” aku membentaknya, memotong. ”Kamu pergi dari kamarku. Sekarang!” Hujan di luar semakin deras, boleh jadi Mama di bawah jatuh tertidur sambil menonton televisi, sehingga tidak mendengar keributan di kamarku . Atau boleh jadi Mama memang tidak bisa mendengar kejadian di dala m kamar.

asi.com

TereLiye “Bumi” 112

Sosok tinggi kurus itu menatapku lamat-lamat, mengangguk takzim . ”Baiklah, Nak. Sepertiny a kamu akan memilih meng­ hilangkan cermin kalau aku tidak segera pergi. Kemungkinan itu akan membuat orangt u a m u bingung saat mereka masuk ke kamar ini. Kita bahkan belum tahu apaka h kamu bisa me-ngembalikan benda yang telah kamu hilangkan. Baiklah. Aku akan pergi. Lagi pula latihan malam ini lebih dari cukup.” Aku tidak mau tertipu lagi dengan ekspresi wajah bersahabat yang kembali menatapku dengan mata hitam memesonany a. Lima jemariku terus bersiaga. Si Putih masih meringkuk dalam pelukanku, tidak berani bergerak . ”Sebelum aku pergi, kamu harus tahu. Kamu baru saja mem-bukt ik a n bahwa rasa marah, panik, cemas bisa diubah menjadi kekuatan besar. Tapi itu bukan sumber motivasi yang baik. Kita tidak berharap kamu terdesak oleh sesuatu baru berhasil mengeluar-kan kekuatan itu, bukan? Semua akan telanjur berantakan, bahkan sebelum kamu menyadariny a untuk marah. ”Nah, camkan baik­baik. Sumber kekuatan terbaik bagi manu s ia adalah yang kalian sering sebut dengan tekad, ke-hendak. Jutaan tahun usia Bumi. Ribuan tahun kehidupan tiba di dunia ini. Semua mencoba bertaha n hidup. Kehendak besar me-reka bahkan lebih kuat dibandingkan kekuata n itu sendiri. Da-lam kasusmu, dibandingkan kekuatan menghilang k a n, ke-hendak yang kokoh bisa menggandakan kekuatan yang kamu milik i menjad i berkali-kali lipat. ”Selamat berlatih kembali, Nak. Kamu tetap belum berhas il menghilangkan buku tebal, meskipun aku yakin itu akan mudah saja sekarang. Aku akan kembali besok malam, dan kamu akan siap di lev el berikutnya.” Sosok tinggi kurus itu tersenyum, meng­elus kucingnya, henda k berbisik. ”Kamu bawa pergi dia! Aku tidak ingin melihatny a lagi di rumah ini!” aku segera berseru, teringat malam sebelum ny a si Hitam menembus cermin. Dengan kejadian barusan, sedetik pun aku tidak akan mengizinka n makhluk mengerikan itu berkeliaran di rumah.

asi.com

TereLiye “Bumi” 113

Sosok tinggi kurus itu tertawa, membuat suara tawanya meng-am ba n g di langit­langit kamarku. ”Kamu tidak akan pernah bisa mengusir sesuatu yang sejatinya sudah terusir dari dunia kalian, Nak. Tetapi baiklah, jika itu akan membuatm u lebih bersahabat setelah awal yang sulit ini.” Sosok itu menunduk, berbisik mengucapkan selamat tinggal?”

pada

kucingny a,

”Kamu

mau

Si Hitam menggeram. Kepalany a terangkat. Matanya menata p- k u tajam. Aku memutuskan melihat pinggir cermin, benci bertatapan denga n kucing itu. Saat aku kembali menatap cermin, sosok ting-gi kurus itu telah hilang bersama kucingnya. Kamarku lengang beberapa detik, menyisakan suara hujan deras. Cermin besar milikku kembali seperti cermin kebanyakan, tidak menger ut , tidak gelap, dan tidak berembun. Aku menghela napas panjang setelah memastikan sosok tinggi kurus itu benar-benar telah pergi, lantas mendongak, menyeka pelipis yang berkeringat, mengempaskan badan di atas kasur. Astaga, bertahun- tahun merahasiakan diriku bisa meng- hilang, aku tidak akan pernah meng ir a malam ini akan menjadi ru-mit sekali. Siapa sebenarnya sosok aneh di cerminku? Kenapa dia me-ngirim- k a n kucing untuk memata- mataiku? Kenapa dia melatih-ku? Apakah dia jahat? Apakah dia berniat baik? Apakah dia te-man seperti yang dia bilang? Atau sedang menipuku? Aku sama sekali tidak punya jawaban atas pertany aa n yang memenuhi kepalaku saat ini. Aku menatap jam dinding, sudah lewat pukul sepuluh malam. Di luar sana belum terdengar tanda-tanda mobil Papa memasuki halaman. Mungk in masalah di pabrik bertambah rumit. Aku mengembuskan napas kesekian kaliny a, merapikan ram- but panjangku. Si Putih akhirny a bergerak pelan. Dia keluar dari dekapa nk u , merangkak ke atas kasur. Kepalany a menyundul pahaku, bergelu ng , menatapku dengan tatapan yang kusuka darinya selama ini.

asi.com

TereLiye “Bumi” 114

”Kamu baik­baik saja, Put?” Si Putih mengeong sekali lagi. Mama dan Papa benar. Tidak ada si Putih dan si Hitam. Sejak dulu, sejak pertama kali kotak kardus itu tergeletak di depan pintu rumah kami, hanya si Putih yang ada di sana. Siapa yang meletakkan kardus itu? Aku menggeleng. Tidak ada ide sama sekali. Dan besok pagi-pagi, aku bahka n tidak menduga, sesuatu yang lebih serius telah menungguku.

asi.com

TereLiye “Bumi” 115

KU lagi-lagi tidak bisa tidur. Setelah mematikan lampu, menarik selimut, aku berkali-kali berusaha memejamkan mata. Tapi percuma, aku hanya bisa melamu n menatap remang langit- langit kamar. Sesekali cahaya petir yang melintasi kisi-kisi jendela membuat ter ang kamarku. Hujan di luar masih deras. Aku beranjak duduk, memeluk lutut, menatap si Putih yang sudah meringkuk tidur di sampingku. Aku menatap cermin kamarku. Besok lusa sepertinya aku bisa menutup cermin ini dengan kain atau koran biar tidak meng-gang gu. Aku mengembuskan napas. Itu jelas bukan ide yang baik. Sosok tinggi kurus itu tidak bisa diusir bahkan dengan me-mecahkan cerminny a. Mama akan bingung melihat cerminku dibungkus sesuatu. Papa belum kunjung pulang hingga tengah malam, pukul sebelas lewat. Mama mungkin sudah tertidur pulas di sofa, menunggu, seperti yang Mama lakukan selama enam belas tahun sejak mereka me-nikah. Aku menguap kesekian kalinya, kembali menarik selim ut , me-lemaskan badan, menutup mata. Di benakku malah muncul de- nga n jelas kejadian saat si Putih diterkam si Hitam. Aku me-ngeluh, membu k a mata. Apa susahny a memaksa benakku ber-henti memikirkan hal itu. Apa susahnya menyuruh pikiranku ber-henti memikirkan hal-hal yang tidak ingin kupikirkan. Tidak sekarang, aku ingin tidur. Satu jam lagi berlalu, aku menyerah. Bahkan orang dewasa paling mampu mengurus masalah pun tidak bisa mengontrol pikiran- pikiran di kepalany a. Aku duduk kembali di atas kasur, me-natap novel di atas kursi, berpikir. Apakah aku bisa meng-hilangkanny a? Ragu-ragu aku mengacungkan jemari. Hei, novel itu bahkan sudah hilang sebelum aku selesai kon-sentr a s i. Aku menelan ludah. Hilang begitu saja? Mudah sekali? Bukankah beberap a hari terakhir aku sudah bersusah payah, tetapi tidak

asi.com

TereLiye “Bumi” 116

berhasil? Aku beringsut di atas kasur, memeriksa kursi. Tidak ada sama sekali novelnya. Aduh, aku menggaruk kepala yang tidak gatal, menyesa l. Padahal aku belum selesai mem-bacany a. Ke mana novel itu pergi? Aku menatap cermin siapa tahu seperti si Hitam yang muncul di dalam cermin. Tidak ada yang berbeda di dalam cermin, hanya ada wajahku yang bing u ng . Tapi apakah memang semudah itu menghilangkan novel? Atau hany a kebetulan? Seperti saat aku panik berusaha meng-hilangkan kucing hitam ? Aku ragu-ragu menatap kursi belajarku. Jemariku teracung. Baiklah, akan kucoba sekali lagi. Hilanglah! Kursi belajarku lenyap dari kamar! Astaga. Aku hampir jatuh dari tempat tidur karena kaget. Kursi itu benar-benar lenyap. Harus kuakui ini mulai keren. Aku turun dari kasur, memeriksa lantai. Tanganku menyibak- ny ibak udara kosong, tidak ada kursi belajarku di sana. Aku menelan ludah. Bagaim ana kalau besok Mama bertanya ke mana kursi belajarku? Aku menepuk dahi pelan. Kenapa aku tidak memikirka nny a tadi sebelum mencoba menghilangkannya? Tidak mungkin aku menga r a ng cerita kursi itu hilang sendiri, seperti bolpoin atau buku yang terselip. Atau aku bisa mengem-bali-kan kursi itu? Bukankah sosok tinggi kurus itu bilang begitu? Mengembalikan sesuatu yang hilang?

Sisa malam kuhabiskan dengan mencoba mengembalikan kursi belajarku. Setengah jam berlalu, tidak ada kemaju an. Aku gemas sendir i, berkonsentrasi, tapi tetap tidak berhasil. Aku mengusap wajah, mungk in bendany a terlalu besar. Jika lebih kecil, mungkin lebih mudah? Aku berganti mencoba mengem balikan novelku, tapi lima belas menit berlalu tetap tidak ada kemajuan. Mungkin novel masih terlalu besar. Baiklah. Akan kucoba gunting, yang lebih kecil. Aku mengembuskan napas sebal, lima menit, guntingny a tetap tidak kem-bali. Juga flash disk aku lagi-lagi menyesal, kenapa aku iseng, sembarangan saja memilih benda yang harus dihilangkan. Di dalamnya kan banyak file

asi.com

TereLiye “Bumi” 117

lagu-lagu yang kusuka. Klip buku, tutup bolpoin, jarum pentul, peniti, banyak sekali benda yang sudah kulenyapkan setengah jam kemud ia n, semakin lama semakin kecil, tapi tidak ada satu pun y ang ber-hasil kembali, termasuk kancing salah satu kemejaku yang sangat kecil. Aku mengusap wajah yang berkeringat. Meski udara dingin dan di luar gerimis, konsentrasi terus-menerus membuatku ber-keringat. Si Putih tidur melingkar, nyenyak, tidak tahu pe-milikny a sibuk menghilangk a n benda-benda kecil di sekitarnya. Baiklah. Aku menyerah. Sebaiknya aku kembali tidur. Sudah terlalu banyak yang kuhilangkan malam ini. Apalagi kursi belajar itu. Lihat saja besok. Semoga Mama tidak masuk kamarku dan menanyakan ke mana kursi itu. *** Pagi kembali datang. ”Pagi ini Mama antar kamu ke sekolah, ya. Naik motor.” Mama langsung menyambutku di meja makan dengan kalimat itu, sambil sibuk mengangkat masakan dari wajan. Aku menatap Mama, tidak mengerti. Aku sudah rapi dengan seraga m sekolah. ”Papa baru pulang tadi jam lima subuh. Sekarang masih tidur, jadi tidak bisa mengantarmu,” Mama menjelaskan. Wajah Mama terlihat letih mungkin semalam terus menunggu Papa. ”Itu pun harus segera berangk at lagi nanti jam sembilan. Pekerjaan di kantor Papa sedang banyak­banyakny a.” Tadi malam aku juga baru tidur jam dua. Aku tahu Papa belum pula ng hingga jam tersebut. Meski Mama tidak mau ber-cerita masalah di kantor, aku tahu, sepertiny a masalah mesin pencacah yang rusak itu masih panjang. ”Ra naik angkutan umum saja, Ma. Kalau diantar, nanti me­repotk a n Mama.” Aku menggeleng, menarik bangku, duduk.

asi.com

TereLiye “Bumi” 118

”Tidak repot lho, Ra. Kan Mama bisa ngebut. Paling juga bolak­balik hanya setengah jam.” Mama mengedipkan mata, men­coba bergurau. ”Tidak usah, Ma. Kan Mama banyak pekerjaan di rumah. Lagian, siapa tahu Papa bangun lebih cepat, nanti teriak-teriak cari dasi dan kaus kaki. Mama kan tahu, Papa itu kalau ke-capekan suka error, bahkan dasi yang sudah dipasang saja masih dia cari.” Aku nyengir. Mama tertawa kecil. ”Kamu selalu bisa menghibur orangtua, Ra. Ya sudah, kamu naik angkutan umum. Ayo, Mama temani kamu sarapan.” Lima belas menit ke depan aku dan Mama menghabiskan nasi goreng. ”Oh iya, Ma, nanti sore Ra ada pertemuan Klub Menulis, jadi pulang agak sore. Boleh kan, ya?” Aku teringat sesuatu. Mama siangny a.”

mengangguk.

”Iya. Nanti

Mama

siapkan

bekal

makan

”Oh iya lagi, Ma, kamar Ra sudah dibereskan tadi. Jadi tidak perlu Mama bersihkan lagi.” Aku berusaha berkata senormal mungkin. ”Iya,” Mama menjawab pendek. Aku bersorak dalam hati. Mama tidak curiga dengan kalimat-ku barusan. Setidakny a pagi ini Mama tidak akan masuk kamar-ku. ”Sebenarnya Papa di kantor ada pekerjaan apa sih, Ma?” Aku basa­ basi, masih berusaha menutup i jejak soal memeriksa ka-mar. Mama diam sebentar, menelan makanan di mulut. ”Entahlah, Ra. Sepertinya pekerjaan besar.” Aku mengangguk-angguk sok paham. Mama menghela napas. ”Kasihan Papa, masa baru pulang jam lima pagi. Ini rekor.” ”Bukanny a rekornya yang dulu, Ma? Papa nggak pulang, ma­lah ke Singapura?” Aku tertawa.

asi.com

TereLiye “Bumi” 119

”Itu sih beda, Ra. Papa memang bilang nggak akan pulang. Tiba­ tib a harus dinas ke luar kota.” Mama menggeleng. Aku lagi-lagi mengangguk. ”Asyik kali ya, Ra, kalau tiba­tiba pekerjaan Papa di kantor itu bisa dihilangkan begitu saja. Wush, hilang. Papa jadi tidak perlu lagi bekerja habis­ habisan.” Mama menatap piring nasi goreng di hadapannya. Aku hampir tersedak, buru-buru minum . ”Nggak mungkinlah, Ma.” Aku pura­pura tertawa. Mama ikut tertawa. ”Iya, kan kali­kali saja bisa.” Kami berdua tertawa. Aku lamat-lam at memperhatikan wajah letih Mama yang segar sejenak karena tawa. Kalau saja Mama tahu anak remajanya semalam telah menghilangkan bangku be-l-ajar, mungkin Mama sekarang sudah berteriak-teriak panik dengan wajah pucat.

***

Pagi hari di sekolah. ”Pagi, Ra.” Seli mengagetkanku saat turun dari angkot. ”Kamu naik angkot? Papamu ke mana?” ”Masih tidur,” aku menjawab pendek, menerim a uang kembali­ a n, melotot ke sopir yang kalau dilihat dari gelagatny a belum mandi pagi. Dasa r sopir angkot pelit, biasanya juga kalau anak sekolah tarifnya separuh. Aku mengalah. Salahku juga sih, se-harusnya tadi pakai uang pas. ”Papaku lagi sibuk di kantor. Semalam pulang larut sekali, jadi­nya aku berangkat sendiri,” aku menjawab pertanyaan Seli lebih baik. Seli ber-oh sebentar.

asi.com

TereLiye “Bumi” 120

Hari ini sekolah berjalan lancar. Tepatnya mungkin karena aku sedang memikirkan banyak hal, jadiny a mengabaikan Ali yang bertengkar denga n kakak-kakak kelas dua belas di kantin saat istirahat pertama. Aku menata p kosong papan tulis yang penuh rumus kimia. Atau mengabaikan Seli, di pelajaran ter-akhir, yang terus menatap Mr. Theo dengan ekspresi terpesona, padahal ulangan bahasa Inggris sudah dibagikan dan nilai di atas kertas jawaban Seli jelek sekali. Seli tetap bahagia dengan kenyataan apa pun. Lonceng pulang bernyany i. ”Aku memutuskan ikut Klub Menulis lho, Ra.” Seli mem-bereskan buku. ”Oh ya?” aku berseru senang. Itu kabar yang bagus sekali. Sejak kami masuk sekolah ini, satu kelas, satu meja sejak per-kenalan pertama, aku sudah membujuk Seli agar ikut ekskul Klub Menulis. Tapi Seli selalu menolak, bilang klub itu tidak seru, hanya untuk anak-anak suka buku saja. Dia bakal bosan. ”Sejak kapan kamu berubah pikiran, Sel?” aku menyelid ik. ”Barusan.” Seli tersipu malu. ”Barusan?” Aku tidak mengerti. ”Kamu tidak memperhatikan pelajaran Mr. Theo tadi ya, Ra? Kebanyakan ngelam un sih.” Seli nyengir lebar. ”Tadi Mr. Theo bilang mula i hari ini dia akan jadi pembina di Klub Menulis. Kalau ada murid yang tertarik, bisa ikut bergabung di per-temuan siang ini setelah pulang sekola h .” Aku melongo. Ya ampun! ”Kamu tidak senang ekspresi wajah begoku.

mendengarnya,

Ra?”

Seli

protes

melihat

Aku tertawa, buru­buru menggeleng. ”Aku senang kok, Sel.” Pertemuan Klub Menulis hari ini agak mendadak, setelah beberapa hari lalu dibatalkan. Guru pembinany a mutasi ke se-kolah lain. Hari ini

asi.com

TereLiye “Bumi” 121

ditunjuk penggantiny a yang baru. Aku juga baru tahu bahwa Mr. Theo yang jadi penggantiny a. Seli benar, aku sejak tadi hanya melam u n memperhatikan penghapusku, bahkan nyaris tergoda menghilangkanny a . Ini kabar baik, karena setidaknya bukan Miss Keriting yang jadi pembin a baru. Mr. Theo guru bahasa, jadi masih berkaitan dengan Klub Menulis. Seli memasang tasnya di punggung, bertanya riang, ”Samb il menunggu pertemuan Klub Mr. Theo, eh Klub Menulis, kita bagusny a makan siang di mana ya?” Aku menggeleng, menunjukkan kotak bekal di dalam tas. ”Aku tidak membawa bekal, Ra.” Seli cemberut. ”Kamu sih enak sudah persiapan. Aku kan baru saja memutuskan untuk ikut. Kalau pulang dulu, nanti terlambat.” Aku tertawa, siapa suruh pula dia mendadak ikut. ”Bagaimana kalau aku bagi bekalku untukmu?” ”Mana cukup.” Seli menatap kotak bekalku, menggeleng. ”Kita makan di kantin, yuk! Kamu bawa saja bekalny a, Ra. Temani aku.” Kelas sudah sepi. Lorong depan kelas juga lengang. Murid- m ur i d sudah bergerak serempak menuju gerbang sekolah. Demi menatap wajah memelas Seli—yang mulai mengeluh bilang perutnya lapar—kam i akhirnya beranjak menuju kantin di belakang sekola h . Kami menuruni anak tangga, melewati deret-an kelas dua belas, belok ke belakang, melewati gardu listrik. Aku memperhatikan sekilas, perbaikan di gardu listrik se–pertinya sudah dimulai. Ada beberapa petugas berseraga m oranye yang sibuk bekerja. Sekolah semakin sepi, tidak terlihat siapa-siapa di belakang sekola h . Kami terus melangkah ke kantin. Wajah Seli langsung ter-lipat kecewa melihat kantin yang kosong. Biasany a meski su-dah pulang, tetap ada pedagang kantin yang buka, karena masih ada guru-guru atau murid yang pulang sore. Tapi ini kosong me-lompong. Ada plang besar di depanny a : ”Libur Sehari. Per­baik­an Gardu Listrik”. Aku baru ingat kalimat mama ng bakso beberapa hari lalu, kantin diliburkan saat perbaikan gardu. Aku menoleh, memperhatikan petugas PLN yang sibuk.

asi.com

TereLiye “Bumi” 122

Sekolah kami memang dekat dengan gardu listrik. Dulu katanya gardu listrikny a mau di-pindahkan karena penduduk sekitar sudah protes. Tapi hingga sekarang tidak pindah juga. ”Kita makan di resto fast food dekat sekolah saja ya, Ra?” Seli balik kanan, mengembuskan napas sebal. ”Kamu punya uangny a, Sel?” aku bertanya balik. Seli menggelang. ”Tidak. Tapi kan nggak ada pilihan lain.” ”Mau kupinjam i uang?” ”Nggak usah, Ra. Mungkin kalau beli yang paket hemat ada uangny a .” Aku nyengir, ikut melangkah di belakang Seli. Nasib jadi murid kelas sepuluh seperti kami ini uang saku serba terbatas. Aku bahkan dibaw a ka n bekal oleh Mama, agar berhemat. ”Tapi nanti pas pulang kamu yang traktir bayar angkot, ya.” Seli menoleh. Aku tertawa, mengangguk. Siap. Tapi ternyata urusan makan siang ini jadi panjang sekali, juga urusa n Klub Menulis, apalagi rencana Mama yang mau ada arisan di rumah dan Papa yang masih sibuk dengan masalah mesin pencacah di pabriknya. Siang itu, seluruh cerita berbelok tajam. Saat kami melewati kembali lorong di belakang sekolah, asy ik mengobrol tentang Klub Menulis, salah satu petugas PLN ber-teriak panik , ”Awas!” Aku dan Seli refleks menoleh. Belum genap mengerti apa yang sedang terjadi, terdengar suara meletup dari gardu listrik. Beberapa petugas lain berlarian menghindar, berteriak lebih panik. ”Awas! Menghindar!”

asi.com

TereLiye “Bumi” 123

Sepersekian detik setelah teriakan itu, salah satu trafo me-ny us u l meledak, kali ini lebih kencang dibandingkan letupan per-tama. Suara dentumanny a terdengar memekak-kan telinga, kemungkinan hingga duatiga kilometer. Tanah yang kami injak te–rasa bergetar. Itu ledakan yang besar sekali hingga merontok-kan salah satu tiang listrik di trafo. Tiang listrik setinggi pohon kelapa itu berderak roboh. Arah-nya justru persis menuju kami berdua yang menatap kejadian de-ngan wajah bing u ng . Delapan kabelny a yang panjang ter-cerabut putus dari tiang lain, bergerak liar bagai tentakel gurita. Kabel-kabel dengan muatan listrik itu lebih dulu menyambar ke arah kami sebelum tiangny a datang. Percikan api di mana- mana, seperti ada petir kecil merambat di kabel- kabel itu. Mengeri-kan. Aku berteriak panik, berusaha lari. Seli mematung mendongak. ”Lari, Seli!” Aku berusaha menarik lengan Seli. Delapan kabel itu bergerak lebih cepat. Seperti delapan ta- nga n panjang yang siap menyengat. ”Lari, Seli!” aku menjerit, menarik Seli yang mendongak, mematung. Terlambat. Kami hanya bisa lari pontang-panting tiga langkah saat dua kabel pertama siap menghantam , menyengat dengan te-gangan tingg i. Aku bahkan terjatuh, pegangan tanganku di lengan Seli terlepas. Aku menatap pasrah dua kabel itu datang. Ya Tuhan! Apa y ang akan terjadi saat kabel itu menyentuh kami? Sepersekian detik sebelum dua kabel itu sampai, Seli justru mengangkat tangannya. Dia memasang badannya persis di hadap-a nk u , melindungiku. Aku menjerit panik. Apa yang dilakukan Seli? Astaga! Seli justru menangkap dua kabel itu. Bagai halilintar, alira n listrik merambat di tangan kiri Seli, meletup-letup. Tapi jangankan menje r it kesakitan, wajah Seli mengerny it pun tidak. Dia melemparkan dua kabel itu ke samping, menghantam tem-bok sekolah, membuat

asi.com

TereLiye “Bumi” 124

percikan api besar. Dinding sekolah ha-ngus terbakar, hitam hingga radius dua meter. Enam kabel lain segera me-nyusul. Seli gesit menepis tiga di antaranya ke samping, se-mentara tiga yang lain tidak bisa dia hind ar i, menghantam telak dada, perut, dan pahanya. Aku gemetar menyaksikan tubuh Seli dibalut listrik. Percik-an api membungkus badanny a. Letupan cahaya merambat hingga leher, kepala , rambut. Sedetik berlalu, Seli menghantam-kan tangannya ke tanah, seluru h aliran listrik itu mengalir me-lewati tanganny a, masuk ke dalam tanah, kemudian hilang tak ber-sisa. Napasku tersengal. Apa yang sedang kulihat? Tapi masalahnya jauh dari selesai. Sebuah tiang listrik raksasa berderak kencang dari atas kami. Tidak ada aliran listrikny a, tapi itu lebih dari cukup untuk menghancurkan atap dan tembok bangunan sekola h apalagi kami yang ringkih berada di bawah- ny a. Demi menatap tiang besar itu, Seli lompat, bergegas, tiga kabel yang melilit tubuhnya luruh ke bawah. Dia menyambar lenganku. Kali ini dia yang berseru panik, ”Lari, Ra!” Aku masih terduduk, mendongak. menyaksikan Seli dibalut aliran listrik.

Kakiku

masih

gemetar

Lagi pula tidak akan cukup waktuny a. Tiang listrik yang ter-buat dari beton itu sudah dekat sekali. Ujungnya sudah meng-hantam atap bangu na n sekolah, bergemuru h. Genteng berjatuh- an. Siku-siku kayu dan plafon patah, menyusul dinding sekolah berguguran, dan tiang besar itu terus meluncur ke bawah, tidak kuasa ditahan bangunan sekolah yang robek. Aku gemetar menatapny a. Apa yang harus kulakukan? ”Lari, Ra!” Seli berusaha menyeretku, yang tetap mematung. Tiang listrik besar itu semakin dekat, bongkahan dinding bergugu ra n di sekitar kami. Seli panik mengangkat tanganny a, melindungi kepala. Dia berusaha memelukku. Satu-dua bongkah-an dinding berukuran kecil mengenai tubuhku, terasa sakit.

asi.com

TereLiye “Bumi” 125

Apa yang harus kulakukan? Napasku semakin tersengal. Kami tidak akan bisa melarikan diri dari tiang listrik ini. Tinggal dua meter lagi tiang listrik besar itu menghantam kepala kami, tidak akan cukup waktunya. Tanganku gemetar. Aku tidak tahu apa yang menuntunku, lima jemariku kalap teracung ke atas, dan aku menjerit kencang. ”Hilanglah!” Seluruh tiang itu lenyap seketika. Aku segera meringkuk di sebelah Seli yang jatuh terduduk. Kami berpelukan. Meskipun tiangny a sudah hilang, pecahan genteng dan tembok yang telanjur terhantam tiang berjatuhan di sekitar kami, seperti hujan batu. Kepulan debu memenuhi belakang sekolah. Aku dan Seli terbatuk, menutup wajah. Seragam kami kotor. Waja h kami cemong. Kotak bekalku terbanting. Isinya tumpah berseraka n. Setengah menit berlalu, debu masih berhamburan tinggi menutup i sekitar, hingga hujan batu dari reruntuhan din-ding sekolah reda. ”Astaga! Apa… apa yang telah kamu lakukan, Ra?” Seli me­natap­ k u , matanya membulat, melepas pelukan. Apalagi aku, balik menatap nya dengan tatapan lebih tidak mengert i. ”Apa… apa yang telah kamu lakukan tadi, Seli?” ”Kamu lenganku.

bisa

menghilangkan

tiang

listrik,

Ra.”

Seli

memeg a n g

”Kamu juga tadi,” aku menelan ludah, ”kamu tadi menangkap kabel listrik, Seli.” Tangan kami masih gemetar. Kaki kami masih susah disuruh berdiri. Kejadian itu cepat sekali. Di sekitar kami hiruk-pikuk terdengar, lebih ra mai. Petugas berseragam oranye panik ber-larian. Beberapa mengaduh kesakita n, berteriak minta tolong. Ke-bakaran besar menyambar sisa gardu. Api menjulang tinggi, asap hitam mengepul. Aku dan Seli masih saling memegang lengan, mencoba men-cer na kejadian barusan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 126

”Kalau aku jadi kalian, aku akan segera pergi meninggalkan lo­ kasi ini.” Suara khas itu terdengar dari lorong belakang se-ko-lah. Aku dan Seli menoleh. Sosok itu melangkah mendekat. Ali muncul dari balik debu beterbangan, berdiri di dekat kami, menatap serius. ”Segera tinggalkan tempat ini, Ra, Seli.” Ali mengulurkan ta­ngan­ , menawarkan bantuan. ”Hanya butuh dua menit orang­ orang akan bergega s datang, ingin tahu apa yang telah terjadi. Seluruh sekolah ini akan dipenu h i penduduk hingga radius dua kilo-meter yang mendengar ledakan. Juga hanya butuh dua belas menit, puluhan mobil pemadam kebaratan tiba dari pool ter-dekat. Kalian tidak ingin ditemukan dalam situasi seperti ini, bukan? Karena jelas sekali tidak mudah menjelaskan ke mana tiang listrik besar itu lenyap.” Ali menatapku, kemudian pindah ke Seli. ”Juga menjelaskan bagaimana seluruh aliran listrik satu gardu seperti dised ot Bumi.” Aku dan Seli saling tatap. Wajah kami kotor berdebu, me-nyisakan mata. ”Ayo, Ra! Seli! Sudah empat puluh detik sia­sia, di ujung sana sudah terdengar penduduk yang mendekat. Juga dari ruang guru, setidak ny a menurut perhitunganku, ada lima guru yang akan kemari. Kalian bergega s !” Ali berseru tegas. Aku menelan ludah. Meski aku masih bingung kenapa Ali ada di hadapan kami, juga jelas aku tidak mudah percaya dengan si biang kerok ini, tapi kalimatnya masuk akal. Kami tidak mau ditemukan dalam situasi seperti ini. Akan ada banyak sekali per-tanyaa n. Aku terbatuk, meraih tangan Ali, beranjak berdiri. Seli juga ikut berdiri, memegang tanganku, sambil menepis ujung pakaian yang kotor. Nanti- nanti bisa dibicarakan soal kejadian ini. Kami harus segera menyingkir. ”Kalian bisa jalan sendiri?” Ali memastikan. Aku dan Seli mengangguk.

asi.com

TereLiye “Bumi” 127

Ali sudah berjalan gesit di depan. Dia masih sempat me-nyam b ar kotak bekal dan tas kami yang terjatuh. ”Tidak ada yang boleh menem u ka n barang- barang kalian yang bisa me­nimbulkan pertanyaan,” Ali menjelas ka n cepat. ”Ikuti aku! Aku tahu tempat menghindar sementara.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 128

LI memimpin kami ke aula sekolah. Dia gesit mendorong pintu aula, dan segera menutupny a saat kami sudah di dalam. Itu pilihan yang paling masuk akal. Dalam kondisi masih kaget, kaki gemetar, kami tidak bisa menghindar jauh. Dari arah depan sudah terdengar derap kaki guru mendekat, berseru dan ber-tanya satu sama lain apa yang terjadi. Rombongan itu persis melintas saat pintu aula ditutup rapat. ”Kalian tidak apa­apa?” Ali bertanya. Aku dan Seli menggeleng. Aku hanya lecet di lengan karena terjatu h duduk saat hendak menghindari kabel listrik. Seli sama sekali tidak terluka. ”Ini hal gila yang pernah kusaksikan.” Ali membuka tas ransel miliknya, mengeluarkan botol air minum, menyerahkanny a padaku. ”Kamu mau minum, Ra?” Aku menatap sekilas wajah Ali yang biasanya selama ini terlihat menyebalkan. Dia tersenyum ramah. Wajahny a antusias. Aku menerim a botol air minum itu, menenggak beberapa teguk. Terasa segar di kerongkongan. Aku berikan kepada Seli. ”Kalian tahu, ini lebih keren dibanding di film­film .” Ali ­nyengir lebar, menatap kami bergantian. ”Setidaknya aku tidak keliru, ada banyak sekali hal hebat di dunia ini yang tidak disadari orang banyak. Lihat, kamu baru saja menghilangkan tiang listrik raksasa yang bahkan dinaikkan ke mobil kontainer pun tidak muat, Ra.” Aku menggeleng, menepuk- nepuk sisa debu di seragam. Kalau Ali ingin bilang kejadian barusan itu keren dan hebat, dia keliru. Itu mengerikan. Kami hampir tewas disengat listrik sekaligus ditimpa tiang raksasa.

asi.com

TereLiye “Bumi” 129

”Apa yang kita lakukan sekarang?” Seli bertanya, suarany a ma­ sih bergetar. Dia menatap sekeliling aula. Ruangan besar itu kosong melompong. Aku ikut memeriksa aula. Selain untuk rapat, pertemuan guru— wali murid, dan pertunjukan seni, aula itu sekaligus merangkap lapa nga n olahraga indoor. Ada lapangan bulu tangkis di dalam- ny a, yang garis-garisnya ditimpa lapangan futsal, lapangan voli, dan lapangan basket. Ada empat lapangan sekaligus di lantai aula. Praktis, jika ingin bermain bulu tangkis, tinggal pasang tiang dan netnya. Kalau ingin bermain basket, lepas tiang dan net badminton, dorong tiang-tiang basket yang disimpan di sudut-sudut aula.

Di luar aula suara keramaian semakin terang. Juga sirene mobil pemadam kebakaran. ”Apa yang per-tanyaannya.

akan

kita

lakukan

sekarang?”

Seli

mengu la n g

”Kita menunggu,” Ali menjawab. ”Jika sudah banyak orang di sekola h ini, kita bisa menyelinap di tengah keramaian tanpa me­narik perhatian.” Seli mengem buskan napas pelan, beranjak duduk bersandar ka n dinding aula, wajahnya terlihat lelah. ”Aku lapar, Ra… Kita tidak jadi makan di kedai fast food.” Aku menatap Seli, siapa pula yang mau makan di kedai fast food ? Kondisi kami mengenaskan begini. Bisa-bisany a Seli ingat makan siang . Dasar perut karung. ”Bagaimana kamu tahu kami ada di belakang?” Seli menoleh ke arah Ali, bertanya. ”Eh, aku beberapa hari terakhir memang menguntit Ra.” Ali nyengir , menjawab ringan, seolah kata menguntit itu hal biasa. ”Sejak aku curiga dia bisa menghilang. Kamu tadi me-nangkap kabel listrik itu, Seli. Bagaim a na kamu melakukan­ ny a?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 130

Seli menggeleng. ”Aku tidak tahu. Tidak ada yang bisa aku lakuka n, menghindar tidak sempat, lari tidak mungkin. Tiba-tiba saja aku nekat menangkapny a.” ”Keren!” Ali mendesis. Aku menyikut lengan Ali di sebelahku. Apanya yang keren? ”Tapi ini pasti bukan yang pertama kali, kan?” Ali nyengir tanpa dosa, menahan tanganku, asyik bertanya kepada Seli—seperti wartawan gosip yang semangat melakukan wawancara. Seli mengangguk. ”Sejak kecil aku terbiasa dengan listrik. Tidak pernah tersengat. Tanganku juga bisa mengeluarkan aliran listrik. Tidak ada yang tahu. Kalian orang pertama yang tahu.” ”Itu keren sekali, Seli!” Ali berseru. Aku kali ini menarik lengan Ali, melotot. ”Tidak ada yang keren dengan semua ini! Kami baru saja selamat dari ke-jadian gila. Kamu menganggap ini hanya salah satu praktikum fisika?” ”Eh nggak sih, Ra. Maksudku, eh, tapi itu memang keren kok.” Kalau saja situasiny a lebih baik, saking jengkelny a, si biang kerok akan kubuat hilang—dengan asumsi aku bisa melaku-kan- nya. ”Sejak kapan mendongak padaku.

kamu bisa menghilangkan

benda?”

ini

Seli sekarang

”Sejak semalam,” Ali yang menjawab, lalu nyengir lebar. Aku kembali menoleh padanya. ”Sori, Ra. Aku memang meletakkan alat di rumahmu. Aku bisa melihatm u menghilangkan novel dan kursi di kamar tadi malam.” ”Apa?” Aku melotot. Ali menggaruk kepalanya yang tidak gatal.

asi.com

TereLiye “Bumi” 131

Aku sekali lagi meloncat, memegang kerah Ali. Enak saja dia menatapku dengan wajah tanpa dosa. Kalau dia meletakkan alat itu di kamarku, itu berarti saat aku sedang tidur, sedang belajar, sedang mengu p il, bahkan ganti baju sekalipun di kamar bisa dia lihat. ”Eh, aku tidak melakukan lebih dari itu, Ra. Sumpah. Aku hany a mengaktifkan alatnya pada saat-saat tertentu, ketika sen-sor- nya berbuny i. Lagi pula alat perekam yang kuletakkan fungsi- ny a berbeda dengan kamera kebanyakan,” Ali membela diri, seperti tahu apa yang terlihat dari tatapan marahku. Aku mengencangkan cengkeraman. Tidak peduli. ”Aduh, Ra. Lepaskan, aku susah bernapas.” Ali tersengal. ”Aku minta maaf jika kamu marah. Itu sungguh alat yang berbeda, tidak seperti yang kamu bayangkan. Bukan perekam biasa. Aku bisa menjelaskanny a. Sump a h , aku tidak melihat yang aneh-aneh, selain kamu menghilangkan” ”Omong kosong!” aku berseru galak. Enak saja si biang kerok ini membela diri. Seli di sebelah masih duduk, memulih-kan diri, menonton aku dan Ali bertengkar. Tetapi gerakan tanganku terhenti. Terdengar suara alarm dari ransel Ali.

”Ada yang datang,” Ali berkata patah­patah. Dia berusaha melepa sk a n tanganku. ”Ada yang datang? Siapa?” tanyaku cemas. Ritme suara alarm itu semakin cepat. ”Astaga, banyak sekali yang datang!” Ali berseru panik. Aku menatap wajah Ali, tidak mengerti. Ali berhasil melepaskan diri dari cengkeramanku yang me-ngend ur . Dia bergegas mengeluarkan peralatan dari dalam ransel- ny a. Entah la h , mirip tablet atau laptop, tapi bentukny a ber-beda, lebih tipis dan simpel.

asi.com

TereLiye “Bumi” 132

Si genius ini pasti jago me-mermak apa pun. Suara bip-bip- bip terdengar semakin cepat. ”Siapa yang datang?” Seli bertanya, beranjak mendekat, me­nata p layar peralatan Ali. Aku menoleh ke pintu aula. Di luar memang ramai suara orang . Halam an sekolah juga sudah dipenuhi sirene mobil pe-madam kebakara n. Selain punya jalan tersendiri, ada akses pintas ke gardu listrik itu melew at i sekolah. Guru? Petugas? Mereka akan masuk ke dalam aula. ”Aku juga tidak tahu siapa mereka, Sel.” Ali menggeleng. ”Me­reka jelas tidak akan datang lewat pintu aula, Ra.” ”Tidak melewati pintu aula? Bagaimana mereka masuk?” Seli jadi ikut panik. Aula sekolah tidak memiliki pintu lain, juga jendela. Hanya ada kisi-kisi di seluruh dinding untuk sirkulasi udara. Itu pun posisinya empat meter lebih di atas lantai. Kucing pun tidak bisa melewatiny a. ”Aku tidak tahu bagaimana mereka akan masuk ke aula.” Ali meng­geleng, berusaha menjelaskan dengan cepat. ”Aku meletak – ka n banyak sensor di sekolah sejak kejadian Ra diusir dari kelas matematika. Ra tidak mau mengaku bisa menghilang, jadi aku tidak punya pilihan, menc ar i buktiny a dengan merakit peralatan. Alatku tidak hanya berfungsi merekam , tapi sekaligus merasakan. Jadi kalau ada yang bergerak tidak terlihat, tetap bisa ketahuan. Kalian tahu, itu mudah dilakukan, tapi susah menjelaskannya lebih detail.” Si genius itu menyisir rambut berantaka nny a dengan jari tangan, menatap tajam layar tablet di tanganny a. ”Mereka s udah dekat sekali.” Dekat apanya? Aku dan Seli saling tatap, memeriksa aula denga n panik. Hanya ada kami bertiga di dalam. Tidak ada siapa-siapa di aula sekolah. Tiang basket tegak mematung di tengah. Beberapa bola voli, alat lompat tinggi, dan trampolin tergeletak di sudut-sudut. Cahaya matah ar i menembus kisi-kisi dinding. Tinggi aula ini hampir 5 meter, dengan luas 20 x 30 meter. ”Mereka banyak sekali, delapan orang setidaknya.” Ali men­desis.

asi.com

TereLiye “Bumi” 133

Aku dan Seli menelan ludah, menatap gentar ke seluruh arah. Aula tiba-tiba meremang, seperti ada yang melapisi se-luruh dind in g aula dengan plastik hitam. Tidak ada lagi cahaya mata-hari yang masuk , seolah di luar telah beranjak malam. Suara bising sirene di halaman sekola h , juga orang- orang yang berteriak meredup, kemudian senyap sama sekali. Aku menatap sekitar dengan gentar, apa yang sebenarny a sedang ter-jadi? Seli patah-patah berdiri, berjaga- jaga. Ali di se-belah k u me-masukkan tabletny a ke dalam tas ransel. Kami ber-tiga berdiri rapat. Aula sekolah berubah persis seolah kami sedang ada di tanah lapa ng luas, tapi pada malam hari, dengan semburat cahaya bu-lan yang lembut . Kami bisa menatap kejauhan, meski tidak jelas. ”Mereka tiba,” Ali berbisik pelan, suarany a terdengar bersema n g at berbeda sekali dengan intonasi suaraku atau Seli yang cemas. Aku melirik Ali, hampir menepuk dahi tidak percaya. Si genius ini sejak tadi menganggap semua ini keren dan hebat. Tidakkah dia tahu bahwa ini boleh jadi amat berbahay a, bukan sekadar seru-seruan meledak ka n laboratorium fisika. Kami bah-kan tidak tahu apa yang sebenarny a sedang terjadi. Apa maksud semua ini? Seli merapat di sebelahku, wajahny a sama sepertiku, cemas. Beberapa detik lengang. Dari dinding seberang, dari jarak tiga puluh meter terlihat lubang dengan pinggiran hitam yang semakin lama semakin besar. Seperti ada gumpalan awan hitam bergulung, perlahan membuka celah, mencipt a ka n lorong. Kami semakin tegang, menunggu. Saat lubang itu sudah berukuran setinggi orang dewasa, me-lint a s dengan amat mudah, delapan orang membawa panji- panji tinggi. Mereka muncul dari lubang, berderap maju, mendekat dengan cepat. Pakaia n mereka berwarna gelap. Aku tidak tahu pasti warnany a. Aula remang . Mereka berperawakan ramping tinggi, laki-laki, dengan rambut panja n g diikat di belakang. Wajah mereka yang tampan seperti bercah ay a , cemerlang.

asi.com

TereLiye “Bumi” 134

Mereka berhenti persis sepuluh langkah dari kami, berjejer rapi. Lubang di belakang mereka mengecil, kemudian lenyap. Kami bertiga semakin rapat, berjaga- jaga atas segala kemungkinan. Terdengar suara gelembung meletus pelan. ”Halo, Gadis Kecil,” sebuah suara menyapaku. Aku menelan ludah, mengenali suara itu.

asi.com

TereLiye “Bumi” 135

ATU sosok muncul begitu saja di depan delapan orang ber-baris rapi. Orang itu yang muncul di cerminku tadi malam, dan malam- m a la m sebelumnya. Masih seperti yang kuingat, perawakanny a tinggi, kurus, wajahnya tirus, telinganya mengerucut, rambutny a meranggas, dengan bola mata hitam pekat. Dia mengenakan aku tidak tahu apakah itu pakaian atau bukan kain yang se-olah melekat ke tubuhny a, berwarna gelap. Tapi kali ini, sosok ter-sebut nyata, bukan di dalam cermin. ”Saatnya menjem putmu, Gadis Kecil.” Sosok itu semakin dekat. Aku, Seli, dan Ali refleks hendak melangkah mundur, tapi per-cum a , kami sejak tadi tertahan dinding aula, tidak bisa ke mana- mana. Menjemput ke mana? Aku menatapny a gentar. Kehadiranny a jauh lebih menakutkan dibanding jika dia hanya muncul di da-lam cermin. ”Kamu tidak dimiliki dunia ini, Nak. Kamu akan ikut dengan­ku. Tidak ada lagi latihan, tidak ada lagi kunjungan lewat cer-min. Waktunya habis . Aku akan mendidikmu langsung di dunia kita.” Aku menggeleng tegas. ”Tidak mau!” Siapa pula yang mau ikut de-nganny a? ”Baik. Aku sudah menduganya. Kamu jelas keras kepala se­perti­ ku , bahkan sebenarny a, petarung terbaik klan kita harus me-miliki sifat keras kepala… Kamu akan ikut baik­baik atau aku terpaksa memaksamu.” Sosok kurus itu berhenti lima lang-kah dari kami, menatap serius. ”Aku tidak mau ikut!” aku berseru ketus. Urusan ini aneh sekali, bukan? Aku tidak kenal dengan orang ini. juga mengunjungi kamarku dengan cara ganjil, menyuruhku latihan

asi.com

Dia

TereLiye “Bumi” 136

menghilangkan benda-benda, sekarang enak saja dia memaksaku ikut entah ke mana. Dia pikir dia siapa bisa memaksa. ”Waktuku tidak banyak, Nak. Kamu jangan membuat rumit.” Matany a mulai mengancam , mata yang sama persis ketika menyuru h k u menghilangkan novel tadi malam. Aku menggeleng. ”Baiklah. Kamu sendiri yang menginginkannya.” Sosok tinggi itu mengangkat tangan, memberi kode ke delapan orang di belakangnya. ”Hei!” Ali lebih dulu meloncat di depanku, menghentikan gerakan sosok kurus itu. ”Apa yang akan kamu lakukan? Siapa pun kamu, dari mana pun kamu berasal, kamu tidak bisa me-maksa orang lain untuk ikut rombongan sirkus kalian! Zaman sudah berubah. Ini bukan lagi zama n pemaksaan.” ”Tidak ada yang mengajakmu bicara, Makhluk Tanah! Ming­g ir !” Sosok kurus itu menggeram marah. ”Coba saja!” Ali balas menggertak. ”Aku tidak ada urusan dengan bangsa kalian yang lemah dan memalukan.” Sosok kurus itu mengibaskan tangan, pelan saja, bahkan tidak mengenai tubuh Ali, tapi Ali langsung ter-banting ke lantai aula. Aku dan Seli berseru tertahan. Tapi Ali segera bangkit. Meski menyebalkan, ada satu hal yang istimewa dari Ali, seluruh sekolah juga tahu: Ali tidak takut pada siapa pun. Kepala Sekolah pun dia ajak berdebat. Lihatlah, sambil mengaduh pelan, Ali berdiri, berseru galak, ”Aku tidak akan mengizinkanm u membawa temank u pergi!” Ali meraih ranselny a , mengeluarkan sesuatu, pemukul bola kasti. Sosok tinggi itu tertawa. ”Kamu akan menyerangku dengan benda itu, hah?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 137

Ali tidak peduli. Dia sudah melompat mengay unkan pemukul bola kasti. Sosok tinggi itu bergerak lebih cepat. Tangannya mende r u meng-hantam perut Ali. Aku berseru ngeri. Tadi saja hanya di-tepis pelan Ali terbanting duduk, apalagi jika dipukul langsung. Akibatny a pasti lebih mengerikan. Tetapi bukan Ali yang terpental, justru sosok tinggi itulah yang terbanting. Selarik kilau petir menyambar, membuat terang sejenak seluru h aula. Aku menatap tidak percaya. Seli di sebelahku telah mengacungkan jemariny a ke depan. Delapan orang yang membawa panji melangkah mundur. So- sok tinggi itu meringkuk di lantai aula. Tubuhny a masih dibalut aliran listrik , meletup menyelimuti pakaian gelapnya. ”Jangan pernah memukul temanku!” Seli berteriak, suarany a serak. Seli jelas sekali takut menghadapi situasi ini. Kakiny a bahkan terlihat gemetar, berusaha berdiri kokoh. Tapi Seli tidak punya pilihan, sama seperti saat delapan kabel listrik menyambar kami tadi. Seli refleks memutus ka n melawan. Sosok tinggi itu berdiri perlahan. Wajahnya yang masih diliputi alira n listrik meringis. ”Ini sunggu h kejutan besar.” Dia tertawa pelan, mengiba s ka n pakaianny a, menatap galak. ”Aku tidak pernah tahu Klan Matahari bisa berjalan di atas tanah. Astaga! Kamu baru saja menyambar tubuhku denga n petir, Nak? Sayangnya, kamu sepertinya masih harus banyak berlatih agar petirmu bisa membunuh, karena yang tadi hanya membuatku geli. Atau jangan-jangan kamu juga tidak tahu kenapa memiliki kekuatan. Bing u n g hingga hari ini?” ”Jangan mendekat!” Seli mengacungkan jemariny a, ada aliran listrik di sana. ”Kamu akan mencegahku dengan apa, anak kecil? Petir yang tadi?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 138

Seli menghantamkan lagi tanganny a ke depan. Kali ini sosok tinggi kurus itu lebih siap. Dia balas memukul. Lubang hitam menganga muncul, menggantung di depan mem-bentuk tameng . Larikan petir yang diciptakan Seli tersedot ke dalam. Lubang itu menge c il, hilang. Sosok tinggi kurus itu men-dorongkan telapak tanganny a ke depan. Entah disentuh kekuatan apa, meski telapak tangan itu jarakny a masih tiga meter dari kami, Seli tetap terbanting menghantam dinding aula. Aku menjerit ngeri. Itu pasti sakit sekali. Seli mengerang, terkulai duduk. ”Ringkus mereka berdua!” Sosok tinggi kurus itu tidak peduli. Dia justru berseru lantang ke belakangny a. ”Akan menarik sekali bisa memba w a pulang seorang anggota Klan Matahari.” Delapan orang membawa panji meloncat ke depan, meng-hunus panji tinggi mereka yang sekarang berubah menjadi tom-bak panjang berwarna perak.

Seli masih berusaha memukulkan tanganny a ke depan, me-law a n, selarik kilat menyambar, lebih redup dibanding sebelu m- ny a, tapi delapa n orang itu dengan mudah menghindar. Ali ber-teriak di sebela hk u , mengay unkan pemukul bola kasti, juga melawan, tapi salah satu dari mereka menangkisny a dengan tombak. Ali ter-lempar ber-sama pemukul bola kastinya. Aku mendesah cemas. Apa yang harus kulakukan? Aku juga harus melawan. Tanganku teracung ke depan, berseru lantang, ”Hilanglah!” Tiga dari mereka yang membawa tombak memang menghila n g seketika, tapi kemudian kembali muncul. Tidak berkurang apa pun, mala h maju semakin dekat, mengancam dengan tombak perak.

asi.com

TereLiye “Bumi” 139

Sosok tinggi kurus itu tertawa. ”Kamu sepertinya tidak be­l­ajar, Nak. Kamu tidak bisa menghilangkan orang yang sudah hilang dari dunia ini. Ingat kucing hitamku?” ”Hilanglah!” aku menjerit panik. Sebanyak apa pun aku bisa menghilangkan, mereka muncul kembali. ”Kamu masih harus belajar banyak, Gadis Kecil. Itulah guna­nya kamu ikut denganku. Dunia Tanah ini terlalu hina untuk klan kita.” Sosok kurus itu tergelak. Mereka berhasil meringkus Seli, mengikat seluruh tubuhny a denga n jaring perak. Seli berontak, berusaha melawan dengan sisa tenaga, namu n sia-sia. Jaring itu semakin kencang setiap kali dia berontak. ”Tinggalkan saja Makhluk Tanah mem­bawany a,” sosok tinggi itu berseru.

itu.

Kalian

tidak

perlu

Ali dilemparkan kembali ke lantai aula sekolah. Jaring perak yang telanjur membungkusnya membuka sendiri. Jaring itu me-rangkak kemba li ke tombak perak. Aku terdesak di dinding, panik melemparkan apa saja yang ada di dekatku, termasuk bola voli dan galah. Tidak ada artinya bagi mereka. Aku tidak bisa ke mana- mana. Empat dari mereka mengepungku. Salah satu dari mereka mengacungkan tombak yang dari ujungnya keluar jaring. Aku menunduk, berusaha menghindar. Percuma, jaring itu seperti bisa bergerak sendiri, berubah arah, siap menjerat. Tidak ada lagi yang dapat kulakukan, tiga orang anak kelas sepulu h melawan delapan orang dewasa yang tiba-tiba datang dari lubang di dind ing aula, ditambah sosok tinggi kurus itu. Kami bukan lawan sebanding. Tidak adakah yang mendengar semua kegaduhan di dalam aula? Datang menolo ng kami? Bukan-kah teriakanku dan Seli seharusnya terdengar lantang dari luar? Aku mengeluh, bahkan suara sirene mobil pemadam kebakar-an di halaman sekolah pun tidak bisa kami dengar, se-akan ada tabir yang

asi.com

TereLiye “Bumi” 140

menutup seluruh dinding, membuat aula senyap, remang bagai malam hari. Terputus dari dunia luar. Jaring perak menangkap tanganku, lantas seperti lintah, men-ja lar , berjalan sendiri ke seluruh tubuh, berusaha membungkus badanku. Semakin kencang aku berontak, semakin cepat jaring itu bergerak. Aku mengelu h panik. Apa yang harus kulakukan? Seli bahkan sudah digendong salah satu dari mereka. Aku mulai putus asa. Terdengar suara seperti gelembung air meletus pelan di dekat-ku. Lantas kalimat datar bertenaga. ”Sepertinya aku datang ter­lambat….” Entah muncul dari mana, di sampingku telah berdiri dengan gagah orang yang juga amat kukenal selama ini. Tanganny a ber-gerak cepat, lebih cepat daripada bola mataku mengikuti, me-nebas jaring perak di tubuhk u , luruh ke bawah. Aku terduduk. Orang yang baru datang itu mengulurkan ta-ngan- ny a , membantuku ber-diri, lantas menatap ke depan dengan tenang. ”Kalian seharusnya memilih lawan setara.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 141

ISS KERITING…,” aku tersengal menyebut nama. Guru matematikaku itu tertawa pelan. ”Kamu seharus ny a me-manggilku Miss Selena, Ra. Tapi tidak masalah, aku tidak akan menghukum semua murid sekolah ini gara-gara panggilan lucu itu. Apala g i dalam situasi sulit seperti ini.” Seli mengerang dua langkah dariku. Miss Selena melangkah cepat, berusaha membantu Seli. Namu n gerakannya terhenti, karena enam orang yang memegang tombak tanpa banyak bi-cara telah menyerangny a. Enam tombak melesat cepat ke tubuh Miss Selena. Aku menutup mata, ngeri melihat apa yang akan terjadi. Tapi sebaliknya, enam tombak itu patah, berkelontangan di lantai aula. Pemegangnya jatuh terbanting. Aku memberanikan diri membuka mata, melihat Miss Selena berdiri mantap. Tanganny a baru saja menepis tombak perak sekaligus meng ir im serangan, sama sekali tidak tersisa tampilan guru yang kulihat selama ini. Dia terlihat anggun berwibawa. Remang aula membuat wajah Miss Selena terlihat bercahay a, se-perti bulan purnama. Itu tadi gerakan menangkis yang memati-kan. Miss Selena berdiri di tengah enam orang yang berge-limpang-an. Enam orang itu mengerang di lantai, dua sisany a takut-takut mendekat. ”Dia bukan lawan kalian,” sosok tinggi kurus itu berseru, meny uru h dua orang dari me-reka mundur. Miss Selena dengan cepat melangkah mendekati Seli. Satu ta-ngan- ny a menghantam dua orang tersisa yang langsung ter-banting ke lantai, satu tanganny a lagi merobek jaring perak yang mengikat Seli, membebaskanny a. ”Kamu baik­baik saja, Seli?” Miss Selena bertanya pendek.

asi.com

TereLiye “Bumi” 142

Seli mengangguk. Dia tidak terluka, meski seluruh tubuhny a te-rasa sakit. Ali yang tidak jauh dari kami berusaha duduk, kon-disi- nya juga tidak mengkhawatirkan. Ali bahkan meraih pemukul kastinya, lantas denga n wajah jengkel memukul kepala salah satu dari mereka yang roboh menim p a badannya tadi. ”Bantu Seli duduk, Ra.” Miss Selena menoleh padaku, me­nyuru h k u dengan tegas. Aku mengangguk. Meski kakiku masih gemetar, aku jauh lebih baik diband ing Seli. Aku bergegas membantu Seli du-duk. ”Kamu tidak terluka kan, Sel?” aku berbisik. Seli menggeleng. Napasnya masih tersengal. Semua kejadian ini amat membingungkan. Dengan kenyataan aku bisa menghilangkan tiang listrik raksasa dan Seli bisa me-ngeluarkan petir saja sudah cukup membingu ngkan. Apalagi sekarang ditambah pula denga n bagaimana mungkin guru mate-matika kami tiba-tib a muncu l di dalam aula, berdiri gagah me-lindu ngi kami, menantang sosok tinggi kurus di hadapannya. Aku menatap ke depan dengan wajah tegang, ke arah Miss Selena dan sosok tinggi kurus yang saling berhadapan. ”Selamat malam, Selena.” Sosok tinggi itu melangkah men-dekat. Suara sapaanny a terdengar ramah, tapi menyembuny i-kan ancaman. ”Tinggalkan murid­ muridku,” Miss Selena berseru lan­tang, tanpa basa-basi. ”Mereka murid­ muridmu?” Sosok tinggi itu menatap seolah tidak percaya, kemudian terkekeh pelan. ”Kamu tidak bergurau, Selena? Sejak kapan kamu jadi guru di Dunia Tanah? Lantas apa yang kamu ajarka n kepada mereka? Menyulam pakaian? Atau membuat anyaman? Atau jangan-jangan kamu guru ber-hitung mereka? Murid- murid, mari kita menghitung jumlah anak ayam? Satu, dua, tiga—” ”Setidaknya mereka tidak kuajarkan kebencian dan permusuh­ a n ,” Miss Selena memotong dengan suara tegas.

asi.com

TereLiye “Bumi” 143

Aku yang memperhatikan percakapan dari belakang menelan ludah , baru menyadari sesuatu. Rambut Miss Selena tidak keriting lagi. Rambut ny a berubah jadi pendek, berdiri, terlihat meranggas seperti duri. Dia masih mengenakan pakaian gelap yang sering dipakai saat mengajar, tapi seluru h tubuhnya di-bungkus sesuatu berwarna gelap, sama seperti yang dikena- ka n sosok tinggi kurus itu. Dan yang paling berbeda adalah wajah Miss Selena , cahaya wajahny a semakin terang, seperti purnam a yang meninggi. ”Oh ya? Kebencian? Permusuhan?” Sosok tinggi kurus itu ter­kekeh. ”Bukankah kamu sendiri yang amat membenci, me­musuhi klan sendir i? Bukankah kamu sendiri yang meninggalkan dunia kita? Memutuskan hidu p di tengah Makhluk Tanah, hah?” Miss Selena tidak menjawab, berdiri mengawasi setiap ke-mungkina n . ”Ini sungguh menarik, Selena. Mari kita berhitung sejenak. Satu, gadis kecil yang berusaha duduk itu dari Klan Matahari. Kamu pasti tahu itu, bukan? Meski sepertiny a gadis kecil malang itu tidak punya ide sama sekali siapa dia. Dua, si bodoh dengan tongkat kayu itu, yang sepertinya paling berani tapi sebenarny a paling tidak memiliki kekuatan, dia jelas Makhlu k Tanah. Mungkin dia merasa paling pintar, hanya untuk me-nyadari bahwa pengetah uan paling maju di Dunia Tanah ini hanyalah separuh dari teknologi paling rendah dunia kita. ”Tiga, gadis itu—yang paling kuat tapi sama sekali tidak paham apa kekuatanny a, yang terus bingung dengan apa yang terjadi di sekitar ny a , berusaha mencari jawaban padahal jawaban itu ada di dirinya sendir i — adalah bagian dari dunia lain. ”Sekarang kita tambahkan dengan faktor terakhir, kamu ternyata guru mereka. Maka hasil persamaan ini adalah apa yang sebenarny a sedang kamu rencanakan diam- diam, Selena? Peng-khianatan yang lebih besar? Kekuasaan yang lebih tinggi?” Sosok kurus itu menatap dengan ekspresi wajah merendahkan. ”Aku tidak tertarik membahas imajinasi kosong yang tidak penting sementara murid­ muridku butuh bantuan,” Miss Selena menjawab datar. ”Kamu harus segera tinggalkan mereka, atau…”

asi.com

TereLiye “Bumi” 144

”Atau apa, Selena?” Sosok tinggi kurus itu tertawa lagi. ”Aku akan melawan,” Miss Selena menjawab tegas. ”Astaga, Selena!” Sosok tinggi kurus itu pura­pura terkejut. ”Tidakka h di Dunia Tanah yang rendah ini juga terdapat nasihat jangan pernah melawan guru sendiri? Kamu hendak melawanku? Dengan apa, Nak? Aku yang mengajarkan seluruh kekuatan yang kamu punya hari ini. Semua ny a . Kecuali tentang berhitung, me-nyulam, dan merajut itu. Bisa kita lupak a n. Sungguh berani- ny a kamu!” Miss Selena tetap tenang, menatap datar. ”Tidakkah kamu akan malu jika tiga muridm u ini melihat guruny a dipermalukan di hadapan mereka, Selena?” Sosok tinggi kurus itu mengangkat tanganny a. Dia jelas tidak akan pergi seperti yang disuruh.

Miss Selena ikut mengam bil risikonya.”

mengangkat

tanganny a,

bersiap.

”Aku

akan

Aku menahan napas menyaksikan ketegangan yang segera meruyak di remang aula. Seli sudah bisa berdiri di sebelahku. Wajahny a masih mering is menahan sakit. Sedangkan Ali, si genius itu sekali lagi memukul satu dari mereka yang ter-geletak di dekat kami. Orang dengan pakaian gelap itu terlihat bergerak hendak bangkit. Ali refleks memukulnya dengan pe-muk u l bola kasti agar tetap terkapar. Aku melirik Ali, apa yang sedang dia lakukan? Ali meng-angkat bahu. ”Hei, dia bisa saja tiba­tiba berdiri dan menyerang kita lagi, kan?” Kurang-lebih begitu maksud wajah Ali tanpa dosa. Sepertinya dia terlalu sering menonton film. Aku menyeka peluh ber-campur debu di leher. Miss Selena dan sosok tinggi kurus itu masih saling tatap, berhit u ng . Tetapi pertarungan tidak bisa dihindari lagi, percakap-an selesai. Sosok tinggi kurus itu menyerang lebih dulu.

asi.com

TereLiye “Bumi” 145

Badanny a ringan melompat ke depan, memukulkan tangan kananny a . Miss Selena dengan cepat menghindar ke samping. Tidak terlihat apa yang melintas di udara menyerbu Miss Selena, hanya suaranya mender u kencang, dan saat mengenai tembok aula, menimbulkan dentum keras. Tiang basket hancur berantak-an. Aku, Seli, dan Ali membung k uk , berlindung. Lantai yang kami pijak bergetar. Tabir yang melindungi dind ing aula bergoyang. Sosok tinggi kurus itu tidak berhenti. Dia segera mengirim tiga- empat pukulan lainny a. Aku menatap jeri. Tidak ada lagi yang kami kenali dari Miss Selena, guru matematika kami. Dia melompat ke sana kemari, denga n tangkas menghindari pukulan jarak jauh itu. Dentuman kenca ng susul- menyusul. Sosok tinggi kurus itu menggeram, untuk kesekian kali mence c ar dengan tinjuny a. Aku berseru tertahan karena kali ini Miss Selena tidak sempat menghindar. Sepersekian detik se-belum deru pukulan itu tiba, Miss Selena membuat tameng besar, lubang hitam, deru serangan tersedot masuk ke dalamnya. Lubang mengecil, lantas lenyap, persis bersam aa n dengan Miss Selena maju mengirim serangan balasan untuk pertama kalinya. Tangan kanan Miss Selena meninju ke depan. Sosok tinggi kurus itu terlihat kaget. Dia yang telanjur merangsek maju, se-pertiny a tidak meng ir a serangan itu datang, terlambat meng- hindar. Tubuhnya terbantin g dihantam sesuatu yang tidak ter-lihat. Tubuhny a mental sepuluh meter, hingga tembok aula me-nahannya. Aku mengepalkan tangan. Rasakan! Seli yang menunduk di sebelahku mengangkat kepala, meng-int i p , ingin tahu apa yang sedang terjadi. Sedangkan Ali, lagi-lagi memukul salah satu dari orang- orang pembawa panji yang me-rangkak hendak bangun. Aku me-lotot. ”Hei, Ali, apa yang kamu lakukan?” Ali lagi­lagi mengangkat bahu. ”Semoga saja dari delapan ora ng berpakaian gelap yang tergeletak itu tidak ada yang tiba-tiba bangun. Itu bisa berbahay a, kan?” ujarnya santai. ”Kamu sepertiny a belajar dengan baik sekali, Selena.” Sosok kurus tinggi itu tertawa pelan. Dia berdiri, menyeka mulutny a, merapika n jubahnya.

asi.com

TereLiye “Bumi” 146

Aku mengeluh, kukira pertarungan sudah selesai. ”Baik, saatnya untuk lebih serius.” Sosok tinggi kurus itu mengger u n g pelan, dan belum habis gerungannya, dia melompat menyerbu. Suara seperti gelembung air meletus terdengar. Sosokny a menghilang, lalu cepat sekali dia sudah ada di depan Miss Selena. Pertarungan jarak pendek telah dimulai. Tinju kananny a memuk u l. Miss Selena sepertiny a siap menerima serangan. Dia me-nunduk. Tapi percuma, tinju tangan kiri sosok tinggi itu juga me-nyusul sama cepatny a . Miss Selena menangkis dengan kedua tangan bersilang, bergegas henda k membuat tameng, tapi ter-lambat. Keras sekali pukulan itu, berdent u m . Miss Selena ter-pental ke belakang. Sosok tinggi kurus itu hilang lagi, lantas dia sudah berada di atas tubuh Miss Selena yang masih melayang setelah terkena pukulan. Sosok tinggi kurus itu menghantamkan kedua tanga nny a tanpa ampun. Seli di sebelahku menjerit. Aku menggigit bibir. Miss Selena tidak sempat menghindar sama sekali, juga meng-ang k at tangan untuk menangkis. Dentum an keras terdengar untuk kesekian kali, disusul terbantingny a tubuh guru mate-matika kami di lantai aula. Lantai semen terlihat retak. Tubuh Miss Selena tergeletak. Aku gemetar menunggu. ”Bangunlah!” aku berbisik. Aku tidak tahu berada di sisi mana Miss Selena dalam kejadi-an ini. Bahkan aku sama sekali tidak punya ide apa yang sebenar- nya sedang terjadi. Sosok tinggi kurus ini siapa? Apa yang mem-buatny a memaks a menjem putku? Kenapa Miss Selena tiba-tiba muncul? Apa perana nny a dalam kejadian ini? Jangan-jangan dia lebih jahat dibandingkan siapa pun. Tapi tidak mungkin. Miss Selena guru matematika kami di sekola h . Meskipun galak, disiplin, aku tahu dia selalu menyayangi murid- murid ny a . ”Bangunlah, Miss Selena.” Suaraku bergetar menyemangati.

asi.com

TereLiye “Bumi” 147

”Kamu boleh jadi ahli dalam pertarungan jarak jauh, Selena. Tapi kamu tidak pernah menguasai pertarungan jarak dekat.” Sosok tinggi kurus itu berdiri satu langkah di depan tubuh Miss Selena yang masih tergeletak. ”Maafkan aku, Selena. Seharusnya sejak dulu kuselesaikan urusan kita.” Sosok tinggi kurus itu menatap prihatin. Miss Selena masih meringkuk. Entah masih hidup atau tidak. ”Bangunlah, Miss Selena,” aku berbisik pelan. ”Hari ini akan kuperbaiki hingga ke akar­akarny a kesalahan yang pernah kulakukan saat memilihm u sebagai murid.” Sosok tinggi kurus itu mendesis, tanganny a terangkat tinggi. Aku bisa merasakan betapa besar kekuatan yang keluar dari tangan- nya. Bahkan kami yang berjarak belasa n meter terdorong ke tembok oleh angin deras. ”Selamat tinggal, Selena!” Tangan itu ganas menghunjam ke arah tubuh Miss Selena. Tiba-tiba tubuh Miss Selena lenyap. Dentum an kencang terdengar saat pukulan itu tiba. Lantai aula melesak satu meter. Bongkahan semen berhamburan. Ada lubang selebar dua meter di antara kepulan debu. Miss Selena muncul di belakang sosok tinggi kurus itu. Wa-jah- ny a yang bersinar terlihat meringis, sisa rasa sakit menerima pukulan tadi. Tubuhnya juga kotor, tapi dia tampak baik-baik saja, bahkan dengan sekuat tenaga melepas pukulan. Sosok tinggi kurus yang masih terperanjat melih at sasarannya lenyap kini ti-dak sempat menghindar. Pukulan Miss Selena mengenai badan- nya. Tubuh tinggi kurus itu terbanting jauh sekali. Aku berseru, mengepalkan tangan. ”Yes!” ”Sejak dulu kamu tidak pernah mengenali bakat murid dengan baik. Bagaim ana kamu yakin sekali aku tidak bisa ber­tarung jarak dekat?” Miss Selena berkata datar, napasny a masih tersengal. Pukulan keras barusa n sepertinya menguras banyak tenaga.

asi.com

TereLiye “Bumi” 148

Tetapi pertarungan jauh dari selesai. Sosok tinggi kurus itu masih bisa berdiri, tertawa marah. Aku mengeluh melihatny a. Bu–kan-kah dia sudah terkena pukulan kencang Miss Selena? Belum habis suara tawa sinisny a, tubuh itu telah menghila n g . Berikutny a dia muncul, melompat persis di depan Miss Selena, menyera ng . Miss Selena dengan gesit menghindar. Sosok tinggi kurus itu menghila n g kembali. Itu hanya serangan tipuan, karena kemudian dia muncul di belakang Miss Selena, menghunjamkan tinjunya. Lebih cepat. Lebih bertenaga. Miss Selena menangkis. Disusul lagi serangan berikutny a. Aku menelan ludah. Gerakan mereka sekarang nyaris tidak terlihat saking cepatnya. ”Apakah Miss Selena baik­baik saja?” Seli bertanya. Suarany a bergetar oleh kecemasan. Aku menggeleng. Aku tidak tahu. Sejauh ini Miss Selena ber-taha n, tidak punya kesempatan balas menyerang. Dua pukulan dari sosok tinggi kurus itu susul- meny usul meng-ha nt a m tameng lubang hitam yang dibuat Miss Selena. Lubang itu berhambur a n, sosok tinggi kurus itu merangsek maju, melepas lagi dua pukulan berunt u n. Miss Selena terlambat me-nangkis pukulan terakhir, berdebum, tubuh ny a terbanting ke samping. Sosok tinggi kurus itu sepertinya tidak memberi jeda. Dia tidak berhenti, dan melepas pukulan berikutny a sebelum Miss Selena kembali siap. Seli menjerit melihat Miss Selena terbanting ke sana kemari, sama sekali tidak bisa menangkis. Satu, dua, tiga pukulan, Ali ikut menahan napas tegang. Empat, lima, enam pukulan, entah sudah seperti apa kondisi Miss Selena menerima begitu banyak tinju, berdentum berkali- kali. Tujuh, delapan, aku sudah tidak tahan lagi melihatny a. Miss Selena tidak akan kuat menerim a pukulan bertubi-tubi. Dia butuh bantuan. Aku refleks melom p at , mengangkat tangan, jemarik u mengepal membentuk tinju, berteriak marah . ”Hentikan!” Astaga! Aku hanya berniat melompat satu langkah, tapi tubuhk u bergerak jauh sekali. Entah bagaim ana caranya, suara berdesir kencang

asi.com

TereLiye “Bumi” 149

terdengar saat tanganku terangkat, seperti ada angin puting beliung yang berputar deras di kepal tinjuku, ber-gumpal cepat. Tidak hanya itu, bunga salju juga berguguran dari kepal tinjuku. Dingin menyergap seluruh aula. Apa yang terjadi? Bagaimana aku melakukannya? Tinjuku te-lak menghantam sosok tinggi kurus itu sebelum aku menyadari- nya. Suara berdentum memekakkan telinga terdengar. Sosok tinggi kurus yang ganas menyerang Miss Selena terlempar jauh, bahkan sebelum tinjuku menge na i tubuhnya.

asi.com

TereLiye “Bumi” 150

KU tidak sempat memikirkan apa yang telah terjadi. Ke-napa aku bisa melepaskan pukulan seperti itu. Aku panik meloncat menahan Miss Selena yang tanpa tenaga, seperti pohon lapuk, jatuh dari posisi berdiriny a . Aku memeluknya. Kami berdua jatuh terduduk di lantai. Wajah cemerlang bagai bulan purnama Miss Selena redup. Dia masih bernapas, pelan, hampir tidak terdengar. Kondisinya amat mengenas k a n. Kesadaranny a menurun. ”Bangun, Miss Selena!” aku berseru panik. Jauh dari kami, sosok tinggi kurus itu terbanting menghantam dind in g aula, terkapar. Entah apa yang terjadi padany a. Mata Miss Selena terbuka kecil. ”Aku baik­baik saja, Ra,” suara Miss Selena berbisik. Apanya yang baik-baik saja? Miss Selena persis habis digebuki orang satu kampung. ”Mudah sekali melakukanny a, sambil tersenyum.

bukan?”

Miss Selena menata p­ k u

”Mudah apanya?” Aku tidak mengerti. ”Ya membuat pukulan tadi. Tidak ada yang pernah mengajari­ m u , bukan?” Miss Selena menatapku lembut. ”Itu pukulan yang hebat sekali, Ra. Setidakny a butuh latihan bertahun-tahun un-tuk menguasainy a di akade m i terbaik. Kamu bahkan tidak perlu mem­pelajariny a.” Aduh, dalam situasi seperti ini, ada yang lebih penting di-bicara- k a n. ”Kita harus lari, Miss Selena.” Suaraku bergetar cemas, aku me­nat a p dinding aula seberang. Sosok tinggi kurus itu masih ter­kapar. ”Miss Selena harus segera memperoleh pertolongan dokter.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 151

Miss Selena menggeleng. ”Kamu bisa melakukan apa pun, Ra, karena kamu yang terbaik. Kamu pewaris Klan Bulan pertama yang dibesarkan di Dunia Tanah. Juga Seli, dia pewaris Klan Matahari pertama yang berjalan di atas Bumi. Kalian saling melengkapi. Belajarlah dengan cepat menge n a li kekuatan kalian. Aku tahu, itu mungkin membingungkan, bany ak per-tanya-an di kepala. Tetapi waktu kalian terbatas, dan aku khawatir tidak banyak yang sempat menjelaskan.” Aku berseru panik. Di seberang, sosok tinggi kurus itu per-lahan mula i berdiri. ”Kita tidak akan menang melawan sosok tinggi itu, juga tidak akan bisa lolos. Kamu ingat baik-baik, namany a Tamus. Usiany a seribu tahun. Kamu tahu, Ra, dulu dia adalah guruku.” Miss Selena tertawa getir. ”Tentu bukan pelajaran matematika yang dia ajarkan. Karena jangankan aku, kalian pun tidak suka pelajaran tersebut di kelasku, bukan?” Aku menggeleng. Maksud gelenganku bukan untuk bilang aku suka pelajaran matematika, melainkan waktu kami sempit, sosok tinggi kurus itu sudah sempurna berdiri. ”Kamu perhatikan kalimatku, Ra.” Miss Selena menarik kepala­ k u lebih dekat, suarany a terdengar tegas. ”Aku akan mem­buka lubang hitam agar kalian bisa melarikan diri ke tempat yang tidak bisa didatangi Tamus dan pasukannya. Kalian bertiga secepat mungkin melintasi lubang itu. Sementara kalian lari, aku akan menahan Tamus sekuat mungkin. Dia tidak akan suka me-lihat kalian pergi.” ”Apa yang akan terjadi dengan Miss Selena kalau kami sudah pergi?” ”Jangan banyak bertanya, Ra.” ”Miss Selena harus ikut!” aku berseru. Miss Selena menggeleng. ”Kalian bertiga jauh lebih penting. Sudah , jangan bertanya lagi.” ”Aku tidak mau meninggalkan Miss Selena.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 152

Tamus telah menghilang dari seberang din-ding. Aku tahu dia menu ju ke mana. Saat suara seperti gelem-bung air meletus ter-dengar kembali, dia melompat di atasku dan Miss Selena dengan ganas, menghanta m ka n pukulan ke arah kami. Miss Selena memelukku. Kami menghilang. Lantai aula hancur lebur hingga radius dua meter. Lubang besar me-nganga. Aku dan Miss Selena muncul di dekat Seli dan Ali. Miss Selena melepa s pelukan, bangkit berdiri, mengacungkan jemari- ny a ke dinding, berseru dalam bahasa yang tidak kukenali. Lubang dengan pinggiran seperti awan hitam mendadak muncul, membesar dengan cepat, pinggirannya berputar laksana gasing. ”Cepat, Ra! Masuk!” Miss Selena berseru. ”Aku tidak mau pergi!” aku berseru panik. Aku tidak akan per­ nah meninggalkan Miss Selena sendirian menghadapi sosok tinggi kurus menyebalkan itu. ”Ali! Bawa teman­temanmu masuk ke lubang hitam. Seret jika Raib menolak!” Miss Selena menoleh ke arah Ali. ”Kamu mungkin saja hany a Makhluk Tanah, tidak memiliki kekuat-an, tapi kamu memiliki sesuatu yang tidak terlihat. Minta Ra me-nunjuk-kan buku PR matematikany a.”

Miss Selena sudah menghilang. Aku tahu dia menuju ke mana. Miss Selena sudah berdiri gagah berani menghadang Tamus yang bersia p meloncat menyerbu kami. Pertarungan jarak dekat kembali terjadi. Tamus mengam uk, merau ng . Pukulanny a bukan hanya menderu bagai angin puyuh, tapi juga mende s is dingin. Aku yang berdiri belasan meter dari tengah aula bisa merasaka n dingin menusuk tulang setiap tangannya bergerak dan berdentum menge n a i sasaran. Percikan bunga salju memenuhi aula sekolah, melay a ng berguguran. Miss Selena segera terdesak, menjadi bulan- bulanan pukulan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 153

”Kita harus pergi, Ra!” Ali berseru, menunjuk lubang hitam yang masih terbuka. Aku menggeleng kuat-kuat. ”Kamu harus mendengarkan Miss Keriting!” Ali men­cengk er a m lenganku. Seli menatapku, bergantian menatap Ali, bingung. Aku mengepalkan tangan. ”Aku tidak akan lari. Aku akan ikut bertarung membantu Miss Selena.” ”Lubang hitamnya mengecil, Ra!” Ali berseru panik. ”Kita harus segera masuk. Lubang ini entah menuju ke mana dan seperti-ny a tidak akan bertahan lama.” Aku menoleh ke lubang hitam itu. Ali benar, lubangny a mula i mengecil. Aku menoleh ke depan. Miss Selena terbanting lagi, tubuh ny a terbaring di lantai aula. Tamus sudah meloncat, me-lepas dua pukulan dari atas. Miss Selena yang tidak bisa ke mana- mana, mati-matian memb u at tameng, menerima pukulan dalam posisi meringkuk. Situasiny a semakin payah. Apa yang harus kulakukan? Aku menggigit bibir. Miss Selena menoleh kepada kami. Wajah ny a meringis kesakita n , terus bertahan dengan sisa tenaga. ”Lari, bodoh!” Aku bertatapan dengan Miss Selena. Wajah itu menyuruhku segera pergi. ”Bawa teman­temanmu lari, Ali! Sekarang!” Miss Selena ber­teriak . Ujung kalimatnya bahkan hilang karena menerima dentum- an pukula n berikutnya. Ali menyeretku kasar. Aku berontak, berseru tidak mau. Ali tidak peduli. Dia menarikku kencang sekali. Aku terjerembap melintasi lubang hitam yang terus mengecil. Seli segera me-nyusul.

asi.com

TereLiye “Bumi” 154

Tamus menghantamkan pukulan me-matikan terakhir ke arah Miss Selena. Seperti ada hujan salju turun dari langit-langit aula. Seluruh ruanga n terasa dingin meng-gigit. Aku menjerit, tidak tahan melihatny a. Tamus yang berdiri menginjak tubuh Miss Selena mendongak melihat kami, baru menyadari sesuatu. Melihat kami akan kabur, dia meraung marah, melonc at cepat. Tubuhnya menghilang. Dari dalam lubang, Ali mengay unkan pemukul bola kastinya ke depan. Entah apa yang dilakukan Ali, kenapa dia memukul udara koson g? Tamus itu persis berada di depan lubang hitam. Apalah artinya pemukul bola kasti bagi sosok tinggi kurus itu. Tetapi pukulan Ali persis menghantam wajah Tamus saat dia mun-cul di depan kami, saat tangannya berusaha meraih ke dalam lubang. Pemukul bola kasti patah. Meski tidak terluka sedikit pun, pukulan itu mengagetkan Tamus, membuatnya refleks melangkah mundur, menciptakan satu detik yang sangat berarti. Lubang hitam dengan cepat mengecil, lantas menghila ng , menyisakan lengang. Tamus mengaum lantang, marah sekali. Dia bering a s menghantamkan tangan ke dinding aula. Bunga salju tepercik ke manamana menyusul dentuman- dentuman keras. Kami sudah menghilang, tidak bisa dikejar.

asi.com

TereLiye “Bumi” 155

ELAP sesaat, tidak terlihat apa pun. Aku, Seli, dan Ali beradu punggung, berjaga- jaga, menatap kegelapan. Kemudian muncu l setitik cahaya, kecil, segera membesar setinggi kami. Lubang berpinggiran hitam , berputar seperti awan, terbentuk di depan. Kami bisa melihat keluar, bukan aula sekolah. Terang, tidak remang, juga hangat, tidak dingin menus u k tulang. Ali lebih dulu melangkah. Si genius itu sepertiny a tidak perlu berpik ir dua kali atau memeriksa terlebih dahulu ke mana lubang ini membuka. Dia keluar sambil mencengkeram pemukul bola kastinya yang tinggal separu h . Seli menyusul kemudian. Ali meng- ulurkan tangan, membantu. ”Kita ada di mana?” Seli bertanya. ”Kita berada di kamar Ra.” Ali yang menjelaskan. Ali benar. Aku mengenali ruangan ini, kamarku. Lubang di atas lantai mengecil saat kami bertiga sudah lewat, lantas lenyap tanpa bekas. Kalau saja situasinya lebih baik, mungkin aku akan merebut pemuk u l bola kasti Ali, memukul si biang kerok itu. Jelas sekali dia tahu ini kamark u dari alat yang dia pasang. Tapi ada banyak hal yang lebih penting untuk diurus sekarang. ”Apakah Miss Selena akan baik­baik saja?” Seli bertanya ce­mas. ”Aku tidak tahu,” jawabku. ”Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Seli bertanya lagi. ”Buku PR matematikamu di mana, Ra?” Ali berseru. Aku bergegas melom pat ke meja belajar yang tidak ada bangku- ny a sudah kuhilangkan semalam. Aku bisa leluasa berdiri mencari di antara

asi.com

TereLiye “Bumi” 156

tumpukan buku tulis. Aku menarik buku itu, menyerahkanny a pada Ali. Dia yang paling genius di antara kami. Semoga dia tahu harus diapakan buku ini. Sejak beberapa hari lalu, aku sudah menggunakan berbagai cara, buku PR matematikaku ini tetap saja buku biasa. Aku dan Seli menunggu tidak sabar. Ali memeriksa buku itu, membuka halamanny a, memperhati-kan dari dekat, memeriksa setiap sudut, menepuk- nepuk pelan seperti berharap ada yang akan jatuh. Akhirny a dia terdiam. ”Apa yang kamu temukan?” aku bertanya. ”Ini hanya buku PR biasa.” Ali menggeleng. Aduh, aku juga tahu itu buku PR. Seli di sebelahku juga mengelu h. ”Ada sesuatu yang menarik?” aku mendesak. ”Eh, ada… Maksudku, nilai matematikam u jelek sekali, Ra.” Ali membuka sembarang halaman, menunjukkan­ nya kepadaku. ”Lihat, hany a dapat nilai dua. Kamu tahu, per-samaan seperti ini bahkan bisa kuselesa ik a n saat kelas empat SD.” Sebenarnya kali ini Ali tidak mengucapkan kalimat itu dengan nada sombong. Dia hanya lurus berkomentar, karena nilai mate-matik a k u memang mengenaskan. Tapi aku jengkel sekali men-dengarnya. Aku merebut buku PR dari tanganny a. Enak saja dia bilang begitu dalam situas i runyam, dengan seragam dan tubuh berlepotan debu, wajah dan rambut kusut masai, bahkan kami tidak tahu apa yang terjadi pada Miss Selena di aula sekolah sekarang. ”Aku belum selesai memeriksanya, Ra.” Ali mengangkat bahu, protes. ”Kamu tidak memeriksany a,” aku menjawab ketus. ”Kamu hany a melihat­ lihat nilaiku.” ”Sori.” Ali nyengir. ”Tapi itu kan juga memeriksa. Eh, mak­sud k u , siapa tahu Miss Keriting menaruh kode atau pesan di nilai yang ditulis ny a . Aku janji memeriksany a lebih baik.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 157

Seli memegang lenganku, mengangguk. Baiklah. Aku menyerahkan lagi buku PR matematikaku pada Ali. ”Kamu sudah mencoba memeriksany a sambil menghilang?” Ali bertanya, kembali memeriksa buku PR matematikaku. Aku mengangguk. ”Tidak ada yang berbeda, tetap buku biasa.” Ali menurunkan tas ransel di pundak, mengeluarkan beberap a peralatan. Aku baru tahu bahwa tas besar yang sering dibawa Ali selama ini berisi banyak benda aneh. Dulu murid- murid menebak, apa sebenar ny a yang dibawa si genius ini ke sekolah. Setiap pelajaran dia malah disetra p atau diusir dari kelas karena ketinggalan membawa buku. Jadi, apa isi tas besar-nya? Seli bahkan pernah berbisik, jangan- jangan si genius ini merangkap penjual asongan di sekolah. Atau pedagang dari pasar loak, membawa dagangannya ke mana- mana. Aku dulu tertawa ce-kikik- a n mendengarnya. Lima belas menit mengutak-atik buku itu, mengolesiny a de- nga n sesuatu, memanasinya dengan sesuatu, mencium, mengguna-kan kaca pembesar, entah apa lagi hal aneh yang dilakukan Ali, tetap tidak ada sesuatu yang menarik. Itu tetap buku PR mate-matika biasa. Ali mendongak, menyerah. ”Aku sudah melakukan apa pun yang aku tahu, Ra.” Aku menatapny a gemas. ”Terus bagaimana? Jelas sekali Miss Selena menyimpan sesuatu di buku PR itu.” Tanpa kalimatny a tadi di aula sekola h , beberapa hari lalu saat mengantarkannya, dia sudah berpesan buku itu penting. ”Apakah Miss Selena mengatakan sesuatu saat memberikan buku ini?” Ali bertanya. Aku diam sejenak. ”Iya, Miss Selena mengatakan hal itu. Aku masih mengingat kalimat aneh itu. Apa pun yang terlihat, boleh jadi tidak seperti yang kita lihat. Apa pun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga. Ada banyak sekali jawaban dari tempat­tempat yang hilang.” Ali diam sejenak, mencoba memaham i pesan tersebut.

asi.com

TereLiye “Bumi” 158

”Memangny a kamu paham, Ali?” celetuk Seli. Kami menatap ”Maksudmu apa, Sel?”

Seli.

Ali

menoleh,

konsentrasiny a

tergang g u .

”Maksudku, bukankah nilai bahasa Indonesia­ mu lebih hanc ur diband ing nilai matematika Ra? Tugas mengarangm u jauh lebih buruk diband ing anak kelas empat SD, bukan? Bagaim ana kamu akan tahu maksudny a?” Seli menjawab datar, sambil nyengir lebar. Wajah Ali terlihat sebal. Aku hampir tertawa. Ya ampun! Seli telak sekali menyindir si biang ribut ini. Aku tidak pernah men-duga kami akan akrab dengan Ali, si genius ini. Dulu, jangankan berteman, memikirka n ny a saja sudah amit-amit. Lihatlah se-karang, Seli nyengir tanpa dosa mengatakan kalimat itu, seolah Ali sahabat lama yang tidak akan tersinggung. Kami bertiga saling tatap. Wajah kami cemong, rambut awut- awut- an, seragam berdebu, lengan lecet, badan masih terasa sakit. Aku akhirny a tertawa pelan. Disusul Seli y ang tertawa pelan sambil meringis. Dan Ali dia batal marah. Kami sejenak tertawa lega. Kejadian barusan, meski masih gelap penjelasanny a, entah akan menuju ke mana semuanya, telah membuat kami jadi teman baik. Teman yang saling melindungi dan peduli. Tiba-tiba Ali mengangkat tanganny a. Tawa kami terhenti. ”Aku tahu apa yang harus dilakukan. Kamu harus menghilang­ k a n buku ini, Ra,” Ali berkata serius. ”Apa? Menghilangkannya?” Itu tidak masuk akal. Gila. Tadi malam aku sudah menghilang- ka n novel, bangku, flashdisk, dan benda-benda lain, tidak satu pun yang kembali. Kami bisa kehilangan satu-satunya cara untuk mem-peroleh penjela sa n kalau buku PR ini juga lenyap tak ber-bekas.

asi.com

TereLiye “Bumi” 159

”Ayo, Ra. Lakukanlah. Itulah maksud pesan Miss Selena, apa pun yang hilang, tidak selalu lenyap seperti yang kita duga,” si genius itu justru berkata yakin sekali. ”Bagaimana kalau jadi hilang betulan?” Seli ikut cemas. ”Tidak akan. Si tinggi kurus menyebalkan itu di aula juga bilang, Ra tidak bisa menghilangkan sesuatu yang sudah hilang di dunia ini.” Dahi Ali berkerut, dia tampak berpikir. ”Itu pasti ada maksudny a, bukan? Sesuatu yang sudah hilang…. Kita tidak punya cara lain. Kita harus tahu segera apa yang sebenarny a terjadi. Miss Selena, apa pun kondisiny a, saat ini butuh bantuan. Buku ini bisa memberikan jalan keluar.” Aku menelan ludah. Menatap Ali yang sekarang meletakkan buku matematikaku di atas meja belajar, mempersilakanku.

PR

Baiklah, Ali benar. Aku menatap buku PR itu, mengacungkan jemari, berseru dalam hati. Menghilanglah! Buku PR itu lenyap. Aku menahan napas, juga Seli di sebelahku. Satu detik berlalu. Tidak terjadi apa pun. Dua detik, empat detik, aku menoleh ke Ali. Bagaim ana ini? Ali tetap menunggu dengan yakin. Dela pa n detik. Aduh, bagaimana kalau keliru? Seli ikut menatap Ali. Kenapa pula kami harus percaya pada genius biang kerok ini? Suara seperti gelembung air meletus terdengar. Buku PR-ku kemba li. Aku dan Seli berseru tertahan, seruan gembira. ”Apa kubilang.” Ali mengepalkan tangan. ”Buku PR ini pasti munc u l lagi. Miss Selena sudah membuat buku PR-mu menjadi benda dari dunia lain. Tidak bisa dihilangkan.” Aku menoleh ke Ali. ”Bagaim ana kamu bisa yakin sekali?” Si genius menyebalkan itu menunjuk kepalany a sambil nyengir lebar. Maksud dia apa lagi kalau bukan: aku punya otak brilian. Baiklah,

asi.com

TereLiye “Bumi” 160

sepertinya Ali memang pintar. Aku me-langkah men-dekati meja belajar, menatap buku PR-ku yang kembali muncul. Tapi itu bukan buku PR-ku. Aku sama sekali tidak mengenali- nya lagi. Ukuran dan bentuknya memang sama persis, seperti buku PR-ku, tapi hanya itu yang sama. Sisany a berbeda sekali. Tidak ada lagi sampul Hello Kitty. Sampulnya berwarna gelap terbuat dari kulit, dengan gambar bula n sabit cetak timbul. Seperti ada sesuatu dengan gambar bulan sabit itu, bekerlap-kerlip.

Ali meloncat ke dinding kamar, menutup semua daun jende la , menarik gorden, mematikan lampu, memastikan tidak ada lagi cahaya yang masuk. Apa yang sedang dilakukanny a? Ali kembali ke sebelahku, menunjuk ke atas meja belajar. Gambar bulan sabit di sampul buku PR-ku mengeluarkan sinar, terlihat indah di kamarku yang remang. ”Ini keren sekali. Kamu yang buka, Ra,” Ali berbisik. Suarany a terdengar antusias. ”Kenapa harus aku?” aku bertanya. ”Ladies first.” Ali nyengir lebar. Aku melotot padany a. ”Eh, maksudku, ini jelas bukan buku PR biasa lagi, Ra. Ini benda dari dunia lain, atau entahlah.” Ali menggaruk kepalany a, berusaha membe la diri. ”Jadi, eh, lebih baik kamu yang me­nyentuhny a. Kamu sepertiny a yang punya urusan dengan dunia lain itu.” Seli memegang lenganku, menghentikan perdebatan. Seli me-nunju k buku di hadapan kami. Buku itu bersinar semakin terang. Bulan sabitnya seolah ter-lepas dari sampul buku. Terlihat mengambang indah. Aku me-nelan ludah

asi.com

TereLiye “Bumi” 161

menatapnya. Seperti menyentuh buku itu.

ada

suara

yang

memanggilku,

menyuruhku

Tanganku terulur gemetar. Baiklah, aku akan melakukanny a. Apa pun yang terjadi, aku tidak sempat memikirkannya lebih baik. Sampul buku terasa lembut di jemariku. Tidak ada yang ter-jadi. Aku menoleh ke arah Ali. Ali mengangguk. ”Buka saja, Ra.” Belum sempat aku menggerakkan sampul buku, sinar dari gambar bulan sabit merambat ke telapak tanganku, terus naik ke pergela n ga n tangan, lengan, dan bahu. Aku menahan napas. Sinar itu terasa hangat , dengan cepat menjalar ke seluruh tubuh-ku, dan terakhir tiba di waja hk u . Seluruh tubuhku terbungkus sinar dari buku. Aku menatap ke cermin meja belajar. Wajahku terlihat cemerlang, persis seperti wajah Miss Selena di aula tadi. Seli yang berdiri di belakangku menahan napas. Ali menat a p semangat, seperti melihat hasil reaksi praktikum fisika yang menarik — s i genius ini benar-benar berbeda dibanding siapa pun. Rasa ingin tahuny a mengalahkan kecemasan atau ketakut-an. Terdengar suara gelembu ng air meletus. Sekarang terdengar lebih kencang dari biasany a. Tidak ada yang hilang. Aku menatap sekitar, memeriksa. Juga tidak ada yang datang. Itu tadi pertanda suara apa? Tetapi tiba-tiba aku berseru tertahan. Astaga! Lihatlah. Semua di sekitar kami telah berubah. Ini bukan kamarku, bahkan ini entah ruang-an apa. Tempat tidurnya menggantung di dinding. Lampunya berbentuk aneh sekali, menyala terang. Meja, kursi, semuany a berbentuk aneh. Lemari, kalau itu bisa disebut lemari, terbena m di dinding. Seprai dan bantal dipenuh i gambar yang ganjil. Semua terlihat berbeda. ”Kita ada di mana?” Seli ikut memeriksa sekitar, bertanya ce­mas. Aku menggeleng tidak tahu. Cahaya yang membalut sekujur tubuhk u hilang. Buku PR di atas meja—kini meja itu terlihat aneh

asi.com

TereLiye “Bumi” 162

se-kali—ju ga berhenti mengeluarkan sinar, teronggok seperti buku biasa dengan sampul bulan sabit. Sebelum kami sempat menyadari apa pun, terdengar bercakap-cakap di luar, dengan bahasa yang tidak kumengerti.

suara

Kami bertiga saling tatap, jelas sekali suara itu menuju ke tempat kami. Pintu berbentuk bulat didorong—aku belum pernah melihat pintu seaneh itu. Tiga orang melangkah masuk ke dalam ruang-an. Dua orang dewasa setengah baya dan satu anak laki-laki berusia empat tahun. Mereka mengenakan baju gelap yang ganjil. Si kecil terlihat menguap, memelu k boneka yang lagi-lagi berbentuk aneh. Ibunya, sepertiny a begitu, terseny u m , menunjuk ke ranjang. Ayahnya, sepertinya juga begitu, berkata denga n kalimat-kalimat yang tidak kami pahami. Mereka tertawa. Tampilan mereka bertiga lebih aneh dibanding film-film fantasi mana pun. Langkah si kecil terhenti. Dia berseru bingung, menunjuk kami. Orangtuany a lebih kaget lagi. Kami berenam saling tatap. Si kecil ketakuta n, refleks memeluk ibunya. Ini jelas bukan kamarku, sama sekali bukan. Bahkan aku mulai ragu, ini bahkan tidak akan pernah ditemukan di kota kami. Semua terlihat ganjil. Apakah aku berada di dunia mimpi? Ayah si kecil maju, bicara dengan kalimat aneh. Sepertinya dia bertanya kepada kami. Wajahnya bingung, me-nyelid ik. Seli merapat kepadaku. Ali tetap mematung di tempat. Dia sempat memasukkan buku PR matematikaku ke dalam tas ranselny a sebelum tiga orang tersebut masuk. Ayah si kecil berseru-seru. Dia tidak terlihat marah. Dia lebih terlihat kaget. Si kecil masih memeluk erat ibunya. Aku menelan ludah. Bagaim a na ini? Sang ayah melangkah lebih dekat, me-natap kami bertiga bergant ia n, menoleh kepada istrinya, berkata-kata dengan kalimat aneh lagi. Sepertiny a dia bilang pada istrinya, ”Lihatlah, pakaian mereka aneh sekali. Siapa k a h tiga anak ini? Apakah mereka tersesat? Bagaimana

asi.com

TereLiye “Bumi” 163

mereka masuk ke dalam rumah kita? Apakah kita perlu memanggil petugas ke­aman­ an?” Sambil masih memeluk si kecil, istrinya ikut maju, menyelid ik , menatap kami bertiga. Wanita itu menggeleng. Dia berkata, ”Sepertiny a tiga anak ini sama bingungny a, kasihan sekali. Tidak ada yang perlu dicemas k a n, mereka sepertinya tidak berbahay a. Apakah mereka dari luar kota, salah masuk ke dalam rumah karena tidak terbiasa? Atau karena jaring a n trans­por­tasi kembali bermasalah?” Pasangan baya itu masih berbicara satu sama lain. Si kecil memberanikan diri mengintip kami. Aku tiba-tiba terdiam. Eh? Aku? Entah bagaimana caranya, aku sepertinya mengerti kalimat yang mereka katakan. Hei! Aku sepertinya tahu apa yang sedang mereka diskusikan. ”Maaf,” aku berkata pelan, mengangkat tangan. Pasangan itu menoleh. ”Maaf, kami tidak salah masuk kamar.” Aku menggeleng. ”Tadi kami berada di kamarku, di rumahku, lantas tiba-tiba saja kami sudah pindah ke kamar ini.” Ayah si kecil mendekat. menggunakan lorong berpindah?”

”Apakah

kalian

sebelum ny a

sedang

Aku menoleh kepada Ali. ”Eh, Ali, lorong berpindah itu apa? Apakah itu istilah fisika modern?” Yang kutoleh jangan­kan men­jawab. Ali dan Seli bahkan bingung melihatku kenapa bisa bicara dengan bahasa aneh itu. ”Kalian sepertinya mengalam i kekacauan sistem lorong ber­pin d a h .” Ayah si kecil menghela napas prihatin. ”Minggu­ minggu ini frekuens iny a semakin sering terjadi. Tapi setidak- ny a kalian muncul di kamar anakku , tidak serius. Tiga hari lalu, istriku yang hendak pergi ke pasar tiba- tib a muncul di atas wahana kereta luncur. Gila sekali, bukan? Dia tidak munc u l di depan pedagang sayur, tapi di tengah orang- orang yang sedang menje r it ketakutan.” Aku menelan ludah, mengangguk, pura-pura mengerti.

asi.com

TereLiye “Bumi” 164

”Kamu temani si kecil tidur, Ma. Aku akan membantu tiga anak malang ini. Tidur bareng Mama, ya? Papa akan menemani tiga kakak- kakak itu.” Lelaki itu bicara pada istri dan anaknya. Ibu si kecil menuntun anaknya ke tempat tidur yang meng-gantung di dinding. Bentuknya sama seperti ranjang umumny a, tetapi berada dua meter di dinding. Saat si kecil mendekat, tempat tidur itu turun perlahan. Ibu dan si kecil naik ke atasnya. Ranjang itu kembali naik. ”Ayo, lambaikan tangan ke kakak­kakak. Selamat malam.” Ayah si kecil tersenyum. Si kecil beranjak ke pinggir ranjang, melambaikan tangan ke- pada kami. ”Selamat malam.” Aku mengangkat tangan, balas melambai. Seli dan Ali, meski bing u ng , meniruku segera, ikut melambaikan tangan. ”Ayo, kalian ikuti aku.” Ayah si kecil sudah menepuk pundak-ku, berkata ramah. Aku masih bingung dengan ini semua. Susul- menyusul sejak kejadia n meledakny a gardu listrik tadi siang. Sekarang, bahkan kami berada di mana aku tidak tahu. ”Semua orang sudah membicarakan kekacauan sistem trans­port a s i ini. Tapi tidak ada tanggapan serius dari Komite Kota. Mereka selalu bila ng itu hanya masalah teknis kecil.” Ayah si kecil membuka pintu bulat, menyilakan kami keluar kamar. ”Kamu mau mendengar dongeng?” Di belakang kami, ibu si kecil berkata pelan. ”Aku ingin mendengar dongeng tentang Si Burung Siang Merind u ka n Matahari, Ma,” si kecil menjawab riang. ”Aduh, dongeng itu lagi, Nak? Sudah seminggu terakhir kamu mendengarnya, bukan? Tidak bosan?” ibunya bertanya lembut, tertawa. Aku melangkah menuju pintu bulat.

asi.com

TereLiye “Bumi” 165

Seli memegang lenganku, berbisik, ”Kita akan ke mana, Ra?” ”Aku tidak tahu,” aku menjawab pelan. ”Apakah mereka sama jahatnya dengan si tinggi kurus di aula sekola h tadi?” Aku menggeleng, selintas lalu mereka hanya keluarga biasa yang bahagia, dengan anak kecil usia empat tahun. Sang ayah menutup pintu bulat kamar, melangkah ke lorong remang. ”Coba saja kalau mereka sendiri yang hendak berangkat be­kerja tiba-tiba muncul di depan seekor binatang buas yang sedang memb uk a mulut, pasti baru tahu betapa menyebalkannya masalah teknis kecil ini,” ayah si kecil masih berseru santai, me-mimpin jalan di depan. Kami melewati lorong, kemudian mun-cul di ruangan lebih besar. Sepertinya ini ruang tengah sebuah rumah. Ada sofa-sofa bundar yang melayang satu jengkal dari lantai. Sebuah meja tampak berbentuk jangg a l, jauh sama sekali dari segi empat atau persegi panjang, dan di atasnya ada sebuah vas bunga. Aku mengembuskan napas, setidakny a bunga di vas aneh itu bentuknya sama seperti yang kukenali, terlihat segar. Entah di mana pun kami sekarang berada, itu bunga mawar seperti pada umumnya.

asi.com

TereLiye “Bumi” 166

ILAKAN duduk. Anggap saja rumah sendiri. Jangan sungk a n. Kalian haus? Akan kuambilkan minuman. Kondisi kalian terlihat buruk. Berdebu, kotor, dan astaga, pakaian kalian aneh sekali. Kalian pasti datang dari tempat jauh. Tidak akan ada anak remaja kota ini yang mau berpaka ia n seperti ini, se-perti model seratus tahun lalu. Sebentar, akan kuambilkan air minum dan handuk basah.” Ayah si kecil tertawa. Dia me­langkah menu ju pintu bulat lainny a, meninggalkan kami bertiga di ruang tengah. Senyap sebentar. ”Kita ada di mana, Ra?” tanya Ali. ”Aku tidak tahu.” ”Apakah orang aneh tadi menyebutkan nama tempat ini?” Aku menggeleng pelan. ”Bagaimana kamu bisa bicara lenganku, tampak penasaran.

bahasa

mereka?”

Seli memeg a n g

”Aku tidak tahu, Sel. Aku tahu begitu saja.” Aku menyeka wajah yang berdebu. Ada banyak sekali hal yang tidak bisa kujawab sekarang. Ali bergumam sendiri, berhenti menumpahkan pertanyaan. Dia memilih memperhatikan sekitar, lalu beranjak hendak duduk di sofa bulat yang melayang di dekat kami. Dia me-loncat. Sofa itu seketika berputar saat didudukinya. Ali ter-gelincir, tangannya hendak meraih sesuatu, tapi terlambat. Dia jatuh ke lantai, mengaduh pelan. ”Ini tempat duduk yang aneh sekali.” Ali berdiri, menatap sofa yang berhenti berputar, kembali ke posisinya semula. Si genius keras kepala itu mencoba dua kali untuk duduk di sofa bulat, tapi dua kali pula dia terjatuh .

asi.com

TereLiye “Bumi” 167

Aku dan Seli menonton, diam. ”Baiklah. Aku tidak akan menyerah.” Ali bersungut­sungut. Kali ini dia menatap baik-baik sofa bulat di depannya, me-megang- ny a perlahan, lantas naik perlahan, menjaga keseimbang-an. Ali nyengir lebar. Dia berhasil. ”Kalian mau mencobanya?” Ali berseru riang. ”Ini persis se­perti belajar naik sepeda. Sekali kita terbiasa, maka mudah saja.” Aku dan Seli saling tatap. ”Ayo, coba saja, Ra, Seli, ini seru sekali. Kalian tahu, entah bagai­ m a na mereka melakukannya, sofa ini benar-benar melayang di atas lantai. I ni hebat sekali. Bahkan kupikir, lembaga paling canggih macam NASA Amerik a sekalipun tidak punya teknologi ini.” Ali mencoba sofa bulat itu berputar . Dia berhasil mem-buatnya bergerak mulus. Ali tertawa senang. ”Apa yang kamu lakukan?” aku berbisik mengingatkan Ali. Kami jelas tidak sedang study tour, kami sedang tersesat. Sifat Ali yang selalu santai kemungkinan bisa berbahay a. Si genius itu se-karang bahka n asyik mencoba sofa bulat yang dia duduki, bergerak naik-turun. Ali menatapku dengan wajah tanpa dosa. ”Maaf membuat kalian menunggu.” Ayah si kecil kembali, terlih at riang, membawa nampan dengan tiga gelas di atasnya, juga tiga hand u k basah. ”Oh, kamu sudah mencobanya? Bagaimana? Itu jenis sofa paling mutakhir.” Lelaki itu tertawa melihat Ali ber­gegas me­nurunkan sofany a kembali ke posisi semula—Ali ter-lihat sedikit panik, karena ketahua n menaik-turunkan sofa ter-sebut tanpa izin pemiliknya. ”Dia bertanya apa?” Ali berbisik kepadaku. ”Dia bilang, kamu tamu yang sama sekali tidak tahu sopan santu n, ” aku menjawab asal.

asi.com

TereLiye “Bumi” 168

”Sungguh?” Ali menatapku tidak percaya. ”Silakan diminu m.” Ayah si kecil mengangguk ramah kepada kami. Aku menatap gelas aneh yang lebih mirip sepatu kets. Baik-lah, aku meraih gelas terdekat, mengangkatnya. Isinya air bening biasa, setidak ny a terlihat begitu. Aku menenggaknya. Ternyata rasanya segar sekali. Seli menatapku ragu-ragu. Aku mengangguk kepadanya. Tidak ada yang perlu dicemaskan. Itu hanya air bening biasa, bahkan setelah berbag a i kejadian tadi, menghabiskan air se-banyak satu gelas berbentuk sepatu terasa melegakan. ”Namaku Ilo, siapa nama kalian?” ayah si kecil bertanya, sam­ bil menyerahkan handuk basah. Aku menjawab sopan, menyebut namaku, Seli, dan Ali. Lelaki itu menggeleng. ”Nama kalian terdengar aneh. Kalian berasal dari mana?” Aku menelan ludah, ragu-ragu menyebutkan nama kota kami. Seli da n Ali di sebelahku sudah menghabiskan minum mereka. Kini me-reka sedang membersihkan wajah dan sekujur badan dengan handuk. Ilo, demikian nama ayah si kecil itu, lagi-lagi menggeleng. Waja h ny a termangu. ”Belum pernah kudengar nama kota seperti itu. Kalian sepertiny a tersesat dari jauh.” ”Kami sekarang berada di mana?” aku balik bertanya, tering at pertanyaan Seli dan Ali sejak tadi. Kenapa tidak kutanyakan saja kepada orang berpakaian gelap ini. ”Kota Tishri.” ”Kota Tishri?” aku mengulanginy a. ”Benar sekali, Kota Tishri. Kota paling besar, paling indah. Tempat seluruh negeri ingin pergi melihatny a. Nah, apa kubilang tadi, setidakny a

asi.com

TereLiye “Bumi” 169

kabar baiknya, lorong berpindah sialan itu membawa kalian kemari. Kalian pernah ke Kota Tishri?” Aku menggeleng. percakapan.

Seli

dan Ali tetap termangu,

tidak

menge rt i

”Fantastis.” Ilo mengepalkan tangan, berseru riang. ”Ayo, kalian ikuti aku. Akan kutunjukkan pemandangan menakjubkan kota ini. Kalian pasti sudah lama bercita-cita ingin melihatny a lang-sung. Selama ini kalia n hanya bisa menyaksikannya di buku, bukan? Astaga, kebetulan sekali, ini persis bulan purnama, kota ini terlihat berkali-kali lebih indah.” Lelaki itu sudah berdiri. Malam bulan purnama? Bukankah tadi baru saja siang? ”Apa yang dia bilang, Ra?” Seli berbisik. ”Dia ingin menunjukkan kota ini kepada kita.” ”Buat apa? Bukankah kita setiap hari melihat kota kita?” Aku menggeleng. Entahlah. Aku juga tidak paham. ”Apa serunya melihat kota di siang hari?” Seli masih ber­bisik. Aku menghela napas perlahan. Sejak tadi aku punya firasat kami sama sekali tidak sedang berada di kota kami. Bahkan boleh jadi kami berada di tempat yang amat berbeda. ”Ini pasti seru.” Ada yang tidak keberatan. Ali meloncat turun dari sofa bulat. Ilo memimpin di depan, melewati pintu bulat, kembali ke lorong remang, dan tiba di depan anak tangga. Ilo rileks me-langkah menaikiny a . Anak tangga itu berpilin naik sendiri saat kaki kami menyentuh ny a . Mungkin seperti eskalator pada umum- ny a, tapi anak tangga yang kupija k terbuat dari kayu berukir. Tiba di ujung anak tangga, ruangan atas tampak gelap. Samb il ber-senandung, Ilo membuka pintu di langit- langit ruangan. Pintu itu

asi.com

TereLiye “Bumi” 170

terbuka. Cahaya lembut masuk ke dalam. Aku men-dongak melihat ke atas. Bintang gemintang terlihat terang. Ini malam hari? Bukankah…? Aku mengusap wajah, bi-ngung. Sekarang pertanyaannya bertambah, bagaimana kami bisa keluar ke atas sana? Bukankah pintu di langit-langit ruangan se-tinggi jangka u a n tangan Ilo? Tidak ada tangga lagi. Kami ber-tiga saling lirik, tidak mengert i. Ilo berdiri persis di bawah bingkai pintu. ”Ayo, kalian mendekat padaku.” Dia menoleh pada kami. Aku menelan ludah. Sudah kadung sejauh ini, tanpa banyak tanya aku ikut mendekat. ”Ayo, jangan ragu­ragu. Lebih rapat.” Aku merapat di sebelahnya, juga Seli dan Ali setelah kuberi-tahu agar lebih rapat. Apakah kami akan melompat ke atas? Terbang? Ilo justru meraih daun pintu di atas, menarikny a ke bawah. Dau n pintu itu turun, pindah setinggi mata kaki kami. Kami se-ketika berada di atap bangunan. Ali, si genius di sebelahku, bahkan tidak mampu mena ha n diri untuk tidak berseru. Ilo tertawa. Dia melangkah ke samping , meninggalkan daun pintu yang terbuka, berdiri di atap. Aku bergegas ikut melangkah, juga Seli, khawatir pintu itu tiba-tiba kembali ke posisi di atas. ”Kamu tidak mau tertinggal di bawah sendirian, bukan?” Ilo menole h ke Ali yang masih sibuk memeriksa. Wajah Ali ber-binar-binar. Bagaim a na caranya daun pintu ini bisa turun? Apa-kah seluruh atap bergerak ikut turun? Atau daun pintunya saja? Aku bergegas menarik lengan si genius itu agar melangkah ke atap bangunan. Setelah semua berdiri di atap, aku melongok ke bawah. Lantai ruanga n kembali terlihat jauh. Entah bagaimana caranya, daun pintu sudah kemba li ke posisi semula.

asi.com

TereLiye “Bumi” 171

”Selamat datang di Kota Tishri!” Ilo berseru lan­tang. Aku mendongak, mengangkat kepala menatap ke depan. Aku menahan napas, mematung. Itu sungguh pemandangan yang membingungkan. Aku pernah diajak Papa dan Mama pergi ke restoran yang berada di lantai paling atas gedung paling tinggi di kota, melihat seluruh kota. Tapi malam ini, yang aku lihat jelas bukan kota kami. Tidak ada hampar a n gedung- gedung tinggi, tidak ada pemandangan yang kukenal. Pun bangu na n yang kami naiki, ini bukan rumah, bukan apartemen seperti kebanyak a n. Bentuk- ny a seperti balon besar dari beton, dengan tiang. Di sekitar kami, ribuan bangunan serupa terlihat memenu hi seluruh lembah, persis seperti melihat ribuan bulan sedang mengam bang di udara. Itulah pemanda ng a n yang kami saksikan sekarang. ”Kita di mana?” Seli bertanya, suarany a bergetar bingung. ”Ini keren!” Ali berseru, suaranya juga bergetar antusias. Ini bukan kota kami. Bahkan jelas sekali, tidak ada kota di Bumi yang seperti ini. Tidak ada jalan di bawah sana, apalagi kendaraan seperti mobil dan motor. Hanya hamparan hutan—kalau itu memang hutan seperti yang terlihat dari atas sini. Bulan purnama menggantung di langit, terlihat lebih besar dibanding biasa- nya. Cahayany a lembut dan indah. Di sisi barat kota ter-lihat gunung, bentukny a sama seperti gunung yang ada di kota kami, juga pantai di sisi timur, itu sama. Tapi hanya dua hal itu yang sama. Sisany a berbeda. Beberapa tiang tinggi terlihat di kejauhan. Setiap tiang me-milik i puluhan cabang, dengan ujung cabang lagi-lagi sebuah balon besar dari beton, bersinar. Ilo menjelaskan dengan bangga tentang kotanya. ”Kota ini paling maju, paling cemerlang. Kota ini juga paling efisien meng-gunakan sumber tenaga yang semakin terbatas. Terlepas dari masalah teknis kecil yang sekarang sedang menimpa kalian, kami memiliki sistem transportasi paling baik. Kalian lihat di ujung sana, itu menara Komite Kota.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 172

Aku tidak terlalu mendengarkan. Kepalaku dipenuhi begitu bany ak pertanyaan. Seli masih menatap dengan cemas ke seluruh arah. Dia sempat berbisik, ”Kita tidak berada di kota kita lagi ya, Ra?” Aku mengangguk. ”Kita berada di tempat yang jauh sekali.” ”Bagaimana kita pulang?” Seli bertanya. Aku menggeleng. ”Entahlah.” Wajah Seli sedikit pucat. Hanya Ali yang terlihat tenang, menatap sekitar dengan se-mangat. ”Besok malam adalah malam karnaval festival tahunan. Jika kalia n menunggu sehari saja, kalian bisa menyaksikan festival ter-besar. Seluru h kota dipenuhi pelangi malam hari. Semua bangun-an tersambung oleh kabel yang dipenu hi lampu warna-warni. Putraku yang berusia empat tahun tidak sabar menanti­kan­ nya.” Ilo membentangkan tangan, masih asy ik menjelas-kan. Angin berembus lembut, menerpa wajah, memainkan anak rambut . Aku mendongak menatap langit. Kami ada di mana? Gunung, pantai, sunga i, juga posisi bulan dan bintang sama persis seperti di kota kami. Tapi sisany a berbeda. Bangunan rumah seperti balon? Hampir setengah jam kami berada di atap bangunan. Hingga Ilo diam sejenak, berkata, ”Sudah larut malam. Kita sebaiknya turun. Kalau kalia n mau, malam ini kalian bisa menginap di tem-patku. Ada kamar kosong . Tidak terlalu lapang untuk ber-tiga, tapi cukup nyaman. Besok pagi-pagi aku akan membantu mengirim kalian pulang ke rumah.” Kami bertiga tidak berkomentar. Aku mengangguk. Ilo membungkuk. Dia membuka daun pintu di atap. Lantai ruangan di bawah terlihat mendekat. Dia menyuruh kami me-langkah masuk. Kami bisa melangkah dengan mudah. Ilo me-lepas pegangan ke daun pintu. Dau n pintu itu perlahan kembali ke atas. Langit- langit ruangan kembali tinggi. I lo menutup pin-tu.

asi.com

TereLiye “Bumi” 173

”Ini keren sekali, Ra,” Ali berbisik padaku. ”Jika semua pintu bisa ditarik begini, di sekolah kita tidak perlu repot ke mana- mana. Tarik pintuny a mendekat, kita tinggal melangkah masuk atau keluar, beres.” Aku tidak menanggapi celetukan Ali. Ilo memimpin di depan. Kami diantar menuju pintu bulat di lorong lain. Itu kamar yang besar. Dua kali lebih luas dibanding kamar si kecil. ”Kalian bisa menggunakan kamar ini. Ada beberapa pakaian yang bis a kalian gunakan di lemari. Beberapa sepertinya cocok. Ini dulu kamar si sulung. Dia masuk akademi di kota lain. Usia-ny a delapan belas. Jika kalia n butuh sesuatu, kamarku berada di ujung lorong satunya. Selamat mala m , anak­anak.” ”Selamat malam.” Aku mengangguk, menjawab sopan. Ilo menutup pintu, meninggalkan kami.

asi.com

TereLiye “Bumi” 174

AMAR itu lengang sejenak. Isinya kosong karena lama tidak ditempati. Hanya ada ranjang besar di dinding, satu sofa melayang, dan satu lemari berbentuk lebih mirip botol air mi-neral raksasa. Ali sempat melih at isi dalam lemari, mengeluarkan beberapa pakaia n gelap yang lengket di tangan. Aku dan Seli menggeleng, lebih baik tetap mengenakan seraga m sekolah kotor dibanding pakaian lengket ini. Ali sebalikny a. Dia mencoba memakai salah satu pakaian ber-bentu k jaket yang kebesaran. Saat dikenakan, pakaian lengket itu seolah bisa berpikir sendiri, mengecil dengan cepat, lantas me-nempel sempurna ke seluruh tubuh. ”Wow!” Ali ber­seru ter­pesona —bahkan dia bergaya di depan cermin, menggerakkan tangan­ n­y a yang tertutup jaket. ”Lentur, ringan, dan lembut di badan.” Ali nyengir lebar, seperti bintang iklan detergen di tele-visi. Melihat Ali dengan pakaian aneh itu, setidaknya aku tahu jenis pakaian yang dikenakan Tamus dan delapan orang di aula tadi. Aku menghela napas, beranjak duduk sem-barang di lantai. Aku tidak mau duduk di sofa yang bisa me-layang, atau ranjang yang bisa naik-turun. Setidak ny a lantai kayu yang kududuki terlihat normal. Seli ikut duduk di samping- k u . Ali, lagi-lagi sebalikny a, si genius itu sudah meloncat santai ke atas sofa melayang. Dia sudah terampil, tidak ter-gelincir. ”Apa yang kita lakukan sekarang, Ra?” Seli berbisik. ”Aku tidak tahu,” aku menjawab pendek. Seli menghela napas, bergumam, ”Ini benar­benar ganjil. Bagai­ m a na mungkin sekarang sudah malam? Bukankah baru satu-dua jam lalu kita dari aula sekolah?” ”Entahlah, Sel. Aku juga bingung.” ”Kita tidak bisa menginap di bangunan aneh ini, Ra. Kalau kita terlalu lama di kota ini, kita jelas terlambat pulang ke ru-mah. Orangtua

asi.com

TereLiye “Bumi” 175

kita pasti cemas, dan mulai panik mencari ke mana­ mana,” Seli berkata pelan, meluruskan kaki. Aku menoleh. Seli benar. Apalagi dengan kejadian meledak dan terbakarny a gardu listrik, ditambah lagi bangunan kelas dua belas yang ambruk. Pertemuan Klub Menulis pasti dibatalkan. Orang-tua murid segera mencari tahu kabar anak-anak yang be-lum pulang. Saat Mama tidak menemukanku di sekolah, Mama akan panik, seluruh keluarga akan ditelepon, siaga satu—bahkan jangan-jangan Mama akan memaksa Tante Anita memasang iklan kehilangan di televisi. Aku mengeluh, mengge le n g mem-bayang-kan hal menggelikan itu. Kasihan Mama, belum lagi ma-sa- la h Papa di kantor. Kenapa semuanya jadi kusut begini? ”Masalahny a, kalaupun mereka mencari kita, mereka akan men­ ca r i ke mana?” Ali mendekat —tepatnya sofa yang dinaiki Ali yang mendek at , melayang di depan kami. ”Mereka akan me-minta bantuan polisi? Detektif ? Aku berani bertaruh, bahkan agen rahasia macam FBI pun tidak tahu di mana kota ini ber­ada.” Kami menatap si genius itu, tidak mengerti. ”Saat di atap bangunan balon tadi, aku memperhatikan sekitar secara saksama. Kalian tahu, aku hafal posisi kota kita, hafal letak bulan, binta ng .” Ali menunjuk kepalany a—maksu dny a apa lagi kalau bukan dia punya otak brilian. ”Aku tahu letak gunung, pantai, sungai, semua kontur kota kita. Kalian tahu, ada sesuatu yang menarik sekali.” Kami menatap Ali tanpa berkedip. ”Mereka akan mencari kita di kota mana, kalau ternyata kita persis berada di kota kita sendiri?” Ali mengangkat bahu. ”Aku tidak mengerti, Ali,” Seli memastikan. ”Kita tidak ke mana­ mana, Seli. Aku yakin sekali. Ini tetap kota kita, hanya entah kenapa seluruh rumah, bangunan, gedung tinggi di kota kita berganti dengan hutan dan balon- balon beton raksasa. Bahkan saat ini, kemungkinan kita sedang berada di salah satu ruangan rumah Ra. Entah di ruang tengah atau ruang tamu.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 176

”Tapi… tapi bagaimana dengan…” Seli menunjuk sekeliling kami. ”Itulah yang membuat semua ini menarik.” Ali ber-se-dekap, ber­gaya seperti profesor fisika terkemuka. ”Kita berada di tempat yang sama, tapi dengan sekeliling yang amat berbeda. Bah-kan orang- orang yang berbeda.” ”Kamu sebenarny a hendak bilang apa sih?” Aku akhirny a bertany a, tidak sabaran. Tidak bisakah dia menjelaskan lebih detail? Dengan bahas a yang lebih mudah dimengerti. Ali mengangguk. Dia meloncat turun dari sofa melay a ng , me-ngeluarkan buku tulis dari ransel yang selalu dia bawa ke mana- mana, mengam bil bolpoin. ”Kalian perhatikan.” Ali membuka sembarang halaman ko­song. Dia mulai menggam bar. Aku dan Seli tahu apa yang sedang dia gambar, sebuah lapang- a n futsal. Lantas, Ali menggambar lagi sebuah lapangan bulu tang-kis di atas lapangan futsal tersebut, juga lapangan basket. Terakhir sebuah lapa ng a n voli. Empat lapangan itu bertumpuk di atas kertas. Ali menggambar bingk a i di sekeliling kertas.

”Ini persis seperti aula sekolah kita, bukan? Ada empat lapa ng­ a n olahraga di atas lantainya.” Ali menatapku dan Seli ber-ganti- an. Aku dan Seli mengangguk. ”Nah, aku hanya menduga, bisa jadi keliru, tapi kemungkin­an besar tepat, inilah yang sedang terjadi di sekitar kita. Dunia ini tidak seseder ha n a seperti yang dilihat banyak orang. Aku per-caya sejak dulu, bahkan mem ba c a lebih banyak buku di-banding siapa pun karena penasaran, ingin tahu. Bum i kita me-miliki kehidupan yang rumit. Dan hari ini aku menyaksikan sendir i, ada sisi lain dari kehidupan selain yang biasa kita lihat sehari-hari. Dunia lain. ”Kalian perhatikan aula sekolah kita. Ada empat lapangan olah-raga di atasnya, bukan? Jika kita ingin bermain futsal, pasang tiang

asi.com

TereLiye “Bumi” 177

gawangny a. Jika kita ingin bermain basket, tarik tiang basketny a. Maka di Bumi, bisa jadi demikian, ada beberapa kehidupan yang berjalan di atasny a. Berjalan serempak di atas­nya.” ”Tapi kita tidak bisa bermain voli, basket, badminton, dan futsal serempak di aula, Ali.” Seli menggeleng. ”Akan kacau­balau, pemain bertabrakan, bolanya lari ke mana­ mana.” ”Itu benar.” Ali mengangguk. ”Tapi bukan berarti tidak mung­ k i n. Bumi jelas lebih besar dibanding aula sekolah. Saat kapa-sitasnya besar, Bumi bisa berjalan tanpa saling ganggu. Persis seperti sebuah komputer yang membuka empat atau lebih pro-g-ram. Bukankah kita bisa menjalanka n ny a bersamaan? Membuka internet, membuka dokumen, membuka pemut ar musik, dan mengedit foto sekaligus? Ada banyak program yang berjala n serentak tanpa saling ganggu. Kecuali jika komputerny a terbatas, bisa hang atau error. ”Aku yakin sekali, beberapa sisi kehidupan di Bumi bisa berjala n serentak tanpa saling ganggu, berantakan, dan bolanya lari ke mana- mana . Setidakny a aku sudah menyaksikan dua sisi. Sisi pertama, kehidupan di Bumi seperti yang kita jalani selama ini. Sisi kedua, kota aneh ini, bangu na n aneh ini, dan semua benda yang aneh di sekitar kita. Dua sisi itu berada di satu Bumi, berjalan tanpa saling memotong.” Ruangan itu senyap sejenak. ”Kalau hal itu memang ada, kenapa selama ini tidak ada orang yang mengetahui bahwa ada dunia lain tersebut di Bumi?” Seli bertanya lagi. ”Yang pertama karena dua dunia itu terpisah sempurna. Yang kedua, karena kita terbiasa dengan kehidupan sendiri. Jika sese-orang sibuk bermain futsal di aula sekolah, lantas yang lain sibuk bermain basket, mereka hanya sibuk dengan permain- an masing- masing, tanpa menyada r i ada dua permainan berjalan serentak. Nah, kalaupun ada yang tahu, mere ka hanya bisa men-duga, bilang mungkin ada alam gaib atau dunia lain di luar sana. Tapi mereka tidak pernah mampu menjelaskanny a.” Ali men­jelas ka n dengan intonasi yakin. ”Kalau begitu, ada berapa sisi kehidupan yang berjalan se­rempak di Bumi?” aku akhirnya membuka mulut. Sebenarnya penjelasan Ali sama

asi.com

TereLiye “Bumi” 178

sekali tidak masuk akal. Tapi aku tidak membantahny a. Aku me-mutus- kan ber-tanya.

tahu

harus

bagaimana

”Tidak tahu. Yang pasti, sosok tinggi kurus di aula tadi me­nyebut k u ‘Makhluk Tanah’, orang­ orang lemah. Itu satu. Dia pasti merujuk pendu d u k Bumi saat ini. Dia juga menyebut Seli dengan sebutan Klan Matahari yang berjalan di atas tanah. Itu dua. Terakhir tentu saja dunia yang kita lihat sekarang. Aku tidak tahu namany a, kita sebut saja Klan Bulan, karena di mana- mana ada Bulan termasuk bangunan balon ini. Itu berarti tiga. Mungkin masih ada lagi dunia lain yang berjalan serentak, tapi aku tidak tahu.

”Dan aku tahu kenapa kamu bisa mengerti dan berbicara dala m bahasa mereka, Ra. Sosok tinggi kurus menyebalkan itu berkali-kali bila ng kamu tidak dimiliki dunia Bumi, bukan? Kamu dimiliki dunia kita sekarang berada. Itu masuk akal. Aku tidak tahu penjela san detailny a, sepertiny a kamu menguasai begitu saja bahasa mereka.” Ali mengangkat bahu. Aku mengusap wajahku dengan kedua telapak tangan. Entah la h , apakah aku bisa memercay ai penjelasan si genius ini. ”Kalian tahu, ini keren. Bahkan Einstein tidak pernah bisa membay angkan ada dunia paralel di sekitarnya. Dia hanya bisa menjelas ka n bahwa waktu bersifat relatif. Einstein mungkin saja benar, imajinasi adala h segalany a, lebih penting dibanding ilmu pengetahuan. Tetapi menyaks ika n sendiri semua ini, mengetahui pengetahuan tersebut, lebih dari segalany a .” Ali nyengir. Aku bersandar ke dinding kamar, membiarkan si genius itu senang sendiri. ”Fisikawan, astronom, ahli matematika terkemuka Galileo Galile i hanya bisa membuktikan teori Heliosentris Copernicus. Entah bagaim a na reaksiny a jika mendengar ada dunia lain berjalan serempak di atas Bumi. Kemungkinan dia akan seperti pen-dukung teori Geosentris, kaum fanatik tidak berpengetahuan, tidak percaya.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 179

”Buku PR matematikam u, Ra.” Seli teringat sesuatu, me­mot on g kesenangan Ali. Aku menoleh kepada Seli. ”Bukankah kita bisa masuk ke dunia ini karena buku PR mate­matikam u tadi?” Seli berseru. ”Kita bisa kembali lagi ke kota kita dengan cara yang sama.” Seli benar. Aku bergegas hendak berdiri, mengeluh. Bukankah buku itu tadi tertinggal di kamar si kecil? Karena kami telanjur kaget. Aduh, bagaimana mengambilnya sekarang? Ali membuka tas ranselny a. ”Aku sudah membawany a, Ra.” Aku dan Seli menghela napas lega. ”Aku khawatir, kalian akan meninggalkan banyak benda jika tidak ada yang berpikir dua langkah ke depan.” Ali tersenyum bangga. Aku menerima buku PR matematika dari Ali. Semang at me-letak-kanny a di lantai kayu, menelan ludah, menatap buku itu, ber siap . ”Ayo, bersinarlah lagi,” aku berbisik. Satu menit berlalu tanpa terjadi sesuatu. ”Sayangny a, buku ini hanya buku biasa sekarang, Ra.” Ali meng­embuskan napas pelan. ”Aku sudah memikirkan kemungkin­ an itu tadi, sempat mengintip ke dalam tas ransel saat kita ber-ada di atap bangunan balon. Buku ini tidak mengeluarkan sinar apa pun lagi.” Lengang. Buku itu tergeletak sampulnya tidak bersinar.

di lantai. Gambar

bulan

sabit

di

Seli menatap amat kecewa. ”Bagaimana kita pulang, Ra?” Aku menatap Ali. Dia si geniusny a. Ali bangkit berdiri. ”Kita akan menemukan caranya. Mungkin tidak malam ini. Tapi cepat atau lambat kita akan menemukan cara-nya. Setiap ada pintu masuk, selalu ada pintu keluar.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 180

asi.com

TereLiye “Bumi” 181

KU memeluk Seli yang menangis, menghiburny a, bilang semua akan baik-baik saja, termasuk di kota tempat kami entah berada di mana. Semua juga akan baik-baik saja. Semoga orang-tua kami tidak bereaksi berlebihan. Sebenarnya aku juga butuh dihibur. Aku cemas sekali me-mikirk a n Mama di rumah, tapi siapa yang akan menghiburku? Jelas Ali tidak akan menghibur siapa pun. Anak itu memutuskan tidur. Ali berkata denga n intonasi datar, tidak ada lagi yang bisa kami lakukan, sebaiknya beristira h at , menyimpan energi buat besok. Aku tahu, apa yang dilakukan Ali adalah pilihan paling rasio- na l. Memang tidak ada yang bisa kami lakukan. Ini sudah larut, jam di dindin g yang meskipun bentukny a lebih mirip panci, tapi setidakny a sama denga n jam yang aku kenal, ada dua belas angka —jarum pendekny a telah menunjuk pukul dua belas. Aku menatap lantai kayu lamat-lamat. Entah di mana pun kami ber-ada, di dunia lain atau bukan, setidaknya malam ini kami punya tempat bermalam dengan tuan rumah yang ramah. Aku menolak tidur di atas ranjang. Ali yang memakainya setelah menurunkan bantal-bantal, seprai, dan selimut. Ranjang itu segera bergerak ke langit-langit kamar. Ali di atas sana sempat berseru, bilang betapa ajaib kasurnya, bisa menyesuaikan diri dengan kontur badan, juga langit-la n g it persis di atas kepala- ny a mengeluarkan cahaya lembut yang nyaman. Aku tidak terlalu mendengarkan. Aku mengham parkan seprai dan selimut di lantai, tidak lengket, seprainya tebal, empuk untuk ditidur i. Bantalny a juga menyenangkan, sama seperti kasur yang diocehkan Ali di atas ranjang sana, mengikuti kontur kepala dan badan saat ditindih. ”Kamu harus tidur, Sel,” aku berbisik. Seli menyeka pipinya, mengangguk. ”Atau kamu memastikan.

butuh

sesuatu

untuk

dimakan?”

aku

bertany a

asi.com

TereLiye “Bumi” 182

”Aku tidak lapar lagi, Ra.” Aku tersenyum. ”Besok kita akan pulang, dan segera ikut Klub Menulis Mr. Theo.” *** Tidur dalam situasi banyak pikiran memang tidak mudah. Tapi dengan badan letih, sakit, ngilu, kami akhirnya jatuh ter-tidur, kemud ia n bangun kesiangan. Cahaya matahari me-nerobos daun jendela, menyina r i wajah. Aku segera membuka mata. Ada yang sudah membuk a gorde n, bahkan sekaligus mem-buka jendela. Udara pagi yang segar terasa lembut me-nerpa wajah. Aku beranjak berdiri, memeriksa sekitar. Seli masih me-ringkuk tidur, sepertinya dia yang terakhir jatuh tertidur tadi malam. Ranjang di dindin g kosong. Ali tidak ada. Aku melangkah ke jendela, menatap keluar. Kalau saja aku menge rt i apa yang sedang terjadi, ini sebenarnya pemandangan yang fantastis . Tiang-tiang tinggi dengan bangunan berbentuk balon berwarna putih memenu hi lembah. Jauh di bawah sana, di dasar lembah, hamparan hutan lebat, memesona, dengan rombong-an burung terbang. Aku belum pernah me-lihat hutan seindah ini, sejauh mata memandang. ”Kamu sudah bangun, Ra?” Aku menoleh. Ali keluar dari pintu bulat yang ada di ka-mar. ”Kamu harus mencoba mandi, Ra. Fantastis!” Ali tersenyum. Dia sedang merapikan pakaian yang dia kenakan, menyisir ram-but- nya yang berantakan dengan jemari tangan—dan tetap berantakan meski berkali- kali dirapikan. ”Kamu habis mandi?” Aku menatap Ali. ”Apa lagi?” Ali tertawa, mengangkat bahu. ”Dan kamu harus menc ob a pakaian yang ada dalam lemari. Lihat!”

asi.com

TereLiye “Bumi” 183

Ali memamerkan pakaian yang dia kenakan. Tidak ada lagi seraga m sekolah kotorny a. Ali juga memakai sepatu baru. Seperti sepatu boot hitam setinggi betis. ”Ini tidak seaneh seperti yang kamu lihat,” Ali meyakin­kan. ”Bahka n sebenarny a pakaian ini nyaman. Aku bisa bergerak bebas. Lihat. Sepatu ny a juga amat lentur, seperti tidak memakai sepatu. Aku bisa menekuk jari kaki dengan mudah. Mungkin komposisi warnany a terlihat aneh. Orang-orang di dunia ini sepertiny a suka sekali warna gelap, tapi itu bukan masalah. Kamu tahu, Ra, tidak ada yang lebih penting dari pakaian selain nyaman dipak a i. Peduli amat dengan selera warna orang lain.” Aku mengembuskan napas. Sepertinya Ali sudah menyesuai-kan diri dengan cepat di dunia lain ini. Dan sejak kapan dia peduli soal pakaia n? Bukankah selama ini di sekolah dia selalu datang berantakan? Seli bangun mendengar percakapan kami. Aku menyapany a. Seli menjawab pelan. Wajahny a masih kusam. Sepertiny a dia lebih suka semua ini hanya mimpi buruk, terbangun di kota kami, dan semua mimpi burukny a hilang. Tapi mau bagaimana lagi? Bahkan aku tadi bangun, langsung harus melihat Ali yang tiba-tiba memperagakan pakaian, bergaya. Pintu bulat kamar ke arah lorong diketuk dari luar. Kami bertiga saling tatap. ”Apakah kalian sudah bangun?” terdengar suara ramah. Aku menjawab. ”Ya. Kami sudah bangun.” ”Apakah aku boleh masuk?” Aku menjawab pendek, ”Ya.” ”Siapa, Ra?” Seli berbisik, tidak mengerti percakapan. Pertanyaan Seli terjawab sendiri saat ibu si kecil mendorong pintu bulat. Dia tersenyum ke arah kami. ”Bagaim ana tidurnya? Nyenyak, bukan?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 184

Aku mengangguk. ”Oh, kamu mengenakan pakaian itu.” Ibu si kecil menatap Ali, tersenyum lebar. ”Cocok sekali. Kamu terlihat tampan.” ”Dia bilang apa, Ra?” Ali bertanya. ”Dia bilang kamu harus hati­hati memakainy a, jangan sampai robek atau rusak. Itu baju mahal,” aku menjawab asal. ”Kamu tidak menipuku kan, Ra?” Ali tidak percaya. Aku nyengir lebar. ”Aku sedang menyiapkan sarapan di dapur. Setengah jam lagi matang . Kalau kalian sudah siap, jangan sungkan, ayo bergabung. Si kecil pasti senang meja makan ramai setelah hampir setahun kakaknya tidak ada di rumah.” Ibu si kecil tersenyum hangat. Aku mengangguk, bilang akan segera menyusul. ”Ruangannya ada di ujung lorong ini, belok kanan hingga kalia n me-nemukan pintu berikutny a. Jangan lama-lam a, nanti sarapa nny a dingin.” Wanita itu tersenyum sekali lagi sebelum melangkah ke pintu bundar, kembali ke dapur. ”Apa yang akan kita lakukan, Ra?” Seli bertanya setelah kami tingg a l bertiga. ”Kita mandi pagi, Sel,” aku menjawab pelan. Ali memang yang paling logis di antara kami bertiga. Kami diundang sarapan, maka akan lebih baik jika kami datang dengan wajah segar. ”Mandi?” Seli menatapku. Aku menoleh ke pintu kecil bulat di kamar. Ali mengangguk, asyik menyisir rambutnya dengan jemari. ”Tenang saja, kamar mandiny a tidak sekecil pintuny a. Dan kali-an tidak perlu handu k sama sekali. Masuk saja. Itu kamar mandi yang fantastis. Lebih luas diband ing kamar ini.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 185

Aku mengangguk, mendorong pintu bulat kecil. Ali lagi-lagi benar. Kamar mandi ini hebat. Saat aku menutup pintuny a, belasan lamp u langsung menyala otomatis. Aku berada di tabung bulat besar denga n banyak kompartemen. Dindingny a terbuat dari kaca, mengeluarkan sinar lembut. Ada kompartemen untuk meletakkan pakaian kotor, ada kompartemen untuk pakaian bersih, wastafel, dan sebagainya seperti yang kukenali—meski bentukny a aneh. Kejutan terbesarny a saat aku masuk ke ruangan mandiny a. Ada belasan keran memenuhi dinding tabung. Saat tombol keran ditekan, bukan air yang keluar, melainkan udara segar, menerpa badan seperti memijat. Aku jelas tidak terbiasa mandi denga n udara, siapa yang terbiasa? Tapi itu seru, tidak ada bedanya mandi denga n air. Tabung mandi segera dipenuhi aroma wangi dan gelembung kecil, badanku bersih dan segar. ”Bagaimana?” Ali cengengesan bertanya saat aku keluar. Aku tidak menjawab. Aku sedang memperbaiki posisi pakaian yang kukenakan. Aku tidak bisa mengenakan seragam sekolah yang kotor, jadi tadi mengambil sembarang di kompartemen pakaian bersih, memili h pakaian dengan warna paling terang—meski tetap gelap juga. Awalny a jijik memegang baju lengket itu, tapi saat dikenakan, baju tersebut menempel di badan dengan nyaman, segera menyesuaikan ukuran, termasuk kerah di leher. Aku mengenakan sepatu yang serupa dengan Ali, sepatu ini membuatku melangkah lebih ringan. Aku tersenyum puas. Sepertinya aku bisa menyukai pakaian dunia ini. ”Kamu juga harus hati-hati mengenakan pakaian ini, Ra.” Ali juga nyengir melihatku sedang becermin. ”Kenapa?” Aku menoleh. ”Kan kamu sendiri yang bilang bahwa pakaian ini ma­hal, jangan sampai rusak.” Aku tertawa kecil. Seli juga ikut mandi setelah aku meyakinkan apa salahny a. Seragam sekolahnya paling kotor. Dia juga harus berganti pakai-an. Seli

asi.com

TereLiye “Bumi” 186

keluar dari pintu bulat kecil dengan wajah lebih segar lima belas menit kemudian. Dia mengenakan baju lengan pen-dek, celana panjang gelap yang seperti menyatu dengan sepatuny a, dilapis rok hingga lutut. Seli terlihat modis—seperti biasanya, di sekolah dia selalu terlihat paling rapi berpakaian. Kami sudah siap, tidak berbeda dengan tampilan orang- orang di dunia ini. Saatnya sarapan. *** ”Wow, kalian terlihat berbeda sekali dengan pakaian­pakaian itu,” I lo menyapa kami, tertawa lebar. ”Itu sebenarnya bukan pujian buat kalian.” Ibu si kecil ikut tertawa. Dia sedang meletakkan makanan di atas meja. Aku menatap wanita itu, tidak mengerti. ”Pekerjaan suamiku adalah desainer pakaian. Semua pakaian yang kalian kenakan, juga pakaian yang kami kenakan adalah desain- ny a. Jadi dia sedang memuji diri sendiri.” Ibu si kecil sambil tertawa menjelaskan. ”Desainer pakaian?” aku bergumam. Si kecil melam baikan tanga n kepada kami. Wajah nya yang kemerah- merahan terlihat lucu menggemaskan. ”Iya, desainer pakaian.” Ibu si kecil mengangguk. ”Ayo, semua duduk , masakan sudah siap.” Tiga kursi bergerak keluar dari meja makan. Seli memeriksa selintas, melirikku, mengira- ngira apakah kursi ini akan ber-putar saat diduduki. Ali sudah duduk nyaman. Itu hanya kursi kay u seperti umumny a, meskipun bentukny a lebih mirip tunggul kayu. Kursi ini menempel di lantai, jadi tidak akan melayang. Aku dan Seli duduk.

asi.com

TereLiye “Bumi” 187

”Perkenalkan, ini istriku, Vey, sedangkan si kecil, Ou. Nah, Ou, tiga kakak-kakak ini namanya Raib, dengan rambut hitam panjangnya, inda h sekali, kan? Seli, yang rambutnya pendek, dan satu lagi, Ali, yang rambut ny a berantakan.” Ilo mem­perkenalkan kami. Ou terlihat riang. Dia malah turun dari bangkuny a, me-nyalam i kami bergantian. ”Dia bilang apa? Kenapa dia melihat ke arah rambutku?” Ali berbisik kepadaku. Aku tertawa, sepertiny a menyenangkan menjadi orang yang lebih tahu diband ing si genius ini—bisa membalas gayanya saat meremehkan orang lain. ”Dia bilang rambutmu yang paling keren di antara semua orang.” ”Oh ya?” Ali nyengir, refleks menyisir lagi rambut be-rantakan- ny a dengan jemari. ”Kakak si kecil namany a Ily. Seperti yang kubilang semalam, usiany a mungkin dua atau tiga tahun di atas kalian. Saat ini dia bersekolah di akademi yang jauh dari sini. Dia suka sekali de-ngan sistem dan peralata n canggih. Dia bilang, sistem trans-portasi dan sistem lainnya di kota ini ketinggalan zaman. Anak muda se­umuran dia selalu semangat belajar,” I lo menambahkan. ”Ayo anak­anak, jangan ragu­ragu, silakan dinikmati makan­anny a .” Vey tersenyum. Kami mulai sarapan. Entah berada di dunia apa pun, sarapan tetaplah sarapan yang menyenangkan. Keluarga ini ramah. Ou sedang suka ber-celoteh. Vey gesit dan tangkas membantu kami. Dan yang lebih penting lagi, masaka n ny a enak. Bahkan Ali yang se-lalu santai meng-hadapi dunia ini tetap menger ny it saat pertama kali melihat makanan di atas piring — piringnya lebih mirip sepatu dengan lubang kaki yang besar. Masakanny a lebih aneh lagi, itu seperti bubur, tapi dengan warna gelap.

asi.com

TereLiye “Bumi” 188

”Tidakkah orang di dunia ini tahu bahwa warna makanan memilik i korelasi dengan selera makan?” Ali berbisik padaku. Tapi dia sendiri yang justru semangat menghabiskan makanan itu setelah men-coba mencicip iny a sesendok. Sepertiny a lezat. Ali nyengir. Cengira n Ali cukup bagiku dan Seli untuk berani me-raih sendok. Memang sedap. ”Kota ini memang dibangun agar bisa beroperasi secara efi­sien.” I lo sudah berganti topik percakapan untuk kesekian kali. Dia persis seperti Papa di rumah, suka mengobrol saat sarap-an, dan mengambil topik apa saja sebagai bahan percakapan. ”Kota kami tidak lagi menggunakan air untuk mencuci piring, pakaia n, ataupun mandi. Cukup dengan udara. Itu lebih bersih, higienis, dan menja g a kelestarian air. Walaup un di kota-kota lain dan daerah pedalaman masih menggunakan air. Kamu suka kamar mandiny a, bukan?” Aku mengangguk, menyendok bubur hitam. Aku tidak ba-nyak bicara , hanya sesekali. Yang sering adalah menjelaskan percakapan kepada Ali dan Seli mereka berusaha mengikuti. ”Juga pakaian yang kalian kenakan, contoh lainnya. Kami me­milik i teknologi benang sintetis yang dapat menyesuaikan diri se-cara otom at is dengan pemakainy a. Jadi pakaian bisa awet di-pakai meski pemilik ny a bertambah dewasa, atau sebaliknya, pakaian itu diberikan kepada orang lain yang lebih kecil. Dan se-patu-ny a terasa ringan, bukan? Sepatu itu mema ng didesain mem-buat pemakainy a lebih ringan sekian persen sesuai keperlu-an. Memudahkan mobilitas.” Aku mengangguk lagi. ”Kakak sekolah di mana?” Ou bertanya. Aku refleks menyebut nama SMA-ku. Ou terdiam. ”Itu nama akademi, ya?” Aku menggeleng, menelan ludah. Pasti tidak ada di dunia ini nama sekolah seperti itu.

asi.com

TereLiye “Bumi” 189

”Mereka datang dari jauh, Nak. Kemungkinan dari luar negeri,” I lo menjelaskan. ”Kamu lihat, dua kakak yang lain juga tidak bisa bicara denga n kita. Bahasanya berbeda.” Ou mengangguk-angguk menggemaskan. ”Sebenarnya masalah teknis lorong berpindah ini tidak sekecil yang dibicarakan orang­ orang kota. Ini masalah serius.” Ilo menghela napas , sudah lompat lagi ke topik berikutny a. ”Lorong itu tidak hanya meng ir im orang- orang ke tempat yang salah. Ter-sesat. Kacau-balau. Kalian tahu, beberapa hari lalu, aku bah-kan menemukan banyak benda aneh di kamar tidur Ou. Aku sama sekali tidak mengenali barang tersebut.” Aku hampir tersedak. Benda aneh? Tiba-tiba aku memikirkan seb ua h kemungkinan. ”Boleh kami melihatny a?” aku bertanya senormal mungkin. ”Kenapa tidak?” Ilo mengangkat bahu. ”Sebentar, akan kuambil­­ka n .” Ilo beranjak berdiri, melangkah ke lemari di pojok dapur. ”Dia mau ke mana?” Ali bertanya—seperti biasa ingin tahu dan mendesak diterjemahkan. Aku tidak segera menanggapi Ali. Aku menatap Ilo yang kem- bali membawa sesuatu. Ya ampun! Aku hampir berseru saat benda-benda itu diletak-kan di atas meja makan. Naluriku benar. Aku mengenalinya. Itu novel milik k u , flashdisk, peniti, kancing baju, tutup bolpoin, semua benda yang kuhilangkan malam sebelumnya. Ilo meletak-kannya di atas meja. ”Kalian pernah melihat benda seperti ini?” Ilo menunjuk kancing baju. ”Entahlah dari mana datangny a, tiba­tiba muncu l begitu saja di meja belajar Ou. Lihat, yang satu ini sepertiny a buku. Tetapi bentukny a aneh, bukan? Aku juga tidak mengenali tulisan di dalamny a. Huruf- huruf yang aneh.” Ilo mengangkat novelku, membuka sembarang halamanny a , memperlihatkannya kepada kami.

asi.com

TereLiye “Bumi” 190

Seli dan Ali terdiam di sebelahku. Tanpa dijelaskan mereka tahu apa yang sedang dibicarakan. Mereka juga tahu itu benda-benda milikku. ”Bahkan, yang lebih aneh lagi, kalian lihat,” Ilo melangkah sebentar ke dekat lemari lainny a, menarik keluar sesuatu, ”ini benda yang besar untuk bisa lolos ke dalam kesalahan teknis kecil sistem lubang berpindah. Entah la h ini benda apa. Bentuk- nya seperti kursi, tapi model dan teknologi kursi ini terlalu primitif. Aku tidak yakin ini datang dari lubang berpindah, siapa yang hendak mengirimkan kursi? Lebih baik menggunakan transportasi biasa, bukan?” Aku menahan napas. Itu kursi belajar ku. ”Ayolah, Ilo.” Vey tersenyum simpul. ”Kita sedang sarapan, Say ang . Kita tidak akan membahas lagi benda- benda itu pada saat sarapan yang menyenangkan ini, kan? Ayo, anak-anak, habis-kan makanan kalian. I lo terlalu sering berpikir yang tidak-tidak. Imajinasinya ke mana- mana. Dia bahkan sering ber-pikir dunia ini tidak sesederhana seperti yang dilih at . Kamu mau tambah buburny a, Ra?” Aku, Seli, dan Ali saling tatap dalam diam.

asi.com

TereLiye “Bumi” 191

ESUAI rencana tadi malam, setelah sarapan, Ilo akan meng-a nt ar kami ke pusat pengawasan lorong berpindah, untuk me-nemu-kan jala n pulang. ”Ini sepertiny a bukan ide yang baik, Ra,” Ali berkata pelan, saat kami disuruh menunggu di ruang tengah. Ou sedang ber-siap, mengambil tas sekolahnya. Sang ibu ikut mengantarny a ke sekolah. ”Tidak akan ada yang bisa membantu kita di pusat peng­aw a sa n lorong itu. Saat mereka bertanya detail, jelas kita tidak bisa menjelas ka n bahwa kita datang dari dunia berbeda. Semaju apa pun teknologi dunia ini, itu tetap penjelasan tidak masuk akal. Bagaim ana kalau mereka mengang g a p kita berbahay a? Me-nangkap kita?” Aku sebenarny a sependapat dengan Ali. Tapi apa yang bisa kami lakukan? ”Mereka hanya berpikir kita datang dari kota atau tempat lain. Tersesat. Sesederhana itu,” Ali bergumam. ”Setidaknya keluarga ini baik dan ramah. Aku percaya Ilo tidak akan mengantar kita ke tempat jahat,” Seli berkata pelan. Sejak tadi malam, Seli menerima apa pun solusinya, sepanjang bisa membuat kami pulang layak untuk dicoba. Keberadaan bangku belajar , novel, flashdisk, dan benda- benda milikku yang ditemukan di kamar Ou dengan sendirinya memastikan kami berada di dunia lain seperti penjela sa n Ali tadi malam. Tapi Seli juga benar, keluarga ini baik kepada kami. Ou terlihat lucu, ibu-nya ramah dan cantik —lebih cocok menjadi model terkenal dan Ilo, selain baik, masih terlihat muda, tam-pan, sepertinya bukan sekadar desainer pakaian biasa. Ou bernyany i- nyany i riang, keluar dari kamar membawa tas sekola h . ”Jangan berlari di rumah, Ou!” tegur sang ibu diiringi se­nyum.

asi.com

TereLiye “Bumi” 192

”Kalian sudah siap?” tanya Ilo, yang keluar dari ruang kerjany a de-ngan membawa tas. Aku mengangguk. ”Baik, mari kita berangkat.” Ilo menekan tombol di pergela ng a n tanganny a. Sebuah lubang muncul di depan kami, awalnya kecil, kemud ia n membesar setinggi orang dewasa. Pinggirnya berputar- putar seperti gumpalan awan hitam. Ou lompat lebih dulu masuk, disusul ibunya. Kami bertiga ikut masuk. Terakhir di belakang, Ilo melangkah. Lubang itu mengecil, lenyap. Kami berada dalam kegelapan selama beberapa detik, kemudian muncu l titik cahaya kecil, membesar membentuk lubang besar. Kami bisa melangkah keluar. ”Selamat bingung kami.

datang di Stasiun Sentral.”

Ilo tertawa melihat

wajah

Aku kira pertama-tam a kami akan menuju sekolah Ou. Ternyata tidak. Ini bukan sekolah. Ini ruangan besar yang megah, mirip stasiu n kereta, tapi berkali-kali lebih canggih dari-pada stasiun kereta paling modern di dunia kami berasal. Belasan jalur kereta, puluhan kapsul berlalu-lalang, seperti me-ng-ambang di rel, datang dan pergi. Jalur-jalur itu tidak hanya horizontal, tapi juga verti-kal, ke segala arah. Ada yang masuk ke bawah tanah, menyam- ping, bahkan ke atas, masuk ke dalam lorong, ada banyak sekali arah jalur. Ruangan megah itu terlihat terang. Lantainy a terbuat dari pualam terbaik. Dindingny a ce-merlang. Di langit- lang it tergantung belasan lampu kristal mewah. Orang- orang berlalu-lalang, terlihat sibuk, bergegas. Naik-tur u n, pindah jalur. Hamparan lantai stasiun dipadati kesibukan pagi hari. ”Kalian sepertinya tidak pernah melihat stasiun kereta.” Ilo menep u k bahu Ali si genius itu sampai ternganga menyaksikan stasiun. ”Kita tidak bertanya.

lewat

lubang

berpindah

menuju

sekolah

Ou?” aku

asi.com

TereLiye “Bumi” 193

”Di kota ini, lubang berpindah hanya digunakan untuk trans­port a s i di atas. Tidak di bawah. Di dalam tanah, kami meng-gunakan cara lama yang lebih mengasy ikkan. Dengan kapsul kereta.” ”Ini di dalam tanah?” aku bertanya bingung. ”Seluruh kegiatan kota memang ada di dalam tanah. Kami tidak mau merusak hutan, sungai, apa pun yang ada di per-muka- an. Itulah kenapa rumah-rumah dibangun di atas tiang tinggi puluhan meter. Sedangk a n gedung- gedung perkantoran, pusat perbelanjaan, dan sekolah diletakkan di dalam tanah. Tenang saja, ini persis seperti di atas permukaan, sirkula s i udara, cahaya, semuany a sama, bahkan kamu tidak akan menyadari sedang berada ratusan meter di bawah tanah, di dalam batuan keras. Satu-satu ny a perkantoran yang berada di atas tanah adalah Tower Komite Kota atau di sebut juga Tower Sentral yang ber-ada di atas, menara dengan bany ak cabang bangunan yang kalian lihat tadi malam.” Salah satu kapsul merapat di dekat kami. ”Ayo, kita naik. Kapsulny a sudah datang.” Ilo melangkah. Pintu kapsul terbuka. Ou masuk lebih dulu. Kapsul itu tidak berbeda dengan satu gerbong kereta berukuran kecil. Ada belasan kursi di dalam ny a , sebagian sudah diisi penumpang lain. Dinding kapsul y ang menjadi lay ar televisi menampilkan infor- masi perjalanan dan siaran. Ali menatap sekitar tidak henti- hentiny a. Dia tidak peduli orang lain memperhatikannya. Aku sempat khawatir melihat kelakuan Ali, apala g i beberapa orang di dekat kami tiba-tiba berdiri. Anak-anak remaja, me-mak a i seragam, mereka terlihat berseru-seru antusias. Mereka mengeluark a n buku, mendekati bangku kami. Apa yang akan mereka lakukan? Aku menyikut Ali agar ber-ting k a h lebih normal. ”Kalian harus terbiasa dengan hal ini,” justru Vey yang ber-bisik , menahan tawa.

asi.com

TereLiye “Bumi” 194

Anak-anak remaja seumuran kami itu menyapa Ilo—tentu saja bukan menyapa Ali. Satu-dua berseru-seru senang. Mereka mengulurkan buku bersampul kulit masing- masing. Aku segera tahu apa yang sedang terjadi. Di layar televisi terlihat tayangan, mungkin itu sebuah iklan. Wajah Ilo tampak close up memenu h i layar, tersenyum memamerkan koleksi pakai-an terbaru. ”Ilo desainer pakaian paling terkemuka. Dia melakukan revo­ lu s i besar-besaran dengan teknologi yang ditemukanny a. Dia selebritas, tidak kalah terkenalny a dibanding pesohor lain di kota ini. Tapi begitulah, di rumah dia tetap ayah yang kadang mem­bosankan bagi Ou.” Vey tertawa lagi. ”Bahkan kalian ber­tiga tidak kenal Ilo, bukan? Sepertiny a dari tempat kalian datang, Ilo tidak dikenal siapa pun. Padahal Ilo selalu me-nyom b on g diriny a terkenal di mana­mana.” Aku ikut tertawa—lebih karena aduh, lihatlah, anak-anak remaja itu masih berseru-seru saat buku mereka ditandatangani, saling menunjuk ka n buku, wajah seolah histeris, lantas kembali ke bangku masing- mas ing . Mereka persis teman remajaku di sekolah setiap melihat artis idola atau penyany i boyband dari Korea. ”Apa yang terjadi?” Seli bertanya, di sebelahku. ”Gwi yeo wun,” aku, menjawab sekenanya, teringat beberapa hari lalu di dunia kami, Seli mengatakan kalimat itu saat Ali tiba-tiba datang ingin mengerjakan PR mengarang ber-sama. Ali tidak mendengar kalimatku. Dia masih sibuk memperhati- k a n, terpesona menatap buku-buku yang dibawa penumpang ber-seragam. Tadi saat menandatangani buku penggem arny a, Ilo hanya mengguratnya denga n ujung jari. Tulisannya muncul sen-diri di atas kertas. Itu jelas lebih menarik bagi si genius ini. Kapsul yang kami naiki terus melesat cepat dalam jalur ke-reta. Di luar tidak terlihat apa-apa, tapi sepertiny a kami masuk semakin dalam. ”Kamu tahu, Ra, aku lebih suka menggunakan kapsul ini di­bandingkan lorong berpindah.” Ilo yang selesai melayani peng-gem ar ny a kembali mengajakku bercakap- cakap. ”Lebih

asi.com

TereLiye “Bumi” 195

konven-sional, seperti desain baju yang kubuat, tapi lebih nyaman dan aman. ”Sistem lorong berpindah itu menggunakan energi yang terlalu besar. Boros. Kelak kalau insiny ur kami menemukan cara berpindah di atas dengan teknologi lebih murah, tanpa harus membuat jalan di hutan, jembatan, dan sebagainy a yang bisa merusak, mungkin kami akan menyingkirkan sistem lorong berpindah.” Aku hanya diam, mendengarkan. Setelah beberapa menit melesat, kapsul itu akhirnya berhenti. Ou dan ibunya berdiri. ”Kita sudah tiba di sekolah Ou,” Ilo menjelaskan. ”Ayo, ucapkan selamat tinggal kepada Ayah dan kakak­kakak.” Vey tersenyum. Ou meloncat riang. Dia memeluk Ilo, kemudian me-nyalami kami bertiga, mengucap salam, lantas turun dari kap-sul. ”Semoga kalian segera bisa pulang ke rumah. Orangtua kalian pasti sudah cemas sekali.” Vey menyalami kami. ”Terima kasih banyak,” aku berkata sopan. Kami bertiga ikut berdiri, mengantar hingga ke pintu kap-sul. ”Salam buat orangtua kalian ya, dan jangan sungkan mampir lagi jika berada di kota ini. Rumah kami selalu terbuka hangat buat kalian.” Vey memelukku untuk terakhir kali sebelum me-langka h turun menyusul Ou. Aku mengangguk. Aku tidak akan percaya kami berada di dalam tanah jika Ilo tidak bilang begitu. Dari pintu kapsul yang terbuka, sebuah bangun- an sekola h terlihat. Beberapa kapsul lain merapat dari banyak jalur, anak-anak sekola h berlompatan turun, beberapa ditemani orangtua mereka. Halam annya luas, dengan rumput ter-pangkas rapi. Beberapa pohon

asi.com

TereLiye “Bumi” 196

tumbuh tinggi. Ou sudah ber-lari riang melintasi gerbang meny ap a teman-temannya, me-ninggal-kan ibunya yang masih melambaikan tanga n kepada kami. Pintu kapsul menutup perlahan. Kapsul kembali melesat. Masih ada dua pemberhentian berikutnya. Anak-anak remaja berseragam itu turun, juga penumpang lain, menyisakan kami beremp at ketika layar televisi mendadak berganti siaran. Sepertiny a itu sebuah breaking news. Ilo menatap layar dengan saksama. Seli memega n g tanganku. Ali juga berhenti mem-perhatikan sekitar, ikut menatap dindin g kapsul. Seli dan Ali boleh jadi tidak tahu apa yang sedang disampai- ka n pembawa acara, tapi mereka dengan segera mengerti berita itu. Sebuah tiang raksasa terlihat menimpa bagian hutan, lantas di sebelahny a dua bangu na n besar berbentuk balon tergeletak hancur bersama potongan tiang, menghantam lebih banyak pohon lagi. ”Tidak ada yang bisa memastikan apa dan dari mana benda ini berasal. Petugas Komite Kota sedang melakukan pemeriks aan tertutup. Yang bisa dipastikan, belasan pohon rusak, dua rumah roboh saat benda ini munc u l begitu saja. Tidak ada korban jiwa. Dua rumah dilaporkan dalam keadaa n kosong saat kejadian.” ”Ini jelas bukan masalah teknis lorong berpindah sebelahku menghela napas. ”Ini sesuatu yang lebih besar.”

lagi.”

Ilo di

Aku, Seli, dan Ali terdiam. *** Ilo juga hanya diam mematung beberapa saat setelah siaran ter-sebut. Dia mengusap wajahnya, lantas bangkit berdiri, menekan tombol-tom bol di dinding kapsul. ”Anak­anak , kita tidak jadi menuju Pusat Pengawasan Lubang Berpindah.” Ilo menggeleng. ”Aku akan memasukkan tujuan baru kita.” Aku bingung. ”Ke mana?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 197

”Anak­anak…” Ilo masih berdiri, tidak menjawab pertanyaanku. Dia menatap kami bergantian dengan tatapan serius, sementara di luar kapsul melakukan manuv er, melengkung, berbelok arah dengan mulus . ”Sebenarnya, dari mana kalian berasal?” Aku mendongak, menatap wajah Ilo. ”Dia bertanya apa?” Ali berbisik. Aku menahan napas. ”Kalian tahu, istriku mungkin benar ketika berkali­kali bilang aku terlalu banyak berimajinasi karena pekerjaan ini. Te-tapi ada banyak hal yang kita imajinasikan nyata. Seperti pakai-an, sejauh apa pun imajina s i kita, itu nyata, menjadi sesuatu yang bisa disentuh. Sejak tadi malam aku memikitkan situasi ini. Buku aneh itu, dengan huruf-huruf yang aneh. Pakaian yang kalian kenakan saat ditemukan di kamar anak kami. Bukan k a h ada tulisan dengan huruf yang sama? Terlalu banyak hal yang tidak bisa dijelaskan. Kalian tidak tersesat dari tempat biasa. Dari mana kalia n berasal?” Wajah Ilo terlihat serius sekali, meski ekspresi wajahny a yang baik tidak hilang. Aku berhitung, apakah akan menjawab atau tidak. Aku menoleh ke arah Seli dan Ali—yang tidak mengerti apa yang kami bicarakan. Aku menggigit bibir. Baiklah, meski ini boleh jadi tidak masuk akal dan akan membuat Ilo tertawa, aku akan menjawab. Suaraku bergetar. ”Kami juga tidak tahu. Mungkin saja kami berasal dari dunia yang berbeda , dunia lain.” Mengatakan kalimat itu saja sudah terasa aneh, ”dunia lain”, apala g i berharap reaksi orang saat mendengarnya. Tapi Ilo tidak tertawa, mengernyit, atau reaksi sejenisnya. Dia hanya terdiam, ikut menahan napas , berusaha mencerna kalimatku. ”Juga benda raksasa yang menghantam dua tiang rumah itu?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 198

Aku mengangguk. ”Itu datang dari dunia kami. Aku yang mengirim ny a ke sini.” ”Benda­benda aneh di kamar Ou?” ”Iya, juga buku itu, milikku. Benda­ benda aneh yang ada di kamar Ou, itu milikku.” Kapsul itu lengang sejenak, menyisakan desingny a melaju melew at i lorong. ”Astaga!” Ilo akhirny a mengembuskan napas, menatapku lamat­ lamat. ”Sunggu h tidak bisa dipercaya. Bagai­ mana kalian bisa masuk ke kota ini, eh, dunia ini?” ”Kami masuk lewat buku PR matematikaku,” aku menjawab pelan. ”Buku PR matematika?” Ilo memastikan dia tidak salah dengar. Aku meminta Ali mengeluarkan buku itu, menyerahkanny a pada Ilo. Ilo menelan ludah, menerima buku PR matematikaku. ”Ini sama seperti buku lainny a. Tidak ada yang berbeda.” Ilo memeriksa buku bersampul gambar bulan sabit, membu k a sembarang halaman, lantas menggurat sesuatu di atasnya. Seharu s ny a seperti buku-buku remaja yang tadi meminta tanda tangan, kertasnya bisa ditulisi dengan teknologi ujung jari peng-ganti bolpoin, buku PR matematikaku sebaliknya, tidak. Bekas guratan jemari Ilo hany a mengeluarkan sinar sejenak, kemudian pudar bersama letupan kecil.

Ilo berseru, melangkah mundur. Tanganny a gemetar kesakitan seperti habis disetrum sesuatu.Wajahnya pucat. ”Aku sepertiny a keliru, buku ini jelas tidak sama seperti buku lain. Aku tidak tahu apa bedanya, tapi aku tahu siapa yang bisa menjawab ba-nyak pertanyaan.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 199

Ilo mengembalikan buku PR matematiku, menatap kami ber-gant ia n . ”Baik, anak­anak, semoga tujuan baru kita bisa men­jelaskan banyak hal.” Kapsul kereta itu terus melesat cepat.

asi.com

TereLiye “Bumi” 200

APSUL kereta itu berhenti lima menit kemudian. Ilo ber-jalan di depan, turun. Entah berada di mana kami sekarang, tapi hamparan rumput terpangkas rapi menyambut kami, tampak hijau seluas lapangan sepak bola. Jika itu belum cukup, di sisi kiri dan kanan lapangan terlihat air terjun setinggi pohon kelapa, debum air menimpa bebatuan seperti bernyany i, sungai jernih mengalir, kelokannya hilang di belakang sebuah gedung besar. Saking besarnya gedung itu, jika dipotret, aku tidak yakin lensa kamera bisa menangkap seluruh bagiannya jika diambil dari jarak jauh sekalipun. Aku mendongak menatap langit. Kami sepertiny a masih berada di dalam tanah, karena meskipun langit terlihat biru, itu tidak asli, tidak ada matahari di atas sana. ”Ini Perpustakaan Sentral. Tempat semua catatan dan buku disim p a n, semua ilmu dikumpulkan. Tidak ada tempat lebih baik dibanding ini jika kita membutu hkan jawaban,” Ilo menjelas­kan sebelum ditanya. Dia melangkah lebih dulu, berjalan menuju gedung tinggi itu. Kami membutuhkan dua menit melintasi hamparan rumput hijau, lalu tiba di pintu gedung. Ruangan depan gedung itu dipenuhi meja- meja panjang dan bangk u . Lantainy a terbuat dari pualam mewah. Belasan lampu kristal tergantung di langit-langit ruangan, sama seperti interior Stasiun Sentral. Bedany a, rak buku setinggi gedung tiga lantai memenuhi dinding ruangan. Aku menela n ludah menatap begitu banyak buku di dinding. Beberapa orang terlihat membaca di meja- meja panjang. Beberapa belalai bergerak merambat di rak-rak itu, sepertinya itu alat mencari judul buku, berhenti meng-a m b il buku, kemudian bergerak lagi. Salah satu petugas perpustakaan menyapa ramah Ilo—seorang ibu separuh baya yang mengenakan jaket gelap. Mereka saling kenal, ber-bicar a serius sebentar. Ibu itu memeriksa se-jenak buku besar di atas meja, lantas mengangguk, meminta kami berjalan di belakangnya.

asi.com

TereLiye “Bumi” 201

Kami melewati pintu bundar, masuk ke dalam lorong remang. Di dunia ini setiap kamar atau ruangan sepertiny a dihubungkan lorong- lorong , termasuk juga setiap gedung, bangunan, pun di atas sana, rumah- rumah berbentuk bangunan balon. Jika tidak ada lorong secara fisik, bangu na n dihubungkan dengan lorong virtual yang mereka sebut lorong berpindah. Tiba di ujung lorong, ibu separuh baya itu mendorong pintu bulat. Kami masuk ke ruangan yang lebih kecil, dengan interior sama. Seluruh dinding ruangan itu dipenuhi rak buku tinggi yang bersusu n buku-bukuny a. Ruangan itu sepi, tidak ada pe-ngunjung di meja- m e ja panjang. Yang ada hanya seorang petugas. Ada plang besar di atas kepala kami bertuliskan: ”Bagian Ter­batas. Hanya untuk Pengunjung dengan Izin”. Petugas itu menggeleng saat ibu separuh baya menyampaikan sesuatu . Juga menggeleng saat Ilo membujukny a. ”Anda bisa mem­­baca semua buku di ruangan ini, Master Ilo. Buku apa saja. Tapi tidak di bagian berikutny a .” ”Kami harus masuk. Ini penting sekali.” Ilo menyisir rambut- ny a dengan jemari. Wajahnya tegang. Petugas itu menggeleng. ”Kami tidak akan melanggar protokol paling tinggi di gedung ini.” ”Kalau begitu, izinkan aku bicara dengan kepala perpustakaan.” I lo mengembuskan napas. Petugas itu berdiskusi sebentar dengan ibu separuh baya dari ruanga n depan. Dia mengangguk, menekan tombol di atas meja-nya, tersambu n g dengan ruangan lain. ”Apa yang sedang terjadi, Ra?” Seli berbisik, memegang lengan­ku. ”Mereka sedang memutuskan apakah kita bisa masuk ke ruangan berikutnya atau tidak.” ”Ruangan apa?” Seli bertanya cemas.

asi.com

TereLiye “Bumi” 202

”Aku tidak tahu.” Petugas menyuruh kami menunggu. Pintu bulat di ruangan itu terbuka dua menit kemudian, dan muncullah seseorang yang terlihat sepuh. Tanganny a memegang tongkat . Rambutny a putih, tapi wajahnya masih segar. Aku menatapnya lamatlamat. Orang tua ini me-ngena-kan pakaian berwarna abu-abu. Itu warna paling terang yang kami lihat sejak memasuki dunia ini. ”Halo, Ilo,” orang tua itu menyapa ramah, mendekati kami. Ilo balas menyapa pendek, menggenggam tangan orang tua itu. Syukurlah, setidakny a mereka berdua juga saling kenal—atau mungkin juga Vey benar, Ilo amat terkenal di kota ini, jadi siapa pun tahu dia. ”Ada yang ingin kubicarakan. Ini mendesak dan penting sekali,” cetus Ilo. ”Oh ya?” tanya orang tua itu. ”Aku harus mengunjungi Bagian Terlarang Perpustakaan.” Orang tua itu terkekeh panjang. ”Kamu bahkan tidak bertanya apa kabarku, tidak bercerita apa kabar keluarga kalian. Bagaimana Vey? Ou? Dan si sulung Ily? Sudah hampir setahun dia tidak pulang dari akademi, bukan?” Mereka berdua memperhatikan.

ternyata

lebih

dari

saling

kenal.

Aku

terus

”Itu bisa dibicarakan nanti. Mereka baik­baik saja.” Ilo meng­geleng. ”Ini mendesak.” ”Oh ya? Seberapa mendesak?” ”Amat mendesak.” Ilo menatap serius. ”Baiklah. Ada apa sebenarnya?” Orang tua itu mengangguk takzim. Ilo menggeleng, terdiam sejenak. ”Aku juga tidak tahu apa yang sebenarny a sedang terjadi. Aku justru sedang mencari pen-jelasanny a.

asi.com

TereLiye “Bumi” 203

Itulah kenapa aku harus mengunjungi Bagian Ter-larang perpustakaan kota.” ”Kamu seharusny a tahu, kamu membutuhkan surat berisi persetuju a n seluruh Komite Kota untuk bisa masuk ke dalam bagian itu, Ilo.” Orang tua itu menggeleng. ”Tanpa izin itu, tidak ada satu pun yang bahkan bisa berdiri sepuluh langkah dari pintuny a dengan selamat. Bagian itu dilind u n g i seluruh sistem keamanan gedung, disegel dengan kekuatan tertentu, dan di atas segalanya, aku menjaganya dengan nyawaku sendiri.” Sesaat aku seperti bisa melihat wajah orang tua ber-pakai-an abu- abu itu tampak begitu berwibawa. Bola matanya yang me-natap tajam bersinar. Ilo meremas jemariny a, menoleh padaku. ”Ra, kamu keluarkan buku PR matematika itu.” Aku mengambil buku PR matematika dari ransel yang dibawa Ali. I lo tidak sabar menunggu, menerima buku itu dengan tangan bergetar — seperti khawatir disetrum lagi. Ilo menyerah-kan buku itu kepada orang tua di hadapannya. ”Ini buku apa?” Orang tua berpakaian abu­abu itu menatap Ilo. ”Kamu periksa saja. Itu tiketku untuk masuk ke dalam Bagian Terlarang.” ”Ini hanya sebuah buku tulis biasa, Ilo.” ”Kamu periksa saja lebih detail.” Ilo menggeleng tegas. ”Baik, mari kita lihat.” Orang tua itu mengangguk takzim. Aku memperhatikan. Orang tua berpakaian abu-abu itu mulai memeriksa. Dia tidak membuka sembarang halaman, mencoba menggurat tulisan seperti yang dilakukan Ilo. Dia menghela napas sebentar, kemudi-an bergumam pelan, mengucapkan sesuatu, mengusap lembut buku bersampu l kulit dengan

asi.com

TereLiye “Bumi” 204

gambar bulan sabit milikku. Be-lum selesai tangannya mengusap, buku PR-ku sudah mengeluar-kan sinar yang terang sekali. Gambar bulan sabitnya seperti keluar di udara. Terlihat elok. Semua orang di ruangan itu menahan napas. ”Astaga!” Orang tua itu berseru, buku itu terlepas dari tangan- ny a. Aku hendak menyambarnya agar tidak jatuh. Tapi alih-alih jatuh, buku itu justru mengambang di udara. Sinar yang keluar dari bulan sabit menimpa wajah kami. Saat kami sibuk menatap takjub buku yang melayang di udara, orang tua berpakaian abu­abu itu menoleh kepadaku. ”Apakah buku ini milik m u ?” Aku mengangguk. ”Gadis Kecil, siapakah kamu sebenarny a?” Pertanyaan itu membuat orang- orang menoleh padaku. Seli yang sejak tadi memegang tanganku, refleks melepa s ka n tanganny a. Ali yang biasa sibuk memperhatikan sekitar, ikut ter-diam. Dua petugas perpustakaan bahkan dengan gemetar me-nunduk, tak berani melihat wajahku. ”Aku? Eh, namaku, Raib,” aku refleks menjawab. Saat itu seluruh tubuhku bersinar terang. Sinarny a juga me-nerp a wajahku. Beberapa saat hanya lengang di ruangan pengap tersebut, hing- g a sinar yang keluar dari sampul buku PR matematikaku per-lahan redup, kemudian lenyap. Ilo bergegas menyambarny a se-belu m buku itu jatuh. ”Bagaimana? Apakah kamu akan mengizinkan kami masuk ke Bagia n Terlarang, Av? Buku ini tiket masukny a.” Ilo mengacung­kan buku milik k u dengan yakin. ***

asi.com

TereLiye “Bumi” 205

”Tidak ada yang boleh menceritakan kejadian ini kepada siapa pun.” Av, demikian nama orang tua berpakaian abu-abu itu, berkata tegas kepada dua petugas perpustakaan. ”Padamkan sistem keamanan Bagian Terlarang beberapa saat. Aku akan mengajak Ilo dan tiga anak ini masuk ke dalamnya.” ”Aku ingat sekali, terakhir kali Bagian Terlarang perpustakaan ini dibuka adalah seribu tahun lalu. Aku sendiri yang membuka- nya, dan aku sendiri pula yang menyegelny a hingga hari ini.” Av menghela napas perlahan, ”Mari, ikuti aku.” Av melangkah pelan. Suara tongkatnya mengenai lantai pua- la m , bergema. Kami menuju pintu bulat, masuk ke dalam lorong panjang lagi. ”Wajah mu tadi terlihat terang sekali, Ra,” Seli berbisik. ”Seperti purnama besar.” Aku menoleh, tidak mengerti. ”Aku seperti bisa melihat bulan dari jarak dekat,” Seli masih berbis ik . Aku menatap Seli. ”Bulan?” ”Kita telah tiba,” Av yang berdiri di depan berkata pelan, me­mot on g percakapan. Kami tiba di ujung lorong. Tidak ada yang istimewa dari pintu bulat itu, seperti pintu-pintu lain yang pernah kami temui di dunia ini. ”Jangan tertipu dengan tampilanny a, anak­anak. Tidak ada yang bisa mendekati pintu ini jika sistem keamananny a diaktif­kan,” seakan bisa membaca pikiran kami, Av berkata datar. ”Ti­dak, bahkan dengan seribu Pasukan Bayangan tetap tidak.” Av mengacungkan tongkatnya ke depan, mengetuk beberapa kali, membuat irama tertentu. Terlihat pita kuning bersinar di daun pintu . Cahayany a sekaligus membuat jelas sarang laba-laba dan debu di sekitar

asi.com

TereLiye “Bumi” 206

kami. Sepertiny a sudah lama sekali tidak ada orang yang mengunju n g i lorong ini. Av merobek segel pita itu dengan tongkatnya, lantas mendor on g daun pintu. Pintu berderit pelan. Ruangan yang kami masuki pengap dan gelap. Av mengetukkan tongkatnya lagi ke lantai, beberapa lilin me-ny ala , membuat terang sekitar. Aku bisa melihat tembok ruang-an yang terbuat dari batu bata tanpa diplester dan lantainya dari batu kasar. Ruangan itu tidak besar, paling hanya seluas kelasku. Hanya ada satu lemari di sudut ny a , berisi gulungan besar, peti berwarna hitam, dan buku-buku. Sebuah meja panjang dan beberapa kursi persis berada di tengah, terlihat berdebu, tua, dan kusam. Juga ada sebuah perapian kecil di dinding ruangan de-ngan kay u bakar yang menumpuk, lama tidak disentuh, entah untuk apa perapia n tersebut. Av menutup rapat daun pintu, melangkah ke tengah ruang-an. ”Kalian bertiga jelas tidak datang dari dunia ini.” Av menoleh kepada kami, menatap kami satu per satu. ”Siapa saja kalian?” Ilo memperkenalkan kami satu per satu. ”Bagaimana kamu menemukan mereka bertiga, Ilo?” ”Mereka muncu l di rumahku tadi malam, saat aku mengantar Ou tidur.” ”Itu pasti sedikit mengejutkan, menemukan orang asing di dala m rumah. Dan kamu awalny a berpikir mereka hanya tersesat karena kesalah a n teknis lorong berpindah?” Ilo mengangguk. ”Setidaknya kabar baiknya, kalian muncul di rumah cucu dari cucu cucuku. Bukan di tempat keliru.” Av menyeka rambut pu­tih­ny a. ”Dia bilang apa?” Ali berbisik di sebelahku.

asi.com

TereLiye “Bumi” 207

”Dia bilang Ilo adalah cucu dari cucu cucuny a.” Ali dan Seli menatapku tidak mengerti. ”Dan tentu saja kamu fasih berbicara bahasa kami.” Av me-nata p- k u lamat­lamat. ”Kemampuan itu melekat saat kamu di­lahir­kan. Juga seluru h kekuatan lain, kamu peroleh sejak lahir.” Ruangan pengap itu lengang sejenak. ”Apakah kamu tahu siapa dirimu, Nak?” Av bertanya lem­but. Aku menggeleng pelan, tidak mengerti. Tadi aku sudah me-ny ebut namaku. Kalau hal tersebut ditanya lagi, berarti itu bu-kan jawaban yang diharapkan. ”Baik. Akan kujelaskan masalah ini.” Av melangkah ke lemari di dinding ruangan. Kami memperhatikan. Av kembali dengan membawa salah satu gulungan besar. Dia meletakkan gulungan itu di atas meja, menepuk debu tebal, mem- bu at gambar di atas gulungan lebih bersih. Aku tahu itu apa meski warnanya sudah kusam, ujung- u ju n g kertas-nya robek, dan gambarnya amat sederha na. Saat dihampar-kan di atas meja, aku mengenaliny a, itu peta Bumi ber-ukuran besar. ”Kalian di dunia sana menyebut dunia ini dengan sebutan ‘Bumi’ , bukan?” Dunia sana? Tapi aku memutuskan mengangguk, tidak banyak tany a. ”Inilah peta Bumi itu yang dibuat puluhan ribu tahun lalu.” Av mengetuk peta itu pelan. Garis-garis peta mulai bersinar, membuat lebih jelas bentuk benua, pulau, dan sebagainya. ”Sejak kecil, kamu selalu bilang dunia ini tidak sese­derhana yang kamu lihat, bukan? Kamu bilang, dunia ini seperti game yang jago kamu

asi.com

TereLiye “Bumi” 208

mainkan.” Av tertawa pelan, menoleh kepada Ilo di sebelahny a. ”Kamu benar, Ilo. Walau aku selalu pura-pura menertawakan pertanyaan itu, bilang itu hanya imaji- nasi, khayal-an, tapi tentu saja kamu adalah cucu dari cucu cucuku. Kamu memiliki naluri untuk tahu. Sayangny a aku tidak bisa menjelas-kan saat itu. Aku sebaliknya bertugas melindungi banyak raha- sia . Biarlah hari ini akan kujelaskan rahasia itu. ”Dunia yang kita tinggali memang tidak sesederhana yang kita lihat. Perhatikan peta baik­baik.” Av mengetuk lagi peta di atas meja, dan entah dari mana asalnya, muncul gambar beraneka ragam di atasnya, denga n warna-warni indah. ”Ada empat kehidupan yang berjalan secara serempak di atas planet ini. Yang pertama adalah Klan Bumi atau disebut juga dengan Makhlu k Tanah atau Makhluk Rendah. Istilah itu tidak merujuk pada rendah ny a status mereka—walaupun kenyataanny a mereka memang yang paling primitif ilmu penget ahuannya—melainkan merujuk klan ini memang hidu p di atas permukaan tanah.” Saat Av menjelaskan, garis-garis yang mengeluarkan sinar di atas peta membentuk gambar rumah-rum ah, orang- orang, sawah, jalan, jembat a n, dan lainny a. ”Klan Bumi adalah yang paling banyak jumlah nya. Paling ba-ny ak memanfaatkan sumber daya planet. Beberapa bijak, bebe-rapa rakus dan tamak. Makhluk Tanah memiliki pengetahuan dan teknologi amat terbatas. Tetapi sebagian besar dari mereka pembelajar yang baik, satu- dua bahka n bisa menyentuh level menakjubkan, termasuk memiliki kekuatan khas. Pertempuran dan kerusakan selalu mengiringi Klan Bumi. Ambisi berkuas a mereka besar, tapi syukurlah, itu dibatasi dengan kemampuan sendir i. Setidakny a tidak ada di antara mereka yang punya ide ingin meny erb u dunia lain.” Av mengetuk lagi peta di hadapannya. Gambar menghilang, bergant i gambar bangunan balon- balon di udara, hutan yang subur. ”Yang kedua adalah Klan Bulan atau juga dikenal dengan sebuta n Makhluk Bayangan. Itu adalah kita, Ilo. Kita tinggal di atas tanah, memilik i pengetah uan dan teknologi paling maju. Jumlahnya hanya sepersep u l u h Klan Bumi, tapi tersebar rata di seluruh dunia. Dengan

asi.com

TereLiye “Bumi” 209

pengetah uan, kita mampu me-ngeduk tanah, membuat kehidupan di dalam tanah, karena klan kita menghindari merusak permukaan. ”Penduduk Klan Bulan memiliki kebijaksanaan hidup dan pengetah uan yang mengagumkan. Mereka menemukan alat-alat mutak h ir , berkali-kali lipat lebih canggih dibanding Makhluk Tanah. Bahkan segelint ir kecil Klan Bulan memahami rahasia bahwa dunia ini tidak seseder h a na seperti yang terlihat. Mereka juga memiliki kekuatan besar, seperti menembus sekat, petarung yang hebat dan terhormat. Kamu salah satuny a . Kamu mungkin belum tahu, bingung, tapi kekuatan itu sudah kamu milik i sejak kecil.” Semua orang menoleh kepadaku, termasuk Seli dan Ali yang sejak tadi tidak sabar ingin tahu apa yang dijelaskan Av. Mereka hanya bisa menebak- nebak arah pembicaraan. ”Seharusny a Klan Bulan adalah yang paling damai dan ten­teram. Kita adalah klan yang paling beradab dengan budaya paling tinggi. Tapi situas i itu justru menimbulkan hal baru yang rumit. Segelintir kecil penduduk yang mengetahui rahasia dunia lain ternyata memiliki ide mengerikan. Mereka ingin menguasai dan menjajah dunia lain. Seribu tahun lalu, mereka memutuskan membuka lorong ke dunia Makhluk Tanah, menguasai Klan Bumi. ”Ide itu ditentang banyak orang. Tapi dalam sistem klan kita saat itu, seluruh negeri diperintah kerajaan. Kendali penuh ada di tanga n orang- orang dengan kekuatan. Perang besar terjadi. Orang-orang biasa dengan dukungan pemilik kekuatan yang masih berpikir waras memutus ka n membentuk Komite Kota, menolak ide itu. Aku yang bertugas sebaga i penjaga perpustaka-an membuka Bagian Terlarang ini untuk menem u ka n cara men-cegah hal itu. Mahal sekali harganya. Kerajaan yang mengu a s a i seluruh negeri runtuh, berganti sistem menjadi Komite Kota. Puluhan ribu Pasukan Bayangan tewas, dan lebih banyak lagi penduduk biasa gugur. Entah apa itu harga yang sepadan atau tidak. Lorong itu berhas il digagalkan.” Av menghela napas, mengusap rambut putihny a. Aku terdiam, menelan ludah.

asi.com

TereLiye “Bumi” 210

Av mengetuk peta lagi perlahan. Gambar bangunan balon leny ap , berganti gambar kapal-kapal dan benda-benda mengagum-kan yang melayang di atas peta. ”Yang ketiga adalah Klan Matahari atau juga dikenal dengan Makhlu k Cahaya. Mereka tinggal di atas, di antara awan-awan. Mereka memilik i pengetah uan dan teknologi sama majuny a dengan Klan Bulan. Aku dengar mereka juga berhasil membuat kehidupan di dalam tanah, lebih dalam lagi diband ing peradaban kami, tapi aku tidak pernah melihatny a secara langsung. Seribu tahun lalu, saat Klan Bulan hendak menjajah Makhlu k Tanah, aku membuka sekat menuju Klan Matahari. Itulah jawaban yang kutemukan di Bagian Terlarang Perpustakaan. Kami membuat alians i dengan mereka. ”Jumlah mereka jauh lebih sedikit dibanding kami. Klan Mataha r i adalah penduduk yang tenang, hangat, dan ramah. Me-reka sama sekali tidak berpikir tentang ambisi berkuasa. Mereka lebih mencint a i persahabatan, kesetiakawanan. Kami susah payah membujuk penguasa Klan Matahari untuk mem-bantu, karena amat jelas, sekali penguasa Klan Bula n berhasil menguasai dan menjajah Makhluk Tanah, mereka tidak akan pernah merasa cukup, hanya soal waktu juga mereka akan me-nyerbu Klan Matahari. Tidak terbayangkan klan yang ramah itu memutuskan ikut perang. Penguasa mereka pada detik-detik ter-akhir memutus- ka n membantu. Lorong antardunia dibuka. Per-tempuran besar terjadi. Bany ak sekali Pasukan Cahaya yang tewas.” Av menunduk, menghela napas panjang, terdiam lama. ”Aku minta maaf jika membuat kamu harus mengingat hal itu, Av.” I lo memegang lengan orang tua dengan pakaian abu-abu itu. Av menghela napas, tersenyum getir. ”Tidak apa, Nak. Kalian harus mendengarnya, dan aku harus menceritakanny a. ”Setelah peperangan usai, penguasa Klan Matahari memutus seluru h lorong menuju dunianya. Aku kira itu tindakan bijak. Dunia mereka kacau-balau karena perang. Beberapa penduduk mereka mengungsi. Bole h jadi mereka terpaksa melintasi sekat antardunia. Aku tidak mende n g ar kabar dari mereka sejak hari itu. Juga tidak pernah

asi.com

TereLiye “Bumi” 211

bertemu salah satu dari mereka. Entahlah. Apa-kah dunia mereka semakin makmur atau semakin me­mudar.” Aku menatap lamat-lamat Seli di sebelahku. Av kembali mengetuk pelan peta. Gambar kapal-kapal dan benda terbang menghilang. ”Yang keempat adalah Klan Bintang, atau disebut juga Klan Titik Terjauh.” Tidak muncul gambar apa pun di atas peta Bumi selain garis-gar is benua. ”Sayangny a, tidak ada yang memiliki pengetahuan tentang dunia ini. Termasuk seluruh buku dan gulungan tua di perpustakaan. Tidak ada yang pernah menembus dunia mereka. Tidak ada yang tahu tingkat kebuday aa n dan kemampuan mereka. Beribu tahun tanpa kabar. Jika selama itu tidak ada yang tahu, itu boleh jadi dua hal. Pertama, dunia itu sudah memu d ar , dan kedua, dunia itu memang amat terpisah dari tiga dunia lainnya. Klan Bintang adalah dunia yang paling tua, mereka pasti memiliki pengeta h u a n paling maju.” Av mengetuk peta untuk terakhir kaliny a. Seluruh gambar kemba li muncul. Gambar rumah, jembatan, jalan, sawah, perkebunan, juga bangunan tinggi balon- balon, kapal-kapal, dan benda melayang, terlihat rapi di atas peta. ”Inilah empat dunia di atas satu planet yang kalian sebut Bumi. Empat kehidupan yang berjalan serempak. Tidak ada yang tahu satu sama lain. Tidak saling melihat, tidak saling ber-singgung-an. Ini sebenarny a inda h sekali tanpa ambisi perang dan saling menguasai. Empat dunia dalam satu tempat.” Av menatap peta itu, perlahan- lah an cahaya gambar dan garisny a redup lantas kembali seperti semula, menyisakan peta besar berdebu. Ruangan pengap itu lengang lagi sejenak. ”Apa yang dia jelaskan sejak tadi, Ra?” Ali berbisik tidak sabar, menyikut lenganku.

asi.com

TereLiye “Bumi” 212

Aku menatap Ali dengan tatapan jauh lebih menghargai. ”Dia menjelaskan bahwa semua yang kamu katakan tadi malam tentang empat lapangan di lantai aula sekolah itu benar.” ”Sungguh?” Ali menatapku tidak percaya. Aku mengangguk. Dia memang genius. ”Apakah kamu bisa menghilang, Nak?” Av bertanya padaku , mengabaikan Ali yang sekarang tertawa kecil dan berbisik-bisik kepada Seli, menyombong. Aku mengangguk. ”Kamu juga bisa menghilangkan benda­ benda di duniamu?” Aku mengangguk lagi. ”Apakah orangtuamu tahu kamu bisa menghilang?” Aku menggeleng. Av mengangguk takzim, menatapku lembut. ”Sudah kuduga. Mereka tentu saja tidak tahu. Kamu tahu kenapa mereka tidak tahu, Gadis Kecil?” Aku bingung dengan maksud tatapan itu. ”Karena mereka bukan orangtuamu yang sesungguhnya.” Apa! Tubuhku sontak me-matung. Orang tua berpakaian abu-abu ini bilang apa? Papa dan Mama bukan orangtuaku yang se-sungguhnya? Tidak mungkin! Tidak masuk akal. Mana mungkin Mama—yang pasti sekarang sedang rusuh mencariku di dunia kami—bukan mamaku? Atau Papa yang mungkin sedang buru-buru pulang—y ang selalu meninggalkan kantor jika ada situasi darurat seperti ini—bukan papaku? ”Itu benar, Nak. Jika kamu tidak bisa memercay ainy a, itu karena sepertinya tidak masuk akal. Bukankah kamu yang bisa meng- hilang ini jelas lebih tidak masuk akal dibanding fakta kecil itu? Suka atau tidak, kamu jelas bukan bagian dari Makhluk Tanah. Kamu penduduk Klan

asi.com

TereLiye “Bumi” 213

Bulan. Orangtuam u pasti dari sini. Entah siapa pun mereka. Apa pun alasa n mereka melaku-kan-ny a. Mereka berhasil meloloskanmu ke dunia Bumi, dan kamu tum-buh normal di sana, dengan segala keistimewaan yang amat isti­mewa.” Aku terhuyung, jatuh terduduk di atas bangku. Mama dan Papa bukan orangtuaku? Itu mustahil. Seli bergegas memelukku, bertanya cemas, ”Ada apa, Ra?” Juga Ali, lompat mendekat. ”Kamu sakit, Ra?” Aku merasa ruangan itu sangat pengap.

asi.com

TereLiye “Bumi” 214

LO memberikan segelas air segar. Aku menghabiskanny a dalam sekali minum —tidak peduli bentuk gelasnya seperti sepatu mons-ter. ”Apakah kamu yang mengirim benda besar dari duniamu, yang menghantam dua tiang rumah di dunia ini?” Av bertanya, se-telah ruanga n lengang sejenak. Aku mengangguk. Aku sebenarnya tidak terlalu mendengar ka n per-tanyaan Av, kepalaku masih dipenu hi hal lain. Bahkan kepala-ku denga n sempurna membay angkan Mama yang tersenyum di meja makan. Papa yang bercerita bijak di mobil menuju sekolah. Bagaimana mungkin? ”Kenapa kamu melakukanny a?” Av bertanya. Aku diam, menyeka peluh di dahi. ”Ini pertanyaan penting, Gadis Kecil. Jawaban yang kamu berika n mungkin bisa menjelaskan apa yang sebenarny a sedang terjadi. Baik, akan kubantu agar kamu bisa lebih fokus dan tenang.” Av memegang lembut tanganku. Sentuhan itu terasa hangat, menjalar ke seluruh tubuh, membuat perasaanku terasa ringan. Konsentrasiku membaik cepat. Av tersenyum. ”Kenapa kamu melakukannya, Nak?” ”Karena kami dalam bahaya,” aku menjawab pelan, suasana hatiku membaik. Aku tidak punya banyak pilihan. Dalam situasi yang semakin membingungkan, bercerita lengkap akan lebih baik. Maka aku mula i menceritakan kejadian di belakang sekolah. Ketika gardu listrik meled ak , kecelakaan, aku terpaksa menghilangkan tiang listrik itu. Kami lari ke dala m aula. Di aula datang delapan orang bersama sosok tinggi kurus itu, yang memaksaku ikut dengannya. Juga saat Miss Selena datang menyelamat ka n kami, me–nyuruhku memeriksa buku PR matematikaku yang diberi-kan- ny a beberapa hari lalu. Kami berpindah dari aula sekolah

asi.com

TereLiye “Bumi” 215

ke kamar-ku lewat lubang yang diciptakan Miss Selena, mengeluar-kan buku PR matematikaku, dan tiba-tiba kami sudah berada di dunia ini, terdam p ar di kamar Ou. ”Kamu ingat siapa nama sosok tinggi kurus itu, Nak?” ”Tamus,” aku menjawab pelan. ”Kamu tidak salah mengingatny a?” Wajah Av yang sejak tadi tenang terlihat berubah. Matanya redup. Suaranya bergetar. Aku menggeleng. Aku ingat sekali waktu Miss Selena menye-but- k a n nama itu. ”Ini sungguh buruk.” Av mengusap rambutny a. ”Aku kenal nama itu. Salah satu pemilik kekuatan Klan Bulan. Pang-lima perang saat negeri ini masih diperintah kerajaan. Dia masih hidup? Berkelana di Dunia Tanah? Ini benar-benar kabar buruk. Seribu tahun tidak terdengar, untuk sesora ng yang memiliki ke-mampuan lebih dari cukup menguasai seluruh negeri, itu berarti dia memilih menyiapkan rencana yang lebih besar.” ”Kenapa dia memaksaku ikut?” aku bertanya. Sentuhan yang diberikan Av tadi membuatku jauh lebih fokus. Aku bisa meng-ambil inisiat if percakapan. ”Ada banyak kemungkinan jawabanny a.” Av mengangguk. ”Satu saja kemungkinan itu benar, masalah kita jauh lebih serius daripada yang didug a . Apa pun yang sedang dia rencanakan, Tamus su-dah merencanaka nny a jauh-jauh hari. Fakta dia bisa melintasi se-kat dua dunia dengan mudah, itu berarti dia sering melakukan- ny a, termasuk mengawasim u sejak kecil. Kamu berbeda sekali dengan seluruh anggota Klan Bulan. Jika kamu dilahirkan di Dunia Tanah, itu berarti kamu bisa membuka sekat antardunia seperti yang dibutuhkan Tamus.” Aku menatap Av tidak berkedip. Ruangan pengap itu lengang sejena k . ”Untuk menguasai dunia lain, Tamus harus mengirimkan puluh a n bahkan ratusan ribu pasukan. Kamu tidak bisa datang sendirian

asi.com

TereLiye “Bumi” 216

menaklukkan Dunia Tanah. Nah, mengirim banyak orang tidak bisa dilakukan dengan portal biasa yang hanya mengirim diriny a sendiri atau lewat buku seperti yang kalian lakukan, amat terbatas kapasitasnya. Lagi pula, yang membuat- ny a semakin rumit, saat berpindah ke dunia lain, kekuatan itu tidak berguna lagi, kecuali dia bisa mengondisikan tempat yang dituju sesuai dengan dunia asliny a. Bukankah itu yang terjadi saat Tamus dan delapan anak buahny a mendatangi sekolah kalian?” Aku mengangguk. Aula sekolah beruba h remang seperti dunia ini. ”Ratusan ribu pasukan, Av?” Ilo memotong di sebelahku. Av mengangguk. ”Benar, ratusan ribu pasukan.” ”Dari mana dia memperoleh pasukan sebanyak itu?” ”Itulah yang kucemaskan sekarang. Tamus sudah merencana­kan ini jauh-jauh hari. Bukan tentang kesalahan teknis lorong berpindah setahu n terakhir yang membuatku prihatin. Tapi situasi di komando Pasuka n Bayangan dan puluhan akademi seluruh negeri. Bukankah anakmu Ily sudah setahun terakhir tidak pulang?” Av bertanya sam­bil menghela napas suram. Ilo mengangguk. ”Akademi menetapkan seluruh anak diwajib­ ka n menghabiskan liburan panjang di sekolah. Ada program tambahan.” ”Benar. Itu bukan hanya kebijakan satu akademi tempat Ily sekola h , ratusan yang lain juga melakukanny a secara serempak.” Av menatap meja lamat­lamat. ”Belum lagi betapa lambat dan membingungkan respons Komite Kota setahun terakhir dalam setiap kasus. Mereka lebih sibuk membuat banyak perubahan peraturan. Mengendurkan hal-hal yang seharusnya tidak boleh dimudahkan, sebalikny a memperketat hal-hal yang seharusnya sederhana. Kapan kamu terakhir kali menghubungi Ily?” Ilo menahan napas. ”Seminggu yang lalu. Dia bilang baik­baik saja.” ”Semoga demikian.” Av ke­khawatiran orang tua ini saja.”

mengangguk.

”Semoga

ini

asi.com

hanya

TereLiye “Bumi” 217

”Bagaimana aku akan membuka sekat ke dunia lain? Padahal kami sendiri sekarang bingung mencari cara untuk pulang,” tanya­ku. ”Aku tidak tahu, Nak.” Av menatapku. ”Ada dua buku penting yang hilang di Bagian Terlarang saat pertempuran besar antar-dunia seribu tahun lalu. Yang pertama adalah buku dengan sam-pul bergambar bulan sabit menghadap ke bawah, Buku Kemati- an. Buku itu mengerikan, penu h rahasia gelap. Aku tidak tahu siapa yang memegangny a sekarang, setidak ny a bukan Tamus, dan jelas buku itu tidak akan pernah diwariskan kepada ny a . Ka-rena itu, Tamus tidak bisa membaca buku yang bukan miliknya. ”Satu buku lagi yang hilang adalah buku dengan sampul ber­gam b ar bulan sabit menghadap ke atas, buku yang kamu pegang sekarang, Buku Kehidupan, berisi tentang kebijaksanaan hidup. Jika buku ini milik m u , kamu akan bisa membacanya. Siapa pun yang membaca salah satu buku ini akan tahu bagaimana mem-buka sekat ke dunia lain.” ”Tapi buku ini kosong.” membuka sembarang halaman.

Aku meraih

buku PR matematika k u ,

”Sesuatu yang terlihat kosong bukan berarti tidak ada apa pun di dalamnya. Bahkan kalian baru saja mengetah ui, sesuatu yang tidak kita lihat sehari-hari, ternyata bersisian dan nyata di sebelah kita.” Av menata p k u sambil tersenyum. ”Aku hanya pen­jaga perpustakaan, bagian ini hany a menyimpan dan meng-am ankan benda-benda tua berbahay a dari rencana jahat. Kami bukan pemiliknya. Aku juga tidak bisa membacanya. Tetapi saat buku ini bersinar mengambang di udara beberapa waktu lalu, dan wajah m u memantulkan cahaya cemerlang, aku tahu, kamu adalah pemiliknya. Jadi setidakny a aku tidak akan meminta buku ini dikembalikan dan kamu tidak akan terkena denda tidak memulangkan buku perpustakaan selama seribu tahun.” Itu humor yang baik, sayangny a dalam situasi ini kami tidak muda h tersenyum. ”Dia bilang apa, Ra?” Ali berbisik, bertanya. ”Nanti akan kuceritakan lengkap. Tidak se­ka­rang.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 218

Ali menatapku sebal. Aku balas melotot. ”Bagaim ana aku akan men­ceritakannya sekarang? Aku kan bukan penerjem ah.” Ali langs u n g diam. ”Sayangny a, aku tidak mengenal orang bernama Selena yang kamu sebutkan. Aku tahu nama itu berarti ‘bulan yang indah’, juga sekalig u s ‘pemberi petunjuk’, ‘penjaga warisan’, atau ‘benteng terakhir’. Entah la h , siapa dia dan apa peran yang dia mainkan. Ada banyak orang penting yang hilang setelah perang besar, termasuk anggota kerajaan.” Av menggele ng . ”Tapi jika dia me­lindungi kalian dari Tamus, dia berada di pihak kalian. Jika dia berani me-lawan Tamus, dia termasuk penduduk Klan Bulan yang me-miliki kekuatan penting. Siapa pun yang berhadapan dengan Tamus tidak punya banyak kesempatan untuk pergi dengan selamat.” Aku menund uk, mengusap wajahku. Ekspresi wajah Miss Selena yang menahan pukulan Tamus melintas sejenak di kepalaku. ”Apakah kamu bisa mengirim kami pulang ke dunia kami?” aku bertanya. Av menggeleng. ”Aku hanya pustawakan, Nak. Istilahnya me­ ma ng terlihat hebat, Penjaga Bagian Terlarang, tapi aku tidak bisa melintas ke dunia lain, apalagi membantu orang lain ke sana. Ada hal-hal yang kukuas a i, ada yang tidak. ”Kamu harus tahu, tidak semua penduduk Klan Bulan me­milik i kekuatan seperti Tamus, berusia ribuan tahun, bisa meng-hilang, bisa bertempur, tubuhny a bisa tahan terhadap pukulan. Sebagian besar dari kami sebenarny a sama seperti Makhluk Tanah di dunia kalian, penduduk biasa. Ilo misalny a, dia bahkan tidak bisa menghilang walau sedetik, tidak bisa meloncat lebih tinggi dari dua meter, tapi dia jelas tetap spesial denga n ke-mampu-an- ny a. Ilo pekerja kreatif yang penuh imajinasi, desainer ter-sohor. Pakaian abu-abu ini, aku suka sekali mengenakannya, ny ama n dan efektif, bukti betapa spesialny a dia.” ”Tapi bagaimana dengan Miss Selena? Tidak adakah cara untuk mengetahui kabarny a?” aku mendesak. Bukankah dunia ini memilik i teknologi maju?

asi.com

TereLiye “Bumi” 219

Av menggeleng. ”Tidak ada yang bisa kita lakukan.” Aku mengeluh, kecewa. ”Bagaimana kalau aku menghilangkan benda di dunia ini? Apakah dia akan muncul di dunia kami?” Aku teringat sesuatu, memastikan.

”Tidak bisa. Kamu tidak bisa menghilangkan benda yang sudah hila ng . Benda itu hanya hilang sesaat lantas muncul lagi di tempat yang sama. Sudah sifat di dunia ini, Klan Bayangan. Jika itu bisa dilakukan, Tamus denga n mudah mengirim pasuk-annya ke Dunia Tanah. Dengan seluruh kekuata n yang dia miliki, bahkan Tamus hanya bisa mengirim diriny a sendiri dan beberapa orang. Kamu memerlukan sesuatu, entah itu benda, atau kekuata n yang lebih besar agar bisa muncul di dunia kali­an.” ”Lantas apa yang harus kami lakukan sekarang agar bisa pu­lang?” aku bertanya, pertanyaan paling penting setelah pen-jelas-an panjang lebar darinya. Av terdiam. Dia mengusap rambutny a yang putih, berpikir. Pintu bulat menuju Bagian Terlarang berderit didorong se-belum Av bicara. Kami menoleh. Pintu itu terbuka. Ibu ber-usia separuh baya yang menemu i kami di ruangan depan per-pustakaan berdiri dengan wajah pucat di bawah bingkai pintu. ”Ada apa?” Av berseru. ”Di luar ada yang memaksa masuk ke Bagian Terlarang,” suara ibu itu bergetar. ”Suruh tunggu, aku akan menemui mereka sebentar lagi,” Av menjawab tegas. Dia menoleh kepada kami, tersenyum. ”Dari dulu, selalu saja ada yang memaksa masuk ke ruangan ini. Termasuk Ilo. Dia sudah lebih dari tiga kali memaksa masuk, penasaran ingin tahu. Mereka kira ini tempat pameran benda bersejarah atau bagian paling seru di sebuah museum.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 220

”Mereka tidak mau diminta menunggu, Av.” Suara ibu itu mende s ak , kalut dan gentar. ”Mereka tidak datang sendiri atau berempat. Mereka datang seribu orang. Lapangan rumput di­penuhi Pasukan Bayangan.” ”Astaga!” Av menatap ibu itu, memastikan. ”Kami tidak bisa menahan mereka lebih lama lagi. Mereka meng-ancam memaksa masuk. Mereka membawa surat perintah dari Komite Kota untuk memindahkan seluruh isi Bagian Ter-larang ke tempat yang lebih aman.” ”Lebih aman?” Av tertawa kecil. ”Mereka bergurau.” Av menoleh ke arahku, berpikir cepat. ”Apa yang kucemaskan terjadi lebih cepat, Nak. Ini serius. Bola salju itu telah dige-lindingkan, hany a hitungan menit, eskalasiny a akan membesar, menyebar ke seluruh kota. Seribu Pasukan Bayangan mendatangi Perpustakaan Sentral, jelas tidak sedang ingin meminjam buku. Tamus berada di belakang mereka. Dia telah mencungkil kem-bali kejadian seribu tahun lalu. Dalam setiap pertika ia n besar penguasa Klan Bulan, salah satu yang harus dikuasai segera ada- la h Bagian Terlarang perpustakaan ini.” Av menoleh lagi ke pintu bulat, berseru tegas, ”Aktifkan se­luru h sistem keamanan bagian ini. Segel kembali pintunya. Jangan izinkan siapa pun masuk. Jika mereka memaksa, biarkan saja mereka melintasi lorong depan ruangan ini. Kita lihat se-berapa pintar pasukan tersebut.” Ibu separuh baya itu mengangguk, bergegas balik kanan. Av mengem buskan napas pelan, tetap terlihat tenang. ”Nah, sekarang , apa yang harus kalian lakukan? Aku tidak tahu, Gadis Kecil. Semua masih gelap. Tapi sebagai langkah pertama, segera tinggalkan perpustak a a n. Tempat ini akan jadi arena pertempur- an dan aku tidak mau kalian berada di sini. Aku harus me-masti-kan seluruh buku dan benda-benda terlarang ini aman sebelum mengambil langkah berikutnya.” Av beranjak ke lemari tua, menarik salah satu kotak dari ba- wah lemari, membawanya ke atas meja. Debu tebal beterbangan saat tutup kotak dibuka.

asi.com

TereLiye “Bumi” 221

”Akan aku hadiahkan ini kepadamu.” Av mengeluarkan isi kotak. ”I ni bukan sarung tangan biasa seperti yang terlihat. Ini milik salah satu petarung terbaik yang pernah dimiliki Klan Bulan. Ini bisa membantumu menjaga diri dalam kekacauan yang akan segera terjadi.” Sarung tangan itu berwarna hitam, terbuat dari kain lembut dan tipis syukurlah, tidak lengket. Aku menerim any a ragu-ragu. Av terseny um , mengangguk, menyuruhku langsung me-makai- nya. Aku perlah a n mengenakan sarung tangan itu. Bahkan Ali, si genius itu menatap tertarik ketika sarung tangan itu sem-purna kupakai. Warna hitamnya terny ata memudar, kemudian berganti warna persis seperti warna kulit tanga nk u . Aku meng-gerak-gerakkan jari-ku, seakan tidak me-ngenakan sarung tanga n apa pun. Masih ada satu benda lagi di dalam kotak itu. Juga sarung ta-ngan, berwarna putih terang. ”Yang itu bukan milik klan kita.” Av menggeleng. ”Itu milik Klan Matahari. Aku menyimpannya dari salah satu sahabat lama setelah pertempuran antardunia berakhir.” Aku menoleh ke arah Seli. ”Temanku mungkin bisa memakai­ nya.” Av ikut menatap Seli, menggeleng. ”Sarung tangan ini hanya bisa dipakai anggota Klan Matahari, bukan Makhluk Tanah. Maaf-kan aku harus berkata demikian.” ”Seli bisa mengeluarkan petir dari tangannya,” aku berkata tegas. ”Mengeluarkan petir?” Av menatapku serius. Aku mengangguk mantap. ”Dia dari Klan Matahari?” Aku menggeleng. ”Aku tidak tahu. Setahuku Seli teman baik­ku di sekolah selama ini.” ”Jika benar demikian, ini sungguh mengejutkan.” Av menoleh lagi arah Seli, menyelidik, lalu menatapku. ”Kenapa kamu tidak bilang

asi.com

ke

TereLiye “Bumi” 222

sejak awal bahwa temanmu bisa mengeluarkan petir dari tangan?” Av kembali memperhatikan Seli. Seli justru menoleh padaku, menyikut lenganku, bertanya apa yang diucapkan orang berpakaian abu-abu di depanny a. Av berlutut, menyentuh tangan Seli, meng-angkat- ny a , meng-usap- nya perlahan, percikan kilat memancar se-belum usapan itu selesai. Av menatap Seli dengan wajah antu­sias. ”Kamu benar. Ini tanga n seorang anggota Klan Matahari. Aku sungguh tidak pernah berpikir akan bertemu dengan me-reka setelah seribu tahun berlalu. Lihatlah, berdiri di depanku, bukan hanya anggota Klan Matahari kebanyakan, pendud uk biasa, melainkan juga seseorang yang memiliki kekuatan me-ngeluarkan petir. Kamu pasti salah satu petarung terbaik mereka.” Seli bergantian menatapku, menatap orang di depannya, me-neba k arah percakapan. ”Baik. Ini semakin menarik. Bahkan sangat menarik.” Av meng­ u s a p rambut putihny a, meraih sarung tangan tersisa di kotak berdebu. ”Kalia n teman dekat, tinggal di Dunia Tanah, satu sekolah. Siapa pun Miss Selena yang kamu sebut tadi, dia pasti memiliki rencana besar. Dia menyim p a n sesuatu. Kabar baik-nya, semoga dia memang berada di sisi kita. I ni untukmu, pe-tarung dari Klan Matahari. Sungguh kehorma ta n mengembali-kan sarung tangan ini.” Seli ragu-ragu menerima menyuruhny a memakainy a.

sarung

tangan

itu. Aku mengang g u k ,

”Dengan berlatih keras, kamu bisa menghasilkan petir berkali- k a li lipat lebih hebat dengan sarung tangan ini. Ketahuilah, sumber kekuata n terbaik adalah yang sering disebut dengan tekad, kehendak. Jutaan tahun usia planet ini, ribuan tahun ke-hidupan tiba di dunia ini. Semua menc ob a bertahan hidup. Maka kehendak yang besar bahkan lebih kuat diband ingk a n kekuatan itu sendiri. Dalam kasusmu, dibandingkan kekuata n meng-hasilkan petir, berlari di atas cahaya, menggerakkan benda-benda dan berbagai kemampuan mengagu mkan lainnya yang akan kamu kuasai, kehendak yang kokoh bisa menggandakan ke-kuat-an yang kamu milik i menjad i berkali-kali lipat.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 223

Sarung tangan putih itu juga memudar, berganti warna sesuai warna kulit saat sempurna dikenakan Seli. Dengan ragu-ragu Seli menggerak- gerakkan jemariny a, lentur, seperti tidak me-ngenakan apa pun. ”Apakah dia juga punya satu untukku?” Ali berbisik. Aku menoleh. ”Apanya?” ”Kalian berdua dikasih sarung tangan keren, kan? Apakah orang berpakaian abu-abu ini juga punya sarung tangan untuk-ku? Tidak apa walaupun berwarna pink. Yang penting sehebat punya kalian, bisa meny atu dengan kulit.” Ali menatapku se-rius. Aku hampir menepuk dahi mendengar kalimat si genius ini. Dala m situasi seperti ini? Dia bilang apa tadi? Warna pink? Tetapi Av memperhatikan percakapan kami. ”Apakah dia juga memiliki rahasia kecil?” Av bertanya, me­nunjuk Ali. Ali? Punya rahasia kecil? Aku hampir saja kelepasan bilang iya, si genius ini orang paling menyebalkan di sekolah, si biang kerok, dan tukang mengajak bertengkar. Apakah Av pu-nya alat yang bisa membuat Ali sembuh dari perangai jelek ter-sebut? Aku mengangguk. Aku memutuskan menilai Ali lebih baik. ”Dia bahkan sebenarny a sudah tahu ada empat dunia di Bumi yang berjala n serempak.” ”Oh ya?” Av memandang Ali dengan tatapan tertarik. ”Dari mana dia tahu? Apakah setelah membaca buku tertentu? Atau ada yang memberitahu ny a?” Aku menggeleng. ”Dia menyimpulkanny a sendiri.” ”Kamu tidak bergurau?” Mata Av membesar, antusias. Aku menggeleng. Sesebal menilainy a dengan baik.

apa pun aku terhadap

Ali, aku akan

asi.com

TereLiye “Bumi” 224

Av duduk, meraih tangan Ali, mengusap telapak tangan anak itu per­lahan, lalu tersenyum. ”Kalau saja situasiny a lebih baik, dengan senang hati aku akan menawarkan seluruh isi perpustaka- an ini untuk dipela ja r i seseorang yang amat brilian. Kamu Makhluk Tanah yang spesial. Meskip u n klan kalian tidak ada yang me-miliki kekuatan seperti penduduk dunia lain, boleh jadi ke-mampu- an kalian belajar adalah kekuatan itu sendiri. Atau entah-lah, mungkin ada bentuk kekuatan lainny a yang kamu miliki. Ada banyak yang tidak diketahui oleh orang paling ber-pengetah uan sekalipun.” ”Dia bilang apa?” Ali menoleh kepadaku, semangat. ”Tidak ada hadiah untukmu hari ini,” aku menjawab terus terang. Ali terlihat kecewa, padahal dia sudah senang sekali saat ta-ngan- ny a diperiksa. Ali dengan wajah kusut menunjuk lemari tua, berbisik padaku . ”Bukankah masih banyak kotak berdebu di lemari itu? Masa tidak ada hadiah untukku?” ”Waktu kita semakin sempit. Ilo, kamu pimpin anak­anak keluar dari ruangan ini.” Av sudah berdiri lagi, berjalan cepat menuju lemari. Dia menekan tuas tersembuny i. Lemari itu ber-geser, ada lubang kecil di dinding. Di dalamny a sebuah tangga besi tua terlihat. ”Ini bukan cara lari yang canggih. Lubang berpindah pasti sudah diawasi Komite Kota. Kalian juga tidak bisa menggu nakan jalur kapsul di depan gedung perpustakaan. Mereka pasti meme-riksa siapa pun yang keluar. Tangga primitif ini cara paling brilian, tidak akan ada yang menduganya. Segera masuk. Mereka sudah mulai menyerang.” Av benar, terdengar dentuman kencang di luar, juga teriakan- teriaka n keributan. Ilo masuk lebih dulu, disusul Ali dan Seli. ”Bagaimana denganmu?” aku bertanya. Av tertawa. ”Jangan mengkhawatirkanku. Merekalah yang ha­ rus kamu khawatirkan. Sistem keamanan itu bukan satu-satunya pertaha na n Bagian Terlarang. Ayo bergegas, kita pasti akan bertemu lagi cepat atau

asi.com

TereLiye “Bumi” 225

lambat. Kalian akan aman sepanjang tidak ada yang tahu kalian berada di dunia ini. Tamus mengirim anak buahny a tidak untuk mengejar kalian. Dia memburu isi ruangan ini.” Aku memasuki lubang tua, sepertiny a sudah lama sekali tidak ada yang menggunakanny a. Lubang tua ini dipenuh i jaring laba-laba. Av menatap Ilo. ”Jangan membuat kontak dengan siapa pun, Ilo. Kamu bawa mereka ke tempat yang aman. Hati-hati meng-gunakan sistem transportasi umum. Setidaknya, kamu amat terkenal di kota ini. Semoga itu berguna mengalihkan perhatian orang­ orang jika ada yang bertanya.” Ilo mengangguk. ”Dan kamu, hati­hati dengan kekuatan yang kamu miliki. Janga n gunakan sembarangan di tempat terbuka. Itu bisa meng-undang perhatia n banyak orang. Sekali Tamus tahu kamu sudah ber-ada di dunia ini, seluru h Pasukan Bayangan akan mengejar­ mu.” Aku mengangguk. Av menarik tuas. Lemari itu bergerak kembali ke posisi se-mula , menutup lubang, membuat gelap ruang sempit dengan anak tangga besi. Kami sepertinya harus memanjat anak tangga ini ke atas. Kami mendongak. Seli langsung bergumam, ”Ra, ujung lubang itu jauh sekali di atas sana. Saking jauhny a, hanya titik kecil cahaya yang terlihat. Gedung perpustakaan ini pastilah ratusan meter di perut Bumi.” Aku mengangguk. Terdengar dentuman lagi di kejauhan. Dind in g lubang ber-getar kencang, satu-dua kerikil di dinding berjatuhan. ”Ayo anak­anak, bergegas.” Ilo sudah lebih dulu memanjat.

asi.com

TereLiye “Bumi” 226

AMI tiba di ujung lubang setelah susah payah memanjat tangga besi. Rambut dan wajah kami kotor terkena sarang laba-laba, juga tanah lembap dan tetesan air yang sesekali mengalir di dinding. ”Kalian baik­baik saja?” Ilo bertanya. Napasny a tersengal. Aku dan Seli mengangguk. Kami baik-baik saja. Ali terduduk di lantai, kelelahan. Dia sepertinya memilih istirahat sebentar. ”Ayolah, aku jelas tidak memiliki kekuatan ajaib seperti kali­an,” Ali berseru sebal saat aku menatapnya, menyuruh bangun. ”Memanjat ta ngga setinggi dua ratus meter bukan hobiku. Dan kalian bahkan dileng k a p i dengan sarung tangan keren itu.” Aku hampir tertawa melihat wajah protes si genius itu. ”Kita ada di mana?” Seli bertanya, sambil menyeka wajah yang basah. Debu dan kotoran yang melekat di pakaian kami segera berguguran saat dikibaskan, bersih seketika. Pakaian yang kami kenakan banyak memba nt u saat memanjat tangga besi. ”Kita berada di tengah hutan lembah,” Ilo yang menjawab. Sebenarnya maksud pertanyaan Seli bukan di mana?, karena kami semua tahu ini persis di tengah hutan lebat. Pohon- pohon menjulang tingg i. Cahaya matahari seolah tidak mampu menembus rapatnya dedau na n. Belum pernah aku menyaksikan pohon setinggi dan sebesar ini. Burung- burung berukuran besar juga beterbangan di atas kepala, sayapny a terentang lebar, berwarna- warni indah. Serangga berbunyi nyaring , satu-dua me-lintas dengan ekor mengeluarkan cahaya atau say ap bekerlap-kerlip. Sepertinya tumbuhan di dunia ini memang tumbuh dengan ukuran raksasa. Aku mengenali beberapa tumbuhan, seperti jamur, pakis, dan ganggang di dasar hutan, tapi ukurannya tum-buh hingga sepaha kami.

asi.com

TereLiye “Bumi” 227

Satu-dua ada yang lebih tinggi dari-pada kami. Ujung daun ganggang melingkar sebesar pergelangan tangan. Suara melenguh binatang liar di kejauhan terdengar. Disusul lengu h a n lain yang saling bersahutan. Panjang dan lantang, ter-dengar seram. Aku dan Seli saling tatap, menahan napas. ”Kita harus segera pergi dari sini.” Ilo memeriksa sekitar, meneka n tombol peralatan di lengan. ”Tempat ini tidak aman. Ada banyak hewan buas. Meski halaman rumah kami adalah hutan, tidak ada penduduk kota yang mau menghabiskan waktu turun ke dasar hutan, kecuali di lokas i wisata tertentu. Hewan buas berkeliaran di mana­ mana.” Demi mendengar kalimat Ilo yang kuterjemahkan, Ali tidak perlu disuruh dua kali. Dia segera bangkit, sambil menyeka ke-pala, membersihkan jaring laba-laba dan debu yang menempel. ”Hewan buas?” Seli bertanya memastikan. ”Iya, seperti singa atau beruang,” Ilo menjawab. Aku menelan ludah. Kalau jamur saja ada yang setinggi paha kami, akan sebesar apa singa atau beruang di dunia ini? Kami sebaikny a bergega s mencari tempat yang lebih aman. Belum sempat aku menany akan hal itu kepada Ilo, di depan kami su-dah melom pat seekor binatang, menggeram di atas dahan rendah, menatap kami, menyelid ik. ”Itu apa?” Seli lompat ke belakang, kaget. Ali ikut merapat. ”Kucing liar,” Ilo menjawab dengan suara cemas. ”Kucing?” Seli berseru tidak percaya. Binatang di depan kami ini lebih mirip serigala atau harim a u diband ing kucing. Aku mengeluh, teringat kejadian saat Tamus datang lewat cermin kamar, memaksaku menghilangkan novel dengan menyuruh si Hitam mengancam akan merobek kepala si Putih jika aku gagal melakukannya. Ukuran kucing liar ini persis sama dengan si Hitam, hany a bedanya warnany a kelabu, ekornya panjang cokelat.

asi.com

TereLiye “Bumi” 228

Kucing liar itu menatap kami dengan kencang, memperlihatkan taring dan cakarny a.

mata tajam, mengger a m

”Pergi!” aku berseru lantang. Kucing itu bergeming. Buluny a berdiri tanda siap menyerang. ”Jangan coba­coba!” Aku balas menatap galak. Teringat kelaku­an si Hitam, aku lebih merasa sebal dibanding takut pada kucing sok berkuas a di hadapan kami—meskip un aku tidak tahu bagaim ana menghadapiny a. ”Pergi!” aku berseru semakin lantang. Ilo di sebelahku berusaha meraih sesuatu di dasar hutan yang bisa dijadikan senjata. Ali dan Seli berdiri rapat di belakangku. ”Hush! Pergi!” Aku mengangkat tangan, balas mengancam. Kucing liar harimau lompat.

itu justru

meloncat,

menyerang

cepat—lebih

mirip

Tanganku yang mengepal sejak tadi juga bergerak cepat, memukul ke depan. Angin pukulanku terdengar berderu, lan-tas berdentum keras. Masih dua meter lagi jaraknya, kucing liar itu sudah terbanting mengha nta m pohon, jatuh ke dasar hutan, kemudian lari terbirit-birit menjau h sambil mengeong lirih. Aku menatap jemariku. Sarung tangan yang kukenakan ini hebat sekali. Aku hanya memuku l biasa, tapi kekuatan yang keluar berkali lipat di luar dugaanku. Sepotong hutan tempat kami terdampar lengang sejenak. Suara dentuman kencang membuat burung- burung terbang men-jauh. Serang g a berhenti berderik, juga lenguhan dan lolongan hewan liar yang susulmenyusul tadi menghilang. ”Itu pukulan yang mengagu mkan, Ra,” Ilo memuji. Dia meng- h e la napas, melemparkan potongan kayu kering ke dasar hutan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 229

Aku masih menatap jemariku. Av benar, sarung tangan ini amat berguna. ”Kita harus segera pergi. Masih banyak hewan liar lain yang mungk in muncul. Ini hutan dengan usia ribuan tahun. Tidak pernah disentuh Klan Bulan, dibiarkan tumbuh subur.” Ilo mem­baca peralatan di pergela n ga n tanganny a, mencari posisi tujuan. ”Kita menuju ke utara, ada stasiun kereta darurat di permukaan tanah dua kilometer dari sini. Kalian bisa berjala n sejauh itu?” Aku dan Seli mengangguk. Ali mengem buskan napas kuat-kuat. Ilo sudah berjalan di depan, kami segera beriringan mengik u t i, menerobos hutan. Serangga kembali berderik ramai, juga burung-burung besar. Satudua berbuny i dengan irama panjang, satu-dua melengking keras. Setidak ny a sepanjang perjalanan tidak ada binatang hutan yang mengganggu, hany a melintas kemudian lari. Seperti- nya dentuman pukulanku tadi meng ir im pesan yang jelas. ”Aku belum pernah melihat bunga anggrek sebesar itu,” Seli berbisik di belakangku, menunjuk. Aku ikut mendongak, menatap juntaian bunga anggrek indah di daha n pohon. Kami satu-dua kali berhenti sebentar karena Ilo mencocokkan arah. Aku memperhatikan bunga anggrek dengan kelopak sebesar telapak tangan. Entah bagaimana, ukuran tumbuhan dan hewan di dunia ini besar-besar. Saat tadi pagi menatap hamparan hijau dari jendela bangu na n balon yang tingginy a ratusan meter dari permukaan hutan, aku tidak membay angkan isinya seperti ini. ”Karena pendud uk dunia ini tidak pernah merusak hutanny a.” Itu teori si genius Ali. Dia menjelaskan sambil terengah-engah mendaki lereng . ”Ilo bilang, usia hutan ini ribuan tahun, bukan? Tidak pernah digang g u . Maka pohon-pohon tumbuh maksimal. Lingkungan yang subur dan terjaga memberikan semua nutrisi yang diperlukan. Hewan juga

asi.com

TereLiye “Bumi” 230

berkembang maksimal, bahkan mereka terus mengalami evolusi, tidak terhenti karena intervensi besar-besaran dari manusia. Itulah kenapa di dunia ini kucing liar bisa sebesar serigala. Kucing itu tidak menga la m i domes­tikasi atau dipelihara.” Lantas bagaimana Ali akan menjelaskan rombongan kupu-kupu yang baru saja melintas di kepala kami? Yang satu ini ukur-an- ny a sama persis dengan kupu-kupu yang kukenal. Beda-ny a, jumlah mereka ribua n, terbang berkelompok. Saat hinggap, rombongan kupu-kupu itu meng u b a h warna sebatang pohon menjadi warna-warni pelangi, seluruh dedau na n tertutupi. Kami berhenti sejenak. Ilo kembali memeriksa arah stasiun darurat. Aku dan Seli menatap terpesona. Pemandangan di de-pan kami sungg u h menakjubkan. Kami kira tadi itu pohon yang berbeda warnany a, terny ata dihinggapi kupu-kupu. Seekor bu-rung besar ikut hinggap, mengg e b a h kupu-kupu terbang. Kupu-kup u itu pindah serentak ke pohon lain, terlihat me-nawan. Ali menggeleng, seolah tidak percaya dengan apa yang dilihat- ny a , lebih tepatnya mencari penjelasan baru. ”Entahlah, mungkin kupu­kupu ini meng-alami pengecualian. Ukuran mereka tetap kecil.” ”Kamu pastilah murid paling pintar di sekolah,” Ilo tetap me­muji Ali. ”Semua guru pasti bangga memiliki murid sepertimu.” Aku yang sejak tadi berbaik hati membantu menerjemahkan kalim at Ali kepada Ilo, dan sebaliknya, menahan tawa. Sejak kapan Ali memb u at guru bangga? Yang ada si biang kerok ini selalu membuat repot guru, kecuali Miss Keriting. Kami terus mendaki lereng bukit. Stasiun kereta darurat masih separuh perjalanan. Sejauh ini tidak ada binatang buas yang mengha m b at laju kami, kecuali lereng terjal berbatu, me-maksa kami berjalan lebih hati-hati. Dari lereng ini, kami bisa melihat ribuan bangunan berbentu k balon di lembah hutan, jauh, puluhan kilometer di bawah sana. ”Lantas bagaimana kamu akan menjelaskan kenapa orang­ or a n g tertentu memiliki kekuatan? Seperti menghilang atau mengeluarkan petir.

asi.com

TereLiye “Bumi” 231

Bahkan di Klan Bulan ini banyak penduduk yang tidak percaya mereka ada,” Ilo bertanya, tertarik. Mereka sudah terlibat percakapan serius sepanja n g sisa perjalan-an— nasibku terpaksa menjadi penerjem ah mereka. ”Itu tidak terlalu sulit dijelaskan,” Ali menja wab kalem—si genius ini jangan coba-coba dipancing pertanyaan yang memang dia tunggu. Dia akan sok sekali menjawabny a. ”Jawabanny a, karena orang­ orang tersebut mewarisi gen istimewa di tubuhny a. Sama seperti hewan atau tumbu h a n, yang memiliki kemampuan spesial agar bisa bertahan hidup, atau untuk tetap superior. ”Misalnya, hewan bunglon di dunia kami, bisa berganti warna kulit menyesuaikan lingkungan di sekitarnya, mimikri, sehingga terlihat seola h bisa menghilang. Atau salah satu jenis salamander bisa melaku ka n regenerasi memperbaiki jaringan otak, jantung, apalagi hanya kakinya. Atau seekor rusa yang tanduknya patah, bisa menumbuhkan kembali tanduk seberat 23 kilogram hanya dalam waktu dua belas minggu. Bukankah bagi orang- orang yang tidak tahu, fakta itu termasuk kemampuan yang tidak masuk akal? ”Padahal itu simpel, karena mereka memang memiliki gen spesia l. Coba lihat, cecak bisa merambat di dinding karena te-lapak kakinya didesa in sedemikian rupa. Belut listrik bisa menyengat karena dilengkapi sistem listrik. Bahkan ikan buntal, blowfish, yang kecil dan menggemaskan, bisa tiba-tiba membesar berkali-kali lipat dari ukuranny a karena memiliki desain per-tahan-an tersebut saat merasa terancam, lengkap dengan duri- du r i tajamnya. ”Maka masuk akal saja, jika manusia memiliki gen istimewa yang sama, diwariskan, bahkan dilatih, mereka kemudian bisa memiliki kekuata n. Apalagi di dunia ini, dengan lingkungan yang masih terjaga, kemungk ina n gen istimewa itu terus diwariskan semakin besar, berbeda dengan Bumi yang lingkunganny a rusak. Manusia berhenti mengalam i evolusi. Atau boleh jadi, mungkin masih ada manusia di Bumi yang memiliki kemampuan seperti ikan buntal, berubah menjadi besar. Siapa yang tahu.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 232

Aku yang baru saja menerjemahkan kalimat Ali untuk Ilo ter– diam sejenak. Aku tidak tahu apakah Ali serius atau me-ngarang. Apa yang dikatakan Ali kadang terlalu sederhana untuk di-bantah, dan sebalik ny a kadang terdengar terlalu sederhana untuk menjelaskan permasalahan rumit. ”Masuk akal.” Ilo tertawa, tetap memuji Ali. ”Av benar, kamu sepertinya remaja paling pintar yang pernah dikenal.” Aku menghela napas. Aku bisa menghilang dengan menutup- ka n telapak tangan di wajah karena aku mewarisi gen meng- hilang dari orangt u a yang tidak kukenal? Itu jelas bukan sekadar bunglon yang bisa beruba h warna. Itu lebih susah dipercaya. Me-mang- nya ada hewan yang bisa menghilang? Kalau belut listrik untuk perumpamaan kemampuan Seli mungkin bisa ma-suk akal. Tetapi memangny a ada hewan yang bisa mengeluarkan petir? Kami hampir tiba di stasiun darurat, melewati bagian lereng yang dipenuh i bunga-bunga berukuran raksasa. Ini sepertinya bunga dande lion atau sejenisnya yang banyak tumbuh di pe-gunungan dengan warna-w ar n i mengagumkan. Tapi bukan itu yang paling menarik . Di atas bunga-b u ng a itu, terbang ber-gerombol burung kolibri yang sedang mengisap serbuk sari. Di dunia kami, burung dengan paruh panjang ini besarnya hanya sekepala n tangan anak-anak, di sini besarnya tiga kali lipat. Gerakan sayapnya yang cepat membuat mereka mengam bang seperti helikopter, sambil mengis a p bunga. ”Lihat, ada yang mengeluarkan cahaya!” Seli berseru riang, menu nju k kerumunan burung kolibri yang lain. Aku menoleh. Indah sekali, beberap a burung ini mengeluarkan kerlap-ker-lip sinar di punggungny a. Sejena k sepertinya Seli bisa melupakan bahwa di dunia kami, orangtua kami mungkin sedang panik men-cari tahu. Aku memutuskan ikut memperhatikan kerumunan burung kolib r i terbang.

asi.com

TereLiye “Bumi” 233

Kami berjalan lagi setelah Ilo memastikan harus menuju ke arah mana. Seratus meter melewati padang bunga, di lereng terjal, terlihat gagah sebuah mulut gua yang besar dan gelap. Aku menoleh kepada Ilo. Apakah dia tidak salah? ”Gua ini memang stasiun daruratny a.” Ilo mengangguk, me­mati­ k a n peralatan di pergelangan tanganny a. ”Setiap jarak ter­tentu, kapsul kereta bawah tanah didesain memiliki lorong darurat ke permukaan. Itu berguna jika terjadi sesuatu, seperti banjir, kerusakan listrik, atau kebakaran di kota bawah tanah, pendud uk bisa segera dievakuasi. Mungkin karena jarang diguna-kan, stasiun ini seperti gua tidak terawat. Kita harus masuk ke dala m gua, berjalan beberapa puluh meter lagi untuk tiba di peron.” Kami berdiri di depan mulut gua, saling pandang. Ada tangga puala m menuju ke bawah, seperti pelataran stasiun. Tapi gua ini berbeda denga n lubang kecil yang kami panjat sebelumny a, ada titik cahaya yang dituju. Gua ini gelap total, dan sebaliknya kami justru harus masuk ke dalam ny a . Bagaim ana kami tahu arah yang tepat? Ilo melangkah ragu-ragu. Kami mengikuti. Baru tiga langkah masuk, Ilo berhenti. Gelap sekali, tidak terlihat apa pun di dalam sana. ”Bagaimana kalau ada binatang buas menunggu?” aku berkata pelan. Ilo menghela napas, tegang. Atau stasiun ini runtuh? Ada lubang besar di pualam ny a? Kami tidak bisa melihatnya. Aku menyikut lengan Ali. Si genius ini mungkin saja puny a ide cerdas bagaim ana cara kami bisa berjalan dalam kegelapan. Ali justru sedang memperhatikan Seli di se-belahnya lagi.

Dalam kegelapan, menyala redup.

entah

apa penyebabny a,

tangan

Seli

terlihat

”Sarung tanganmu mengeluarkan cahaya, Seli,” aku berbisik.

asi.com

TereLiye “Bumi” 234

Seli menatap ke bawah, mengangkat tangannya. Benar. Memang sarung tangan Seli yang me-ngeluarkan cahaya. ”Mungkin kamu bisa membuatny a lebih terang,” aku memberi ide. Seli mengangguk. Dia mengepalkan tinju tangan kanannya, berkonsentrasi. Sekejap, sarung tangan itu bersinar terang sekali, membuat sudut-sudut gua terlihat. Kami terdiam, saling pandang. ”Ini keren.” Seli tersenyum, menatap tanganny a. Aku tertawa kecil, setuju. Dengan bantuan cahaya sarung tangan Seli kami bisa me-lewa t i pelataran depan stasiun darurat dengan mudah. Gua itu luas, sebesar aula sekolah kami, lantainy a meski kotor dipenuhi daun kering, terbuat dari pualam mewah. Dindingny a dibiarkan berbatu alami. Sedangkan di langit-langit gua terlihat tiga lampu kristal—yang padam. Kami melang k a h masuk menuju peron. Ada dua kursi panjang di dekat jalur rel. Selain kursi itu tidak ada lagi isi stasiun. Tidak ada binatang buas yang menjadika n ny a sarang. Ilo mencari panel di dinding, menekan beberapa tombol, yang kemudian berkedip menyala. Ilo menghela napas lega. ”Syukur­lah, stasiu n ini masih berfungsi. Lima menit lagi salah satu kapsul kereta akan datang .” Itu kabar baik. Masih lima menit lagi, aku memutuskan duduk, diikut i Seli. Ali tetap berdiri dua langkah dari kursi. De-ngan cahaya dari sarung tangan Seli, aku bisa melihat jelas wajah Ali yang terlihat sedang berpik ir keras—wajah si genius ini me-mang selalu kusut. ”Kamu sepertiny a masih kecewa tidak diberi sarung tangan keren oleh Av tadi,” aku berkata pelan, mencoba membuat situ­asi lebih rileks, tertawa kecil. Ali melotot. Ekspresi wajahnya yang berpikir semakin terlipat. ”Buka n itu yang kupikirkan.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 235

”Lantas apa?” aku bertanya santai. ”Ada banyak sekali yang menarik di dunia ini, Ra. Kita harus memikirkannya dengan cepat, agar mengerti, bisa memberikan jalan keluar. Kamu lihat, sarung tangan Seli, misalny a.” Aku tertawa. ”Katanya kamu tidak memikirkan sarung ta­ngan?” ”Bukan soal itunya. Tidakkah kamu berpikir, jika sarung tangan Seli mengeluarkan cahaya di tempat gelap, apakah sarung tanganmu juga bisa melakukanny a?” Aku menatap Ali lamat-lamat. Benar juga, tidak terpikirkan olehk u . Baiklah, aku mengangkat tanganku, berkonsentrasi, me-nyuruh sarung tanganku bercahaya. Satu detik, dua detik, tidak terjadi apa-apa. Hany a tanganku yang terangkat karena sarung- ny a menyatu dengan warna kulit, tidak terlihat. Ali menggeleng. ”Berarti sarung tanganm u ini memiliki kekuat­an lain.” ”Kekuatan apa?” aku bertanya penasaran. ”Mana aku tahu. Itu kan sarung tanganmu, bukan milikku. Mung­ k in kekuatan untuk memegang panci panas, supaya tetap di-ngin saat dipegang,” Ali menjawab ketus, membalas kalimat-ku. Aku tertawa kecil—juga Seli. Ilo masih menatap mulut lorong, menunggu kapsul kereta. Dia tidak mau duduk. ”Ra, apa yang sebenarny a dikatakan orang berbaju abu­abu itu tadi hingga kamu lemas, terduduk di ruangan penga p tadi?” Seli yang duduk di sebelah bertanya, memotong tawa kami. Aku terdiam, jadi teringat lagi percakapan tadi. Tapi kali ini tidak terlalu kupikirkan —entah apa yang dilakukan Av, saat dia menyent u h lenganku, dia membuat perasaanku jauh lebih tenang hingga sekarang.

asi.com

TereLiye “Bumi” 236

”Dia bilang bahwa Papa­Mama bukan orangtuaku, Sel,” aku menja w a b pelan. Bahkan si biang kerok yang kembali sibuk berpikir, memper- hat ik a n seluruh stasiun, ikut menoleh ke arahku. ”Kamu tidak bercanda, Ra?” Seli hampir berseru. Aku menggeleng. Seli menutup mulutnya dengan telapak tangan saking terkejut- ny a — yang membuat cahaya di dalam gua jadi bergerak ke sana kemari. ”Tapi wajah mamam u mirip denganm u, kan? Dan dia baik sekali. Tidak mungkin, Ra. Aku tidak percaya. Orang ber-baju abu-abu itu pasti keliru.” Seli menggeleng. ”Aku juga tidak percaya.” Aku menunduk, menatap pualam mewah yang dipenuh i daun kering. ”Tapi kata Av tadi, itu se­benarnya jauh lebih mudah dipercay a diband ing kenyataan aku bisa menghilangkan sesuatu atau kamu mengeluarkan petir. Mungkin dia benar, karena Mama dan Papa tidak pernah tahu aku bisa menghilang sejak usia dua tahun. Mereka tidak pernah tahu kucingku ada dua. Tidak pernah tahu aku bisa menghilang ka n benda­benda. Aku mungkin memang berasal dari dunia ini.” Seli terdiam, masih refleks menutup mulutnya dengan telapak tanga n. Ali menggaruk kepalanya yang tidak gatal, memperhatikan kami. ”Kalau begitu, Ra, jangan­ jangan aku juga sama.” Suara Seli ter-dengar bergetar. Aku menoleh. ”Sama apanya?” ”Orangtuaku juga tidak pernah tahu aku bisa mengeluarkan petir di tangan sejak kecil. Mereka juga tidak pernah tahu aku bisa menggerak ka n benda dari jauh.” Suara Seli yang tadi ter­kejut, berubah menjadi serak.

asi.com

TereLiye “Bumi” 237

”Jangan­ jangan mereka juga bukan orangtuaku, kan? Aku berasal dari dunia lain, Klan Matahari itu?” Aduh! Aku menatap wajah cemas Seli. Aku mengeluh dalam hati, kenapa semuanya jadi rumit begini? Kenapa jadiny a Seli berpikiran sama? Aku menggeleng, tidak mungkin. Hanya aku tadi yang dibilang begitu, Av tidak pernah menyinggung orang-tua Seli. Lihatlah, wajah Seli jadi sedih . Bagaim ana ini? Aku kan tidak seperti Av, yang hanya dengan menyent u h lengan bisa me-ngirimkan rasa hangat dan fokus dalam hati. ”Mungkin saja mereka memang orangtuamu, Sel,” Ali yang lebih dulu berkomentar. ”Orang berbaju abu­abu itu bilang, saat pertempuran besar dulu, ada sebagian penduduk Klan Matahari terpaksa mengungsi, melint a s ke dunia lain. Mungkin orangtua- mu memang dari sana, lalu tinggal di Bumi.” ”Tapi aku tidak pernah melihat mereka mengeluarkan petir. Papaku karyawan kantoran, dan mamaku dokter. Aku juga tidak pernah melih at mereka bisa menggerakkan benda dari jauh, mengambil gelas pun tidak bisa.” Seli menggeleng, menyeka ujung matanya. ”Mungkin mereka menyimpan rahasia itu. Termasuk dari dirim u . Siapa pula yang ingin diketahui seluruh dunia memiliki kekuatan itu?” Ali mengangkat bahu. ”Ali boleh jadi benar, Sel,” aku menyemangati. ”Masuk akal, kan? Jadi jangan pikirkan yang tidak-tidak. Aku sudah bilang sejak tadi malam, kita tidak boleh cemas atas hal-hal yang belum jelas. Khawatir atas sesuatu yang masih dugaan saja. Kita berada di dunia lain. Kamu harus kuat, agar aku juga ikut kuat, Sel.” Seli menunduk. Cahaya dari sarung tanganny a meredup, nyaris padam karena suasana hatiny a buruk, membuat gua jadi remang. I lo memperhatikan. Dia tidak mengerti apa yang sedang kami bicarakan. Aku memeluk bahu Seli erat-erat. Setidaknya, apa pun pen-jelasa n n y a besok lusa, apa pun yang akan terjadi nanti, aku me-miliki teman baik di dunia aneh ini. Seli teman terbaikku sejak kelas sepuluh, teman satu kelas, satu meja. Ditambah dengan Ali yang berdiri di hadapan kami, dia juga teman baik sejak 24 jam lalu.

asi.com

TereLiye “Bumi” 238

Sebuah desing pelan terdengar dari kejauhan. Belum jelas itu suara apa, telah melesat mulus keluar dari lorong gua. Sebuah kapsul kereta berhenti persis di jalur depan peron. ”Ayo, anak­anak, bergegas!” Ilo berseru. Pintu kapsul kereta terbuka. Cahaya terang keluar dari lampu- lamp u di dalamny a. Kapsul itu kosong. Aku menarik tangan Seli agar berdiri, segera melangkah masuk ke kapsul itu. Kedatangan kapsul kereta setidaknya memotong kecemasan Seli tentang orangtuany a.

asi.com

TereLiye “Bumi” 239

ERTAMA-TAMA kita akan menjemput Ou dan Vey di sekola h , memastikan mereka aman.” Ilo berdiri, menekan tombol di dinding kapsul, memasukkan tujuan. Kami bertiga sudah duduk, berdekatan. Kapsul itu berdesing pelan, mengambang, kemudian seperti batu yang dilemparkan, segera melesat cepat dengan mulus tanpa terasa, meluncur di jalurnya yang gelap. ”Kalian baik­baik saja?” Ilo bertanya. Ilo memperh atikan Seli yang masih menunduk menatap lantai kapsul. Aku mengangguk. Seli hanya cemas soal orangtuanya —lagi pula untuk remaja usia lima belas tahun yang tersesat di dunia aneh ini, siapa pula yang tidak akan cemas, kecuali Ali si genius itu, yang bahkan boleh jadi mau menetap di dunia ini. Tapi kami baik-baik saja. ”Setelah menjemput Ou dan Vey, kita akan segera mengungsi ke luar kota. Kami punya rumah peristirahatan di teluk kota. Tempat itu sering digunakan Av, jadi memiliki sistem keamanan yang baik. Di sana kita bisa lebih tenang memikirkan jalan keluar agar kalian bisa pulang. Aku janji akan membantu kalian,” Ilo mencoba menghibur. Aku mengangguk lagi, bilang terima kasih. Lengang sejenak. Hanya desing kapsul yang melesat cepat dala m lorong gelap. ”Bagaimana kapsul kereta ini bergerak di lorong? Tidak ada bantala n relnya?” Ali bertanya, menyuruhku menerjemahkan kepada Ilo. Sejak tadi Ali asyik memperhatikan kapsul.

asi.com

TereLiye “Bumi” 240

”Dengan teknologi magnetik.” Ilo tidak keberatan menjelas k a n, dengan senang hati—terbalik denganku yang malas menerjemah – ka n pertanyaan Ali. ”Kapsul mengambang di lorong, lantas bergerak karena perbedaan medan magnet. Ada ratusan lorong kereta di bawah tanah dan ada ribuan kapsul yang bergerak dalam waktu bersamaan sesuai tujuan dan jalur masing- masing. Kalian akan pusing melihat peta jalurnya. Semua dikendalikan sentral sistem transportasi kapsul secara otomatis. Sistem ter-sebut presisi sekali, hingga hitungan sepersekian detik, agar seluru h kapsul yang bergerak dengan kecepatan tinggi tidak saling ambil jalur, mendah ului, atau bertabrakan di persimpang­an.” Ali mendengarkan dengan wajah antusias. ”Kalian pernah memperhatikan organ paru­paru? Yang di dala m ny a terdapat ribuan pipa-pipa supermini untuk mengalir-kan udara? Denga n desain yang rumit dan bercabang ke mana- mana. Dalam skala lebih kecil, kurang- lebih begitulah sistem transportasi kapsul bawah tanah kota ini. Kita tidak me-merlu-kan pengemudi kapsul, semua kapsul bergerak otomat is . Kecuali dalam situasi darurat, kemudi manual bisa diaktifkan. Tapi siapa yang nekat membawa kapsul secara manual di dalam sistem otomat is dengan ribuan kapsul lain melintas ke mana­ mana? Itu amat berbahay a,” I lo menjelaskan lebih detail. Ali semakin tertarik. Tapi percakapan kami terhenti oleh sesuatu. Aku menatap lay ar televisi di dinding kapsul yang mendadak digantikan siaran berita, breaking news. Gambar di layar televisi terlihat putus-putus, kadang jelas, lebih sering bergaris. Pembawa berita, laki-laki dengan pakaian gelap, meny ampa ik a n berita dengan latar suara dentuman dan seruan orang panik di belakang ny a . ”Penduduk Kota Tishri, berikut ini adalah laporan terkini se­telah serangan besar-besaran mengejutkan tadi pagi di Tower Sentral yang dipimpin dua panglima Pasukan Bayangan.” Aku dan Ilo saling tatap, laporan terkini? Sepertinya kami ketingga la n update berita, atau semua bergerak cepat sekali seperti yang dikhawatir ka n Av?

asi.com

TereLiye “Bumi” 241

”Kami sekarang melaporkan langsung dari Tower Sentral, pertika ia n politik yang meruncing beberapa jam lalu sepertiny a telah menc a p a i puncakny a. Enam dari delapan panglima Pasukan Bayangan menyata ka n bergabung dengan penguasa baru. Belum ada konfirmasi apa pun tentang sisanya, apakah memilih mem-bubarkan diri atau yang lebih serius lagi, tetap setia dengan Komite Kota lama, memutuskan melawan habis- habis a n. ”Menurut sumber tepercaya kami, tiga anggota Komite Kota dilaporkan tewas dalam penyerbuan mengejutka n tadi pagi. Ini tragedi paling serius sepanjang seribu tahun terakhir. Perebutan kekuasaan secara paksa. Kami belum bisa memastikan siapa yang akan menjadi Ketua Komit e Kota, atau apakah Komite Kota akan dibubarkan, diganti dengan sistem pemerintahan yang baru. Tower Sentral belum bisa dimasuki siapa pun, dijaga ketat Pasukan Bayangan yang mendukung penguasa baru.” Ilo ikut menatap layar televisi. Wajahnya tegang. Gambar-ga m b ar bergerak cepat. Asap tebal terlihat di menara dengan ba-nyak cabang bangun an balon itu. Beberapa bangunan beton ter-lihat gompal, terbakar. Masih terdengar dentuman keras, per-tanda pertempuran terus berlangsu ng. ”Menurut klaim penguasa baru—siapa pun mereka yang se-karang menguasai Tower Sentral, sebagian besar tempat penting pemerint a h a n telah mereka kuasai. Mereka juga mengklaim sembilan dari dua belas akademi di seluruh negeri telah me-nyatakan kesetiaan kepada mereka. Jika pernyataan ini benar, hal tersebut akan membuat peta politik beruba h signifikan, karena selama ini akademi adalah penyeimbang pihak pemilik kekuatan. Penguasa baru juga menyatakan sistem transportasi, sistem penyiaran, dan sistem penting lainny a juga telah dikuasai dan diusah ak a n secepat mungkin berjalan normal seperti biasa. ”Hingga waktu yang belum ditentukan, Pasukan Bayangan akan terus berjaga- jaga di seluruh tempat. Razia akan diberlaku-kan. Limitasi waktu bepergian dan tempat tujuan akan segera di–terap-kan. Jam malam efektif berlaku mulai malam ini. Pe-nguasa baru telah mengonfirmasi seluru h sistem lorong ber-pindah ditutup untuk sementara hingga semua sistem keamanan pulih. Penduduk diimbau untuk tetap

asi.com

TereLiye “Bumi” 242

tenang di rumah masing- masing dan menggunakan cara konvensional jika harus bepergian. ”Setelah seribu tahun dipimp in Komite Kota, dewan yang dipilih penduduk, hari ini seluruh negeri dikuasai kembali oleh para pemilik kekuatan. Belum ada pengamat yang berani memberikan komentar atau spekulasi atas masa depan negeri ini, semua orang berhitung denga n keamanan masing- masing. Se-mentara itu kerusuhan mulai pecah di berbagai tempat. Per-tikaian politik ini akan semakin memperunc in g perdebatan ten-tang para pemilik kekuatan. Kami juga belum memper o le h kepastian apakah acara karnaval festival tahunan nanti mala m akan terus berlangsu ng sesuai rencana atau dibatalkan. Tetapi de-ngan berlakunya jam malam, karnaval sepertiny a akan dibatal­kan.” ”Itu berita tentang apa, Ra?” Ali berbisik, bertanya. Aku menghela napas, menjawab pendek, ”Kerusuhan.” ”Kerusuhan?” Ali memastikan. Dia menunjuk ke layar dinding kapsul, bukankah tayangan berita di televisi tidak sesederhana itu? ”Ada yang mengambil alih pemerintahan. Kudeta atau apala h istilahnya,” aku menjelaskan lebih baik. ”Mereka menyerang Tower Sentral dan berbagai tempat pemerintahan tadi pagi, mung-kin bersamaan denga n menyerang gedung perpustakaan.” ”Siapa yang melakukanny a?” Aku menelan ludah. ”Tidak disebutkan dalam berita. Mereka hany a menyebut dengan istilah para pemilik kekuatan. Mungkin dugaan Av benar, Tamus yang melakukanny a. Dia dibantu sebagian besar Pasukan Bayang a n, mungkin itu pasukan militer di dunia ini.” ”Tamus? Itu sosok tinggi kurus yang ada di aula sekolah?” tanya Seli. Aku mengangguk. ”Dia dan rombongan sirkusny a itu sibuk sekali ternyata sehari terakhir,” Ali berkomentar santai, mengangkat tanganny a, seolah

asi.com

TereLiye “Bumi” 243

mengingatkan kemarin dia sempat memukul kepala salah satu dari mereka dengan pemukul bola kasti. Aku melotot kepada Ali. Tidak bisakah dia sedikit serius? Tamus jelas berbahay a, dan sekarang masalah kami ditambah pula dengan pertemp ur a n merebak di kota ini. Siaran itu terhenti sejenak. Pembawa acara terlihat me-nerim a konfirm asi berita di tengah siaran langsung. Dalam situasi darurat, sepertinya berita superpenting bisa datang kapan saja, termasuk saat siaran. ”Penduduk Kota Tishri, masih bersama kami dalam breaking news. Kami baru saja memperoleh informasi bahwa masih ada beberapa pusat pemerintahan yang belum berhasil dikuasai Pasukan Bayangan di bawah komando penguasa baru. Baik, kita akan segera terhubung dengan salah satu kamera otomatis yang berada di Perpustakaan Sentral.” Seli memegang tanganku, meskipun tidak mengerti kalimat pemba w a acara. Gambar di layar televisi segera berganti dengan lapangan luas berumput hijau dengan dua air terjun besar di kiri-kanannya. Ribua n orang dengan pakaian gelap—pakaian yang dikenakan delapan orang saat datang ke aula sekolah—ter-lihat mengepung gedung besar yang baru saja kami datangi be-berapa jam lalu. Asap hitam mengepul di mana- mana. Suara dentuman ter-denga r susul- menyusul, lebih hebat diband ing dentuman di Tower Sentral. Penduduk biasa, seperti pengunjung dan pegawai perpustakaan itu, berlarian panik, berseru-seru. Wajah Ilo di sebelahku terlihat tegang. ”Hingga detik ini, pertempuran masih berlangsung sengit di Perpustakaan Sentral. Setidaknya ada seribu anggota Pasukan Bayang a n yang menyerbu perpustakaan, dan kondisi gedung terlihat hancur sebagia n. Ini amat menarik, karena selain per-tanya-an bagaimana perpustakaan bisa bertahan memberikan perlawanan sejauh ini, pertanyaan berikutny a yang lebih penting adalah entah apa yang hendak mereka kuasai dari sana, karena setahu kami, ayolah, siapa pun bisa meminjam buku secara baik- baik sepanjang telah terdaftar sebagai

asi.com

TereLiye “Bumi” 244

anggota perustakaan, tanpa perlu membawa seribu anggota Pasukan Bayangan.” Aku menatap layar televisi di dinding kapsul tanpa berkedip. Bahka n mengabaikan kalimat pembawa acara di layar televisi, yang entah sedang bergurau atau karena situasi panik men-cekam dia justru tidak menyad a r i mengucapkan kalimat tersebut. ”Bagaimana dengan Av?” aku bertanya. ”Kita tidak perlu mengkhawatirkan dia, Ra.” Ilo menggeleng. ”Sejak kecil aku tahu dia lebih dari seorang pustakawan. Aku mencem askan hal lain yang lebih serius. Si sulung Ily, aku harus mengontak dia di akadem iny a sekarang.” Ilo menekan peralatan di pergelangan tangannya. ”Apa yang terjadi dengan bertanya.

gedung perpustakaan

tadi, Ra?” Seli

Layar televisi di dinding kapsul sudah berganti lagi, menyiar-kan dari lokasi lain. ”Pasukan itu berusaha masuk ke Bagian Terlarang,” aku men­jawab pelan. ”Apakah orang berpakaian abu­abu tadi masih di sana?” Aku menggeleng. ”Aku tidak tahu, Sel. Mereka masih me­nyerbu gedung perpustakaan.” ”Seluruh kota sepertinya sedang perang,” Ali bergumam di se­­belah kami. ”Ini buruk sekali. Kita baru pertama kali me­ngunju ngi dunia ini, mereka malah perang. Seharusny a ini study tour yang seru. Mala h sebaliknya, kerusuhan di mana­mana.” Aku dan Seli melotot ke arah Ali. ”Tidak bisa,” Ilo lebih dulu berseru cemas, ”Ily tidak bisa dikontak. Akademinya juga tidak bisa dihubungi.” ”Apa yang harus kita lakukan sekarang?” tanyaku, ikut cemas.

asi.com

TereLiye “Bumi” 245

”Kita tetap menuju sekolah Ou.” Ilo menghela napas, berusaha tenang . ”Baik. Kita urus satu per satu. Semoga Ily baik­baik saja. Semog a akademinya tidak melibatkan diri dalam kekacauan ini. Aku lebih mencemaskan Ily.” Sayangny a, belum habis kalimat cemas Ilo, kapsul kereta yang kami naiki mendadak terbanting ke arah lain, berbelok tajam, keluar dari jalur tujuan. Seli berseru kaget. Ali berpegangan ke kursi. Kami nyaris terbantin g ke lantai kapsul. ”Ada apa?” Aku menoleh ke arah Ilo. Ilo menggeleng. Dia juga mencengkeram pegangan tiang kapsul. Kapsul meluncur cepat, terus menukik turun tajam, dan se-belu m kami sempat tahu ke mana tujuanny a, kapsul sudah masuk ke sebuah ruangan besar dan megah. Stasiun Sentral.

asi.com

TereLiye “Bumi” 246

APSUL mengurangi kecepatan, merapat mulus di salah satu peron. Ruangan besar megah yang tadi pagi ramai dan teratur ber-ubah 180 derajat, terlihat kacau-balau, dipenuh i orang berseru-seru. Di setiap jengk a l stasiun terlihat ratusan Pasukan Bayangan dengan membawa panji-p a nj i mereka. ”Kenapa kita mendarat di Stasiun Sentral?” aku bertanya pada Ilo. ”Mereka sepertinya mengambil alih tujuan setiap kapsul secara otomatis, memaksa kapsul yang melintas untuk mendarat,” menjelaskan.

Ilo

Di luar lebih banyak lagi kapsul kereta yang merapat di peron. Orang- orang protes kenapa jalur mereka diubah. Teriakan dan tangis a n anak kecil, keributan, juga terlihat puluhan orang memakai seragam yang berbeda dengan Pasukan Bayangan, me-nambah sesak peron stasiu n. Mereka ikut memeriksa pe-numpang, berjaga-jaga di setiap sudut. ”Itu seragam akademi Ily.” Ilo mengeluh, menunjuk orang­ or a n g berseragam gelap dengan topi tinggi. ”Sejak dulu orangtua murid keberata n jika akademi sering dijadikan alat politik dan kekuasaan. Anak- anak itu baru berusia delapan belas, tidak tahu apa pun tentang agenda dan ambisi orang dewasa.” Aku menoleh ke arah Ilo, tidak terlalu paham maksud kalimat- ny a. Tapi pintu kapsul kami sudah terbuka. Segera melangkah masuk dua orang Pasukan Bayangan, membawa panji pendek —aku tahu, panji itu bisa berubah menjadi senjata. ”Maaf mengganggu perjalanan. Atas perintah penguasa baru, kami harus memeriksa seluruh kapsul. Harap siapkan identitas masing­ masing, ” salah satu dari mereka berseru tegas.

asi.com

TereLiye “Bumi” 247

Aku, Seli, dan Ali saling tatap. Bagaim ana ini? Ilo lebih dulu berdiri, merapikan rambut dan pakaianny a. ”Halo.” Dua anggota Pasukan Bayangan itu terdiam sebentar menatap Ilo. ”Selamat siang, Master Ilo,” mereka menyapa lebih ramah. ”Siang. Ada yang bisa saya bantu?” Ilo melihat mereka selinta s , memasukkan tangan ke saku, bertanya sambil menghalangi dua orang itu masuk lebih dalam. ”Kami minta maaf harus menghentikan laju kapsul, Master Ilo. Penguasa kota sudah berganti. Kami diperintahkan meme-riksa seluru h penumpang, memastikan semua aman, tidak ada pelaku kerusuhan yang berpotensi menolak penguasa baru.” ”Aku tidak peduli dengan kekacauan politik ini,” Ilo menjawab datar. ”Aku tidak mendukung pihak mana pun. Bagiku urusan­nya sederhana, siapa pun penguasa di Tower Sentral, seragam pasukan kalian tetap desainku, masalah bisnis saja. Atau kalian menganggap aku salah satu pelaku kerusuhan?” Dua orang berseragam gelap itu saling lirik. Salah satu dari mereka melihat kami. ”Tiga anak itu ikut bersamaku. Mereka sedang melakukan tugas sekolah, wawancara, karya tulis, seperti itulah.” Ilo masih menghala n g i mereka masuk. Dua orang itu saling tatap, berbicara berbisik. Salah satu dari mereka menggeleng. ”Maaf, Master Ilo, kami ha­ ny a melaksanakan perintah, kami harus memeriksa semua orang. Kami mungkin bisa mengecualikan Anda, tapi tidak tiga anak tersebut.” Di luar kapsul kami, Stasiun Sentral semakin gaduh. Lebih banyak lagi kapsul kereta yang dipaksa mendarat. Beberapa orang menolak turun, berseru-seru marah. Satu-dua dipaksa, diseret keluar oleh Pasuka n Bayangan dan orang- orang ber-se-ragam akademi.

asi.com

TereLiye “Bumi” 248

”Aku tidak mengizinkan kalian memeriksa siapa pun.” Ilo mengge le n g tegas. Suasana di dalam kapsul semakin tegang. Seli dan Ali me-ngerti arah percakapan meski tidak paham bahasany a. Aku menatap Ilo, cemas, apaka h dia bisa mengatasi masalah ini. Dua anggota Pasukan Bayangan lain ikut mendekat ke kapsul. Salah satu dari mereka tidak membawa panji, sepertiny a posisi- nya lebih tingg i. Dia berseru galak, ”Apa yang terjadi?” ”Penumpang kapsul menolak diperiksa.” ”Kalian paksa mereka keluar.” ”Tapi yang ini berbeda,” salah satu berbisik. ”Tidak ada pengeculian, siapa pun itu!” dia berseru tidak sabara n, melangkah menyibak dua anak buahnya, tapi langkah kakinya terhenti saat menatap Ilo. ”Selamat siang, Master Ilo!” dia berseru lagi, meski tidak se­kenca ng sebelumnya, lebih sopan, tapi intonasi suarany a tetap serius. ”Kami minta maaf mengganggu kenyamanan perjalanan. Kami harus memeriksa seluru h kapsul.” ”Silakan saja kalian periksa kapsul lain, tapi tidak yang kunaiki.” I lo menggeleng. ”Apa yang sebenarny a kalian cari? Tidak ada siapa-siapa di sini selain tiga anak yang bersamaku.” ”Penguasa baru telah mengaktifkan status baru untuk seluruh negeri, Master Ilo. Kami harus memeriksa siapa pun, memasti-kan identit a s mereka, tanpa pengecualian.” ”Aku tidak akan mengizinkan kalian.” Ilo menggeleng tegas. ”Berarti kami tidak punya pilihan.” Dia mengangkat tanga nny a memberi perintah. Tiga orang di sekitarny a segera maju dengan panji- panji teracung—y ang sekarang sudah berubah menjadi tombak perak.

asi.com

TereLiye “Bumi” 249

”Seret mereka keluar dari kapsul. Jatuhkan hukuman kepada Master Ilo atas pelanggaran telah menentang perintah penguasa baru. Aku tidak peduli meski dia orang paling terkenal di kota ini.” Salah satu dari mereka menelikung paksa tangan Ilo, mem-buat ny a jatuh terduduk. Dua yang lain mendekati kami. Seli mengangkat tanganny a , siap melawan. Juga Ali, dia meloloskan ransel yang dikenakan, henda k memukulkan ransel itu ke siapa pun yang mendekat.

Aku mengeluh. Teringat pesan Av di Bagian Terlarang per-pustaka- a n , kami justru tidak boleh melawan dengan disaksikan banyak orang . Bagaim ana kalau Seli sampai mengeluarkan petir? Di dunia ini sekalip u n , itu pasti menarik perhatian, dan keber-adaan kami diketahui. Tapi entah apa yang terjadi, sebelum dua orang itu semakin dekat, hendak menangkap kami, seluruh kapsul tiba-tiba menjadi gelap. Seperti ada yang menuangkan tinta hitam ke air bening, atau seolah ada asap pekat disemburkan. Kegelapan menyebar dengan cepat, hingga radius belasa n meter dari kapsul yang kami tumpangi. Seruan kaget terdengar di sekitar peron dekat kapsul, teriakanteriakan panik, dan jeritan ketakutan anak-anak. Gerakan dua orang yang hendak menangkap kami tertahan. Aku juga bingung kenapa tiba-tiba sekitar kami gelap, tapi situasi ini menguntungkan karena entah bagaimana caranya se-perti-ny a hanya aku yang masih bisa melihat dengan jelas. Aku ber-gegas lompat memuk u l anggota Pasukan Bayangan yang me-neliku ng Ilo. Pukulan biasa, tapi tetap saja membuat anggota Pasukan Bayangan itu ter-banting keluar dari pintu kapsul. Aku juga memuku l dua anggota lainny a. Mereka menga d u h , me-nyusul terpental di pelataran stasiun. Terakhir, dengan jengkel, aku menampar orang sok ber-kuasa tadi. Badannya juga terjatuh ke peron stasiun. ”Ilo, kapsulny a. Segera!” aku berseru. Ilo mengangguk. Dia bangkit berdiri, meraih tombol pengatur di dinding kapsul yang berkedip-ked ip. Kaki Ilo sempat meng-injak Ali, tapi

asi.com

TereLiye “Bumi” 250

dia bisa segera menekan tombol. Pintu kapsul kem-bali menutup. Sebelu m empat orang berseragam itu me-nyadari apa yang terjadi, kapsul telah melesat pergi me-ninggalkan Stasiun Sentral. Cahaya kembali memenuh i kapsul. Terang. ”Apa yang terjadi?” meringis.

Ali bangkit, memegang

betisnya. Waja h ny a

”Kenapa semua tiba­tiba gelap?” Seli juga bertanya. Aku menggeleng. Aku tidak tahu apa persisnya yang baru saja terjadi. Aku mengangkat tangan, memperh atikan sarung tangan-ku yang ber warna hitam pekat, seperti ada awan hitam yang berpilin di sarung tangan itu, kemudian perlahan-lahan kembali sesuai warna kulitku. Tidak terlihat lagi. ”Sarung tanganmu kenapa, Ra?” Seli ikut memperhatikan. ”Entahlah, Sel.” Aku masih menggeleng. ”Ini keren, Ra,” cetus Ali. Wajahnya antusias. ”Se­perti­ nya sarung tanganmu yang membuat gelap barusan. Semua cahaya sejauh radius belasan meter diserap sarung tangan ini.” Kali ini aku setuju dengan Ali, menatap telapak tanganku. Ini mema ng keren. Ali nyengir lebar. ”Nah, sekarang jelas, bukan? Jika sarung tangan Seli bisa mengeluarkan cahaya, sarung tanganm u sebalik- ny a, menyerap atau menghilangkan cahaya. Sarung tanganmu ini tidak hanya untuk mengang ka t panci panas.” ”Anak­anak, berpegangan!” Ilo berseru, memutus percakapan kami. Dia masih berdiri di depan tombol­tombol kapsul. ”Kita harus menga m b il alih kemudi kapsul ini secara manual.” Kami menoleh kepada Ilo. ”Mereka akan segera mengetah ui posisi kita jika kapsul ini tetap digerakkan sistem otomatis. Dan mereka dengan mudah menarik kapsul

asi.com

TereLiye “Bumi” 251

ini kembali ke Stasiun Sentral.” Ilo menyeka dahi. ”Aku akan mengam bil alih sistem kemudi.” ”Bukankah itu berbahay a sekali?” Aku menatap Ilo, cemas. Ilo mengangguk. ”Lebih dari berbahaya. Ini mengerikan. Tapi kita tidak punya pilihan lain.” Begitu Ilo menekan tombol darurat, dinding kapsul terbuka, kursi dan tuas kemudi keluar, juga layar besar empat dimensi di depanny a yang menunjukkan peta seluruh jaringan kapsul. Ada ribuan jalurnya, saling silang, sambung- meny ambung, seperti pipa-pipa rumit, dengan ribuan titik merah melesat cepat di setiap lorong. Ilo sudah duduk mantap di kursi kemudi, memegang tuas. ”Tapi, bagaimana kamu akan mengem udikanny a?” Aku ber­tany a, menatap layar yang rumit sekali. Astaga, lorong yang ada bahkan hany a muat satu kapsul. Sekali keliru berbelok, masuk ke jalur salah, bertemu kapsul lain pasti akan bertabrakan. Tidak ada tempat untuk berpapasan. Ilo tertawa kecil. ”Aku jago sekali memainkan game, Ra. Kamu ingat yang dikatakan Av tadi?” Aku hendak protes. Ini bukan game. Ini nyata. Tapi Ilo sudah meneka n dua tombol sekaligus. Kapsul yang kami naiki bergetar. Aku segera berpegangan. Terdengar pengumu man dari speaker kapsul agar janga n mengam bil alih kemudi otomatis, berbahay a. Ilo tidak peduli. Dia tetap mengaktifkannya, menekan dua tombol berikutnya. Kemudi manual telah aktif. Kapsul terbanting, menabrak dinding. Suaranya saat beradu denga n lorong membuat ngilu telinga. Percik api terlihat. Kami berseru panik. I lo rileks segera menyeimbangkan posisi, mem-buat kapsul stabil. ”Tenang, anak­anak. Hanya penyesuaian.” Ilo mencengkeram tuas kemudi. Kapsul kereta kembali mengambang di tengah lorong.

asi.com

TereLiye “Bumi” 252

”Bersiap­siap! Kita meluncur,” Ilo berseru, menekan tuas ke depan. Sekejap, kapsul yang kami naiki sudah melesat maju, lebih cepat diband ingkan kemudi otomatis. Aku menatap Ilo cemas. Seli di sebelah memejamkan mata. Speaker di dalam kapsul berkali-kali mengingatkan bahwa mengambil alih kemud i otomatis amat berbahay a. Tapi Ilo tidak mendengarkan. Dia konsentr a s i penuh memperh atikan layar untuk melihat posisi ribuan kapsul lainny a . Sesekali kapsul kami hanya berbeda beberapa detik berpapasan denga n kapsul lain saat bertemu di perlintasan. Ilo gesit membanting kemud i. Kapsul yang kami naiki terus melaju cepat di dalam lorong jalur kereta. ”Awas!” aku berseru panik. Kami tiba di persimpangan enam lorong , dari satu jalur di sisi kanan. Seperti peluru ditembakkan, kapsul lain meluncur cepat ke arah kami. Penumpang di kapsul yang akan menabrak kami menjerit kencang. I lo tangkas mendorong tuas ke bawah. Kapsul kami meluncur masuk ke lorong bawah, menghindar, lagi-lagi hanya sepersekian detik sebelum terjadi tabrakan. Aku menahan napas. Seli menunduk, memejamkan mata. I ni lebih gila dibanding kebut-kebutan di film fantasi. Tetapi masalahnya belum selesai, dari layar kemudi terlihat titik merah yang melintas cepat di lorong tempat kami masuk, ber-lawanan arah. Aku mendongak, menatap Ilo. Kami harus berputar arah, lorong ini hany a muat satu kapsul. Ilo menggeleng, memastikan perhitungan kecepatan dan wak-tu yang tersisa di layar kemudi. ”Kita masih sempat berbelok di persimpa ng a n depan, Ra. Berbelok ke belakang juga percuma, kapsul lain akan melint a s dengan segera.” Ilo menambah ke­cepatan, kapsul berdesing kencang. Aku menelan ludah. Dua belas detik berlalu, lampu terang dari kapsul di depan kami sudah terlihat. Dua kapsul bergerak cepat saling mendekat. Ilo mencengkeram tuas kemudi. Tepat di persimpangan, dia membanting kemudi ke atas, tapi terlambat sepersekian detik. Kapsul yang kami naiki masih menyenggol ujung kapsul yang datang! Kapsul

asi.com

TereLiye “Bumi” 253

terbanting ke dinding lorong, sekali, dua kali, hingga akhirnya Ilo berhasil mengendalikan kemudi. Aku membuka mata, melirik ke arah Seli di sebelahku. Dia masih menunduk, ber-teriak-teriak. Wajah Ali terlihat pucat—sepertinya si geniu s ini ada juga masanya ikut tegang. ”Kalian baik­baik saja?” Ilo bertanya. Aku menggeleng. Ini buruk. Sama sekali tidak ada baik-baiknya. Ilo tertawa. ”Hany a senggolan sedikit, Ra.” Apanya yang senggolan sedikit. Kapsul yang kami naiki penyok di sudut-sudutny a. Jendela kaca retak. Entah apa yang menimpa kapsul yang hampir menabrak kami. Penumpangnya berteriak. Suarany a tertinggal jauh di belakang. Semoga mereka baik-baik saja. Kendali otomatis di kapsul mereka bekerja de-ngan baik, mengurangi dampak tabrakan. ”Tidak jauh lagi, Ra. Hanya sembilan puluh detik lagi.” I lo mencengkeram kembali tuas kemudi, berkonsentrasi membaca peta empat dimensi di layar, yang menunjukkan lorong-lorong jalur kereta dan kapsul lain berseliweran melintas. Aku menghela napas perlahan, berusaha rileks. ”Ini kabar buruk, anak­anak,” berkedip.

Ilo berseru, menatap layar tanpa

”Apa lagi?” Aku mendongak menatap Ilo di kursi kemudi. ”Mereka mengejar kita.” Di peta layar kemudi ada dua titik berwarna biru mengejar kami. Aku menghela napas, kembali tegang. Dengan ribuan kapsul ber-gerak cepat dalam jaringan saja, kemudi manual sudah me-ngeri-kan, apala g i dengan dua kapsul lain yang sengaja mengejar. Ini bukan jalan raya di kota kami yang hanya horizontal. Di jalur ini lorong-lorong

asi.com

TereLiye “Bumi” 254

vertikal, diagonal, melintang, melintas ke mana- mana. Perlintasan jalur hingga dua belas lorong bertemu sekaligus ada di mana- mana. Demi melihat para pengejar, Ilo memutuskan mengambil jalur lain. Kapsul yang kami naiki melesat, menukik ke bawah. ”Berpegangan lebih erat, anak­anak. Ini sudah bukan permainan lagi,” Ilo berseru. Aku mengeluh dalam hati. Sejak tadi juga ini bukan game. Dua titik biru dengan segera menyusul kami di belakang. Mereka sepertinya membersihkan jalur kapsul penumpang lewat pusat pengend a li kereta bawah tanah. Titik-titik merah bergerak ke wilayah lain, menyis a ka n lorong-lorong kosong di sekitar kami. Entahlah apakah itu baik atau buruk bagi kami. ”Mereka menggunakan kapsul tempur.” Ilo menyeka dahi yang berpeluh. ”Kapsul mereka jauh lebih cepat dibanding kapsul penumpang.” Aku mendongak, menatap Ilo cemas. Kapsul yang kami naiki terus berdesing melintasi lorong- lorong gelap, berbelok mulus ke kiri, kanan, melesat naik, turun. Setinggi apa pun Ilo menambah kecepatan, dua titik biru itu terus mendekat. Ilo mendengus tegang. Tanganny a mencengke ra m kemudi lebih erat. Dua belas detik berlalu, dua titik biru persis telah berada di belaka ng kami. ”Peringatan pertama! Kepada penumpang kapsul dengan register D­ 210579, kami perintahkan kalian untuk segera me-nepi. Atau kami terpaksa melepas tembakan.” Speaker di dalam kapsul kami berbuny i.

”Bagaimana ini?” Aku menatap Ilo. Ilo menggeleng. Dia justru menggerakkan tuas kemudi ke kanan. Kapsul yang kami naiki berputar cepat, belok dengan tajam masuk ke lorong kanan. Satu titik biru yang tidak men-duga kami berbelok melaju lurus, tapi yang di belakang masih sempat ikut berbelok.

asi.com

TereLiye “Bumi” 255

”Kita lihat, seberapa hebat Pasukan Bayangan mengemudikan kapsul mereka.” Ilo mendesis, menggerakkan tuas. Kapsul ber­belok lagi di depan, naik cepat ke lorong atas. Titik biru di belakang kami menambah kecepatan. Posisiny a semakin dekat. Aku menoleh, bisa melihat pengejar dari dinding kapsul, berada persis di belakang kami. Lampu kapsulny a me-nyorot tajam. Juga senjata di atas kapsul. Sementara titik biru yang telanjur lurus, bergerak cepat menga m b il jalur lain, men-coba memotong lewat jalur di depan kami. ”Peringatan kedua! Sesuai otoritas sistem pusat pengendali kereta bawah tanah, kapsul dengan register D-210579 harap se-gera menepi ke stasiun terdekat.” ”Apakah kita akan berhenti?” tanyaku. Ilo menggeleng. ”Jangan panik, Ra. Semua terkendali.” Ya ampun! Aku mendengus tegang. Apanya yang terkendali! Di belakang kami, moncong senjata kapsul tempur yang mengejar su- dah terarah sempurna, sedangkan di depan, satu titik biru lainny a telah berhas il mendah ului, berbelok masuk ke lorong yang sama sekarang, melaju cepat ke arah kami, berusaha meng-hadang. ”Peringatan diabaikan.”

terakhir!

Kami

akan

melepas

tembakan

jika

ini

Aku menatap ke belakang, cemas, lalu menatap ke depan. Ca- hay a lampu kapsul yang menghadang sudah terlihat di lorong gelap. ”Kita akan menabrak, Ilo!” aku berseru panik. Ilo menggeleng. ”Mereka akan memperlambat laju kapsul me­reka, Ra.” Kapsul di depan tetap melesat cepat, sama cepatnya dengan kami. ”Kapsul D­210579 harap segera berhenti!” terdengar bentak­an. ”Ilo!! Berhenti!!” aku juga berteriak.

asi.com

TereLiye “Bumi” 256

Jarak kami sudah dekat sekali. Satu mengejar di belakang, satu menghadang menuju kami. Ilo tidak mendengarkan. Dia terus memacu kecepatan. Tembakan dilepas dari kapsul tempur di belakang kami, mem- bu at kaca kapsul rontok. Aku menunduk. Seli menjerit. Ali semakin pucat, memeluk tiang kapsul erat-erat. Tapi bukan tembakan itu yang berbah ay a , melainkan tabrakan dengan kapsul di depan kami. Seperesekian detik, Ilo sudah gesit membanting kemudi. Kapsul yang kami naiki menukik ke bawah, masuk ke lorong lain. Sepertinya I lo berhitung dengan baik sekali. Dia tahu persis bisa mencapai pertigaan itu di detik kritis. Kaca kapsul yang hancur berserakan di lantai, tapi kami berhas il lolos. Terdengar dentuman kencang di belakang. Nasib kapsul yang kami naiki jelas lebih baik dibanding dua kapsul tempur yang terlihat bertabraka n di belakang sana. Titik-titik biru itu menghilang di layar kemudi. ”Ternyata mereka tidak sehebat itu.” Ilo tertawa.

Ini mengerikan. Terlepas dari fakta kami berhasil lolos sekali- g u s membuat pengejar kami bertabrakan, ini mengerikan. Aku menatap Seli yang wajahny a pucat. Bagaim ana mungkin kami terjebak dalam kejarkejaran di sistem jaringan kereta bawah tanah dengan ratusan jalur rumit. Aku menoleh. Ali masih me-meluk tiang kapsul erat-erat. ”Baik, anak­anak, kabar baik buat kita, semua lorong bersih. Kita menuju sekolah Ou secepat kilat,” Ilo berseru mantap. Tapi kejar-kejaran itu berakhir sebelum Ilo sempat menunjuk- k a n kemampuan terbaikny a. Kami jelas berada dalam sistem jaringan yang dikuasai pihak lain. Suara riang Ilo terhenti.

asi.com

TereLiye “Bumi” 257

Aku mendongak. ”Apa yang terjadi?” ”Mereka menutup jaringan,” Ilo berseru jengkel. Garis-garis jalur kereta di layar kemudi terlihat satu per satu dipenu h i tanda silang, tidak bisa dilewati. Termasuk yang ada di depan kami. Dem i melihat tanda silang itu, Ilo panik dan mem-per-lambat kapsul kereta secepat mungkin, berhenti persis sebelum kapsul kami menabrak pintu besi bundar yang menutup jalur. ”Apa yang akan kita lakukan?” aku bertanya, menatap ke luar dind in g kapsul lewat jendela kaca yang sudah pecah. Pintu besi itu terlihat kokoh . Sepertinya jaringan kereta memang dilengkapi dengan pintu-pintu di bagia n tertentu yang bisa diaktifkan jika dibutuhkan. ”Kita mencari jalan lain,” Ilo menjawab, menggerakkan ke­mudi. Kapsul berputar, berbalik arah. Sayangny a kami sudah kalah dalam pengejaran ini. Ke mana pun kapsul bergerak, ujung lorongny a selalu ditutu p otomatis sebelum kami sempat lewat. Kami hanya bisa melintasi lorong yang tidak ada tanda silangny a. Ilo mendengus marah. Tapi tidak ada yang bisa dia lakukan lagi. Jelas sekali pihak yang mengendalikan sistem jaringan me-nuntun kami menu ju tem-pat yang mereka inginkan, karena ha-nya jalur itu yang terbuka. ”Kita menuju ke mana?” aku bertanya, memperhatikan jalur yang aktif di layar kemudi. ”Mereka memaksa kita ke gedung Perpustakaan Sentral.” Aku seketika terdiam.

asi.com

TereLiye “Bumi” 258

ATU menit terakhir, kapsul kereta yang dikemudikan Ilo bergerak pelan di lorong. Ilo sengaja memperlam bat kapsul, mengulur waktu, berpik ir mencari jalan keluar. Kami terjepit. Setiap kali kapsul melewati jarak tertentu, pintu lorong di bela-kang kami menutup otomatis, memaks a kapsul hanya bisa bergerak maju, tanpa bisa berbelok atau berputar arah. ”Apa yang akan kita lakukan?” aku bertanya pada Ilo. Ilo menggeleng. ”Kita sepertinya menuju jalan buntu, anak­anak.” Aku mengembuskan napas, tegang, menoleh ke Seli di se-belah. Wajah pucatnya mulai pulih. Seli menyeka rambut yang terkena pecaha n kaca. Apa yang harus kami lakukan? Ini se-makin rumit. Di lapangan rumput gedung perpustakaan telah menunggu seribu anggota Pasukan Bayangan. Ali, si genius yang biasanya punya ide cemerlang, hanya ter-duduk di bangku dengan wajah kusut. Dia melepas pelukan di tiang kapsul, baru saja muntah. Berada di kapsul yang ber-gerak cepat, melakukan manuver naik, turun, kiri, kanan mem-buat perut-nya mual dan kepalany a pusing. ”Apakah kita akan melawan, Ra?” Seli berbisik. Aku menatap telapak tanganku, yang perlahan berubah warna. Cepat atau lambat kami pasti ketahuan juga berada di dunia ini. Kami tidak bisa lari terus-menerus. Jika pasukan itu tidak mem-berikan pilihan, aku akan melawan. Sarung tangan yang ku-kena-kan semakin gelap pekat, laksana ada awan hitam berpilin di sana. Sepertinya sarung tangan ini menyesua ika n dengan suasana hati pemakainy a. Kapsul yang dikemudikan Ilo perpustakaan, terus meluncur turun.

semakin

dekat

dengan

peron

”Kamu akan menyerang mereka, Ra? Melawan?” Seli bertanya lagi, melihat sarung tanganku.

asi.com

TereLiye “Bumi” 259

”Kita akan membela diri, Sel. Bukan melawan.” Aku meng­geleng. Seli menelan ludah, terdiam. Aku menund uk, menghela napas. ”Gara­gara aku, kamu jadi ikut­ ikutan ke dunia ini, Sel. Membuat orangtuam u cemas. Bah-kan kamu batal menghadiri Klub Menulis Mr. Theo. Maafkan aku, Sel.” Seli beranjak ke sebelahku, memegang lenganku. ”Kamu teman baikku, Ra. Aku tidak akan pernah keberatan dengan semua ini. Kamu tidak perlu minta maaf.” Kami bertatapan sejenak. Seli tersenyum lebar, mengangkat kedua tangan, memperlih atkannya padaku. Sarung tangan Seli berubah menja d i putih terang, bersinar. ”Aku akan selalu membela teman baikku.”

bersamamu,

Ra.”

Seli tersenyum.

”Aku akan

Aku balas tersenyum. ”Terima kasih, Sel.” Kapsul yang kami naiki sudah di lorong terakhir. Tidak lama lagi kami akan mendarat di tengah seribu anggota Pasukan Bayang- an. Aku tidak tahu apakah Tamus ada di sana. Yang pasti, tanpa Tamus, seribu orang itu jelas lebih banyak dibanding delapan orang yang datang ke aula sekolah kami. Ali, yang masih mabuk kapsul, beranjak ke sebelah kami, meny eka pipinya yang tersisa bekas muntah. ”Kalian ber­dua sepertiny a sudah berpikir tidak rasional.” Aku dan Seli menoleh. ”Dua lawan seribu, remaja usia lima belas lawan pasukan dewasa , tidak akan ada kesempatan. Sama sekali tidak masuk akal. Sehebat apa pun sarung tangan kalian.” Aku dan Seli terdiam.

asi.com

TereLiye “Bumi” 260

Ali nyengir. ”Baiklah, mari kita buat semuany a semakin tidak masuk akal. Tiga lawan seribu, aku akan membantu. Kalian butuh orang geniu s untuk menyusun strategi, bukan?” Aku dan Seli masih menatap Ali. Si genius ini bicara apa? ”Kalian tidak akan menang jika hanya langsung menyerang. Dua lawan seribu, dengan cepat jaring perak mereka menangkap kalian. Kita butuh rencana.” Ali diam sejenak. ”Inilah rencananya, detik pertama pintu kapsul terbuka, kamu hilangkan seluruh cahaya sejauh mungkin dengan sarung tangan- mu, Ra. Hanya kamu yang bisa melihat dalam kegelapan. Saat mereka panik , bingung, kamu segera lari ke salah satu air terjun di sisi lapangan. Hanta m dinding sungainya agar air mengalir ke lapangan. Itu air deras. Seluru h lapangan rumput akan banjir seketika. Setelah itu, segera kembali ke kapsul ini atau cari tempat kering. Itu harus selesai dalam waktu empat puluh lima detik, karena kegelapan yang kamu hasilkan tidak bertahan lama.” Ali berhenti sebentar, meringis—dia masih pusing karena mabuk. ”Nah, saat cahaya kembali memenuhi lapangan yang banjir , giliranmu, Sel, kirimkan petir yang paling dahsyat. Sekali pukul, pastikan itu yang paling kuat. Kalian tidak akan bisa melawan mereka satu per satu. Kalian pasti kalah dengan cepat. Hanya de-ngan cara ini kalian bisa mengam bil keuntungan. Saat lapang-an dipenu hi air banjir, seluruh angg ot a pasukan itu terkena genangan air. Listrik merambat di air, pelajaran fisika SMA kita, ingat? Meskipun harus kuakui, aku menguasai pelajaran fisika itu sejak kelas empat SD. Hantaman petir Seli akan membuat mereka tersetr um sekaligus. Kita lihat saja seberapa banyak di antara mereka yang tumba ng . Sisanya baru diserang dengan cara biasa. Kalian paham?” Aku menatap Ali yang lagi-lagi meringis me-nahan mual. ”Kapsul sialan ini membuatku pusing, Ra,” Ali me­ngelu h. ”Aku paham, Ali. Itu sungguh ide genius,” aku memujiny a.

asi.com

TereLiye “Bumi” 261

Seli juga mengangguk. Kami mungkin punya kesempatan mena ng dengan strategi Ali. ”Aku tahu itu genius,” cetus Ali. ”Aku tidak tahan saja me­mikir­ ka n kalian jadi bulan-bu lanan mereka. Aku tidak akan membiarkan temank u disakiti rombongan sirkus mana pun.” Aku tersenyum, menyikut lengan Ali. Dia mengaduh, melotot, henda k bilang bahwa dia masih pusing dan mual. Seli tertawa menatap wajah sebal Ali. ”Konsentrasi. Waktu kalian tinggal empat puluh detik, Ra. Kapsul ini segera mendarat,” Ali mengingatkan setelah mem­perbaiki posisi duduk ny a . Aku dan Seli mengangguk. Apa pun yang akan terjadi sebentar lagi, maka terjadilah. Aku menggigit bibir. Dua puluh empat jam lalu hidupku masih normal seperti remaja lainny a. Beraktiv itas bersama keluarga, ber-sekolah, dan bermasyarakat dengan baik. Sekarang, aku ber-siap bertempur denga n orang- orang asing di dunia ini. Tapi apa pun itu setidakny a aku bersam a dengan teman baikku. Tetapi ternyata kami tidak jadi bertempur. Belum sekarang. Pada detik-detik terakhir datang bantuan tidak terduga. Layar telev isi di dinding kapsul tiba-tiba menyala—sepertinya ada yang bisa menyalakanny a dari jarak jauh, karena semua panel ter-masuk layar telev isi padam ketika kendali otomatis dimatikan Ilo. ”Di sini pusat kendali, berbicara dengan kapsul D­210579. Hara p segera konfirm asi.” Wajah seorang pemuda berusia delapan belas tahun terlihat di lay ar, dengan seragam dan topi kadet. ”Ily!” Demi melihat layar itu, Ilo berseru. ”Pusat kendali berbicara dengan kapsul D­210579. Harap segera konfirm asi.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 262

Ilo bergegas menek an salah satu tombol, berseru. ”Di sini kapsul D­ 210579, konfirmasi kepada pusat kendali. Ily, apa yang sedang kamu lakuka n di sana?” ”Papa, waktu kita terbatas.” Wajah pemuda yang terlihat di lay ar tampak tegang. ”Aku berada di pusat kendali kapsul.” ”Ily? Kamu baik­baik saja?” Ilo berseru. ”Aku tidak bisa menjelaskan lebih banyak, Papa.” Wajah pe­muda itu semakin tegang. Dia menoleh ke sana kemari. ”Aku di­tugaskan di pusat pengendali sistem kereta bawah tanah se-lama masa transisi. Seluruh kadet senior di akademi diperintah-kan untuk membantu Pasukan Bayanga n dalam masa transisi. Kami tidak bisa menolak, banyak guru-guru yang ditangkap karena menolak perintah. Papa tahu, aku menyukai sistem sejak dulu. ”Beberapa menit lalu aku berhasil mengonfir masi bahwa Papa berada di kapsul yang sedang dikejar Pasukan Bayangan. Aku berada di ruang kendali backup. Aku bisa me-restart seluruh sistem kereta bawah tanah. Dengarkan baik-baik, Papa. Seluruh sistem akan restart. Itu berarti seluru h lorong akan terbuka. Semua kapsul dengan kendali otomatis akan berhent i. Papa punya waktu sembilan puluh detik untuk kabur sebelum sistem kembali menyala, dan pintu darurat kembali menutup. Itu cukup untuk mencapai stasiun darurat di permukaan.” ”Ily?” Ilo berseru dengan suara bergetar. ”Segera ke permukaan, Papa. Mama dan Ou baik­baik saja. Mereka sedang berada di salah satu kapsul menuju rumah peristirahatan di teluk, tidak ada yang mengikuti mereka. Dan jangan cemaskan aku, semua baik-baik saja. Sampai ketemu lagi, Pa. Sistem restart sekarang.” Layar televisi di dinding kapsul padam. Ilo berseru mencegah sambungan diputus —dia jelas masih ingin bertanya pada anaknya. Tapi tidak ada lagi waktu walau untuk mengelu h sejenak, karena kapsul yang kami naiki persis keluar dari lorong , mengam bang turun menuju peron. Dari ke-tinggian lima meter, kami bisa

asi.com

TereLiye “Bumi” 263

menyaksikan Bayangan.

seluruh

lapangan

yang

dipenuh i

anggota

Pasukan

Aku menatap Ilo, apa yang akan dia lakukan? Seli dan Ali menata p k u , seolah bertanya Ilo berbicara dengan siapa, dan apa yang me-reka bicarak a n dalam situasi genting seperti ini. Ilo menggigit bibir, mencengkeram tuas kemudi. Persis saat kapsul mendarat di peron, ketika puluhan anggota Pasukan Bayang- an bergerak mengepung kami dengan tombak perak ter-acung, aku bisa melihat di peta layar kemudi, lorong- lorong de-ngan tanda silang kembali terbuka. Seluru h titik merah (kapsul penumpang) di wilayah lain berhenti bergerak. Ily telah me-restart jaringan. Seluruh sistem otomatis kereta bawah tanah mati. Pintu-pintu lorong terbuka. Semua jalur bersih untuk dilalu i. ”Pegangan, anak­anak!” Ilo berseru. Aku berseru menerjemahkan. Seli segera duduk di bangk u , ber-pegangan erat-erat. Ali dengan wajah kusut juga bergegas kemba li memeluk tiang kapsul di dekatnya. Bahkan sebelum posisi kami mantap, Ilo sudah menekan tuas kemudi ke depan. Kapsul berdesing kencang, bergetar, lantas seperti bola peluru, melesat naik kembali, masuk cepat ke dalam lorong di atas, disaksikan seribu anggota Pasukan Bayangan yang menatap bingung. Kami tidak jadi bertempur. Kami kembali kabur. *** Sesuai yang disampaikan Ily, seluruh pintu lorong terbuka. Dita m b a h tanpa ada kapsul lain yang bergerak, Ilo bisa meng-ambil jalur terpendek ke titik permukaan terdekat secepat mung-kin. Ilo menggu nakan seluruh kecepatan kapsul dan medan magnet ik . Tubuh kami terbanting ke atas. Seli memejamkan mata, berseru tertahan. Entahlah apa yang dilakukan Ali. Sembilan puluh detik mengebut, kapsul yang kami naiki akhir- ny a melambat, berdesing pelan, lantas keluar dari lorong. Cahaya terang

asi.com

TereLiye “Bumi” 264

menerpa jendela. Ilo dengan gesit mendaratkan kapsul di peron. Kami sepertinya sudah mencapai permukaan tanah tepat waktu. ”Kalian baik­baik saja?” Ilo turun dari bangku kemudi. Ali menjawabnya dengan muntah, membuat kotor lantai. Aku beranjak berdiri. Kakiku sedikit gemetar. Kecepatan kapsul tadi membuatku seperti naik wahana Dunia Fantasi, tapi dengan tingkat tantangan seratus kali lebih ekstrem. Seli juga berdiri dengan berpega n ga n sandaran kursi. Wajahnya pucat. ”Kita tidak punya waktu banyak. Sistem otomatis akan pulih beberap a detik lagi. Kabar baiknya dengan sistem tadi mati, mereka tidak tahu kita keluar di stasiun darurat yang mana. Mereka harus memeriksa ratusan stasiun satu per satu. Ayo, anak-anak, kita terpaksa meneruskan perjala na n dengan cara konvensional. Jalan kaki.” Ilo mengulurkan tangan, memba nt u Ali berdiri. Si genius itu meringis, masih memeluk tiang kapsul, kondis iny a payah sekali. Pintu kapsul terbuka. Aku melangkah keluar lebih dulu. Sekali lagi kami berada di permukaan dunia aneh ini. Stasiun darurat yang ini tidak berada di dala m gua gelap seperti sebelumnya. Sebaliknya, pelataran sta-siun berada di tempat terbuka, di tepi sungai besar. Kakiku yang turun dari peron segera menginjak pasir sungai. Jika situasinya lebih baik, tidak pusing dan mual habis me-naik i kapsul terbang, ini pemandangan yang hebat. Aku me-lang k a h meninggalkan bangunan stasiun yang hanya cukup untuk merapat satu kapsul, menatap sekitar. Sungai di depan kami lebarnya hampir dua ratus meter, tepianny a berpasir putih bersih, terasa lembut di telapak kaki, seperti pasir di pantai. Batu-batu besar bertumpuk di belakang, memisa hk a n pasir dan vegetasi tumbuhan. Di depan kami, air sungai mengalir tenang—berarti sungainya dalam . Permukaan sungai terlihat biru, bening, memantulkan cahaya matahari. Aku mendongak. Matahari sudah tergelincir di titik tertingginy a,

asi.com

TereLiye “Bumi” 265

sudah berada di sebelah barat. Entahlah se-karang sudah jam berapa, bahkan aku lupa ini hari dan tanggal berapa. Hutan lebat berada di belakang kami, lengkap dengan pohon-p o h on tingginy a. Serombongan burung berwarna putih terbang rendah. Suara kelepak dan lengkingannya memenu hi langit- langit sungai. Juga kuak panjang bebek sungai, sayap mereka terentang lebar, melint as di permukaan. Kaki mereka tangkas menyentuh sungai yang tenang. Setelah mual menaiki kapsul terbang, pemandangan di stasiun darurat cukup menghibur kami. Seli melangkah di belakangku, menutup dahi dengan telapak tanga n, silau. Kakiny a ikut menyentuh pasir putih, menggerak-gerakkan jari kaki. Sepatu hitam yang kami kenakan seolah menyatu dengan kulit. Kami bisa merasakan lembutnya pasir. Seli mengem buskan napas. Wajahnya yang tadi tegang dan pucat kembali memerah. Sedangkan Ali dipapah Ilo turun dari kapsul. ”Kamu bisa berjalan sendiri?” Ilo bertanya kepada Ali. Aku menoleh, menerjem ahkan kalimat Ilo. ”Aku bisa berjalan sendiri.” Ali menyeka wajahny a. Dia terlihat kusut dan lemas. ”Tapi kita tidak berjalan mendaki lereng lagi, kan?” Ilo tertawa mendengar terjemahanku. ”Tidak, kita tidak akan mendaki. Aku sengaja keluar di stasiun darurat paling dekat dengan rumah peristirahatan. Rumah itu ada di teluk kota. Tapi tidak dekat, masih dua belas kilometer. Kita berjalan di tepi sungai ini, menghilir hingga teluk.” ”Dua belas kilometer?” Ali menggeleng. Dia malah duduk di hampar a n pasir sungai.

Aku melotot, menyuruhny a berdiri. ”Ali, ini bukan saatnya isti­rah at . Pasukan Bayangan bisa muncul kapan saja di peron stasiun di belaka ng kita.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 266

”Aku tidak mau berjalan sejauh dua belas kilometer.” Ali balas melotot. ”Aku manusia biasa, Makhluk Tanah. Dengan mual dan pusing ini, aku tidak akan kuat.” ”Tapi kita harus bergerak segera, Ali,” aku menimpali. ”Iya aku tahu. Rombongan sirkus itu bah­kan sudah mulai menge jar . Tapi kita bisa menggunakan cara lain, bukan jalan kaki. Pakai apala h , menghiliri sungai ini. Pe-rahu misalnya. Pesawat terbang. Roket.” ”Tidak ada perahu di peron ini.” Ilo menggeleng, setelah aku menerjemahkan kalimat Ali. ”Ini stasiun darurat, hanya berfung s i mengeluarkan penumpang ke permukaan. Kita juga tidak bisa mengguna ka n lorong berpindah, sistem itu dihentikan sementara waktu oleh pengu a s a baru.” Ali masih duduk di hamparan pasir, sekarang melepas tas ranselny a . Kalau saja wajahny a tidak terlihat lemas, aku sendiri yang akan menyeretnya berdiri. ”Bagaimana sekarang?” Seli menatapku. Aku mengangkat bahu. Mungkin Ali harus digendong. Seekor burung dengan ekor panjang menjuntai terbang me-lintas di permukaan sungai, terlihat anggun. ”Kalau begitu, kita istirahat sejenak.” Ilo meng­angguk, me­nu nju k Ali. ”Semoga setelah beberapa saat, kondisi­ nya membaik. Dia jelas tidak bisa berjalan jauh.” Aku mengem buskan napas, mengalah, ikut duduk di hampar- an pasir. Seli menoleh ke belakang, memperhatikan peron stasiun de-ngan cemas. Kami berdiam diri beberapa saat.

asi.com

TereLiye “Bumi” 267

”Aku punya usul,” Ali berseru setelah lengang sebentar. ”Kita guna­kan saja kapsul kereta itu. Lemparkan ke sungai, kita jadi­kan perahu .” Apa? Aku menatapnya. ”Masuk akal, kan?” Ali mengangkat bahu. ”Kapsul kereta itu pasti mengam bang di air. Kita naik di atasnya. Jadilah dia kereta wisata. Kalia n bisa melihat pemandangan dari jendela.” ”Keretany a memang kedap air, bisa mengam bang, bahkan te­ naga manualny a bisa membuat kapsul bergerak di sungai walau­pu n tidak cepat,” Ilo menjelaskan saat aku menyampaikan usul Ali. ”Tapi bagaimana kita memindahkan kapsul itu ke sungai? Jaraknya hampir dua puluh meter. Tidak bisa digelindingkan be-gitu saja.” Aku menerjem ahkan kalimat Ilo kepada Ali. Ali nyengir, me­mindah­kannya.”

menatapku.

”Kamu

dan

Seli

yang

akan

”Kami?” ”Iya, kalian. Pertama­tama, kamu hantam kapsul itu dengan pukula n hingga mental ke sungai, dan Seli, langkah kedua, segera mengendalik a n kapsul itu agar mendarat mulus di per-mukaan air. Seli bisa menggerakk a n benda dari jauh. Kapsul itu bukan masalah besar.” ”Aku hanya bisa menggerakkan benda­benda kecil, Ali.” Seli menggeleng. ”Buku, bolpoin, gelas, atau paling besar boneka panda­ku. Aku belum pernah menggerakkan benda sebesar bus.” ”Dan bagaim ana aku akan membuat kapsul itu terlempar dari peron?” Sekarang aku yang protes. ”Itu bukan benda ringan seperti kucing liar atau Pasukan Bayangan.” Ali menatap kami bergantian. ”Kalian kan me­makai sarung tanga n keren itu. Kekuatan kalian bisa berkali-kali lipat lebih besar. Rencana ini terlalu sederhana untuk gagal. Kamu hanya bertugas memuku lny a kencang-kencang, Ra, dan Seli hanya bertugas mengendalikanny a agar mendarat mulus. Sementara aku memastikan kalian berdua

asi.com

TereLiye “Bumi” 268

melakukannya dengan benar—sesuatu yang lebih rumit sebenarny a. Lakukan saja. Pasti ber­hasil.” ”Bagaimana kalau kapsulnya malah mendarat terlalu jauh atau tenggelam?” Seli bertanya. ”Aku belum tentu bisa mengendalika n gerakannya. Kapsul itu besar sekali.” ”Dan bagaimana kalau ternyata kapsul itu jadi rusak karena kupuku l? ” aku menambah daftar kemungkinan buruk lainny a. ”Ali benar. Ini bisa jadi ide bagus,” Ilo menengahi, setelah aku menerjemahkan untuknya. ”Kalaupun kapsul itu tenggelam atau rusak di dalam sungai, setidaknya kita justru bisa meng-hilangkan jejak. Sistem otomatis mereka tidak bisa menemukan di mana kapsulny a. Kalau berhasil, lebih bagus lagi, kita bisa menggu na-kan- ny a untuk menghilir.” Aku dan Seli saling tatap sejenak. Ilo benar. Baiklah. Tidak ada salahny a mencoba ide si genius ini. Aku mengangguk. Aku dan Seli melangkah kembali ke peron. ”Tidak secepat itu. Kalian latihan dulu,” Ali berseru sambil beranja k berdiri, menyambar tas ranselnya. ”Lihat, ada batu­batu besar di sana. Kalian coba pindahkan satu atau dua batu besar itu.” Aku menatap Ali dan Ilo yang beranjak menjauh, mengosong- k a n hamparan pasir. Entah di dunia kami atau di dunia aneh ini, sifat Ali tetap sama, suka mengatur-atur orang. Tapi untuk kesekian kali saranny a masuk akal. Baiklah, akan kami turuti pendapatnya. Aku bersiap-siap berdiri di belakang salah satu batu besar yang terbenam di pasir, mengangguk ke arah Seli yang berdiri di tengah hampar a n pasir. Aku mulai konsentrasi. Sarung tangan-ku berganti warna menja d i gelap. Seli di sana juga sudah siap. Sarung tangannya terlihat bersinar terang di tengah terik mata-hari. Aku menahan napas, memuku l batu besar seting g i ping-gangku. Suara dentuman terdengar kencang, membuat bebek-bebe k sungai beterbangan dari semak, juga burung-burung lain. Batu itu terangk at dari pasir, terpental ke udara. Aku terduduk karena kaget sendiri melihat apa yang terjadi.

asi.com

TereLiye “Bumi” 269

Syukurlah Seli tidak kaget. Dia sudah bersiap. Sebersit cahay a menyambar batu yang terbang itu saat Seli mengacungkan kedua tangan. Dia berkonsentrasi penuh. Dua tangannya gemetar, ber-usaha mengendalik a n, membuat batu itu bergerak turun per-lahan-lahan. Beberapa detik sepertinya batu itu akan turun mulus ke permukaan sungai, tapi sedetik berlalu, meluncur tidak terkendali, jatuh berdebum, membuat cipratan air muncrat ke mana- mana. Seli melompat ke belakang. Bukan karena menghindari ciprat-an air tinggi yang mengarah padany a, tapi lebih karena panik batu itu lepas kendali. ”Bagus!” Ali berseru di kejauhan. ”Itu bagus sekali, Sel. Tidak apa. Jangan dipikirkan. Kita coba sekali lagi. Dan kamu, Ra, jangan terlalu kencang memukulny a, supaya Seli tidak terlalu susah payah mengendalika n batunya saat meluncur turun. Pukul dengan lembut, gunakan nalurimu.” Aku bangkit dari dudukku, menepuk- nepuk pakaian yang kotor. Si genius itu menyebalkan sekali. Mana aku tahu batu itu akan terpenta l setinggi itu? Aku saja kaget. Enteng sekali dia bilang begitu. Terus, apa pula maksudny a pukul dengan lembut? Lihatlah, sekarang Ali sudah seperti sutradara film meneriaki artis-artisny a. ”Kamu mengerti, Ra? Jangan terlalu kencang!” Ali berteriak sekali lagi. ”Iya, aku tahu.” Aku melangkah ke belakang batu berikutny a, segera konsentrasi menatap batu hitam ber-lumut yang besarnya setinggi kepalak u . Seli di tengah hamparan pasir mengangguk. Dia sudah siap. Setelah menghela napas dua kali, aku memukul batu itu lebih terkendali. Dentuman kencang kembali terdengar. Batu itu ter-angkat dari dalam pasir. Butir pasir beterbangan. Batu itu ter-pe-lanting tinggi ke udara—tidak terlalu tinggi, hanya tiga meter. Seli mengacungkan tangan, membuat batu besar itu di-selim uti alira n listrik. Tangan Seli gemetar. Dia konsentrasi pe-nuh. Sedetik berlalu, batu besar itu bergerak perlahan sesuai kendali Seli, kemudian mendarat anggu n di atas permuka- an sungai, tenggelam dengan mulus.

asi.com

TereLiye “Bumi” 270

”Keren!” Ali mengacungkan jempol. Aku dan Seli tersenyum puas. Kami berhasil. ”Baik, sekarang mari kita coba dengan benda sesungguh ny a,” Ali berseru. ”Rileks saja, Seli. Anggap seperti batu besar tadi. Kamu pasti bisa.”

Aku melangkah masuk ke dalam bangunan stasiun, berdiri di belaka ng kapsul kereta yang penyok dan pecah jendela kaca-nya. ”Pukul di bagian rangka kapsul, itu bagian paling keras. Sepanja n g bagian itu yang dihantam, kamu tidak akan merusak kapsulnya. Ingat, Ra, jangan terlalu kencang, dan jangan terlalu pelan. Lakukan seperti tadi,” Ali berteriak. ”Iya, aku tahu.” Aku bersungut­sungut, mengangguk. Teriakan Ali ini sebenarny a mengganggu konsentrasiku. Lagi pula si genius ini tidak menjelaskan apa maksudny a jangan ter-lalu kencang atau terlalu pelan. Aku belum terbiasa de-ngan kekuatan sarung tanganku. Bahkan sebenarny a, aku belum terbiasa dengan fakta bahwa aku bisa mengeluarkan deru angin kencang dari tanganku. Seli di hamparan pasir mengangkat tangan, memberi kode. Dia sudah siap. Aku menghela napas berkali-kali, konsentrasi penuh. Tangank u dipenuh i desir angin kencang, semakin deras setiap kali aku mencapai lev el konsentrasi berikutny a. Lantas per-lahan aku memukul dinding kapsul di bagian rangkanya. Suara dentuman kencang terdengar. Kapsul itu terlemp ar dari dalam bangunan stasiun, terbang setinggi tiga meter di atas kepala. Seli segera mengacu ngkan tangannya ke atas. Kapsul itu diselim u t i tenaga listrik. Kapsul itu jelas lebih besar dibanding batu sebelum ny a , bergetar tidak terkendali, merosot satu meter ke bawah. Seli berteriak panik . Aku menahan napas. Tapi Seli ber-hasil menahan kapsul agar tidak terus merosot. Dia memaksa-kan seluruh tenagany a. Kakinya terdorong ke dala m pasir hingga betis. Sedetik berlalu, kapsul itu perlahan mulai bergerak teratur menuju permukaan sungai, kemudian

asi.com

TereLiye “Bumi” 271

mendarat sama mulusnya seperti batu sebelumnya, hanya membuat riak kecil. Kapsul itu telah mengam bang di atas sungai. Wajah Seli terlihat pucat, namun ia mengembuskan napas lega. Aku tertawa lebar, berlari mendekati Seli, memeluknya riang. ”Apa kubilang. Berhasil, kan?” Ali juga melangkah mendekat, ikut tertawa. Wajah si tukang ngatur ini sebenarny a masih me-ringis mena ha n sisa pusing dan mual. ”Kita segera berangkat, anak­anak!” Ilo berseru. Dia me­langkah ke permukaan air sungai setinggi betis. Kami menyusul, naik satu per satu. Terakhir Ali, dibantu Ilo. ”Jika tidak melihat sendiri, aku tidak akan bisa memercay ai­ nya.” I lo tertawa, duduk di bangku kemudi, menatapku dan Seli. ”Kalian berdua hebat sekali. Kalian lebih hebat dibanding pemenang kompetisi tahunan petarung Klan Bulan.” Aku tidak berkomentar, duduk di salah satu bangku. Ilo menekan tombol-tom bol di hadapannya. Pintu kapsul tertutup. ”Baik, anak­anak, kita menuju teluk kota.” Kapsul itu segera bergerak di atas permukaan air saat tuas kemud i didorong ke depan. Tidak cepat, hanya mengandalkan mesin pendor on g manual, tapi itu lebih dari memadai dibanding kami harus berjalan kaki. Kami segera menuju tempat pem-ber-hentian berikutnya.

asi.com

TereLiye “Bumi” 272

EMANDANGAN dari kapsul kereta saat menghilir di sungai besar itu menakjubkan. Hamparan pasir sejauh beberapa kilometer kemudian diganti- ka n dinding sungai yang terjal dan tinggi dengan satu-dua air terjun yang tumpah ke sungai, berdebum indah, membuat kapsul ter-siram percik air. Kami melewati butiran air di atas kapsul yang membentuk pelangi. Aku dan Seli berdiri di samping jendela yang kacanya sudah pecah, menatap sekitar tanpa ber-kedip. Burung- burung melintasi permukaan sungai, melengu h saling memanggil. Beberapa hewan liar terlihat berlarian di antara semak belukar atau di atas bebatuan besar. Mungkin itu kijang, mungkin juga kuda, aku tidak tahu pasti. Hutan di dunia ini lebih menakjubkan, sekalip u n diband ingkan dengan imajinasi hutan di film yang pernah kami tonton. Dinding sungai yang terjal berganti lagi dengan pohon bakau yang tumbuh rapat di tepian sungai. Riuh rendah suara monyet berlarian di salah satu bagianny a saat kami lewat. Aku menatap puluhan monyet berukura n besar itu, mungkin lebih mirip kingkong. Puluhan ”kingkong” berseru­ ser u melihat kami lewat perlahan. Itu bukan pemandangan yang menentera m ka n hati. ”Setidaknya mereka tidak bisa melompat ke dalam air.” Ali nyengir , ikut memperhatikan. ”Bagaimana kalau mereka bisa berenang?” ”Monyet tidak bisa berenang, Seli. Mereka takut air, kecuali yang dilatih di kebun binatang.” Ali sudah seperti guru biologi, menjelaskan. ”Bagaimana kalau ada binatang buas di dalam sungai?” Seli berkata pelan. Aku menatap Seli. ”Jangan berpikir yang aneh­aneh deh, Sel…”

asi.com

TereLiye “Bumi” 273

”Lho, bisa saja kan, Ra? Buaya misalny a? Atau ular sungai sebesar kereta? Ini kan di dunia aneh, boleh jadi malah ada naga? Tiba-tiba munc u l menerkam kapsul.” Seli tidak menge rti tatapanku, malah meneru sk a n kecemasanny a—dan dia jadi cemas sendiri. Aku menatap manyun Seli yang terdiam. Tetapi setidakny a sejauh ini kami tidak menemukan hewan buas. Yang ada malah ikan terbang yang lompat tinggi di sekitar kapsul, atau mungk in sejenis lumba-lum ba. Mereka bergerom bol mengikuti desing kapsul yang terus meluncur di atas permukaan sungai, menuju ke hilir. Kapsul tidak bisa bergerak cepat di atas air. Pohon bakau digantikan hamparan pasir putih. Sementara di atas kepala kami terlihat menjulang tinggi satu- du a tiang besar dengan bangunan berbentuk balon di ujungnya. ”Kita melewati pinggiran kota, memang ada beberapa rumah di sini,” Ilo menjelaskan. Dari bawah, terlihat sekali betapa tingginy a tiang-tiang rumah itu — jauh di atas kepala kami—tiang besar dari bahan baja stainless denga n diameter tidak kurang dari lima meter. Aku sekarang mengerti kenapa penduduk kota ini mendirikan rumah di tiang tinggi atau berada di dala m tanah sekalian. Tidak ada yang mau bertetangga dengan ”kingkong” tadi. ”Bagaimana penduduk tiba di atas rumahny a jika lorong berpind a h tidak boleh digunakan?” Ali bertanya, menyikutku agar menerjemahka nny a kepada Ilo. ”Kami menggunakan cara konvensional, lift,” Ilo menjawab denga n senang hati. ”Dalam situasi darurat seperti ini, biasany a Komite Kota juga menyediakan angkutan terbang ke setiap rumah dari Stasiun Sentral di permukaan. Atau kamu bisa me-milih tinggal di kota bawah tanah, lebih banyak penduduk yang memiliki rumah di bawah sana, para pekerja, petugas kota. Di bawah fasilitas lebih lengkap, pusat perbelanjaan, hiburan, hotel mewah, apa pun yang dibutuhkan seluruh kota. Sebenarny a perada ba n Kota Tishri ada di dalam tanah. Hanya orang kaya yang memiliki Ruma h Bulan di atas permukaan.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 274

Aku dan Seli mendongak, menatap bangunan berbentuk balon yang semakin banyak. ”Itu berarti Ilo termasuk keluarga kaya,” Ali berbisik. ”Lantas kenapa?” Aku menatap Ali, tidak mengerti. ”Ya tidak apa­apa. Kan Ilo sendiri yang mengucapkan kalimat itu.” Ali mengangkat bahu, merasa tidak berdosa dengan tingkah nyi-nyirnya. Aku memilih membiarkan si genius di sebelahku. Kembali asy ik menatap pemandangan. Kapsul yang kami naiki terus menghilir. Tiang-tiang tinggi itu semakin berkurang, tertinggal jauh di belakang. Tepian sungai kembali dipenu h i hamparan pasir, dengan pohon kelapa tumbuh rapat. Pohonnya tingg i, pelepah daunny a hijau, buahny a besar-besar. Jika melihat vegetasi di tepi sungai, sepertinya kami sudah semakin dekat dengan teluk kota. ”Kita tidak jauh, lagi anak­anak,” Ilo di atas bangku kemud i memberitahu. ”Dan kabar baiknya, aku baru saja menerima kabar dari Vey dan Ou, mereka sudah tiba di rumah peristirahat­an.” Kami ikut senang mendengar kabar itu. Matahari siap tenggelam di kaki barat saat kapsul kereta akhirny a tiba di muara sungai, di laut lepas. Ilo memutar ke-mudi. Kapsul berbelok ke kiri, bergerak di sepanjang tepi pantai. Lebih banyak lagi pohon kelapa, juga hamparan pasir sejauh mata memandang. Aku keluar dari kapsul, menatap tanpa berkedip. Aku belum perna h menyaksikan pantai sebersih dan seindah ini, lengkap dengan sunset- nya. Seli di tenggelam .

sebelahku

juga

memperh atikan

lamat-lam at

mataha r i

”Indah sekali, bukan?” aku berkata pelan. Seli hanya diam, masih mematung menatap lurus. Setelah be-berap a detik saat seluruh matahari hilang ditelan lautan, me-nyisakan sembur at jingga, Seli baru mengembuskan napas perlahan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 275

”Indah sekali, bukan?” aku mengulang kalimatku. Seli menoleh, mengangguk. ”Aku selalu suka menatap mataha r i tenggelam , Ra. Selalu membuat hatiku hangat, damai. Sunset tadi inda h sekali. Kata Mama, waktu aku masih kecil, setiap kali diajak ke pantai, saat sunset tiba, maka aku akan berhenti dari seluruh permainan, juga kalau sedang menangis, diam seketika. Aku akan menatap sunset sendirian, tidak bisa ditegur, tidak bisa diajak bicara hingga seluruh matahari hilang. Aku suka sekali sunset.” ”Itu karena kamu anggota Klan Matahari, Seli,” Ali men­celetuk. ”Apa hubunganny a?” Aku menatap Ali. Si genius ini kadang sok tahu sekali. ”Jelas, kan? Karena Seli itu dari Klan Matahari, jadi dia me­ny uka i matahari.” ”Aku juga menyukai sunset.” Aku menggeleng, tidak sepen­d a p at dengan Ali. ”Teman­teman di sekolah juga banyak yang menyukai sunset, tidak otomatis mereka dari Klan Matahari, kan?” Ali menggaruk kepala. ”Dan sebaliknya, kalau kamu mau bilang orang­ orang yang meny uk a i purnama otomatis adalah anggota Klan Bulan, maka itu berarti manu s ia serigala di film-film tidak masuk akal itu termasuk Klan Bulan. Makhlu k jadi­jadian. Padahal tidak ada manusia serigala di dunia ini, bukan?” Ali terdiam, tidak bisa membantah kalimatku. Seli menahan tawa. ”Kalian berdua lama­lam a cocok.” ”Cocok apanya?” Aku melotot ke arah Seli. ”Cocok saja. Kalian kan selalu bertengkar. Di sekolah bertengkar, di rumah bertengkar, di kota kita bertengkar, juga di dunia ini bertengkar. Itu bisa dua hal, musuh besar atau me­mang cocok dua­duany a.” Seli tertawa.

asi.com

TereLiye “Bumi” 276

Enak saja Seli bilang begitu. Aku melompat hendak menutup mulut Seli, menyuruhnya diam. Dalam situasi tidak jelas, di dunia aneh pula, enak saja Seli menggodaku. ”Anak­anak, kita sudah sampai,” Ilo memotong gerakan tangan­ku. Aku menoleh, gerakan tanganku terhenti. Ilo tersenyum, menunjuk ke depan. Aku ternyata keliru. Sejak tadi, saat Av dan Ilo berbicara tentang ”rumah peristirahatan”, aku pikir itu juga akan berbentuk bangun­ an bulat di atas tiang, dan kami harus naik lift menuju atasnya. Ternyata tidak. Rumah itu persis seperti rumah ke-banyakan di kota kami, meskipun di sekelilingny a terdapat pagar tinggi. Itu rumah yang indah, seperti vila tepi pantai di kota kami. Dua lantai, seluruh bangunan terbuat dari kayu, semipanggu ng. Lampu teras luarny a menyala terang, juga lampu-lam pu kecil di jalan setapak. Ada banyak pot kembang di halaman, juga taman buatan yang indah. Di halaman, di pasir pantai, terdapat kanopi lebar dengan beberapa bangku rotan. Ini sesuai namany a, rumah peristirahatan, sama sekali bukan Rumah Bulan. Ilo mengarahkan kapsul kereta perlahan merapat di dermaga kay u menjorok ke laut, berhenti sempurna di sisi dermaga, mem-buka pintu kapsul, lantas mematikan tuas kemudi manual. ”Ayo, anak­anak.” Ilo turun dari bangku. Kami turun dari kapsul. Ilo sempat mengikat kapsul dengan tali di dermaga kayu agar kapsul tidak dibawa ombak. Kami berjalan beriringan di atas dermaga, menuju jalan setapak yang di kiri-kanannya tersusun karang laut dan pot bunga. Tiba di anak tangga, Ilo mendorong pintu. Vey sudah menunggu kami sejak tadi. Dia lang-sung berseru melih at siapa yang datang. Vey melompat turun dari kursi ruang depan, memeluk I lo erat. Wajah cemasnya me-mudar dengan cepat, digantikan tawa pelan yang renyah. ”Syukur­lah kalian baik­baik saja.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 277

Kami bertiga berdiri di bawah daun pintu, memperhatikan. ”Kalian tidak apa­apa, anak­anak?” Vey melihat kami, melepa s pe­luk­an, menatap kami bergantian. ”Aduh, rambut kalian be­rantak­ a n sekali, wajah kalian juga kotor. Kalian pasti melewati hari yang sulit.” ”Bukan hanya sulit, Vey, kamu tidak akan mudah percaya apa yang baru saja mereka lalui. Tapi mereka baik­baik saja. Kamu tidak perlu cemas .” Ilo tersenyum. Vey memegang tanganku dan Seli. ”Syukurlah. Aku sudah cemas sekali sejak mendengar kabar kalian tadi siang. Ayo, mari kutunjukkan kamar kalian, ada beberapa kamar kosong di vila ini. Kalian pasti suka. Kalian bisa segera mandi, berganti pakai­an, agar lebih segar.” Aku, Seli, dan Ali mengikuti langkah Vey. Kami masuk ke ruang tengah vila. Perapian besar menyala di pojok ruangan, membuat suasana terasa hangat. Dengan segala kekacauan, aku sampai tidak menyadari bahwa di dunia ini suhu udarany a terasa lebih dingin dibanding kota kami. Beberapa sofa panjang diletakkan di depan perapian, juga meja-meja kecil dipenuhi buku, vas bunga, dan benda-b e nd a lain. Lampu kristal besar tergantung di langit-langit, menyala lembut . Benda- benda di rumah ini tidak terlalu aneh, masih bisa dikenali. Vey menaiki anak tangga di samping perapian. Kami me-nuju lanta i dua. Juga tidak ada lorong-lorong yang meng-hu- bung-kan ruang a nruangan di rumah ini. Aku ber-gumam, hanya selasar biasa. Kami akhirny a tiba di dua kamar ber-dekat-an. Vey mem-buka salah satu pintu ny a , terse-nyum, me-nyuruh kami masuk. Aku menatap sekeliling kamar, nyaman dan bersih. Seli mengembuskan napas. Aku tahu maksud helaan napas Seli. Dia lega karena kamar ini tidak seaneh kamar kami di Rumah Bulan itu. Tempat tidur besar diletakkan di lantai—tidak me-nempel di dinding dan bisa naik-tur u n. Lemari berbentuk ta-bung. Bentuk meja, kursi, dan cermin besar tidak terlalu aneh.

asi.com

TereLiye “Bumi” 278

”Ada dua kamar dengan pintu penghubung.” Vey mendorong pintu yang menuju kamar di sebelah. ”Kamar yang satu ini lebih besar, bisa untuk Seli dan Ra, yang satunya lebih kecil untuk Ali. Kalian bisa menggunak a n dua kamar ini. Pakaian bersih ada di lemari, juga ada di kamar mandi, bisa kalian gunakan sebebas- ny a. Jangan malu- malu, anggap saja rumah sendiri.” Aku mengangguk, bilang terima kasih. ”Jika kalian sudah siap, segera turun. Meja makan ada di seberang perapian. Dan jangan lama­lama, nanti makan malam­ nya telanjur dingin .” Vey tersenyum, melangkah menuju pintu, meninggalkan kami bertiga. Saat pintu ditutup dari luar, Ali sudah melempar sembarang ranselny a ke lantai, langsung meloncat ke atas tempat tidur empuk, meluruskan tanga n dan kakinya. Aku melotot melihat kelakuan si genius itu. ”Ini nyaman sekali, Ra,” Ali berseru pelan, malah santai tidura n. ”Setelah seharian dikejar­ kejar rombon gan sirkus itu. Mual dan munta h . Nikmat sekali tiduran sebentar.” ”Kamarmu yang satunya, Ali! Ini kamar kami.” Aku me­nyuruh­ ny a pindah. ”Apa bedany a sih, Ra? Kan sama saja.” Ali tidak mau beranjak dari tempat tidur. ”Kalian saja yang di kamar itu.” ”Pindah, Ali, atau aku suruh Seli menyetrum mu.” Seli yang sedang memperhatikan seluruh kamar tertawa mende n g ar kalimat mengancamku. ”Kenapa sih kamu harus galak sekali, Ra? Tidak di kota kita, tidak di dunia ini, masih saja galak. Cerewet.” Ali bersungut­su ng ut turun, mengam bil tas ranselnya di lantai. ”Karena kamu meletakkan alat perekam di kamarku,” aku berseru ketus.

asi.com

TereLiye “Bumi” 279

”Aku kan sudah minta maaf, Ra. Dan itu hanya perekam biasa. Aku tidak mengintip yang aneh­aneh.” Ali melangkah me­lewati pintu penghubung ke kamar sebelah, mengomel pelan. ”Dasar pendendam.” Aku hampir saja menimpuk si biang kerok itu dengan bantal di atas tempat tidur, tapi batal karena Seli sudah menyikutku, bilang dia mau mand i duluan. Pintu penghubung kamar ditutup Ali. *** Aku mulai terbiasa mandi dengan semburan udara—term as u k membersihkan gigi dengan sikat gigi udara. Kali ini aku mandi lebih lama, menikmatiny a. Aku juga memilih pakaian bersih yang akan kukenakan di lemari kamar. Seli tertawa kecil melihatku berkali-kali bertanya apakah yang kupilih bagus atau tidak. Seli sudah rapi sejak tadi. ”Cocok kok, Ra.” Seli mengangguk. Aku menatap menertawakanku.

Seli lewat

cermin,

memastikan

dia tidak

sedang

”Kata mamaku, kita hanya perlu sedikit percaya diri, maka cocok sudahlah pakaian yang kita kenakan,” Seli menambahkan. Aku mematut di depan cermin, ikut meng-angguk. Aku jadi tahu kenapa Seli selalu modis ke mana- mana, karena mamanya punya nasih at sebagus itu. Ali mengetuk pintu penghubung, masuk ke kamar. Dia sudah bergant i pakaian bersih. Wajah ny a segar, tidak tersisa bekas mual dan pusingny a tadi siang. Rambutny a tersisir rapi. ”Bagaimana kamu melakukanny a?” Aku menunjuk rambut Ali. Bukankah rambutny a susah sekali dibuat rapi? ”Di tabung kamar mandi ternyata ada alatnya, Ra.” ”Kamu bisa membuat rambutm u menjadi keriting atau lurus seketika.” Ali cengenge s a n.

asi.com

TereLiye “Bumi” 280

”Oh ya?” Seli tertarik. ”Coba saja, alat yang seperti pengering rambut. Kamu berdiri di bawahny a, tekan tombol di dinding, bahasany a sih aku tidak paham, tapi aku bisa menebak-nebaknya. Lagian tidak masalah keliru model rambut, bisa diganti dengan cepat.” ”Wah, aku kira itu alat apa tadi. Tidak berani kusentuh.” Ali tertawa. ”Kamu harus berani mencoba, Sel, biar tahu.” Aku juga memperhatikan alat itu, di sebelah wastafel. Tapi sama seperti Seli, aku tidak berani memakainy a. Siapa yang menjam in tidak terjadi hal buruk? Bagaim ana kalau ternyata alat itu mencukur seluru h rambut? Tapi sepertinya Ali tidak pernah khawatir apa pun saat menc ob a hal-hal baru—term asuk risiko meledak sekalipun. Kami beriringan menuju ruang makan, menuruni anak tangga. Vey menyambut kami. Aku selalu suka melihat Vey di meja ma- kan, mirip Mama. Vey akan ikut berdiri, menyapa riang, me-nyuruh duduk, lantas sibuk mengambilkan makanan. Dia baru duduk lagi setelah piring kami terisi semua dan gelas air minum penuh. ”Ayo dimakan, anak­anak, jangan malu- malu. Semua masakan dibuat spesial untuk kalian.” Vey duduk kembali, tersenyum lebar. Aku mengangguk, balas tersenyum sopan. Makanan di atas tetap sama anehny a dengan sarapan tadi pagi—m alah ada bongkahan di dalam bubur berwarna hitam. Aku ragu-ragu menyendokny a, seujung sendok, mencoba. Aku ter-senyum lebih lebar, ternyata sedapnya seperti sarapan tadi pagi—bahkan lebih lezat.

piring besar hany a sama

”Enak, Ra?” Seli di sebelahku bertanya pelan. Aku mengangguk, balas berbisik, ”Jangan perhatikan bentuk-ny a, Sel. Dimakan saja.” Aku melirik Ali. Dia sudah menyuap dengan semangat, mulut- ny a penuh. Meja makan lengang sebentar. Kami sibuk dengan piring masingmasing yang berbentuk sepatu.

asi.com

TereLiye “Bumi” 281

”Kenapa Ou tidak ikut makan malam?” Aku teringat se­suatu. ”Ou sudah tidur sejak tadi,” Vey yang menjawab. ”Dia lelah. Setelah makan tadi sore, dia minta tidur. Kami berjam- jam ter-tahan di lorong kereta. Kapsul yang kami naiki berhenti lama. Juga kapsul kereta lainny a , membuat antrean panjang di setiap lorong. Butuh empat jam lebih hing g a kami berhasil menuju stasiun permukaan. ”Sebenarnya apa yang terjadi, Ilo? Seluruh kota panik. Ke­ribut­ a n terjadi di mana- mana. Dan pemeriksaan dilakukan di setiap tempat. Aku tidak sempat memperhatikan banyak hal. Aku harus memastikan Ou baik-baik saja selama perjalanan. Kasihan, ada banyak anak yang lebih kecil daripada Ou yang men-jerit ketakut-an, menangis. Semua rusuh. Semua orang be-rebut tidak mau tertib. Orang- orang di kapsul berkata bahwa Komite Kota di-bubar-kan. Ada yang tewas di Tower Sentral, pengu a s a se­luruh negeri telah beralih. Apa benar demikian?” Vey ber­tanya. Lima belas menit ke depan, sambil menghabiskan makanan di piring , Ilo dan Vey berbicara tentang situasi seluruh kota. Ilo menjelaskan seluru h kejadian kepada Vey, mulai dari Bagian Terlarang perpustakaan, berita di televisi, pertemuan dengan Av di perpustakaan, hingga kami dikejar Pasuka n Bayangan. Aku memperhatikan percakapan Ilo dan Vey. Ilo sekarang menjelaskan bahwa kami tidak tersesat dari lo- rong berpindah. ”Mereka dari dunia lain?” Suara Vey tercekat, menatap kami bertiga . Ilo mengangguk. ”Benar, mereka dari dunia lain. Tempat yang amat berbeda dari kita. Aku tidak bisa menjelaskan sebaik Av. Bukankah sudah kubilang tadi, kamu tidak akan mudah percaya apa yang telah mereka lalui, Vey.” ”Tapi, mereka persis mengangkat tanganny a.

seperti

anak­anak

di

sekitar

kita.”

asi.com

Vey

TereLiye “Bumi” 282

”Memang. Mereka sama seperti anak­anak yang sopan, baik, dan riang lainnya. Tidak ada yang berbeda soal itu. Tapi mereka bukan dari dunia kita. Mereka tidak tersesat oleh kesalahan teknis lorong berpindah. Orangt u a mereka ada di dunia lain. Rumah dan sekolah mereka juga ada di dunia lain. Av sendir i yang memastikanny a.” Vey terdiam, menatap kami tidak berkedip—persis seperti Mama kalau sedang histeris, mematung tidak percaya beberapa detik.

”Kamu bisa menunjukkan sesuatu, Seli? Agar istriku percaya.” I lo menoleh ke arah Seli. Aku menerjemahkannya kepada Seli. Kami sudah hampir selesa i makan. ”Sesuatu apa?” Seli bertanya padaku, tidak mengerti. ”Mungkin maksud Ilo.

seperti

menggerakkan

benda­benda.”

Aku

meneba k

Seli mengangguk. Dia meletakkan sendokny a. Diam sejenak , berkonsentrasi, lantas mengangkat tangan, mengarahkanny a ke gelas kosong milik Ali di seberang meja. Gelas itu perlahan-lahan terangkat ke udara. ”Astaga!” Vey berseru. ”Kamu membuatnya terbang? Bagai­ m a na kamu melakukan­ ny a?” ”Dia dari dunia lain, Vey. Memindahkan benda­benda dari jarak jauh hanya salah satu kekuatan yang dia miliki. Seli juga bisa mengeluarkan petir dari tanganny a. Tapi itu berbahaya jika dicoba di dalam rumah. Kamu bisa menunjukkan yang lainnya, Ra?” Ilo sekarang menoleh kepadaku. Seli mendaratkan kembali gelas di atas meja. Aku mengangguk, meletakkan sendok makan. Baiklah, aku akan memperlihatkan kepada tuan rumah sesuatu yang justru selama ini aku

asi.com

TereLiye “Bumi” 283

sembuny ikan dari siapa pun, termasuk dari Mama dan Papa. Aku mengangkat tangan, menutup wajah de-ngan telapak tangan. Seluruh tubuhku hilang. Vey hampir saja jatuh dari kursinya karena kaget, juga Ilo dan Seli. Meskipun mereka tahu aku bisa menghilang, mereka belum pernah menyaksikanny a. Hany a Ali yang melihat selintas lalu, kembali menyend ok makanan, lebih tertarik menghabiskan makananny a. Aku menurunkan tanganku, kembali terlihat. ”Kamu bisa menghilang, Ra? Aduh, itu tadi sungguhan meng­ hila ng ?” Vey berseru tidak percaya, memegang dahinya, mencubit lengan. ”Ini tidak bisa dipercaya.” Aku tersenyum kaku melihat Vey yang heboh. Mungkin Mama akan lebih rusuh dibanding Vey jika tahu aku bisa meng-hilang. ”Ra tidak hanya bisa menghilang, dia juga bisa memuk ul sesuatu dengan keras, bisa melompat jauh, dan entah apa lagi kekuatan yang belum diketahu iny a. Dia dari dunia kita, tapi besar di dunia lain,” I lo menambahkan. ”Kamu tahu, ternyata itu benar, Vey. Dunia ini tidak sesederhana yang terlihat. Itu bukan imaji- nasi-ku saja karena terlalu serius bekerja mendesain pakaian. Ada dunia lain, tempat anak-anak ini tingga l. Kamu berutang maaf karena dulu sempat menertawakanku.” Ilo ter­seny um lebar. Vey menghela napas panjang, memegang ujung meja. Waja h ny a masih terkesima. ”Tapi ini masih sulit dipercay a.” Vey menggeleng. Ilo meneruskan penjelasan. ”Tidak apa. Cepat atau lambat kamu akan terbiasa. Nah, sekarang kita tiba di kabar buruknya. Tamus, orang yang menyerbu Tower Sentral, yang mengambil alih kekuasaan dari Komite Kota, tahu bahwa Raib memiliki kekuatan. ”Tamus bahkan hendak menjemput paksa Ra di duniany a, yang membuat anak-anak ini tersesat di kamar Ou. Masalah ini sudah berkembang serius bahkan sebelum pertikaian politik terjadi. Menurut

asi.com

TereLiye “Bumi” 284

penjelasan Av, sebelum Tamus menguasai seluruh negeri, anak-anak harus tetap bersembuny i hingga situasi lebih jelas. Kita tidak tahu apa hubu ng a n antara Tamus yang bermaksud menjem put Ra dan serangan di Tower Sentral. Anak-anak harus disembunyikan. Sekali Tamus tahu Ra berada di dunia ini, dia akan mengirim Pasukan Bayangan mengejarnya. Itulah sebabny a kami dikejar di jalur kereta bawah tanah. Kami kabur saat pemeriksaan di Stasiun Sentral. Itulah yang terjadi sepanjang hari setelah kita mengantar Ou ke sekolah.” Meja makan lengang sejenak setelah penjelasan Ilo. Vey terdiam, menghela napas prihatin. ”Aku minta maaf telah merepotkan kalian,” aku berkata pelan. Semua orang menoleh padaku. ”Seharusny a aku tidak melibatkan siapa pun dalam kejadian ini.” Aku menunduk. ”Kamu tidak boleh berkata begitu, Ra.” Ilo menggeleng. ”Pasti ada alasan baiknya kenapa kalian muncul di rumah kami.” ”Kamu tidak perlu minta maaf. Kalian tidak merepotkan kami.” Vey ikut menggeleng. ”Kami yang justru minta maaf karena tidak bisa memba nt u kalian pulang ke dunia kalian. Aduh, orangtua kalian pasti cemas sekali.” Aku mengangkat kepala, balas menatap Ilo dan Vey. Keluarga ini amat menyenangkan. Av benar, kami beruntung sekali ter-sesat di kamar Ou kemarin malam. Masalah kami jauh lebih mudah dengan adanya Ilo dan Vey . ”Hingga ada perkembangan lebih lanjut, kalian bertiga akan tinggal di rumah peristirahatan ini,” Ilo berkata serius. ”Rumah ini aman, tidak ada penduduk kota yang mau memiliki rumah di tepi pantai. Jangan cemaska n hewan liar. Av sering berkunjung ke sini, berlibur. Dia sendiri yang meny ege l pagar. Av memiliki kekuatan untuk hal-hal seperti itu. Dia bukan sekadar pustaka- wan berusia lanjut. Kami juga akan tinggal di sini

asi.com

TereLiye “Bumi” 285

hingga situasi membaik. Sekolah Ou diliburkan, seluruh kota masih rusuh.” Suara api membakar kayu di perapian terdengar bekeretak. Udara sekitar meja makan terasa hangat.

di

”Bagaimana dengan Ily?” Aku teringat sesuatu. ”Ily belum menghubungi lagi,” Vey yang menjawab. ”Ily baik­baik saja,” Ilo menambahkan, berkata yakin. ”Ily berada di pusat kendali stasiun bawah tanah. Dengan seluruh peralatan canggih di sekitarny a, itu lebih dari rumah yang nya-man bagi Ily. Dia menyukai gadget dan sepertiny a gadget juga menyukainya. Jika mereka tahu, Pasuka n Bayangan seharus- nya cemas karena menugaskan Ily di bagian itu. Mereka tidak me-nyadari, Ily bisa keluar- masuk ke sistem mana pun se-mau dia tanpa jejak, termasuk me-restart sistem kereta bawah tanah.” Aku tahu suara Ilo sama sekali tidak yakin. Tapi Ilo ber-tang- g u n g jawab membuat kami semua tenang, jadi dia memilih optimis. Ali menyikut lenganku, menyuruhku menerjemahkan kalimat Ilo dan Vey barusan. ”Akan kujelaskan nanti,” aku berbisik, tapi Ali masih meny ik ut lenganku, penasaran ingin tahu. Kapan si genius ini berhent i menggangguku? Coba lihat Seli, dia santai kembali meny endok sisa makanan di piring, tidak mendesak setiap saat. Nanti- nanti juga akan kujelaskan. ”Seharusny a ini menjadi perjalanan menyenangkan bagi kalian.” I lo mengembuskan napas, berkata lagi. ”Tadi malam aku bangga sekali memperlihatkan seluruh Kota Tishri kepada kalian. Kota paling besar di seluruh negeri. Malam ini, aku bahkan tidak tahu apakah kota ini akan tetap sama dengan se-belumnya atau tenggelam dalam kerusuhan. Seharusnya ini malam Karnaval Festival Tahunan, acara yang ditunggu- tunggu dan disaksikan seluruh negeri—bahkan aku mengira kalian sengaja datang untuk festival itu. Tetapi semua orang justru me-milih berada di rumah , mencari tempat aman.” Vey memegang lengan Ilo. ”Setidakny a kita baik­baik saja, Ilo.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 286

Ilo menoleh. ”Kita semua berkumpu l. Makan malam yang hangat. Semoga besok ada kabar baik,” Vey melanjutkan kalimatny a. Ilo mengangguk, tersenyum. ”Iya, kamu benar. Kita baik­baik saja dan berkumpul. Lihatlah, kita bahkan punya tiga orang anak baru di rumah ini, cantik- cantik dan tampan. Dan makan malam spesial ini, terima kasih telah membuat masakan terlezat di seluruh dunia, eh, maksudku terlezat di seluruh empat dunia yang ada, Vey.” Vey tertawa. ”Dasar gombal.” Aku ikut tertawa menyaksikan Ilo dan Vey bergurau. Aku ter-ingat Mama dan Papa yang sering saling goda di meja ma-kan. ”Mereka diter-jemahkan.

bicara

apa

lagi?”

Ali

menyikutku

lagi,

Dasar si pengganggu suasana. Aku melotot kepada Ali.

asi.com

minta

TereLiye “Bumi” 287

KU dan Seli membantu Vey membereskan meja setelah makan malam. Ilo dan Ali beranjak ke depan perapian, duduk di sofa panjang. Ali sempat menceletuk, ”Ternyata tidak ada sofa terbang di rumah ini.” Aku dan Seli yang sedang menyusun piring menahan senyum. Karena mereka berdua tidak bisa saling mengerti, Ilo dan Ali hany a duduk- duduk saling diam di sofa. Ilo memberikan buku dan majalah untuk dilihat-lih at, Ali menerim any a de-ngan senang hati. Kami bergabung ke sofa setelah dapur beres. Menyenangkan sekali mencuci piring di dunia ini, superpraktis dan cepat, hanya disemprot denga n angin. Piringnya bersih kesat. Tangan sama sekali tidak basah. Seli menciu m telapak tanganny a. ”Wangi, Ra,” dia berbisik padaku. Aku mengangguk. Vey bergabung sebentar di sofa, berbicara santai dengan kami, bertanya tentang apakah masakanny a enak, besok kami mau sarapan apa. Aku menjawab sopan, apa pun yang dimasak Vey pasti enak, jadi apa saja boleh. Vey tertawa, mengacak ram-but-ku. Kata dia, kecil-kecil aku sudah pandai menyenangkan orang dewasa. Lima belas menit kemudian, Vey naik ke lantai dua, istirahat dulu-an menemani Ou. ”Kalian jangan tidur terlalu larut, biar segar besok pagi.” Vey beranja k ke anak tangga, sambil mengingatkan untuk yang ketiga kali sejak di sofa panjang. Kami mengangguk. Aku menatap punggung Vey, teringat Mama yang juga selalu cerewet soal tidur tepat waktu. Tinggal berempat di ruang tengah, Ilo beranjak menyalakan telev isi, yang siarannya melulu berisi update berita kejadian sepanjang hari di kota. Aku dan Seli ikut menonton. Ali meletak-kan majalah dan buku yang sedang dia baca.

asi.com

TereLiye “Bumi” 288

Dari layar televisi, dengan pembawa acara yang sama sejak tadi pagi, suasana kota bawah tanah malam ini terlihat lengang, kontras dengan segala kekacauan tadi siang. Jam malam telah diberlakukan. Pasukan Bayanga n berjaga di banyak tempat, dan mereka diperintahkan menahan siapa pun yang keluar. Peraturan itu sepertiny a efektif mencegah keributan melua s . Tapi sisa kerusuhan terlihat jelas di mana- mana. Di bagian tertentu asap tebal masih mengepul, jalanan kotor, sampah berserakan. Layar televisi pindah ke laporan situasi kota di atas per-muk a a n, Rumah Bulan. Sebagian besar dari ribuan bangunan berbentuk balon di lembah terlihat gelap, pendudukny a masih ter-tahan di kota bawah tanah, memilih menginap di hotel. Lembah yang sehari sebelumny a indah denga n warna terang, se-olah ada ribuan purnama, malam ini sebalikny a. Termasuk Tower Sentral, tiang tinggi dengan banyak cabang bangunan balon itu. Hanya di bagian paling atas yang menyala terang, sepertinya masih ada kesibukan di atas sana. Kata Ilo, bangunan paling atas itu adalah markas panglima Pasukan Bayangan. Ma-suk akal jika masih aktif hingga larut malam dalam situasi seperti ini. Kami berempat terdiam saat layar televisi menayangkan situas i terakhir dari depan gedung Perpustakaan Sentral. Jumlah Pasuka n Bayangan bertambah dua kali lipat. Itu titik terakhir yang belum dikua s a i selama dua belas jam terakhir, konsentrasi baru penyerbuan. Asap hitam mengepul amat tinggi dan tebal. Separuh sayap kanan gedung itu rontok . Entah bagaimana nasib jutaan buku di dalamny a. ”Apakah Av baik­baik saja?” aku bertanya. Ilo mengusap wajah, diam sejenak. ”Jika hingga sekarang gedung perpustakaan belum jatuh, berarti Av baik-baik saja. Aku tahu sifat Av. Dia akan membuat lawannya mengera h ka n seluruh kekuatan, menghabiskan waktu berjam- jam sebelum dia meninggalkan perpustakaan. Av tidak akan menyerah hingga titik usaha terakhir. Saat dia merasa tidak ada lagi yang bisa dia lakukan, dia baru pergi dengan cara elegan.” ”Pergi dengan cara elegan?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 289

”Aku tidak punya ide bagaimana dia akan melakukanny a. Tapi jika Av benar-benar tersudut, dia tidak akan memanjat meng-guna-kan lubang kecil di belakang lemari untuk kabur. Dia punya cara lain. Percayalah, Ra, kakek dari kakek kakekku itu baik-baik saja.” Aku menelan ludah. Sebenarny a aku tidak mengkhawatir ka n tambahan Pasukan Bayangan itu. Jika hingga malam ini mereka tetap tidak bisa memasuki Bagian Terlarang, itu berarti sistem keamanan dan segel yang dibuat Av kokoh sekali. Aku khawatir memikirkan kemungkinan bagaim a na kalau Tamus memutuskan mengurus sendiri masalah ini. Saat kami berbicara di perpustaka- an tadi siang, Av terlihat jeri menyebut nama itu. Lima menit lagi kami masih menonton televisi yang terus menyiar ka n berita tadi siang. Sesekali disela running text yang meng-um umkan tentang jam malam, limitasi waktu, dan cara be-pergian, juga imbauan agar seluru h penduduk kota tetap tenang dan berada di rumah masing- masing. Pengua s a baru dan Pasukan Bayangan akan memastikan situasi kota kembali aman. Ilo akhir-nya menekan tombol di pergelangan tanganny a, memati- ka n televisi. ”Setidaknya tidak ada berita tentang pengejaran kapsul kereta bawah tanah. Itu berarti belum ada yang tahu kalian berada di kota ini.” Ilo beranjak bangkit. Aku mendongak. ”Ilo, kamu mau ke mana?” ”Aku mau istirahat dulu. Mengemudikan kapsul amat me­ngur a s tenaga. Jika kalian memerlukan sesuatu, silakan gunakan apa pun yang ada di rumah ini, atau ketuk pintu kamar kami. Kalian bebas malam ini. Meski aku menyaran­kan kalian sebaik­ny a segera masuk kamar, istirahat.” Aku mengangguk. ”Selamat malam, anak­anak.” Ilo melangkah naik tangga, meninggalkan kami bertiga.

asi.com

TereLiye “Bumi” 290

Api menyala terang di perapian, membuat hangat udara di sofa panjang. ”Kamu mengantuk, Sel?” aku bertanya pada membuka-buka majalah —melihat gambarny a saja.

Seli

yang

asy ik

Seli menggeleng. ”Belum. Kamu?” Aku menggeleng, juga sama sekali belum mengantuk. Ali beringsut ke sebelahku, menyerahkan buku tulis dan bol- p oin miliknya. ”Ini apa?” Aku menatap Ali tidak mengerti. Aku kira dia tadi masih sibuk melihat buku dan majalah dunia ini, ternyata dia sibuk dengan buku tulis dari ranselny a. ”Ini kamus, Ra. Tepatnya kamus bahasa antardunia.” ”Kamus? Buat apa?” ”Aku bosan memintam u menerjemahkan bahasa mereka,” Ali berkata serius. ”Jadi, aku memutuskan menulis ratusan kosa­kata penting bahas a kita. Sekarang tolong kamu tuliskan di sebelah- nya padanan kata dala m bahasa dunia ini.” ”Kamu mau belajar bahasa mereka?” ”Kenapa tidak? Kita tidak tahu akan tersesat berapa lama di dunia ini, kan? Siapa tahu bertahun-tah un. Aku tidak mau jadi orang tolol selam a bertahun­tahun, menebak arah percakapan.” Ali mengangkat bahu. ”Itu baru tiga ratus kata, sisanya sedang kutulis.” Aku masih menatap Ali dan buku tulis yang kupegang. ”Belajar bahasa itu mudah, Ra. Sebenarnya, dalam percaka p a n sehari-hari, paling banyak kita hanya menggunakan dua ribu kosakata paling penting, diulang- ulang hanya itu. Sekali kita menguasainya, kita bisa terlibat dalam percakapan dan mengem-bang-kan sendiri. Kamu

asi.com

TereLiye “Bumi” 291

tuliskan kamus bahasa mereka untukku. Ajari aku mengucapkanny a. Sisanya aku akan belajar sendiri, meng­hafalny a.” Aku menggeleng. Aku tidak mau jadi guru bahasa Ali. Enak saja dia menyuruh- ny uruh. ”Kalau begitu, kamu memilih untuk menjadi penerjem ah resmiku, Ra. Aku akan terus menyikut lengan, menepuk bahu, me-mint a m u menerjemahkan setiap kalimat. Tidak sabaran. Bila perlu memaksa. Pilih mana?” Ali nyengir lebar. Seli tertawa melihat tampang masamku. ”Aku janji, Ra. Sekali kamu menuliskan kamus untukku, aku akan berhenti mengganggum u minta diterjemahkan. Bagaimana?” Ali membujukku. Aku mengeluarkan suara puh pelan. Baiklah, akan kutuliskan kamus buat si genius ini. Meski ini aneh. Sejak kapan dia ter-tarik belajar bahas a orang lain? Bukankah di sekolah kami, ja-ngan-kan pelajaran bahas a Inggris, pelajaran bahasa Indonesia saja wajahny a langsung kusut. Setengah jam kemudian aku habiskan untuk menuliskan padana n kosakata yang dibuat Ali. Seli juga beringsut mendekat. Dia ikut melih at kamus yang sedang kami kerjakan. Dengan cepat kamus itu menja d i berhalaman- halaman. Ali terus mem-beri-kan halaman berisi dafar kosakat a berikutnya. Waktu berlalu dengan cepat. Perapian di depan kami menyala terang. Suara api membakar kayu bakar berkeretak pelan. Sesekali Seli tertawa membaca kosakata yang diminta Ali. ”Buat apa kamu meminta padanan kata ‘buang air besar’?” Ali mengangkat bahu, menjawab pendek, ”Itu ter­masuk kosa­ kat a penting. Aku memerlukannya.” Seli tertawa lagi. ”Lantas buat apa padanan kata ‘menyebal­k a n’ ? Jangan-jangan akan kamu gunakan khusus untuk Ra, ya? Kalau Ra sedang me-nyebalkan?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 292

Ali hanya mengangkat bahu, tidak berkomentar. Aku tidak banyak tanya seperti Seli. Aku memutuskan me-nulisk a n semua padanan kata yang diminta Ali—seaneh apa pun itu. Prospek bahwa Ali akan berhenti menyikutku, memaksa minta diterjemahkan lebih dari cukup untuk memotivasiku me-laku-kanny a. Satu jam berlalu, buku tulis yang digunakan Ali sudah penuh denga n daftar panjang. Tanganku sampai pegal menulis begitu banyak kata dala m waktu cepat. Ali juga memintaku men-contohkan bagaimana menguca p ka n kosakata itu dengan tepat. Sebenarnya bahasa dunia ini tidak rumit. Mereka me-nyebut huruf sesuai bunyi aslinya. Jadi Ali tidak perlu repot belajar pengucapan. Tapi sebagai gantiny a, Ali memintaku me-nuliskan juga kata­kata tersebut dalam huruf dunia ini. ”Sekali­ an, Ra. Biar aku juga bisa membaca buku-buku di dunia ini.” ”Bahkan kamu tidak tahu huruf­ huruf dunia ini, kan? Bagai­ m a n a kamu akan mempelajarinya?” Seli bingung sendiri. Ali hanya menjawab ringan, ”Aku akan menghafal bentuk tulis­a nny a dalam aksara dunia ini satu per satu. Sebenarnya saat kita membaca buku atau majalah, kita tidak mengeja huruf demi huruf lagi, kita mengh a f a l bentuk tulisan kata demi katanya. Otak kita dengan cepat menge n a li kata-kata tersebut, merangkai- nya menjadi kalimat atau paragraf, sama sekali tidak mengeja.” ”Tapi itu tetap saja tidak mudah, kan?” Seli penasaran. ”Memang tidak me­lakukanny a.”

ada yang bilang

mudah,

Seli.

Tapi aku akan

Satu jam lagi berlalu tanpa terasa, akhirnya selesai juga. Ali sudah pindah duduk di sofa satunya, konsentrasi mem-baca kamus bahas a antardunia yang berhasil kami ciptakan. Aku menggerak- gerakkan jariku yang pegal. Seli sedang menambah kayu bakar di perapian, menjaga ny ala api tetap terjaga. Aku teringat sesuatu, meraih ransel Ali di lantai. Si genius itu tidak keberatan aku mengaduk ranselny a.

asi.com

TereLiye “Bumi” 293

”Kamu mencari apa, Ra?” Seli kembali duduk di sofa pan­jang. ”Buku PR matematikaku.” Aku menarik keluar buku itu. Aku teringat kalimat Av di perpustakaan tadi siang. Mum- pu n g suasananya sedang santai, mungkin aku bisa mulai mem-baca buku ini. Aku membuka-buka buku bersampul kulit de-ngan gambar bulan sabit menghadap ke atas itu. Tidak ada tulis-annya, buku setebal ser atus hala ma n itu kosong. Aku men-coba mengusap sampulny a, meniru Av, tidak terjadi apa pun. Aku berusaha menulisi halaman kosongny a dengan ujung te-lunjuk, hanya muncul cahaya tipis di bekas jari telunjukku, lalu meng-hilang. Tetap tidak ada sesuatu yang menarik. ”Bagaimana, tertarik.

Ra? Kamu

berhasil

membacany a?”

Seli mendek at ,

Aku menggeleng, memperlihatkan halaman kosong. ”Mungkin Ali tahu caranya.” Seli menunjuk si genius di sofa seberang kami. ”Buku itu milik Ra, Sel. Jika dia tidak bisa membacanya, maka jangankan aku, yang hanya Makhluk Tanah, atau kamu, penyuka Mataha r i.” Ali berkata pelan, kepalany a masih terbenam di kamusnya. ”Setidaknya kamu bisa memberikan membacanya, Ali,” Seli mendesak.

ide

bagaim ana

cara

Ra

”Mungkin kalau dibaca sambil jongkok, tulisanny a keluar, Sel.” Aku tahu Ali asal menjawab, tapi entah apa yang dipikirkan Seli, dia percaya begitu saja. ”Ayo, Ra, coba dibaca sambil jong­kok.” Aku menatap Seli kasihan. Seli itu mudah sekali dijaili si biang kerok. Buku PR matematikaku tetap saja teronggok bisu se-tengah jam kemudian. Aku sudah membuatny a menghilang dua kali. Buku itu selalu muncul lagi dalam kondisi yang sama. Aku kon-sentrasi mengusap sampu l, mengusap halaman da-lam, tetap tidak ada yang terjadi. Aku bosan, menatap sebal buku itu.

asi.com

TereLiye “Bumi” 294

”Mungkin kamu harus jongkok, Ra,” Seli mengingatkan lagi ide itu. Aku melotot. ”Tidak mungkin, Seli.” ”Apa susahny a dicoba?” Seli menatapku serius. Buku ini menyebalkan sekali. Lihatlah, aku akhirnya menga la h , jongkok di atas sofa panjang, berusaha membaca buku PR mate-matik ak u . Ali yang sedang tenggelam dengan kamusnya langsung tertawa, memeg a n g i perut. Jelas sekali dia hanya mengarang. Wajahku masam, terlipat, hendak melempar Ali dengan sembara n g buku, tapi demi melihat wajah Seli yang kecewa berat di sebelahku, aku jadi batal marah pada Ali. Seperti-ny a Seli ingin sekali aku bisa membaca buku ini, agar kami punya jalan keluar, bisa pulang ke kota kami. ”Maaf, Sel, tidak terjadi apa­apa.” Aku mengangkat bahu. Seli menghela napas perlahan. Setengah jam lagi berlalu, kali ini aku melakukan apa pun agar buku itu bisa dibaca—termasuk hal-hal tidak masuk akal seperti memeja m ka n mata lantas berseru, ”Muncu llah !” atau me­lotot menatap bukuny a , kemudian membaca mantra, ”Wahai tulisan yang tersembuny i, keluarla h . Keluarlah!” Aku dan Seli diam sejenak, menunggu apa yang akan terjadi, tapi tetap saja lengang, tidak terjadi apa-apa. Kami tertawa— menertaw a ka n kebodohan kami. Hingga kami mengantuk. ”Kalian duluan.” Ali belum mau tidur, masih asyik dengan kamus ny a . Aku dan Seli menaiki anak tangga. Nyala api di perapian mulai padam.

asi.com

TereLiye “Bumi” 295

u membangunkan kami pagi-pagi. Si kecil usia empat tahun itu semangat mengetuk pintu kamar. Aku yang masih me-ngantuk memb uk a pintu. ”Selamat pagi, Kak.” Wajahny a terlihat lucu, masih memakai baju tidur dan sandal kelinci —setidaknya meski pakaian tidur dunia ini aneh, tetap terlihat menggem askan. ”Boleh Ou masuk, Kak?” Mata Ou bekerjap­kerjap. Aku tertawa, mengangguk. ”Ada siapa, Ra?” Seli membuka sebelah matanya, keluar dari balik selimut. ”Ou,” jawabku. ”Bangun, Sel, sudah siang.” ”Kakak semalam datang jam berapa? Keretany a mogok kan, ya? Dan ramai sekali orang­ orang.” Ou asyik mengajakku ber­bicara, duduk di atas kasur. Anak kecil seusia dia sepertiny a mudah akrab dengan kami, tanpa merasa takut meski baru ber-temu beberapa hari. Seli meladeni Ou ”mengobrol” —mata menyipit Seli langsung terang. Aku membuka tirai jendela, mengetuk pintu penghubung, membangu nka n Ali. Tidak ada jawaban, seperti-nya Ali tidur larut sekali tadi malam, masih tidur nyenyak. Tidak banyak yang bisa kami lakukan sepanjang hari di rumah peristirahatan Ilo, karena secara teknis kami sedang ber-sembu ny i, menghindari semua kekacauan di seluruh kota. Pagi itu, aku dan Seli membantu Vey menyiapkan sarapan, turun ke dapur bersama Ou. Aku jadi tahu kenapa masakan Vey ter-lihat aneh. Sebenarnya bahan- bahanny a sama, wortel, gandum, telur, dan sebagainy a, tidak ada yang berbeda denga n masakan Mama. Tapi di dunia ini, semua masakan diblender, lantas diberikan pewarna alami gelap.

asi.com

TereLiye “Bumi” 296

Ou duduk di meja makan, terus bertanya banyak hal kepada kami. Seli sepertinya akrab dengan anak-anak. Sesekali percakap- an Ou dan Seli lucu, membuat dapur dipenuhi tawa. Masakan siap setengah jam kemudian. ”Kita langsung sarapan, tidak usah mandi dulu, Ra. Kita sedang liburan, tidak apa sedikit malas­ malasan.” Vey tersenyum. ”Hari ini semua orang bebas bersantai. Ou, tolong bangunkan Kak Ali di atas.” Ali tidak ada di kamarny a. Ou berlari menuruni anak tangga, melap or . Kami jadi bingung, tapi syukurlah, Ali mudah ditemu-kan. Si genius itu ternyata tertidur di sofa panjang, dengan buku-buku berserakan di sekitarny a. Dia dibangu nkan Ilo, dan ber–gabung ke meja makan denga n langkah gontai, mata me-nyipit, rambut berantakan. ”Kamu sepertinya tidur larut sekali tadi malam. Jam berapa?” I lo bertanya kepada Ali. ”Tidak tahu persis aku, entahlah, tengah malam lewat mung­kin,” menjawab sambil mengucek- ucek mata.

Ali

Astaga. Bahkan Vey yang sedang mengangkat masakan dari wajan ikut kaget. Kami semua menatap Ali, terkejut. Si genius itu menjawab pertany aa n Ilo dengan bahasa dunia ini. Susunan katanya masih berantakan, tapi itu lebih dari cukup untuk dipaham i. ”Sejak kapan kamu bisa bahasa dunia ini?” Ilo menatap Ali, tertawa lebar. ”Sejak bangun tidur, kurasa, barusan, entahlah.” Ali menguap lebar, duduk malas di bangku.

Aku menatap wajah kusut Ali, ikut tertawa. Meski menyebal-kan, jail, dan kadar sok tahunya tinggi sekali, harus diakui Ali memang pintar. Entah bagaimana caranya, dia berhasil memaksa menghafal ribuan kata tadi malam. Kami segera sarapan. Meja makan ramai oleh suara sendok dan piring .

asi.com

TereLiye “Bumi” 297

Setelah sarapan, Ilo mengajak kami berjalan- jalan di pantai. Tawaran yang menyenangkan. Ou bahkan bersorak kegirangan, meloncat dari bangku. ”Sejak tiba di sini kemarin sore Ou sudah memaksa ingin bermain pantai.” Vey tertawa.

di

Ou berlari menuruni anak tangga rumah peristirahatan. Aku dan yang lain menyusul. Kaki kami langsung menyentuh pasir pantai yang halus . Matahari sudah beranjak naik. Cahayany a menerpa wajah. Pantai yang indah. Serombongan burung camar terbang di atas kepala, melengk i ng merdu seolah menyambut kami. Ou menunjuk- nunjuk dengan riang. Angin laut menerpa wajah, membuat anak rambut tersibak. Pelepah daun kelapa melambai pelan. Kami segera bermain di pantai, duduk- duduk di bawah kanopi lebar. Bosan, Ou mengajak aku dan Seli berlarian, me-ngejar dan dikejar ombak . Kami tertawa riang, saling men-ciprati air, berlarian lagi. Setengah jam berlalu tanpa terasa, Ilo dan Vey terlihat sibuk mengangkut alat masak ke dekat kanopi, seperti perapian untuk memba k ar makanan. Mungkin kami akan membakar jagung—dan aku tidak tahu akan seberapa besar jagungny a. Ou sudah asyik mengajak Seli bermain pasir basah, membuat istana dan bangunan pasir lainny a. Ali hanya duduk di kursi bawah kanopi, membawa buku dan majalah, kembali tenggelam denga n kamus bahasa antardunia miliknya. Kami tidak berbeda dengan orang- orang lain yang sedang berlibur di pantai. Yang sedikit membuatnya berbeda adalah ketika Seli menga m b il ember plastik—peralatan membuat istana pasir—dari jarak jauh. Seli mengacungkan tanganny a, ember plastik yang berada di dekat kanopi itu terbang sejauh tiga meter, mendarat mulus di tangan Seli. Demi melihat itu, Ou ber-seru kaget, menutup mulutny a, sedikit takut, tapi hanya se-bentar . Kemudian dia berseru-seru minta diper-lihatkan lagi. Seli tertawa, mengangguk. Lima menit kemudian, Seli telah memindahkan banyak benda, mula i dari topi, sekop, kerang, kepiting, pelepah kelapa, buah kelapa yang jatuh , apa saja yang diminta Ou.

asi.com

TereLiye “Bumi” 298

Aku jadi punya ide menarik. Lalu aku berbisik kepada Seli, sambil menahan tawa. Seli tertawa duluan, mengangguk, lalu menatap ke arah ka-nopi. ”Apa yang akan Kakak lakukan?” Ou bertanya. ”Ssstt,” aku menyuruh Ou diam dulu. Tangan Seli teracung ke salah satu bangku, konsentrasi. Tiba-tiba Ali terperanjat, berseru marah-marah, majalah dan buku ber-jatuhan. Kami tertawa. Ou bahkan terpingkal-pingkal sambil memegangi perut. ”Apa yang kalian lakukan?” Ali berteriak sebal, berpegangan panik ke pinggiran bangku yang mendadak naik satu meter, hampir menyentuh atap kanopi. ”Turunkan aku, Seli! Cepat!” Ali melotot. Seli mengalah, menurunkan lagi kursi Ali. Dan si genius itu mendatangi kami, mengomel panjang lebar. Bilang kami telah mengga n g g u dia mempelajari bahasa dunia ini. ”Kamu kan pernah memasang kamera di kamarku, Ali. Jadi tidak perlu juga marah berlebihan,” aku berkata ringan, merasa tidak bersala h — meniru gaya Ali. Ali kembali ke kanopi sambil bersungut-sungut. ”Kamu menggunakan sarung tanganny a, Sel?” aku berbisik, setelah si genius itu pergi. Seli menggeleng. ”Bagaimana kamu melakukannya tanpa sarung tangan? Bukank a h kamu bilang selama ini hanya bisa menggerakkan benda­benda kecil?” ”Entahlah, Ra. Sepertinya kekuatanny a terus berkembang.” Seli memperhatikan telapak tangannya.

asi.com

TereLiye “Bumi” 299

Aku belum menyadariny a, tapi aktivitas kami di pantai justru menja d i latihan efektif yang membuat kekuatan Seli mengalam i kemajuan pesat. Bosan membuat istana pasir, Ou mengajak kami ke kapsul kereta yang tertambat di dermaga kayu. Kami lagi-lagi meng- habis-kan waktu lama di dalam kapsul. Semua anak kecil seperti- nya menyukai gerbong kereta, maka Ou lebih senang lagi. Dia punya satu gerbong di halaman rumahny a. Ou mengajak kami bermain kapsul kereta, berpura-pura menuju ke suatu tempat. Dia naik ke atas kemudi manual, berseru-seru riang. Saat Ou terlihat mulai bosan, turun ke pasir lagi, aku me-nawar- ka n sesuatu. ”Kamu ingin kelapa muda, Ou?” Ou berseru, ”Mau! Mau, Kak.” Aku tertawa, mengajakny a ke salah satu pohon kelapa tinggi. ”Kakak pintar memanjat pohon?” Ou menyelidik. ”Kakak tidak akan memanjatny a.” ”Atau Kakak bisa menggerakkan benda dari jauh juga?” cecar Ou. ”Kamu lihat saja me-nyingkir jauh-jauh.

ya.”

Aku

tersenyum

kecil,

menyuruh

Ou

Ou dan Seli berdiri jauh di belakangku. Sejak tadi aku ingin mencoba menggunakan kekuatan tangan- k u , maka dengan ditonton Ou dan Seli, aku berkonsentrasi. Tangan-ku denga n cepat dialiri angin kencang, memukul ke atas, ke tandan buah kelapa. Itu pukulan yang kuat. Suara dentuman yang keluar membuat Ilo dan Vey yang ada di rumah berlari keluar. Burung camar beterbangan panik di sekitar kami, men-jauh. Aku terduduk di pasir.

asi.com

TereLiye “Bumi” 300

Ou memeluk Seli. Dia kaget, wajahny a pucat, tapi tetap mem-beranikan diri mengintip, melihat buah kelapa muda berjatu h a n, berserakan di sekitar kami. ”Ada apa, Ra?” Ilo bertanya, cemas dan tersengal. ”Kami baik­baik saja, Ilo.” Aku berdiri, menepuk pakaianku yang terkena pasir. ”Aku hanya mencoba memukul sesuatu, menunjukkannya ke Ou, tapi ternyata kencang sekali. Maaf telah membuat kaget semua.” Ilo mengembuskan napas lega. Dia mengira ada Pasukan Bayanga n yang datang. ”Buah kelapany a banyak sekali, Kak.” Ou mendekat, melihat buah kelapa yang jatuh. Ilo tertawa, mendongak, hampir seluruh buah kelapa jatuh. ”Ayo, anak­anak, berhenti sebentar main­ mainnya. Kita ber­kum p u l di kanopi,” dengan wajah masih cemas, Vey berseru. ”Kamu menggu nakan sarung tangan, Ra?” Seli bertanya. Kami melangkah ke bangku-bangku di bawah kanopi sambil membawa beberap a kelapa muda. Aku menggeleng. kencang lagi.

Jika aku memakainy a,

pukulanku

akan lebih

Matahari semakin tinggi. Kami tidak membakar jagung, me-lain- ka n ubi-ubian. Bentukny a seperti singkong, dalam versi dua kali lipatnya, sudah dicuci bersih, tinggal dibakar. Kami segera asyik menyiapkan ubi masing- masing. Aroma ubi bakar berhasil membuat Ali meningga lka n kamus dan buku-buku yang dia baca. Sepanjang hari tidak banyak yang kami lakukan. Makan siang, minu m air kelapa muda, terasa segar, bermain di pantai, makan lagi, minum lagi. Belum ada kabar dari Ily. ”Dia tidak akan leluasa menghu­bu ngi siapa pun. Itu bisa mengundang kecurigaan. Ily baik­baik saja.” Itu pendapat Ilo, dan itu masuk akal. Juga kabar dari ge-dung perpustakaan,

asi.com

TereLiye “Bumi” 301

masih dikepung Pasukan Bayangan. Itu berarti sudah dua puluh empat jam lebih Av bertahan. Ou sempat berlari- lari ke pinggir pantai. Dia melihat sesuatu di kejauhan, berseru riang. Aku kira itu kapal laut atau kapal selam milik Pasukan Bayangan, ternyata bukan. Itu ikan paus yang muncul di permukaan, besar sekali. Paus itu me-nyembur-kan air ke udara, memb u at semburan yang tinggi. Ou bertepuk tangan melihatny a. Setelah puas menyaksikan ikan paus, Ou disuruh Vey tidur siang, dan si kecil itu mengangguk. Ilo juga kembali ke rumah peristirahat a n, membiarkan kami bertiga di pantai. ”Kalian bebas. Tidak ada yang perlu dicemaskan sepanjang kalian tetap berada di dalam pagar.” Duduk- duduk di bawah kanopi, Ali sempat menyerahkan lagi buku tulisny a. Dia punya daftar kosakata baru yang disalinny a dari buku dan majalah. Aku tidak banyak protes, membantu membuat padanan kata. Dengan kemajuan Ali sudah bicara dengan Ilo dan Vey sepanjang hari, akan banyak manfaatny a kalau Ali segera menguasai bahasa dunia ini. ”Ali, bagaim ana kamu bisa menghafal semua kosakata ini denga n cepat?” Seli bertanya. Ali santai menunjuk kepalanya. Aku menahan senyum. Aku tahu maksudny a. Dia memang punya otak brilian. Tapi sebelum si genius itu membanggakan ke-mampuan otakny a , aku memutuskan menceletuk. ”Maksudmu, dengan ketombe di kepalam u?” Aku menatap rambut berantakan Ali yang sering ketombean di kelas. Si genius itu membalas, ”Setidakny a aku tidak jerawatan, Ra. Besar. Di jidat pula.” Seli tertawa, teringat kejadian beberapa hari lalu di sekolah saat dahiku ditumbuhi jerawat batu besar. Ali memang selalu menyebalkan. ***

asi.com

TereLiye “Bumi” 302

Sorenya, aku dan Seli melatih kekuatan. Kemajuan Seli pesat. Aku menatap takjub ketika dia berhas il mengangkat butiran pasir. Tidak banyak, paling hanya segeng-g a m a n tangan. Butir pasir itu bergerak naik, lantas mengambang. Seli membuat ny a bergerak, berpilin, menyebar, menyatu, seperti angin puy uh kecil yang bergerak lentur. Ali yang sedang mem-baca kosakata baru yang kutulis ka n berhenti sejenak, menatap tertegun dari kursi bawah kanopi. ”Ini keren, Sel,” aku berseru. Seli tersenyum, menurunkan tanganny a, jutaan butir pasir itu pun luruh ke bawah. Aku juga berlatih, meski tidak leluasa melatih pukulanku, karena pasti mengeluarkan suara berdentum —dan mengganggu tidur siang Ou. Jadi aku memilih berlatih trik yang dilakukan Miss Selena dan Tamus sewaktu bertarung di aula sekolah. Lompat, menghilang, kemudian muncul lagi. Tetapi kemajuanku tidak sebaik Seli. Aku memang bisa melompat jauh, bergerak cepat, juga terdengar suara seperti gelembung air meletus pelan, tetapi tubuhku tidak menghilang. Seli berkali- kali berseru memberit a h u . ”Aku masih melihatm u, Ra!” Hingga aku kelelahan bergerak ke mana­ m a na , menyeka keringat di leher. Mungkin aku tidak cukup berkonsentrasi, atau trik ini harus diajarkan oleh orang lain yang lebih dulu menguasainy a. Matahari mulai tenggelam di kaki barat. Kami menghentikan semua aktivitas di pantai, asyik menatap garis langit. Untuk kedua kaliny a kami menyimak sunset di dunia ini, menata p matahari perlahan- lahan tenggelam. Sama indahny a seperti kemarin sore.

asi.com

TereLiye “Bumi” 303

AKAN malam yang menyenangkan. Kami menghabiskan makanan di atas piring sambil bercakap- ca k a p ringan. Ou berceloteh tentang ikan paus yang dilihatny a tadi siang, bercerit a kepada Seli—yang sebenarnya tidak me-ngerti sama sekali apa maksud ny a . Seli hanya mengangguk pura-pura mengerti agar Ou senang , menebak- nebak, lantas menjawab asal. Kami tertawa, karena sejak tadi Seli menyangka Ou ber-cerita tentang kapsul kereta. Sementara Vey semangat bertanya padaku tentang masakan apa yang biasa tersaji di meja makan di dunia kami, aku ber-usaha menjelaskan nama dan bagaimana Mama memasak salah satu masakan tersebut. Vey memotong ceritaku, berseru tidak percaya. ”Buburnya berwarna putih? Aku belum pernah mem­buat masakan berwarna putih, Ra.” Aku tertawa, meyakin-kan Vey bahwa warnany a memang putih. Vey menata p k u antu­sias. ”Itu mungkin menarik dicoba.” Aku tersenyum melihat ekspresi wajah Vey. Dia pasti akan lebih histeris lagi kalau tahu ada masaka n berwarna- warni cerah di kota kami. Di sisi lain meja, Ali telah terlibat percakapan serius denga n Ilo, tentang apa itu Pasukan Bayangan —dan dia melaku-kanny a dengan bahas a dunia ini. Kemajuan bahasa Ali menakjub-kan, mengingat itu topik yang berat, tapi dia bisa menangkap dengan baik kalimat Ilo. Kami jadi diam sejenak, memperhatikan Ilo dan Ali. ”Ada berapa jumlah Pasukan Bayangan sekarang?” Ali ber­tanya. ”Dulu jumlah mereka ratusan ribu. Sekarang hanya separuh- nya. Berkurang drastis. Sejak Komite Kota berkuasa, militer bukan lagi priorit a s utama kami. Seperti yang dikatakan Av, negeri ini aman, tidak ada yang memiliki ambisi berkuasa dan perang. Jadi buat apa memiliki pasuka n militer banyak?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 304

”Apakah seluruh anggota Pasukan Bayangan memiliki kekuat­an?” ”Mayoritas tidak. Mereka hanya pemuda biasa yang direkrut. Tapi Pasukan Bayangan adalah sisa pasukan kerajaan. Anak-anak muda itu dilatih agar memiliki kemampuan ber-tarung di atas rata-rata. ”Setahuku, yang memiliki kekuatan hanya pemimpin Pasuka n Bayangan. Dikenal dengan istilah ‘Panglim a’. Ada delapan panglim a, sesuai mata angin, Panglima Utara, Panglima Selatan, dan seterusnya. Yang paling kuat adalah Panglim a Barat dan Panglim a Timur, mereka memim p in separuh lebih Pasukan Bayangan. Dari kabar yang selama ini beredar, masing- masing panglim a memiliki kekuatan berbeda. Tapi posisi mereka setara, membentuk Dewan Militer, diketuai secara bergiliran, dan dewan itu setara dengan Komite Kota. ”Sudah menjadi pengetahuan seluruh penduduk bahwa Dewan Milit er cenderung berseberangan dengan Komite Kota. Mereka lebih mengingi nk a n para pemilik kekuatan yang ber-kuasa, se-perti pada era kerajaa n. Sayangny a aku tidak tahu lebih detail. Aku hanya mendesain seraga m mereka. Aku bahkan tidak per-nah bertemu dengan satu pun dari delapa n panglima.” ”Bagaimana dengan akademi? Apakah itu sekolah khusus?” Ali sudah berganti topik. Dia persis seperti spons, terus me-nyerap informasi di sekitarny a, belajar de-ngan cepat. ”Iya, kamu benar. Itu sekolah berasrama dengan izin otoritas tingg i. Ada tiga puluh dua akademi di seluruh negeri, dan se-luruh pemim p in akademi juga merupakan para pemilik kekuat-an—meskipun sebagian besar guru dan muridnya tidak. Tapi ber-beda dengan Pasukan Bayang a n, pemimpin akademi adalah orang- orang seperti Av. Kekuatan mereka berbeda dan diguna-kan dengan cara berbeda pula. Mereka mencint a i pengetah uan dan ke-bijaksanaan. Aku tidak tahu kenapa sebagian besar aka-demi menyatakan kesetiaan kepada penguasa baru. Itu membuat peta politik jadi berbeda” ”Kita tidak akan membahas soal ini saat makan malam kan, Ilo?” Vey memotong kalimat Ilo. Dia tersenyum menunjuk Ou lewat tatapan mata. ”Mari kita bahas hal lain saja, yang lebih asyik dibicarakan.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 305

Ilo mengangguk. Dia mengerti kode Vey. Tidak baik mem-bicar a ka n kekacauan kota di depan Ou yang masih kecil. Aku meng-embuskan napas kecewa. Aku sebenarny a masih ingin men-dengarkan penjelasan Ilo. Sepertinya menarik tentang akademi tadi. ”Oh ya, Ra, kamu bisa melanjutkan menjelaskan tentang bu­ bur berwarna putih tadi?” Terlambat, Vey sudah memilih topik per­cakap a n kesukaannya. Tidak ada lagi yang bicara tentang Pasukan Bayangan, aka-demi, dan kekacauan kota hingga kami menghabiska n makan- an di atas piring. Selepas makan malam, setelah membantu Vey membereskan meja makan, kami pindah duduk di sofa panjang. Nyala api di perapian terasa hangat. Ou sekarang semangat berceloteh ten-tang sekolah nya, tentang guru-gurunya. Seli kembali mendengar-kan dengan sungguh- sungguh, ber-usah a memahami kalimat Ou. Mereka berdua terlihat akrab sejak tadi pagi. Aku sampai berpikir, kalau kami akhirnya bisa pulang ke kota kami, jang a njangan Seli akan mengajak Ou ikut. ”Kamu sepertinya harus belajar bahasa dunia ini sepeti Ali, Sel,” aku berbisik. ”Ini juga lagi belajar,” Seli balas berbisik, fokus men­dengarkan Ou. Tetapi kemampuan belajar bahasa Seli lambat. Lagi-lagi dia keliru. Dia mengira Ou sedang bercerita tentang ikan paus. Aku tertawa mendengar percakapan mereka yang berbeda bahasa. ”Ra, apa yang biasanya kamu lakukan malam­ malam seperti ini di rumah?” Vey yang duduk di sebelahku bertanya. ”Eh, kadang mengerjakan PR. Kadang membaca novel.” Vey manggut­ manggut. ”Itu tidak berbeda jauh dengan anak­ ana k kota ini.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 306

Ali di sofa kecil tenggelam dengan kamusny a. Sementara Ilo menont on televisi dengan volume rendah, yang masih dipenuhi berita sama sepanja n g hari. Kerusuhan kembali meletus di ba-nyak tempat. Banyak penduduk yang menuntut penjelasan apa yang sedang terjadi di Tower Sentral. Tidak ada kabar soal Komite Kota, juga tidak ada pengumum an siapa yang akan ber-kuasa. Semua menebak- nebak apa yang akan terjadi berikut-nya. Setelah bercerita lama, Ou terlihat mengantuk, menguap lebar. Vey menawarinya tidur, masuk kamar. Ou mengangguk, bilang kepada Ilo bahwa dia ingin dibacakan buku cerita. Ilo mengangguk, beranjak berdiri. ”Kami naik duluan, anak­anak.” ”Jangan tidur terlalu larut, Ra, Seli,” Vey mengingatkan. ”Dan Ali, kamu jangan sampai tertidur di sofa panjang. Ruang tengah dingin sekali kalau perapianny a sudah padam.” Aku, Seli, dan Ali mengangguk. ”Ayo, Ou, bilang selamat malam kepada kakak­kakak.” Si kecil itu mengucapkan selamat malam—dia memeluk Seli erat. Lantas mengikuti langkah kaki Ilo dan Vey menaiki anak tangga. ”Anak itu lucu sekali, ya,” Seli berbisik, mendongak, melambai­ ka n tangan. Aku setuju, Ou memang menggemaskan. ”Ily mungkin sama tampannya seperti dia lho, Sel,” aku ber­kata pelan. ”Maksudmu?” Seli menatapku. ”Ya tidak ada maksud apa­apa.” Aku menahan tawa. ”Siapa tahu Ily masuk kategori gwi yeo wun, kan? Di dinding kapsul kemarin saja, meski putus-putus gambarnya sudah ter-lihat bakat gwi yeo wun­nya.” ”Maksudmu apa sih, Ra?” Seli melotot.

asi.com

TereLiye “Bumi” 307

Aku tertawa. Seli tidak asyik diajak bercanda —padahal dia paling suka menggodaku. *** Suara api membakar kayu di perapian terus berkeretak. Ruang tengah menyisakan suara televisi—Ilo meninggalkan remote control di atas meja. Aku dan Seli menonton, Ali kembali asyik denga n kamus dan majalah. Bosan menonton liputan berita yang lebih banyak diselingi runnin g text berukuran besar, himbauan agar penduduk tetap tenang, tinggal di rumah masing- masing, aku beranjak meraih tas ransel Ali, mengeluar ka n buku PR matematikaku. Seli beranjak mendekat. Harus kuapakan lagi buku ini agar bisa dibaca? Aku menyandarkan punggung di sofa, menimang- nimang buku bersampul kulit itu. Kalau saja Miss Selena ada di sini, mungkin dia bisa membantu banyak. Miss Selena sendiri yang mengantarkan buku ini kepadaku, jadi seharusnya dia tahu persis ini buku apa, meskipun dia memberikanny a de-ngan ter-gesa-gesa, seolah takut ada yang tahu, dan meninggalkan pesan samar. Aku menghela napas pelan. Apa kabar Miss Selena? Apakah dia selamat dari pertarungan di aula sekolah? Atau ber-hasil kabur? Bukanka h kata Av, tidak ada yang pernah lolos dari serangan Tamus? ”Kamu punya ide baru untuk membacany a, Ra?” Seli ber-tanya. Aku menggeleng, tidak ada ide sama sekali. ”Cepat atau lambat, kamu pasti bisa membacany a. Aku per­caya itu.” Aku tersenyum. ”Terima kasih, Sel.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 308

Aku tahu, Seli juga berkepentingan agar aku bisa membaca buku ini, tapi kalimat Seli barusan lurus. Dia tulus membesar-kan hatiku, tanpa maksud lain. Seli teman yang baik. ”Kira­kira apa yang terjadi dengan sekolah kita ya?” Seli ber­gumam pelan. ”Mungkin diliburkan, Sel. Gedungny a rusak parah, kan?” Seli terdiam sebentar. ”Semoga begitu. Setidakny a kalau mema ng libur, kita tidak terlalu ketinggalan pelajaran saat pulang nanti.” Aku nyengir lebar. Itu sudut pandang yang menarik. Aku masih menimang- nimang buku PR matematikaku.

”Kira­kira apa yang sedang dikerjakan orangtua kita saat ini, Ra? Sudah dua hari lebih kita tidak pulang.” Seli ikut menyandar­kan pungg u n g di sofa. ”Mamaku mungkin sudah memasang iklan di televisi,” aku menc ob a bergurau. Seli menoleh, tertawa. ”Iya, lewat tantemu yang bekerja di stasiu n televisi itu, kan?” Kami berdua tertawa kecil. Aku sebenarny a memikirkan hal lain. Bukan hanya cemas soal sekolah, tapi juga cemas apa yang akan dilakukan Mama dan Papa saat ini di kota kami. Aku tahu mereka pasti kurang tidur, terus berjaga menu ng g u kabar baik. Tapi aku lebih mencemaskan jika kami berhasil pulang , bagaimana aku akan bertanya tentang statusku? Apakah aku berani langsung bilang ke Mama dan Papa? Bertanya apakah aku sungguhan anak mereka atau bukan? Bahkan Mama mungkin histeris atau pingsan dulua n sebelum aku selesai bertanya. ”Ra, tolong besarkan volumeny a,” Ali berseru.

asi.com

TereLiye “Bumi” 309

Aku menoleh. ”Volume apa?” Ali menunjuk layar televisi. Aku menatap ke depan. Ada breaking news, pembawa acara muncu l di layar kaca. ”Penduduk Kota Tishri, kami melaporkan langsung dari lokasi gedung Perpustakaan Sentral. Situasi terkini dalam breaking news.” Ali berdiri di sebelahku agar bisa menyaksikan berita lebih baik. Layar televisi kini menampilkan gedung perpustakaan. Asap tebal mem-bubung tinggi, sayap kanan gedung terlihat runtuh. Tapi tidak terdengar lagi suara dentuman, teriakan, ataupun suara pertempur- a n. Orang- orang berseragam gelap justru terlihat ber-seru-ser u riang. ”Beberapa menit lalu Panglima Barat mengonfirmasi bahwa mereka berhasil menguasai titik terakhir resistensi terhadap penguasa baru. Gedung perpustakaan telah jatuh ke tangan mereka. Seperti yang bisa kita saksika n, ribuan anggota Pasukan Bayangan bersorak-sorai atas kemenangan ini, setelah hampir 36 jam mengepung gedung tanpa henti.” Aku dan Seli menahan napas menatap berita. ”Sebagian besar gedung rusak parah, dan entah bagaimana nasib jutaan buku dan catatan yang ada di dalamny a. Ini sebenar- nya situasi yang menyedihkan di antara sorak-sorai kemenangan. Kota ini boleh jadi kehilangan koleksi terbaik dan terbesar di Perpustakaan Sentral.” Layar kaca menunjukkan serakan buku-buku di lantai. ”Panglim a Barat dan pasukannya saat ini sedang menyisir seluru h gedung, memastikan tidak ada lagi sistem keamanan dan segel yang aktif. Mereka akan menjadikan perpustakaan sebagai markas sementara Pasuka n Bayangan. Dengan demikian, hingga batas yang belum ditentu k a n, Perpustakaan Sentral tertutup bagi pengunjung.” ”Bagaimana dengan Av?” Seli berbisik tertahan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 310

Aku mematung, tidak mendengarkan pertanyaan Seli. Ini kabar buruk. Aku pikir perpustakaan tidak akan jatuh, Av bisa bertahan lama hingga situasi menjadi jelas. Apakah Tamus meng-urus sendiri masalah ini, hingga Bagian Terlarang akhirny a jatuh? Aku mengelu h, sosok tinggi kurus itu tidak pernah terlihat di liputan berita mana pun dua hari terakhir . Sosokny a misterius bagi banyak orang. Hanya orang tertentu yang tahu dia ada di belakang layar. Layar televisi masih menyorot dari dekat kondisi gedung perpustakaan. Belasan lampu kristal besar yang tergantung di ruang depan berserakan di lantai. Dinding ruangan itu hancur lebur, buku- bu k u berhamburan. Puluhan anggota Pasukan Bayang- an berjaga- jaga di setiap sudut. Tidak ada lagi sisa ruang-an megah yang pernah kulewati kemarin pagi. ”Bagaimana dengan Av?” Seli bertanya dengan suara lebih keras. ”Entahlah, Sel.” Aku menggeleng. ”Bagaimana kalau dia kenapa­ napa?” Aku tidak tahu. Situasi ini semakin kacau. Setelah dua hari lalu Miss Selena tidak ada kabarnya, se-karang bertambah dengan Av—orang yang bisa kami percaya, dan kemungk ina n bisa membantu kami jika situasi kembali nor-mal. Saat itulah, ketika kami masih menatap layar kaca, api di per-apia n mendadak menyala lebih terang, seperti ada yang me-nyiram-kan minyak ke dalamnya. Lidah api menyambar- ny ambar tinggi hingga ke luar perapia n. Aku dan Seli menoleh kaget, refleks melangkah mundur. Ali ikut menata p perapian sambil lom-pat ke samping, menghindar. Sebelum kami mengetahui apa yang terjadi, dari dalam kobar-an api keluar seseorang yang amat kukenal, dengan pakaian abu-abu, rambut memutih. Dia susah payah merangkak keluar dari perapian, seperti membawa sesuatu yang berat. ”Av!!” aku dan Seli berseru tertahan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 311

Bagaim ana Av bisa ada di perapian? Apakah dia terbakar? Aku dan Seli bergegas mendekat, segera menjauh lagi karena takut dengan nyala api. Ali segera menyambar bantal atau pe-mukul atau entahlah untuk memadamkan api yang berkobar tinggi. Tetapi Av tidak mengaduh kesakitan. Wajah ny a memang mering is menahan sakit, tapi bukan karena nyala api. Dia terus berusaha keluar dari perapian, sambil menyeret sesuatu. ”Bantu aku, anak­anak!” Av berseru. ”Bantu apanya?” Aku bingung. ”Bantu aku mengeluarkan sesuatu.” Napas Av tersengal­sengal. ”Api ini tidak panas. Kalian bisa memasuki perapian dengan aman.” Aku ragu-ragu melangkah, lalu berhenti. Sejak kapan api ti-dak panas? Tapi sepertiny a Av serius, api yang menyala di per-apian bahkan tidak membakar pakaian Av. Bagaimana ini? Seli juga ragu-ragu mendekat. Ngeri melihat gemeretuk api—padahal dia bisa mengeluarkan petir. Ali akhirnya memberanikan diri mendekat. Dia melempar ka n pemukul di lantai, melangkah ke perapian yang berkobar. Av susah pay ah menarik keluar tubuh seseorang dari dalam per-apian. Ali memba nt u , tanganny a ikut masuk ke dalam nyala api. Seli menutup mulut, henda k menjerit, tapi Ali baik-baik saja. Aku akhirny a memberanikan diri ikut membantu. Bertiga kami menyeret keluar seseorang. Entahlah siapa orang ini, kondisi- – ny a mengenaskan, penuh lebam terkena pukulan. Ada darah kering di ujung mulut, pakaian gelapnya robek di- banyak tempat. Dia sepertiny a habis bertarung mati-matian. Kami membaringkannya di lantai dekat sofa panjang. Av kembali ke perapian, masih sibuk menyeret benda lain, dibantu Ali. Dia mengangkut keluar beberapa kotak hitam, gulung- an kertas besar, buku-buku kusam, juga beberapa kantong kecil berisi sesuatu. Av meletakkanny a di atas meja.

asi.com

TereLiye “Bumi” 312

Nyala api di perapian mengecil, lantas kembali normal seperti kala. Av duduk menjeplak di atas lantai, napas- ny a men-deru, terlihat Pakaian abu-abunya kotor oleh debu, bahkan robek di kaki dan Rambut putihny a be-rantak-an. Wajahnya penuh bercak hitam. Buruk kondisi- ny a. Tongkatny a tergeletak di dekat kaki.

sedia lelah . dada. sekali

”Ada apa, anak­anak?” Terdengar suara Ilo dari atas. Dia pasti mendengar keributan di ruang tengah sehingga keluar dari ka-mar- ny a . Demi melihat Av duduk di lantai, Ilo bergegas me-nuruni anak tangga. ”Kamu datang dari mana, Av?” Ilo berseru, menatap tidak per­caya. ”Jangan banyak bertanya dulu.” Av mengangkat tangannya, menggeleng. ”Ada hal penting yang harus kulakukan sekarang.” Ilo terdiam—sama seperti kami yang sejak tadi hanya bisa diam. Av menghela napas, beranjak mendekati orang yang terbaring di lantai. Orang yang terbaring di lantai mengenakan seragam gelap, sama seperti Pasukan Bayangan, bahkan pakaiannya jauh lebih baik, dipenu h i simbol-simbol yang tidak kupaham i. Aku me-nelan ludah, orang ini pasti anggota Pasukan Bayangan. Av duduk di samping orang tersebut, memejamkan mata, berkonsentrasi penuh, lantas tangan Av menyentuh leher orang itu. Meski samar, di antara sinar lampu dan nyala perapian, aku bisa melihat ada cahaya putih lembut keluar dari tangan Av, merambat ke perut, ke kepala , menyelimuti seluruh tubuh orang yang terbaring entah hidup atau mati. Kami semua diam, menyisakan suara gemeretuk nyala api di perap ia n .

Satu menit yang terasa panjang, cahaya putih itu semakin terang, lantas perlahan- lahan memudar. Av melepaskan tangan- nya. Mengh e la napas perlahan. ”Hampir saja. Hampir saja aku kehilangan dia.” Av mengembuskan napas lega.

asi.com

TereLiye “Bumi” 313

Aku sepertinya tahu apa yang baru saja dilakukan Av. Dia perna h menyentuh lenganku, lantas ada aliran hangat yang mem-buatku lebih fokus dan tenang. Av pernah bilang dia memiliki kekuatan yang berbeda diband ingkan Tamus. Dia bukan pe-tarung. Sepertiny a selain memb u at sistem keamanan dan segel, salah satu kekuatan Av adalah bisa menyembuhkan. ”Kamu datang dari mana, Av?” Ilo kembali bertanya—tidak sabaran. ”Aku datang dari sana.” Av menunjuk perapian. ”Perapian?” Ilo tidak mengerti. ”Itulah kenapa aku bilang jangan bertanya dulu, Ilo.” Av mengh e la napas. ”Aku lelah habis­ habisan. Menahan Pasukan Bayangan selama satu hari lebih tidak mudah bagi orang setu-a aku. Setidaknya biarkan aku menghela napas sebentar.” ”Tapi… perapian? Bagaimana kamu bisa lewat perapian?” Ilo jelas lebih keras kepala dibanding Ali jika sudah penasaran. Dia tetap bertanya. Av tertawa pelan—lebih terdengar jengkel. ”Baiklah. Seperti­ nya kamu tidak akan berhenti mendesakku sebelum kujelaskan. Itu trik sederh a na Klan Matahari. ”Orang­ orang Klan Bulan menggu nakan perbedaan tekanan udara, membuat lorong berpindah seperti yang kalian kenal sekarang. Klan Matahari sebalikny a, mereka menggunakan nyala api, entah itu perapia n, api unggun, apa saja, untuk berpindah tem-pat. Aku mempela jarinya saat pertempuran besar. Mereka bahkan murah hati memberiku beberap a kantong serbuk api. Kamu siramkan bubuk api itu ke nyala api, lantas konsentrasi penuh menuju tempat tujuan. Kamu harus tahu dan pernah mengunjungi tujuan itu agar bisa melintas. T enang saja, se-mentara waktu, nyala api tidak akan panas, berubah menjadi lorong. Itulah yang kulaku ka n tadi. Sejak lama aku menyiapkan perapian di Bagian Terlarang, itu pintu darurat. Dan perapian di rumah peristirahatan ini sejak dulu kusiap ka n sebagai jalan keluar.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 314

Kami menatap Av setengah tidak percaya. Av berpindah tem- pat melalui perapian? Aku tiba-tiba teringat novel dan film laris tentang sihir di kotaku. Bukankah di cerita itu penyihir me-lakukan hal yang sama? ”Tentu saja berbeda.” Seperti biasa, Av bisa membaca apa yang kami pikirkan. ”Ini bukan dunia sihir. Ini lebih rumit dan nyata. Kalian bahka n tidak berada di dunia kalian.” Aku menelan ludah. ”Siapa dia, Av?” Ilo melanjutkan pertanyaan, menunjuk orang yang terbaring di lantai. ”Namany a Tog, dia Panglima Timur Pasukan Bayangan.” Aku dan Seli lagi-lagi refleks melangkah mundur. Juga Ali, si geniu s itu bahkan lompat menjauh. Bagaimana mungkin Av membawa musuh ke dalam rumah ini? Menyelam atkanny a? Dan orang itu Panglim a Pasuka n Bayangan? Celaka besar. ”Tidak usah takut.” Av menggeleng, ”Tidak semua anggota Pasuka n Bayangan bersekutu dengan Tamus. Setidakny a masih ada panglima lain yang bertentangan pendapat denganny a. ”Aku sebenarny a tidak bisa menahan lebih lama serbuan me-reka jika Tog tidak datang. Kalian mungkin menyaksikan berita-ny a, ada tamba ha n anggota Pasukan Bayangan yang menyerbu gedung perpustakaan. Itu pasukan Tog yang justru menyerang pasukan yang ada di sana. Tog anak salah satu petarung terbaik dan terhormat seribu tahun lalu. Ayahnya selalu ber-seberangan dengan Tamus. Aku mengenal dekat ayahnya yang gugur saat perang besar.” Aku memperhatikan Av dan Tog bergantian. Itu berarti meski- p u n terlihat baru berusia empat puluh tahun, usia Tog se-sunggu h- nya sama dengan Av. Di dunia ini, dengan orang- orang bisa ber-usia panjang dan memanggil satu sama lain dengan nama lang-sung, membu at kami sulit memahami hubungan kekerabatan mereka. ”Dengan bantuan Tog, kami sepertiny a bisa memenangk a n per-tempuran, hingga akhirny a Tamus datang. Ditemani Pangli- ma Barat,

asi.com

TereLiye “Bumi” 315

Tamus menyerang lorong Bagian Terlarang dengan marah. Tidak ada yang bisa menghadapi Tamus yang marah besar. Dia tidak sabaran lagi mengu a s a i benda-benda di dalam ruang-an. Ada sesuatu yang dicariny a. Tog bertaha n habis- habis- an, anak buahny a tewas satu per satu. ”Di detik terakhir, Tog merelakan tubuhny a menahan serang- a n Tamus. Aku tidak tahan melihat penderitaan Tog. Aku me-mutus-kan sudah saatnya melarikan diri, menggunakan bubuk api. Segel pintu dan sistem keamanan yang tersisa bisa menahan Tamus beberapa detik. Aku segera menyambar tubuh Tog, mem-bawa benda- benda penting, tapi itu tidak cukup untuk me­mindah­­kan semua benda di Bagian Terlarang ke sini.” Av menghela napas kecewa. Wajah sepuhny a terlihat kusam. ”Ini kacau sekali. Semoga Tamus tidak berhasil mendapatkan benda yang dia cari.” Suara api membakar kayu di perapian terdengar berkeretak. I lo menatap prihatin. Ruangan depan rumah peristirahatan le-ngang sejenak. ”Kalian baik­baik saja?” Av menoleh kepadaku. ”Kami baik­baik saja, Av,” Ali yang menjawab. Av menatap Ali. ”Kamu bilang apa tadi?” ”Kami baik­baik saja,” Ali mengulangi kalimatny a. Av terlihat menyelidik, berpikir sebentar, lantas terkekeh pelan. ”I ni sungguh hebat, Nak. Kamu sepertiny a sudah bisa menggunakan bahas a dunia ini, bukan?” Ali mengangguk. ”Bukan main. Ini sungguh mengagumkan. Aku jangan- jangan keliru menyimpulkan, atau boleh jadi pengetahuanku yang amat dangk a l. Jangan-jangan, Makhluk Rendah-lah yang sebenarnya menguasai ilmu pengetah uan dan kebijaksanaan paling penting dari empat dunia. Kalia n bisa melakukan hal-hal lebih hebat dibanding klan mana pun. Termasuk

asi.com

TereLiye “Bumi” 316

belajar bahasa dunia ini hanya dalam sehari saja. Dan kamu, lihatlah, masih berusia lima belas tahun.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 317

OG membuka matanya lima belas menit kemudian. Tubuhnya masih lemah, tapi dia jelas petarung yang panta ng menyerah. Dia memaksakan diri duduk bersandarkan meja. Wajah- ny a mengenaskan, dengan biru lebam di dahi, dagu, dan darah kering di ujung bibir. Aku tahu itu pasti akibat pukulan Tamus. Av menyuruh Vey mengam bilkan air minum . Vey segera kembali dari dapur dengan gelas berisi air segar. Av mengusap gelas itu, bergumam pelan, lantas memberikanny a kepada Tog. Tog menghabiskannya dalam sekali minum . ”Aku ada di mana?” menatap kami.

Tog meletakkan gelas kosong, mendon g ak ,

”Rumah peristirahatan Ilo, cucu dari cucu cucuku,” Av men­ja w a b , menunjuk Ilo. Tog melihat Ilo. ”Aku kenal dia. Orang­ orang mengidola­kanny a.” Av tertawa, Ilo. Kamu pasti Bayangan, belum di antara mereka

menepuk bahu Ilo. ”Kalau begitu, kamu memang terkenal, belum pernah bertemu dengan Panglima Pasuka n mengenal mereka, tapi se-balikny a panglima paling kuat mengenalmu.”

Wajah Ilo memerah. Tog beranjak bangkit. Ali hendak membantunya , namun T og meng-geleng, mengangkat tanganny a tegas, ingin berdiri sendiri. Susah payah Tog berhasil berdiri. Tog mengangguk pelan ke arah Ilo, yang dibalas anggukan sopan dari Ilo. ”Itu istri Ilo, namany a Vey. Di mana Ou?” Av menoleh ke arah Vey.

asi.com

TereLiye “Bumi” 318

”Sudah tidur di kamar. Seharian bermain di pantai, dia lelah.” Av mengangguk, meneruskan memperkenalkan kami. ”Dan tiga anak-anak ini, seperti yang aku ceritakan di perpustakaan. Yang tingg i, dengan rambut panjang adalah Ra. Dia yang di-kejar-kejar oleh Tamus di dunia Makhluk Rendah.” Tog mengangguk kepadaku. Aku ragu-ragu ikut meng-angguk. ”Yang satu lagi, rambut sebahu, namanya Seli. Dia petarung dari Klan Matahari. Usianya baru lima belas, tapi dia sudah bisa mengeluar ka n petir dari tanganny a. Dengan latihan yang baik, dia bisa melam p a u i kemampuan petarung terbaik Klan Matahari yang pernah ada.” Tog kali ini membungkuk dalam kepada Seli, suara beratnya berseru, ”Sungguh kehormatan bertemu petarung Klan Matahari. Sekutu lama.” Seli kikuk. Dia melirikku, bingung apa yang harus dia jawab. Aku me-nunjuk Tog yang membungkuk. Seli ikut membungkuk, patah-patah. ”Yang satu lagi, yang berambut berantakan…” Av menatap Ali, tertawa. ”Aku lupa, kamu sudah bisa berbahasa kami, kamu janga n memasang wajah masam, Nak. Aku mengatakan ‘rambut berantakan’ itu sebagai pujian.” Av masih terkekeh. ”Namany a Ali. Dia Makhluk Rend a h paling brilian. Semakin lama di dunia ini, maka semakin banyak yang dia serap dengan amat me­ngagu m­kan.” Tog mengangguk ke arah Ali, yang dibalas dengan angguk-an. ”Mereka bertiga masuk ke dunia ini setelah dikejar Tamus, diselam atkan oleh seorang petarung Klan Bulan bernama Selena. Tanpa mengetahui buku apa yang dia miliki, sama sekali tidak tahu betapa kuatny a buku itu, Ra mengaktifkan Buku Kehidup-an, membuka sekat antardu n ia , tiba di kamar Ou, anak Ilo. Mereka masuk dalam seluruh cerita.” Av mengusap rambut pu-tih- nya.

asi.com

TereLiye “Bumi” 319

”Mungkin sebaikny a kita bicara sambil duduk, Av,” Vey meny ela sopan. ”Aku bisa menyiapkan minuman segar atau makan­an jika kamu dan Tog membutuhkanny a.” ”Ide yang baik.” Av mengangguk. ”Mari kita duduk. Aku sudah berjam- jam berdiri, punggung tuaku ini sudah terasa pegal sekali. Dan kamu benar, Vey, perutku kosong.” Av melangkah menuju meja makan. Bunyi tongkatnya yang me-ngetu k lantai terdengar berirama. Kondisi Tog dengan cepat membaik. Dia sudah berjalan mantap, ikut duduk di bangku. Mungkin karena kekuata n penyembuhan Av, mungkin juga karena kekuatan Tog sendiri yang bisa pulih dengan cepat. Se-karang, melihatny a duduk kokoh di sebelah Av, baru terasa pesona wibawany a sebagai seorang panglima. Wajah ny a tegas dan keras. Vey dengan tangkas menyiapkan minum an dan makanan di dapur. Dia menggeleng saat aku menawarkan bantuan. ”Kalian lebih dibutuhkan di sana, Ra.” Aku dan Seli ikut duduk di sekeliling meja ma- kan. ”Bagaimana situasi terakhir di Tower Sentral? Apa yang ter­ jadi dengan Bagian Terlarang perpustkaan setelah dikuasai me­reka?” Ilo sudah membuka percakapan, bertanya kepada Av. ”Situasinya buruk.” Av menggeleng, ”Dengan jatuhny a perpustak a a n, seluruh titik terpenting telah dikuasai oleh Tamus. Bisa dibilang, seluru h kota telah jatuh ke tanganny a, dan dengan jatuhny a Kota Tishri berarti seluruh negeri telah dikuasai.” ”Tapi kenapa belum ada pengumum an siapa yang berkuasa? Kenap a Tamus tidak muncu l dan mengum umkan dia menjadi raja? Bukankah itu yang dia inginkan?” Ilo bertanya lagi. ”Karena bukan Tamus yang akan duduk di kursi kekuasaan,” Tog yang menjawab, suara beratnya terdengar seperti mengam- bang di udara. Kami menoleh kepadany a. Bukan hanya aku yang bingung, dahi Ali terlihat berkerut. Kalau bukan Tamus, lantas siapa? Bukankah memang

asi.com

TereLiye “Bumi” 320

tujuan Tamus merebut kekuasaan dari Komite Kota untuk mengembalik a n posisi para pemilik ke-kuatan? Mengganti sistem pemerintahan menja d i kerajaan. Dia menjadi raja, yang otomatis memuluskan rencana mengu a sa i dunia lain? ”Aku keliru menebak rencana Tamus.” Av menghela napas, ”Dia tidak berencana membuka sekat ke dunia Makhluk Rendah. Dia berenc a na membuka sekat ke tempat lain.” ”Sekat ke tempat lain?” Ilo memastikan. ”Ya, sekat ke tempat lain. Sejak pertempuran besar, kalah dan tersingkirkan, Tamus berkeliaran ke mana-mana. Dia melatih kekuatanny a , mencari catatan lama, buku-buku tua. Mengunjungi tempat-temp at yang tidak pernah didatangi orang. Entah sajak kapan dia bisa menembus sekat dunia, tapi itu memudahkannya untuk melewati batas kekuatan lebih jauh lagi, mempelajari pengetahuan dunia lain. Jika aku hanya menghabis ka n hari demi hari di perpustakaan, para pemilik kekuatan lain menghabis ka n masa tua dengan tenang, Tamus justru diam- diam mengelilingi dunia , menyusun rencana besar mengerikan.” Av menatap kami bergantian. ”Akan kujelaskan agar kalian bisa mengerti. Tamus punya rencana lain, dan itu semua berasal dari dong e ng . Itu sebenarnya dongeng favoritku. Aku pikir itu hanya cerita lama. Diceritakan oleh kakek dari kakekku dulu men-jelang tidur. ”Cerita itu mengisahkan, pada suatu zaman yang telah dilupa­ k a n orang- orang, pernah ada kekacauan besar melanda seluruh negeri, yang membuat Raja bertempur habis-habisan dengan orang- orang jahat yang dipimpin oleh si Tanpa Mahkota. Se-luruh negeri dicekam ketakutan. Gelap menyelimuti langit, penduduk tidak bisa melihat bulan bertahun- tahun. ”Kisah ini disampaikan lewat lagu­lagu, yang dinyany ikan lembut sebagai pengantar tidur. Aku ingat sekali irama dan syair potongan lagu yang dinyanyikan kakek dari kakekku saat do-ngeng ini diceritakan, itu bagia n kesukaanku.

asi.com

TereLiye “Bumi” 321

”Lihat, aduh, lihatlah Itu si Tanpa Mahkota berdiri gagah Dia adalah pemilik kekuatan paling hebat Menjelajah dunia tanpa tepian Untuk tiba di titik paling jauh Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang Ada dalam genggam an tangan.

”Lama­kelamaan, pengikut si Tanpa Mahkota semakin ba­nyak. Dia memiliki pasukan, sekutu, dan orang- orang yang me-nyata-kan kesetiaa n. Hingga tiba masany a, diselimuti ketamakan dan kebencian, si Tanpa Mahkota menuntut dijadikan raja. Dia menyerang istana. Sekali pukul, dia menguasai seluruh kota, dan Raja terpaksa mengungsi. Si Tanpa Mahk ot a mengangkat diri men-jadi raja. Tetapi cerita jauh dari selesai. Sejak hari itu, pertempuran terjadi di mana- mana, di kota-kota, di sudut- sudut negeri, karena dari tempat pelarian, Raja memberikan perlawan-an.

”Lihat, aduh, lihatlah Seratus purnama berlalu tiada berjumpa Asap gelap membungkus langit Sedih dan tangis terhampar di Bumi Ratap pilu menyambut matahari Apalagi bintang, hanya teman kesusahan Entah hingga kapan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 322

”Setelah bertahun­tahun bertempur, Raja akhirnya mempu ny a i senjata untuk mengalahkan si Tanpa Mahkota. Dia bersama orang- ora n g terbaik yang masih setia padany a menyerbu istana, melawan si Tanpa Mahkota. Pertempuran hebat terjadi. Saat Raja terdesak, hampir kalah, Raja membuka sekat menuju dunia lain. Itu bukan empat dunia yang ada, melainkan petak kecil yang disebut ‘Bayangan di bawah Bayangan’, sepoton g dunia kecil yang gelap, tanpa kehidupan. Tempat tidak ada cahaya. Penjar a yang sempurna untuk si Tanpa Mahkota. Rencana itu berhasil. Pada detik terakhir, si Tanpa Mahkota terseret masuk ke dalam sekat, Raja pun menyegel sekat itu. Musuh paling mengerikan Klan Bulan hila ng selama­ lamanya.” Av menghela napas, suara kertak nyala api di perapian ter-deng ar samar. ”Itu cerita favoritku. Aku suka sekali mendengarkanny a. Berkali­ kali, diulang-ulang. Tapi aku baru tahu bahwa ternyata cerita itu bukan isapa n jempol. Itu kejadian nyata ribuan tahun lalu, sejarah yang dilupakan Klan Bulan. Tamus memercayainy a. Dia berkeliling mengum pulkan potonga n misteri cerita itu, kekuatan dan pengetahuannya terus bertambah, dan dia akhirny a berhasil mengum pulkan seluruh potongan. Lengkap. ”Tamus tidak berencana membuka sekat ke dunia Makhluk Renda h , tidak sekarang. Dia ingin membuka sekat ke petak Bayangan di bawah Bayangan, penjara si Tanpa Mahkota. Itulah rencana mengerikan milik ny a . Dia sama sekali tidak tertarik duduk di kursi kekuasaan—dia ingin menjem put orang yang paling berhak menurut dia. Sekali si Tanpa Mahk ot a kembali ber-kuasa, maka apa pun rencana Tamus akan mudah diwujud- k a n. Mereka akan cocok. Tamus bisa menjadi panglima kesayangan­ ny a.” ”Dari mana kamu tahu rencana Tamus itu, Av?” tanya Ilo. ”Aku yang tahu,” Tog menjawab dengan suara beratnya. ”Sebula n sebelum Tamus menyerbu Komite Kota, dia sudah bicara dengan delapa n Panglim a. Dia tidak bicara secara lang-sung, tapi secara nyata dia menginginkan Kota dipimpin kembali oleh orang yang berhak. Ide itu

asi.com

TereLiye “Bumi” 323

disetujui mentah- mentah oleh sebagian besar Panglima. Sejak dulu kami menyukai kekuatan, ambisi berkuasa, dan perang. Semua yang bisa diberikan oleh Tamus. Kami mengenal dia, terlebih Tamus datang memamer-kan seluruh kekuatan yang dimiliki. ”Aku sempat bertanya, jika Komite Kota berhasil disingkirkan, siapa yang akan duduk di kursi kekuasaan? Apakah dia yang akan menjadi raja? Tamus tertawa. Dia bilang, orang yang tidak pernah dimahkotailah yang akan kembali berkuasa. Aku hendak ber-tanya lagi, tapi Tamus menghila ng , kemudian muncul men-cekik leherku, berbisik mengancam, siapa pun yang menentang rencananya akan berakhir menyedihkan. Ruangan pertemua n ditutupi tabir, berubah seperti malam hari. Sungguh mengerikan kekuata n yang dia miliki. ”Setelah pertemuan itu, aku memutuskan mendatangi bebe- rapa Ketua Akademi, dan segera tahu bahwa Tamus sudah bergerak lebih dala m dan sejak lama. Hampir seluruh akademi telah dia datangi. Tamus mengintim idasi Ketua Akademi untuk bersekutu denganny a. Tidak semua menurut, tapi menolak ber-arti masalah serius. Tamus juga mengunju n g i siapa pun yang memiliki ke-kuatan penting selama pelarianny a. Jika dia masih remaja, Tamus menawarkan diri menjadi guru, menggoda denga n kekuatan tidak terbilang. Jika sudah dewasa, Tamus menawar ka n kesempat-an bersekutu, kekuasaan. ”Bersama beberapa orang yang bisa dipercay a, aku sempat memb u at rencana seandainya Tamus menyerang Komite Kota, tapi belum genap rencana itu, Tamus sudah menyerbu Tower Sentral lebih dulu. Enam dari Panglim a Pasukan Bayangan ada di bawah kakinya. Menyisakan Panglim a Selatan dan aku yang menolak ide gila tersebut. Tamus bergerak lebih cepat dari duga-an. De-ngan jatuhny a Perpustakaan Sentral, hanya soal waktu akhirny a dia bisa membuka sekat ke penjara si Tanpa Mahkota, mem- ba w a pulang Raja yang dia inginkan.” ”Tapi bagaimana dia bisa membuka sekat itu?” Ali bertanya denga n bahasa dunia ini. Tog menggeleng.

asi.com

TereLiye “Bumi” 324

Av juga menggeleng perlahan. ”Aku tidak tahu, Ali. Karena itu hany a dongeng, cerita itu tidak detail. Tidak ada penjelasan selain lagu- lagu yang dinyanyikan. Tapi apa pun itu, benda yang dibutuhkan Tamus ada di Bagia n Terlarang perpustakaan. Aku sempat menyelamatkan sebagian besar, membawanya ke­mari, tapi boleh jadi yang dia cari tertinggal.” ”Apa yang terjadi jika sekat itu berhasil dibuka?” aku akhirny a buka suara, ikut bertanya. ”Tidak ada yang tahu, Ra. Mungkin mimpi buruk bagi seluruh Klan Bulan. Juga mimpi buruk bagi dunia lain. Si Tanpa Mahkota tidak akan senang telah dipenjara ribuan tahun di sana.” Av mengusap rambut putihny a. ”Apa yang akan kita lakukan untuk mencegahny a, Av?” Ilo ber­tany a dengan suara bergetar. ”Kita harus menyusun rencana bagus secepat mungkin. Se­ mog a waktu dan keberuntungan masih berpihak pada kita,” Av menjawab pelan. ”Pasukanku bisa digunakan untuk melawan Tamus,” Tog berkata lebih mantap. ”Kami bagian terbesar dari Pasukan Bayangan. Ditambah denga n Panglim a Selatan, kekuatan kami cukup untuk menghadapi enam panglim a lainnya. Dari tiga puluh dua akademi, tidak semuany a mendukung Tamus, lebih banyak yang terpaksa melakukanny a. Kita bisa punya tamba ha n kekuatan dari kadet senior. Dan yang lebih penting lagi, pen-duduk Kota Tishri menolak ide para pemilik kekuatan kembali ber-kuasa. Kita masih punya kesempatan besar.” ”Tog benar, itulah kenapa aku bilang semoga waktu dan keber­untungan masih berpihak pada kita.” Av mengangguk. ”Kita masih bisa mencegahnya. Karena sekali sekat itu berhasil dibuka, per-mainan ini selesai. Tamus menang.” Meja makan kembali lengang. Di dapur Vey sudah hampir selesa i menyiapkan makanan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 325

Tog menoleh padaku. ”Bagaimana rupa dan perawakan orang yang membantu kalian melawan Tamus di dunia kalian?” Aku menatap Tog. ”Miss Selena?” Tog mengangguk. ”Apakah dia wanita berusia tiga puluhan, denga n tubuh tinggi rampin dan rambut pendek meranggas?” Aku mengangguk. Apa maksud pertanyaan Tog? Kenapa dia tahu ciri-ciri Miss Selena? Tog masih menatapku. ”Dia ada bersama Tamus saat me­nyera ng Perpustakaan Sentral. Aku sempat melihatnya.” Aku terkejut. Miss Selena? Bersama Tamus? ”Tidak, tentu saja dia tidak ikut menyerang kami.” Tog meng­gele ng . ”Dia dibawa oleh Pasukan Bayangan, tubuhny a terluka parah, kondis iny a buruk, diikat dengan jaring perak. Dia men-jadi tawanan musuh, diletak ka n di salah satu ruangan Per-pusta-ka–an Sentral.” Aku menutup mulut dengan telapak tangan. Hampir ber-teriak. ”Tidak ada yang bisa kita lakukan sekarang, Ra. Kamu jangan panik,” Av berseru. ”Miss Selena! Kita harus menolong Miss Selena!” Aku justru berdir i berseru-seru. Av segera menyentuh tanganku, mengalirkan perasaan tenang dan fokus. ”Kita harus berpikir rasional, Ra. Dalam situasi seperti ini, selalu gunakan akal sehat. Kita akan menyelam atkan gurumu, juga mengala h ka n Tamus, menghentikan rencana gila-ny a, tapi dengan rencana yang baik.” Aku terduduk kembali di bangku diberikan Av memaksaku tetap tenang.

kayu, sentuhan

hangat

”Apa rencana kita, Av?” Ilo bertanya.

asi.com

yang

TereLiye “Bumi” 326

”Besok pagi­pagi akan ada pertemuan dengan Panglima Selata n, beberapa Ketua Akademi, dan para pemilik kekuatan yang berada di pihak kita. Mereka akan tiba di rumah ini saat fajar menyingsing. Segera setelah pertemuan, kita bisa menentu-kan langkah berikutnya, termasu k kemungkinan menyerang Tamus di Perpustakaan Sentral.” ”Apakah itu tidak terlalu telat?” Av menggeleng. ”Kamu seharusny a lebih dari dewasa untuk berpik ir rasional, Ilo. Urusan ini bukan hanya soal cepat atau lambat. Tapi juga tepat dan akurat. Bunuh diri jika kamu me-nyerang Tamus tanpa rencana. Besok pagi-pagi. Sekarang aku lapar berat, lebih dari 36 jam perutku tidak diisi apa pun. Inilah rencanaku paling cepat, menghabiskan masakan Vey.” Vey datang membawa nampan berisi makanan dan minuman segar. Seli menyikut lenganku, berbisik, ”Mereka tadi me­nyebut Miss Selena, bukan? Ada apa denganny a, Ra?” Aku menunduk menatap meja, sentuhan hangat Av sudah meng-hilang, suasana hatiku kembali seperti semula. Aku men-ja w a b pertanyaan Seli dengan suara serak, berbisik pelan, ”Kita akan menyelamatkan Miss Selena malam ini.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 327

TU ide gila, Ra!” Ali berseru pelan berusaha menjaga volume suara. ”Aku tahu itu ide gila,” aku menjawab datar. ”Aku tidak me­mint a pendapatmu. Aku hanya ingin bilang, malam ini aku akan pergi menyelamatkan Miss Selena. Terserah kalian mau ikut atau tidak.” ”Aku ikut!” Seli berkata mantap, memegang lenganku. Aku menatap Seli penuh penghargaan, dia selalu bersama-ku. ”Tapi bagaim ana kamu akan ke sana?” Ali bertanya. ”Kamu lebih dari tahu caranya.” Aku menatap Ali. ”Bu­kan­kah kamu juga diam-diam mengambil salah satu kantong milik Av di atas meja depan perapian? Aku akan menggunakan bubuk api untuk melintas menu ju perapian di Bagian Terlarang perpustaka­an.” Ali mengembuskan napas, menggaruk rambutnya yang be-rantaka n . Sudah setengah jam lalu pertemuan di meja makan selesai. Av dan T og telah beristirahat di kamar masing- masing, memanfaat-kan waktu tersisa beberapa jam sebelum fajar tiba. Vey me-nyuruh kami masuk kamar segera, bilang dengan tegas bahwa semua harus istirahat sebelum melakukan apa pun besok. Aku sama sekali tidak mengantuk. Bahkan aku tidak beren-cana untuk tidur. Sejak dari meja makan aku memikirkan ke-mungkinan itu. Aku akan pergi menyelamatkan Miss Selena di gedung perpustakaan. ”Tidak terencana?”

bisakah

kamu menunggu

besok,

Ra? Agar semua

lebih

”Besok sudah terlalu terlambat. Kita tidak tahu seberapa lama Miss Selena bisa bertahan.” Aku menggeleng, tekadku sudah bulat. ”Lagi pula,

asi.com

TereLiye “Bumi” 328

kamu seharusny a juga tahu persis, setelah bertempur lama, mereka pasti kelelahan. Gedung perpustakaan tidak akan dijaga ketat oleh Pasuka n Bayangan. Kita bisa menyelinap diam-diam ke ruangan tempat Miss Selena ditahan, mem-bebaskannya, lantas segera kabur lewat perapian. Tidak akan ada yang bisa menyusul kita. Walaupun punya bubuk api, mereka tidak pernah ke rumah ini, mereka tidak bisa melintasi perapian yang belum pernah mereka datangi.” ”Bagaimana dengan Tamus? Atau Panglim a Pasukan Bayang a n lainnya? Mereka boleh jadi ada di sana, Ra.” Ali mengangkat bahu. ”Aku tidak peduli mereka ada di sana atau tidak. Aku akan menyelamatkan Miss Selena. Dia rela mati demi kita, aku akan melaku ka n hal yang sama untuknya. Aku yang melibatkan Miss Selena. Jika Tamus menyebalkan itu meng-inginkanku, aku akan datang menemuiny a.” ”Kamu akan membantu Ra atau tidak, Ali?” Seli bertanya perlahan. ”Tentu saja aku akan membantu,” Ali berseru ketus. ”Aku tidak akan membiarkan satu pun dari kita sendirian di dunia ini. Tapi aku bertanggung jawab memikirkan apakah tindakan kita masuk akal atau tidak. Itulah kenapa aku banyak bertanya. Karena kalian berdua terlalu sibuk dengan kekuatan itu. Kalian tidak sempat memikirkan hal lain. Bahka n membawa buku dan peralatan pun tidak kalian pikirkan.” Aku menatap Ali lamat-lam at. ”Aku tahu, kamu mungkin menganggapku menyebalkan, Ra. Tapi aku tidak akan membiarkanm u pergi sendirian ke Bagian Terlarang itu. Kamu pergi, maka aku ikut pergi. Mari kita lakukan bersama hal bodoh ini,” Ali berkata mantap, balas menatap tatapanku. ”Terima kasih,” aku berkata pelan. ”Mari berkemas­kem as. Hampir pukul satu malam, ini jelas bukan waktu yang tepat untuk mendatangi gedung perpustakaan, meminjam buku, tidak akan ada petugas yang jaga. Tapi ini waktu terbaik untuk menyelin a p ke gedung itu.” Ali mencoba bergurau, balik kanan, melintasi pintu penghubung, segera masuk ke dalam kamarnya.

asi.com

TereLiye “Bumi” 329

Aku dan Seli mengangguk, juga segera berkemas. Tidak banyak yang kami siapkan, hanya berganti pakaian, memak a i sepatu, lantas mengenakan sarung tangan pemberian Av. Ali muncul tiga menit kemudian dengan tas ransel di pung-gung dan gulungan kertas di tangan. ”Apa itu, Ali?” Seli bertanya. ”Peta gedung perpustakaan. Aku robek dari salah satu majalah Ilo, yang memuat liputan khusus seluruh bagian gedung untuk pengunj u ng . Kalian tidak memikirkan ada berapa puluh ruangan di sana, bukan? Ratusa n lorong yang meng-hubung-kan ruangan? Tanpa peta, janga nk a n menemukan Miss Selena, kita akan tersesat bahkan persis saat tiba di Bagia n Terlarang.” Aku dan Seli saling lirik. Jangan- jangan sejak lahir Ali me-mang sudah terbiasa berpikir dua langkah ke depan. Kami bertiga membuka pintu dengan pelan, lantas berjalan menur u n i anak tangga tanpa suara. Itu mudah dilakukan karena seluruh pakaian dan sepatu yang ada di rumah Ilo adalah jenis terbaru dan paling maju teknologiny a. Kami bisa berjalan tanpa suara sama sekali. Nyala api di perapian redup, menyisakan bara merah. Ali meraih beberapa kayu bakar, meniup- niup, membuat nyala apiny a kembali besar. ”Setidaknya apinya tetap hidup hingga dua­tiga jam ke depan. Kita tidak bisa kembali ke perapian ini jika apinya padam. Tanpa menget a h u i perapian di rumah lain, kita akan terkunci di Bagian Terlarang,” Ali menjelaskan. Ali menghela napas. ”Tapi sebenarny a ada yang aku cemas­kan.” Aku dan Seli menatap Ali. ”Bagaimana jika ternyata perapian tujuan kita telah padam? Sudah tiga jam lalu Av dan Tog melintasiny a. Jika padam, lorong api ini tertutup.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 330

Aku menggeleng. ”Pasti masih menyala. Av pasti membuat nyala api di perapian sana tetap menyala berjam- jam, agar dia bisa kembali kapan saja. Av akan membuat banyak rencana cadang­an dalam situasi seperti ini.” ”Aku tidak mencemaskan soal itu, Ra. Tentu saja Av akan me-ninggalkan nyala api di sana. Bagaimana kalau ada Pasukan Bayanga n yang memadamkan api di perapian tersebut?” ”Tidak sembarang anggota Pasukan Bayangan bisa masuk ke dala m ruangan tersebut. Itu tempat paling penting.” ”Bagaimana jika Tamus justru sedang menunggu di depan perapia n?” ”Itu lebih baik, kita bisa segera menyerang dia,” jawabku ketus. Tidak bisakah Ali berhenti bertanya? Tekadku sudah bulat. Sejak tadi aku memutuskan berhenti bertanya dan cemas. ”Baiklah. Mari kita mencoba peruntungan kita.” Ali meng­angg u k , mengeluarkan kantong bubuk api dari ran­sel. ”Kamu mau melakukanny a , Ra?” Ali mengulurkan tangan- ny a. ”Biar aku yang melakukanny a.” Seli melangkah maju sambil nyengir . ”Kamu kan yang bilang, aku penyuka matahari, jadi apa pun yang berhubungan dengan api adalah keahlianku, bukan keahlian Makhlu k Rendah.” Ali ikut nyengir, mengulurkan kantong api ke Seli. ”Seperti yang dijelaskan Av, cukup kamu taburkan ke atas perapia n, lantas kita bersama-sama memikirkan ruangan Bagian Terlarang . Seharusnya tidak sulit. Kita tinggal melangkah masuk ke dalam nyala api.” Seli mengangguk, menjumput segenggam bubuk api dari kan-tong , lantas menaburkanny a ke dalam perapian. Nyala api lang-sung membe s ar , menjilat tinggi. Kami refleks melangkah mundur, jeri menatapnya, tapi tidak ada waktu lagi untuk cemas. Aku sendiri yang meminta kami pergi ke gedung per-pustakaan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 331

Seli membungkuk, melangkah masuk ke dalam perapian, disusul Ali. Aku ikut membungkuk melangkah masuk. Tidak terasa panas, lidah api hanya menerpa wajah, seperti angin ha-ngat. Aku berkonsentrasi penu h membay angkan ruangan Bagian Terlarang, dan dalam sekejap kami sudah masuk ke dalam lorong api. Kiri, kanan, depan, belakang, atas, dan bawah hanya nyala api. Aku, Seli, dan Ali berdiri rapat. Sensasiny a sama seperti me-lintasi lorong berpindah, seperti melesat cepat menuju sesuatu yang tidak terlihat. Dalam hitungan detik, lorong itu membuka, membe nt u k celah, aku bisa melihat ke depan. Meja tua dengan kursi-kursi di sekelilingny a. Juga lemari berdebu. Ruangan pengap yang pernah kami datangi. Ali membungkuk, melangkah keluar lebih dulu. Disusul oleh Seli. Terakhir aku.

Kami sudah tiba di Bagian Terlarang Perpustakaan Sentral. *** Nyala api yang menyembur tinggi di belakang kami perlaha n mengecil, lantas kembali normal. Kecemasan Ali tidak terbukti, Av mema ng meninggalkan perapian di Bagian Terlarang tetap me-nyala stabil, dan tidak ada siapa pun yang menunggu kami. Tidak ada yang berubah di ruangan itu, persis seperti terakhir kali kami datang—sam a pengapny a. Posisi meja dan bangku tetap sama. Yang berbeda adalah lemari tua berdebu itu kosong. Seluruh buku, kotak, dan gulungan kertas di lemari lenyap. Mungkin sebagia n dibawa Av, sebagia n lagi dipindahkan Pasukan Bayang-an. Ali membuka sobekan majalah yang dia bawa, meletakkannya di atas meja berdebu. Kami ikut memperhat ika n peta gedung Per-pustakaan Sentral. ”Kita tidak akan sempat memeriksa seluruh gedung dan me­ m a ng tidak perlu memeriksa semuanya. Dari puluhan ruangan, setidaknya ada dua belas tempat ideal yang mungkin dijadikan tempat menahan Miss Selena . Ruangan luas, dengan pintu sedikit, dan tempat Pasukan Bayanga n berjaga- jaga. Kita bisa menghapus ruangan di sayap kanan gedung. Menur ut siaran televisi, bagian itu sudah runtuh, ruangan di

asi.com

TereLiye “Bumi” 332

bagian depan juga hancur. Tinggal enam ruangan yang mungkin diguna k a n. Kita akan menyisir satu per satu dari sayap kiri gedung.” Ali menatapku. ”Kamu di depan, Ra. Kamu ber­tugas sebaga i pengintai. Aku yang akan memberitahu harus ber-gerak ke mana. Jika terjadi sesuatu, segera gunakan sarung tangan itu, serap seluruh cahay a secepat mungkin. Hanya kamu yang bisa melihat di kegelapan, memast ik a n jalan di depan aman. Itu bisa memberi kita waktu empat puluh detik untuk menilai situasi, apakah segera kabur melewatiny a atau berputar menca r i jalan lain.” Aku mengangguk. ”Dan ingat, kita tidak datang untuk bertempur. Misi kita se­derha na , menyelamatkan Miss Selena. Jadi segemas apa pun kalian janga n menyerang duluan, jangan membuat keributan, kecuali tidak ada pilih a n lain. Itu termasuk kamu, Sel, jangan melepas petir sembarangan.” Seli mengangguk. Ali menarik napas panjang, mengusap dahiny a, menatap kami serius. ”Kalian tahu, meskipun ini amat berbahaya, sebenarny a ini seru sekali. Keren. Aku belum pernah setegang sekaligus se-antusias ini.” Aku dan Seli menatap Ali, tidak mengerti arah pembicaraan- nya. ”Jika terjadi sesuatu, karena aku jelas yang paling lemah di rombong-an ini. Makhluk Rendah rentan celaka. Maka kalau kalian bisa pulang ke kota kita dengan selamat, tolong sampai-kan ke orangtuaku bahwa aku menyayangi mereka. Mungkin me-reka tidak cemas aku berhari- ha r i tidak pulang, ka-rena aku pernah ti-dak pulang sebulan dan mereka tidak repot men-cari, berbeda de-ngan orangtua kalian yang selalu me-nyaya ng i. Tetapi sampaikan ke­pada mereka, aku selalu mencintai mereka.” Ali diam sebentar. ”Kamu bicara apa sih?” Aku melotot. ”Eh, ini sejenis pesan terakhir, Ra.” Ali mengangkat bahu, serius.

asi.com

TereLiye “Bumi” 333

”Kita berangkat sekarang.” Aku sudah bergerak ke pintu bulat kecil. Entah kenapa Ali jadi aneh begini, tiba-tiba melan-kolis. Jangan- jangan dia mabuk gara-gara melintasi lorong api baru-san. Seli tertawa kecil melihat tampang kusut Ali, lalu bergegas mengik ut i langkahku. Ali segera menyusul sambil mendengus sebal. Aku mendorong pintu bulat itu, menatap lorong remang di depan kami, menghela napas untuk terakhir kali, membulat-kan tekad, kemud ia n melangkah masuk. Tidak ada lagi kesempat- an untuk kembali. Inila h saatnya. Kami harus menemukan Miss Selena segera, menyelamatkanny a. Aku memimpin rombongan, berjalan cepat di lorong pertama. Tidak ada siapa-siapa. Tiba di ujung lorong, ada pintu di sana. Aku tahu, pintu ini menuju ruangan besar Bagian Terbatas, tem-pat Av menemu i kami pertama kali. Napasku menderu kencang, jan-tungku berdetak lebih cepat. Seli dan Ali berdiri di belakang-ku. Aku membuka pintu perlahan. Mengintip ke depan. Kosong dan gelap. Setelah membuka lebih lebar pintu bulat, aku me-langkah masuk penu h perhitungan. Ruangan ini nyaris gelap. Lampu kristal di atas mati, dua di antaranya bahkan rontok di atas pualam, hanya menyisakan larik cahay a dari langit-langit. Mungkin cahaya dari luar. Hampir seluruh dind in g berlubang, bekas pukulan memati-kan. Buku berserakan di lantai, di antara kayu lemari yang han-cur lebur. Aku tidak punya waktu menatap sedih semua buku yang rusak. Kami harus fokus atas misi ini, bukan hal lain. ”Aman, Ra?” Seli berbisik dari balik pintu. Aku mengangguk. Ali dan Seli ikut melangkah masuk ke dala m ruangan. Ali melihat peta di tanganny a, memeriksa sekitar, berbisik pelan, ”Kita menuju pintu di dekat meja besar.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 334

Kami bergerak cepat, gesit melintasi serakan buku dan kayu. Sepatu yang dipinjamkan Ilo amat berguna untuk bergerak cepat tanpa suara. Kami berhenti sejenak di depan pintu dekat meja besar. Napasku semakin cepat. Aku harus bisa mengendalikannya, diam sebentar. ”Kamu masuk, terus berlari hingga ujung lorong, Ra. Abaikan dua pintu lain di sisi kanan. Ruangan pertama yang akan kita periksa ada di ujung, Bagian Koleksi Flora Fauna,” Ali memberi instruksi. Aku mengangguk. Aku sudah siap memasuki lorong kedua. Mendorong pelan pintu, mengintip, kembali memastikan di depan aman. Lantas bergerak cepat melintasi lorong yang re-mang. Peta yang dipega n g Ali akurat. Ada dua pintu di sisi ka-nan, aku terus bergerak maju. Lima belas meter melintas, aku tiba di pintu yang disebutkan Ali. Tapi tidak ada lagi daun pintunya, sudah hancur terpelanting di dalam ruangan. Aku refleks meng-hentikan gerakanku, berdiri merapat ke dinding, tidak mengira daun pintuny a tidak ada. Kuangkat tanganku, ber-siap menyerap cahaya jika terjadi sesuatu. Lengang. Ruangan di depan kami juga kosong. Gelap. Sepertiny a se-luru h jaringan listrik di gedung padam. Ini ruangan pertama yang menur ut perhitungan Ali kemungkinan besar tempat me-nahan Miss Selena . Ruangan ini sama besarnya dengan Bagian Terbatas. Aku melangkah maju , hendak memeriksa, kemudian segera mematung. Aku hampir berseru tertahan, tapi segera me-nutup mulut dengan telapak tangan. ”Ada apa, Ra?” Ali bertanya, dia sudah tiba di belakangku. Aku gemetar menunjuk lantai pualam. Di depan kami, bergelimpangan tubuh anggota Pasukan Bayang- – a n. Tewas. Ini pemandangan mengenaskan. Seli meng-angkat tangan, memb u at cahaya redup untuk melihat seluruh ruangan lebih baik. Anggota pasuka n yang tergeletak di lantai mengenakan simbol- simbol seperti yang dipak a i Panglim a Timur. Mungkin ini anggota pasukanny a yang tewas saat membantu Av, belum dievakuasi, atau senggaja dibiarkan oleh Pasuka n Bayang- an lain yang memihak Tamus.

asi.com

TereLiye “Bumi” 335

”Baik, kita coret ruangan ini.” Ali membuka men-dekatkanny a ke tangan Seli yang bercahaya.

petanya

lagi,

Aku masih berdiri dengan napas tertahan. ”Kita harus menuju sudut ruangan, Ra. Ada pintu di dekat tiang yang roboh di sana, lorong berikutny a.” Ali menatapku. Aku menelan ludah. Itu berarti kami harus melewati hampar-an lanta i yang dipenuhi korban pertarungan selama 36 jam terakhir. ”Kita harus melewati tubuh mereka?” ”Tidak ada jalan lain. Itu satu­satunya lorong menuju ruangan kedua.” Ali menggeleng. Aku mengepalkan tangan, berusaha meneguhkan hati. Melewa t i tumpukan buku di atas lantai saja tidak mudah, apa-lagi harus melew at i tubuh anggota Pasukan Bayangan yang tewas. Aku menggigit bibir, segera bergerak secepat mungkin. Berlari di sela-sela tubuh dingin tak bergerak, ini horor. Dua puluh me-ter, aku tiba di seberang, segera berpegangan ke dinding di dekat tiang roboh. Tadi beberapa kali aku tidak sengaja menginjak tubuh mereka. Seli juga menah a n napas saat tiba di se-belahku. Wajah- nya pucat. Hany a Ali yang segera membuka kem-bali peta-nya, memeriksa arah kami. ”Kamu masuk ke lorong, Ra. Ada persimpangan di depan, ambil segera yang kanan. Terus lurus, kita akan menemukan pintu menuju ruangan kedua yang harus kita periksa, ruangan Bagian Koleksi Anak­ Anak.” ”Apakah kita akan menemukan ruangan dengan korban per-tempu ra n lagi, Ali?” Napasku menderu. Aku berusaha lebih ter­kendali.

”Aku tidak tahu.” Ali menatapku, berusaha bersimpati. ”Se­luru h ruangan jelas telah menjadi arena pertempuran. Setidak- nya, kita t idak menemukan satu ruangan penuh dengan anggota Pasukan Bayangan yang masih hidup. Itu lebih rumit.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 336

”Semoga ruangan berikutnya adalah tempat Miss Selena ditahan, Ra,” Seli berbisik pelan, membesarkan hatiku. Aku menatap Seli dan Ali bergantian, mengangguk, men-dor on g pintu. Kami segera menuju ruangan berikutnya. Tidak ada apa pun di ruangan kedua, gelap dan kosong. Ruangan itu lebih parah. Langit- langitny a runtuh, koleksi buku-buku dan permaina n anak-anak di ruangan luas itu hancur di-timpa batu, kayu, dan materia l lainnya. Tinggal empat ruangan. ”Kamu akan masuk ke dalam lorong yang panjang dan penu h perlintasan, Ra. Akan ada empat kali perlintasan, terus lurus, janga n berbelok. Kamu akan tiba di Bagian Koleksi Ilmu Ke-dokteran & Penyembuhan, ruangan ketiga.” Ali memeriksa peta dengan saksam a , mencoret ruangan sebelumnya. Dia terlihat fokus dan tenang. Aku segera melintasi lorong panjang, hampir tiga puluh meter, denga n banyak pintu di kiri-kanan. Aku selalu cemas melintasi lorong denga n banyak pintu, karena sekali saja tiba-tiba pintu itu terbuka, dan ada Pasuka n Bayangan yang melintas, kami de-ngan segera diketahui sedang menyelina p . Apalagi saat menemu-kan perlintasan lorong, posisi kami lebih terbuk a lagi. Napasku tersengal, tiba di pintu ruangan ketiga. Aku me-nunggu Seli dan Ali yang baru bergerak setelah aku tiba di ujung. ”Ini ruangan dengan koleksi buku paling berharga milik Per­pustakaan Sentral,” Ali membaca keterangan di peta, setelah tiba di dekatku. ”Sekaligus ruangan paling besar, paling indah, dan dileng ka p i dengan tempat paling nyaman untuk membaca.” Aku menatap Ali. ”Apakah keterangan itu penting? Dengan ruanga n sebelumnya yang hancur, sepertiny a tidak ada ruangan di gedung ini yang masih utuh.” Ali mengangkat bahu. ”Siapa tahu informasi itu berguna, Ra. Kamu siap masuk sekarang?”

asi.com

TereLiye “Bumi” 337

Aku mengangguk, menahan napas, perlahan mendorong pintu bulat besar. Seberkas cahaya menerpa wajahku. Terang.

asi.com

TereLiye “Bumi” 338

KU menelan ludah. Langkahku terhenti. Ruangan di depan kami tidak gelap. Aku membuka pintu lebih lebar, mengintip, mengangkat tangank u . Ruangan itu luas sekali, dengan meja-meja besar dan sofa-sofa panja ng . Lampu kristalnya menyala terang. Tidak hanya satu atau dua, tapi belasa n lampu kristal. Aku mendorong pintu lebih lebar lagi, kosong, tidak ada siapa-siapa di ruangan itu. Keterangan di peta Ali tidak keliru. Ruangan ini indah sekali. Lantai pualamnya dilukisi simbol- simbol besar. Langit- langitnya dari potong a n kaca kecil warna-warni. Ruangan ini utuh. Tidak ada satu pun buku yang jatuh ke lantai, tetap berbaris rapi di lemari tinggi yang menyentuh langitlangit. Sejauh mata me-mandang hanya buku yang terlihat. Aku melangkah hati-hati, masih berjaga- jaga. Maju perlah a n, memeriksa semua kemungkinan. Tapi ruangan itu memang kosong. Tidak ada siapa-siapa. Seli dan Ali menyusul setelah aku memberi kode. Mereka berdua juga terpesona menatap ruangan. Kami belum pernah menyaksikan ruanga n perpustakaan senyaman dan seindah ini. Seperti berada di rumah sendir i, dengan koleksi buku tidak akan habis dibaca sepanjang umur. ”Perapianny a” Seli berbisik, menunjuk ke depan. Aku bergegas melangkah ke arah yang ditunjuk Seli. Salah satu dari empat perapian di ruangan itu masih menyala. Di atas sofa dan meja dekat perapian ada sisa makanan dan minum an. Juga tetes darah di lantai pualam. ”Ada anggota Pasukan Bayangan di tempat ini beberapa jam lalu.” Ali mengangkat salah satu gelas, memeriksa sebentar, kemudian berjongk ok , memperhatikan bercak darah.

asi.com

TereLiye “Bumi” 339

”Mereka kepadaku.

membawa

seseorang

yang

terluka.”

Ali

mendong a k

Kami bertiga saling tatap. Entah kenapa, aku jadi tegang. ”Miss Selena?” Ali mengangguk. ”Ruangan ini utuh karena cukup jauh dari arena pertempuran. Jika ada orang terluka yang dibawa ke ruang-an ini, dijag a ketat oleh Pasukan Bayangan, itu berarti seseorang yang penting . Kemungkinan besar Miss Selena.” ”Mereka memindahkan Miss Selena ke mana?” aku mendesak, tidak sabaran. Ali mengangkat peta di tangan, memeriksa. ”Kita sudah dekat, Ra. Dekat sekali. Jika Miss Selena tidak dibawa keluar dari gedung perpusta ka a n ini, maka kemungkinan besar Miss Selena hanya dibawa ke ruanga n berikutnya, agar menjauh dari per­tempuran.” Ali menatapku. ”Dia dipindahkan ke ruangan Bagian Koleksi Novel.” ”Ke arah mana?” Napasku menderu kencang, memastikan. ”Pintu lorongny a ada di dekat perapian ujung ruangan ini.” Belum habis kalimat Ali, aku sudah bergerak cepat menuju pintu itu. Lima belas meter, aku tiba di pintu bulat dengan daun pintu berwarna elok keemasan. ”Sebentar, Ra!” Ali berseru, menahanku. Ali dan Seli segera menyusulku. ”Kita harus menyusun rencana.” Ali memegang tanganku yang henda k mendorong daun pintu. ”Kamu tidak bisa masuk ke ruangan itu begitu saja.” ”Kenapa tidak?” aku menjawab ketus. ”Jika benar Miss Selena ditahan di sana, berarti ruangan itu sekalig u s tempat komando Pasukan Bayangan. Av dan Tog sudah

asi.com

TereLiye “Bumi” 340

menjelaskan hal itu, Tamus memindahkan markasny a ke gedung perpustakaan ini, agar dia bisa segera menggu nakan benda-benda dari Bagian Terlarang.” Aku mendengus. Aku tidak peduli. ”Ali benar, Ra. Kita harus menyusun rencana.” Seli meng­ang g u k kepadaku. ”Dengarkan aku, Ra. Lorong menuju ruangan itu hanya lurus, tanpa pintu. Jadi kamu bisa melintas dengan mudah. Tapi yang sulit adalah Bagia n Koleksi Novel, ruangan besar dengan desain paling canggih , paling futuristik,” Ali membacakan per­lahan penjelasan di sobekan majalah yang dia bawa. ”Seluruh lemari ditanam di dalam dinding, semua meja dan sofa baca bisa tenggelam di dalam lantai pualam. Pengunjung bisa mengaktifka n ny a dengan menyentuh tombol, maka lemari, meja, dan sofa baca akan munc u l. Jika pengunjung ingin merasa-kan sensasi desain canggih ini, janga n sungkan meminta petugas kami ‘menghilangkan’ seluruh lemari, meja, dan sofa, maka kita seolah berada di ruangan kosong melompong. Hany a lanta i pualam, dinding putih, dan langit- langit sejauh mata meman-dang, padah a l di sana setidak nya ada seratus ribu koleksi novel terbaik seluruh negeri.” Ali mengangkat wajahny a dari sobekan majalah. ”Itu berarti, sekali kita masuk ke dalam ruangan itu, jika Pasukan Bayang–an menghilang ka n lemari, meja, dan sofanya, maka kita persis masuk ke arena pertemp u ra n luas. Tidak ada tempat ber-lindung. Sama persis seperti aula sekolah. Sekali kita mem-buka pintu ruanganny a, kita segera ketahuan, dan seluruh isi ruangan bisa melihat kita.” Aku menelan ludah. ”Lantas apa yang akan kita lakukan?” tanya Seli. ”Ra bisa menghilang dengan menangkupkan telapak tangan di wajah . Dia akan masuk ke ruangan dengan cara itu. Kita akan menunggu di sini, berjaga- jaga. Apa pun yang kamu temukan, kamu harus segera

asi.com

TereLiye “Bumi” 341

kembali memberitahu kami. Kita akan men-diskusikan berikutnya. Jangan mengam bil tindakan gegabah.”

langkah

Aku mengangguk. Rencana Ali masuk akal. ”Apa pun yang kamu lihat, Ra, jangan mengam bil tindakan sendir i. Kembali ke sini. Karena mungkin saja mereka menyiap-kan jebakan buat kita,” sekali lagi Ali mengingatkanku. ”Aku mendengarnya, Ali,” aku berseru pelan. ”Hati­ hati, Ra.” Seli memegang lengank u, menyemangati. Aku mengangguk, membuka pintu bulat di depan kami, dan masuk ke lorong berikutnya. Menarik napas panjang, aku lantas bergerak ke ujung lorong yang jaraknya hanya sepuluh meter, dan tiba di sana dengan cepat. Napasku menderu semakin kencang. Aku menyeka peluh di leher, menatap pintu bulat. Ini ruangan keempat yang akan kuperiks a . Semenyebalkan apa pun Ali, perhitungan dia tidak pernah keliru. Di balik pintu ini pasti ada sesuatu. Apakah itu ratusan anggota Pasukan Bayang a n? Panglim a Barat? Atau bahkan Tamus? Miss Selena pasti berada di antara mereka, ditahan dalam kondisi ter-luka dan mengenaskan. Aku mengangkat menghilang.

telapak

tangan

ke

wajah.

Tubuhku

segera

Saatnya aku masuk. Perlahan kudorong pintu dengan siku. Syukurlah, setidak- nya semua pintu di gedung ini tidak ada yang berderit karena engsel- ny a karatan. Pintu terbuka pelan. Tidak ada berkas cahaya yang ke-luar seperti ruanga n sebelumnya. Aku mendorong pintu lebih lebar, mengintip dari sela jari. Ruangan di depanku remang, tidak gelap, tidak juga terang. Ada cahaya redup yang datang dari langit- langit ruangan, seperti lampu yang hanya dinyalakan separuh. Aku membuka pintu lebih lebar, memer ik s a seluruh sudut, kemudian terhenti me-natap persis ke tengah ruangan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 342

Dadaku berdegup kencang. Ada seseorang terbaring di sana, dengan tubuh dililit jaring perak. ”Miss Selena!” aku berseru. Aku benar-benar melupakan pesan Ali agar menahan diri, segera kembali, berdiskusi menyusun rencana berikutnya. Demi melihat Miss Selena meringkuk di sana, aku menurunkan ta-ngan, lompat sekuat mungkin. Tubuhku melayang sejauh dua puluh meter, mendarat denga n mudah di samping Miss Selena yang persis berada di tengah ruangan. Belum sempat aku merengkuh tubuh Miss Selena, berusaha melepa s jaring perak itu, ruangan besar itu tiba-tiba terang benderang. Dan dari dinding- dinding ruangan, keluar beberapa orang dengan pakaian gelap. Dinding tersebut tidak hanya ber-fungsi menghilangkan lemari, tapi juga bisa dipakai untuk tempat bersembuny i. Wajahku pucat. Separuh karena terkejut, separuh lagi karena gentar. Lima orang melangkah mendekatiku. Mereka mengenakan seraga m sama persis seperti Tog, hanya simbol-simbol di pakaian gelap mereka yang berbeda satu sama lain. Aku sempurna telah dikepung oleh lima Panglima Pasukan Bayang a n. *** ”Selamat datang,” salah satu dari mereka menyapaku. ”Kami su­ dah menunggum u dengan sabar. Perhitungan Tamus tidak pernah keliru.” Aku beranjak berdiri, melangkah mundur, tanganku terangkat. Tidak ada sosok Tamus di antara mereka berlima. ”Kamu tidak akan melawan kami, bukan?” yang satunya ber­tany a, terus mendekat. Aku mengatupkan rahang. ”Jangan coba­coba mendekatiku!” seruku.

asi.com

TereLiye “Bumi” 343

”Jangan anggap dia remeh, Stad.” Salah satu dari mereka ikut mengangkat tangan, siap menyerang. Ini semua keliru. Aku mengeluh, seharusny a aku mendengar-kan Ali. Tidak akan mungkin kami semudah ini menemukan Miss Selena, tidak ada yang menghalangi di lorong, tidak ada Pasuk-an Bayangan di mana- m a na . Mereka, bagaimanapun cara-nya, tahu kami akan datang, dan mereka memilih me-nunggu. ”Aku tidak diperintahkan menyakitim u. Jangan salah paham.” Orang yang bernama Stad berhenti, membuat empat yang lain ikut berhenti. Jarak mereka dariku hanya dua meter. ”Aku justru diperintahkan menyambutmu dengan baik.” Stad mencoba tersenyum—meski senyumnya terlihat buruk. ”Namaku Stad, aku Panglim a Barat, aku yang bertanggung jawab di gedung ini selama Tamus belum kembali. Hei, kalian seharusny a menurunkan tangan kalian.” Orang itu menoleh ke rekan­rekannya. ”Aku tahu anak ini spesial, punya kekuata n hebat, tapi kita tidak akan mengeroy oknya.” Empat rekannya saling tatap, berhitung. Dua orang menurun- k a n tangan, yang lain tetap berjaga-jaga. ”Kamu juga bisa menurunkan tanganm u, baik­baik.”

Nak. Kita bisa bicara

”Lepaskan Miss Selena.” Aku menatap Stad, ber­seru serak. Stad menghela napas. ”Sayangnya itu tidak bisa kulakukan.” ”Lepaskan Miss Selena!” aku membentak. Stad menggeleng. ”Kalaupu n bersedia, aku tidak bisa melepas-kanny a . Jaring perak itu diikat oleh Tamus, dan hanya Tamus atau kekuatan besar yang bisa memutusny a. Kita bisa menunggu Tamus kembali. Jika kamu bersedia memenu hi permintaan Tamus, jangankan melepaskan satu- du a orang, kamu akan men-jadi sekutu terhormat kekuasaan baru.” Aku menggeram, tidak tertarik dengan omong kosong itu. Aku datang demi Miss Selena, yang meringkuk diam di lantai pualam. Cepat

asi.com

TereLiye “Bumi” 344

atau lambat mereka akan menangkapku juga, maka dengan menggigit bibir, aku memutuskan menyerang lebih dulu. Sarung tanganku langsung berubah hitam pekat, dalam radius dua puluh meter cahaya segera menghilang. Aku loncat, memukul orang paling dekat denganku, angin kencang mengalir di tinjuku. Terdengar suara berdentum, orang itu langsung ter-pelanting jauh. ”AWAS!” salah satu dari mereka berseru. ”Aku bilang juga apa, Stad. Jangan pernah remehkan anak ini. Dia memakai Sarung Tangan Bulan. Mundur ke tempat te­rang!” Dentum an berikutnya kembali terdengar, aku sudah lompat ke kanan, memukul yang lain. Orang yang kuserang sempat merunduk. Pukula nk u menghantam dinding, membuat retak. Pertarungan segera meletus di ruangan gelap gulita itu. Lima lawan satu. Aku diuntungkan karena bisa melihat dalam gelap, tapi lima Panglim a Pasukan Bayangan bukan nama omong ko-song. Orang yang terpelant in g telah berdiri, menyeka wajahnya, menggeram marah. ”Kamu sendiri yang memintany a, Nak.” Orang itu loncat ke arahku. Aku tidak tahu bagaimana cara mereka bisa melihatku, tapi ke-untunganku karena ruangan gelap tidak bertahan lama. Me-reka jelas lebih terlatih dalam pertarungan, mungkin membaca dari arah suara angin pukulan. Tinju Stad mengarah ke arahku. Aku membuat tameng, me- nir u gerakan Miss Selena sewaktu di aula. Tameng itu ter-bentuk, meny era p pukulan Panglim a Barat. Aku lompat ke samping kiri, membalas memuk u l, siap mengenai tubuhny a, tapi… terdengar suara gelombang air pecah. Plop! Dia menghilang. Dan sebelum aku sempat menyada riny a, Stad sudah muncul di atasku, meng- hantamkan tangan- nya. Aku tidak sempat membuat tameng. Tidak sempat meng- hindar. Aku tidak pernah berlatih berkelahi, tidak ada yang meng-ajariku trik bela diri.

asi.com

TereLiye “Bumi” 345

Maka dengan berteriak parau, aku justru panik memukulkan tinju k u melayani pukulan Stad. Itu gerakan yang brilian—tanpa kusadari. Tinju kami beradu, posisi kakiku kokoh, kuda-kudaku mantap, sedangkan Stad melayang. Maka saat dua tenaga bertemu, berdentum, Stad terlontar jauh, menghantam langit- langit, lantas jatuh ke lantai pualam. Aku tidak sempat memastikan apakah Stad bisa bangkit atau tidak karena empat panglima lain sudah menyerangku, susul-me- ny usul dala m kegelapan. Aku segera lompat menjauh, ber-gerak cepat berlari di dind ing . Pukulan mereka berdentum susul- menyusul mengenai dinding, memb u at lubang besar. Ruangan kembali terang beberapa detik kemudian. Aku menge lu h , kekuatan menyerap cahaya itu tidak bertahan lama seperti yang kuingink a n. Belum genap keluhanku, Stad bangkit berdiri, tubuhnya kotor oleh debu. Stad menatapku marah. ”Pukul­anm u kencang, tapi tidak cukup untuk menghabisi kami. Kamu perlu berlatih lebih banyak. Saatnya kamu belajar bagai- mana petarung terbaik Klan Bulan bertempur.” Stad melompat, tubuhny a menghilang. Disusu l empat lainny a. Lima panglima itu menghilang, kemudian muncul satu per satu di sekitarku. Aku menangkis dua serangan, merunduk meng-hindari serangan ketiga dan keempat. Tapi tinju Stad telak meng-hantam tubuhku, membu at k u terpelanting jauh ke pintu ruang-an. Dengan buas Stad menghunjamkan tinjuny a ke badanku yang masih me-layang. Aku berseru jeri. Tidak sempat melakukan apa pun. CTAR! Selarik petir dengan cahaya terang menyambar dari lorong di belakang. Tubuh Stad terbanting jauh, dipanggang oleh geme-retuk listrik . Seli sudah masuk ke dalam ruangan, berteriak marah. Tangan Seli terangkat lagi, petir berikutnya kembali me-nyambar ke tengah ruangan, sekali lagi menyelim uti tubuh Stad yang masih

asi.com

TereLiye “Bumi” 346

meringkuk di lantai pualam. Seli tersengal, me-lampiaskan seluru h tenagany a. Itu petir yang besar. Empat panglima lain terdiam menatap apa yang terjadi. Ali segera menahan tubuhku yang jatuh, kami terjatuh di lanta i pualam. Seli melangkah mundur ke posisiku. ”Kamu baik­baik saja, Ra?” tanya Seli. Aku menyeka ujung bibir yang berdarah. ”Aku baik­baik saja, Sel.” Setidakny a semangatku baik-baik saja. Aku beranjak ber-diri. Kami bertiga merapat satu sama lain, menatap ke depan. Salah satu panglima memeriksa kondisi Stad. Tubuh Panglim a Barat itu seperti hangus terbakar. Mungkin hanya pakaiannya, atau boleh jadi seluruh tubuhny a. Dia tidak bergerak meski sudah digerak-gerakkan oleh yang lain. ”Kamu seharusny a segera kembali ke lorong, Ra,” Ali berbisik. ”Buka n justru melawan mereka sendirian. Kalau kami terlambat menyusul, kamu bisa celaka.” Aku mengangguk, napasku masih menderu kencang.

”Apa yang akan kita lakukan sekarang?” Seli berbisik, bertanya kepada Ali. ”Sudah terlambat untuk menyusun rencana. Kita bertarung,” Ali berkata pelan. ”Atau tepatnya, kalian berdua yang akan ber­tarung.” Aku mengeluh pelan, bukan karena kalimat Ali, tapi lihatlah, di tengah ruangan, Stad beranjak duduk. Orang- orang dengan ke–kuatan di dunia ini sepertinya tahan sekali terhadap serangan. Tamus berkali-kali terkena pukulan Miss Selena sewaktu di aula sekolah, tapi dia tetap segar bugar. Juga Tog, mungkin puluhan pukula n mengenai tubuhny a, tapi dia tetap bernapas.

asi.com

TereLiye “Bumi” 347

”Ini menarik,” Stad mendesis, matanya menatap galak. ”Aku tidak tahu ada petarung Klan Matahari di antara kalian. Tamus tidak bilang. Dan kamu mengenakan sarung tangan itu, Sarung Tangan Matahari. ”Aku tidak peduli Tamus menginginkan kalian hidup­ hidup. Aku akan menghabisi kalian.” Stad menggeram jengkel, lalu mengacungkan tanga n. Seluruh ruangan tiba-tiba terasa dingin, butir salju turun di sekitar kami. Aku tahu apa yang dilakuk an Stad, dia memiliki kekuatan itu, meski tidak sekuat Tamus. Empat panglim a di sebelahnya juga melakukan hal yang sama. Mereka siap mengirim serangan me-matikan seperti saat Tamus menghabisi Miss Selena. Ali melangkah mundur di belakangku dan Seli. Aku mengangkat tangan, bersiap menyambut serangan, sarung tanganku kembali berwarna hitam pekat. Juga Seli, sarung tanga nny a berwarna terang kemilau. Tanpa banyak cakap lagi, Stad dan keempat panglima itu lomp at menyerang kami. Tapi tiba-tiba tubuh mereka meng-hilang, lalu muncul di depan kami dengan tinju terarah sem-purna. Aku segera membuat tameng besar, berusaha menyerap se-bany ak mungkin serangan. Seli melontarkan petir ke depan. Dua serangan mereka terserap tamengku, satu orang lagi terbanting terkena sambaran petir Seli, tapi dua tinju berhasil menerobos pertahanan, satu mengenai tubuhku, satu mengenai Seli. Bunga salju berguguran di sekitar kami. Aku dan Seli terpelanting ke belakang, tertahan dinding. Itu pukula n yang kencang. Tubuhku serasa remuk, dan hawa di-ngin menyelim u t i tubuhku, membuat badanku mati rasa. Kondisi Seli lebih parah. Dia tergeletak, darah segar keluar dari bibirny a. Sarung tangan kami menja d i redup. Stad melangkah mendekatiku, siap mengirim pukulan memati-kan. Ali berseru, takut-takut mencoba menghalangi. Mudah saja bagi Stad, dia mendorong Ali. Tubuh Ali terpental ke tengah ruang-an,

asi.com

TereLiye “Bumi” 348

ranselny a terlepas, isinya berserakan di lantai pualam. berhenti walau sejenak oleh gerakan Ali, tinggal dua langkah.

Stad

tidak

Aku tidak bisa menghindar lagi. Seli juga tidak bisa me-nolong. Nasibku akan sama seperti Miss Selena. Saat itulah, ketika tinju Stad terangkat mengarah ke kepalaku, kesiur angin terasa dingin. Aku menatapny a gentar. Ruangan yang terang benderang mendadak menjadi redup, seperti ada tabir yang menut u p seluruh dinding ruangan, membuat suasana seperti malam bulan purna m a .

Plop! Seperti suara gelembung air yang meletus pelan, muncul orang lain di sampingku, dan segera menepis pukulan Stad. Stad terbanting ke dinding satunya. Aku mendongak, ingin tahu siapa yang menolongku. ”Halo, Gadis Kecil,” suara khas itu menyapa.

asi.com

TereLiye “Bumi” 349

ITA bertemu lagi, Nak.” Sosok tinggi kurus itu tersenyum. ”Tapi sebelumny a, biar aku urus anak buahku yang ti-dak becus.” Tamus menghadap ke depan, berseru galak kepada lima Panglim a Pasukan Bayangan, ”Aku menyuruh kalian menyambut mereka dengan baik, bukan membunuh mereka!” Tangan Tamus terangkat tinggi. Stad yang terbanting di lanta i terangkat mengambang di udara. Tangan Tamus menepis ke sam-ping , tubuh Stad terlempar ke dinding seberang. Empat pang-lima lain berseru tertahan, tapi mereka tidak bisa melakukan apa pun. ”Kamu melihatny a, gadis kecil Klan Matahari?” Tamus me­noleh ke arah Seli. ”Bukankah itu trik milikmu? Keren, bukan?” Seli menggeram, hendak mengangkat tangannya. ”Aku tahu kamu memakai Sarung Tangan Matahari, Nak, yang bisa melipatgandakan kekuatan. Tapi kamu butuh latihan lama untuk bisa melempar orang lain dengan mudah. Hanya petarung lemah yang membutuhkan sarung tangan.” Tamus tersenyum. Seli hendak berteriak marah, tapi kondisiny a buruk, tangan- nya hany a bisa terangkat separuh. Cahaya redup di sarung ta-ngan- nya padam sejak tadi. Aku juga hendak berdiri, tapi seluruh tubuhku sakit dan mati rasa setelah terkena pukulan Stad. ”Bawa mereka ke tengah ruangan!” Tamus berseru ke empat Panglim a Pasukan Bayangan. Empat orang itu segera bergerak, dan plop! dua orang muncul di sebelahku, menyeretku. Dua orang lain muncul di sebelah Seli, memba w a Seli dengan kasar. Tamus melangkah lebih dulu ke tengah ruangan, melewati Ali.

asi.com

TereLiye “Bumi” 350

”Dunia ini tidak cocok untuk Makhluk Rendah yang bodoh dan hina. ” Tamus berdiri satu langkah di depan Ali yang ter-geletak di lantai puala m . ”Kamu kira kalian sangat pintar? Genius? Ilmu pengetahuan klan kalia n bahkan tidak seujung kuku pengetahuan Klan Bulan.” Tamus membungkuk. ”Tapi aku akan mengucapkan terima kasih, kamu telah membawakan benda yang sangat kucari seratus tahun terakhir , sekaligus membawa orang yang sangat kubutuhkan. Ini khas sekali denga n kebiasaan Makhluk Rendah, merasa paling pintar, padahal hanya pelay a n paling bodoh yang dimanfaatkan.” Tamus terkekeh, mengangkat buku PR matematikaku. Aku dan Seli diletakkan di dekat Miss Selena. Ali dibiarkan tergeletak lima meter dari kami. ”Bantu dia berdiri!” Tamus berseru. Dua Panglim a Pasukan Bayangan mengangkat lenganku, memaks a k u berdiri. ”Kamu hendak membebaskan Miss Selena, Nak?” Tamus me­mega n g daguku. ”Aku justru membuat jebakan ini untuk kalian. Tidak ada yang pernah lolos dari Tamus. Bagaim ana mungkin Av begitu yakin aku tidak mampu membunuh ny a bersama Tog di ruangan Bagian Terlarang? Aku membiarkannya melolos-kan diri. Kabur melewati jaringan api, trik lama Klan Matahari. Persis seperti yang kuperkirakan, dia muncu l di tempat kalian berada. ”Dan urusan ini menjadi mudah. Aku sengaja memperlihatkan guru berhitungmu kepada Tog. Setelah mendengar cerita Av dan Tog, kamu naif sekali mendatangi gedung perpustakaan ini. Kamu kira ini apa? Meminja m buku? Kalian butuh berlatih lama untuk sekadar menang melawan lima Panglim a Pasukan Bayangan. Aku tahu mereka bodoh, tidak becus, tapi mereka petarung yang tahan banting. Kamu perlu kekuatan besar untuk membuatnya diam selama­ lamanya.” Tamus menunjuk Stad—yang susah payah berdiri. Tamus menatapku, tersenyum, senyum yang sama ketika ia dulu muncul di cermin kamarku. ”Kamu tahu apa yang kucari di ruang­an

asi.com

TereLiye “Bumi” 351

Bagian Terlarang? Buku milikm u. Buku Kehidu pan. Aku tidak menemukannya di Bagian Terlarang, tapi tidak masa-lah, buku ini justru datang sendiri menemu iku, bersama pemilik asliny a.” Aku menatap buku PR matematikaku yang dipegang Tamus. ”Seribu tahun aku hidup dalam pelarian, Gadis Kecil. Seribu tahun aku mengelilingi sudut dunia, menyiapkan rencana besar ini. Aku mengumpulkan orang- orang, melatih mereka, menyiap-kan- mereka, meski kemudian sebagian kecil dari mereka justru meng­khianatiku.” Tamus menunjuk Miss Selena dengan wajah meng­hina. ”Hari ini seluruh rencana itu sempurna. Aku me-nguasai seluruh kota, memiliki Buku Kehidupan, dan kamu ada di sini. Malam ini semua akan selesai.” Aku menelan ludah. Dengan posisi sedekat ini, aku bisa me-lihat Miss Selena tidak pingsan. Dia sadar, bisa mendengar se-luruh percaka pa n dengan tubuh terluka. Tapi jaring perak di tubuh-ny a mengunci, tidak memberi celah untuk bergerak atau bicara. ”Dalam cerita ini, aku bukan orang jahat, Nak. Kamu keliru jika menatapku penuh kebencian.” Tamus menggeleng, dia me­megang daguk u , membuatku mendongak. ”Saat usiamu sembilan tahun aku justru mengirimkan hadiah, kotak dengan dua kucing itu. Kamu mener ima ny a , bukan? Dua ekor kucing yang lucu. Aku justru menyayangim u, anak kecil yang malang.” Jika situasiku lebih baik, aku akan memukul sosok tinggi kurus ini. Aku benci dia menyebut- nyebut kucing itu—dia me-ngirim kucing itu untuk mengawasiku. Tetapi tubuhku masih mati rasa, dan dua Panglim a Pasuka n Bayangan mencengkeram bahuku agar bisa berdiri. ”Tidak pernahkah kamu bertanya, kenapa kamu memiliki kekuata n itu? Bisa menghilang? Di dunia ini sekalipun itu tetap menakjubkan. Ada yang harus berlatih di akademi ber-tahun-tahu n, kemudian berlatih di Pasukan Bayangan lebih lama lagi, bahkan tidak bisa menghilang ka n jempolny a sendiri. Kenapa kamu sebalikny a, menguasainy a sejak usia dua tahun? Karena kamu mewarisi sesuatu, sekaligus mewarisi buku ini.” Tamus menatapku dengan sorot tajam. Embusan napas dinginnya me-nerp a wajahku, membuat kulitku membeku, seperti disiram es.

asi.com

TereLiye “Bumi” 352

”Baik, sebelum aku memberitahu kenapa kamu begitu spesial, akan kuceritakan sebuah kisah, Gadis Kecil. Agar kamu mengerti apa yang telah terjadi. Jika kamu telah mendengar versi yang me-nyesatkan sebelum ny a , maka ini akan meluruskanny a.” Tamus memejamkan mata, seperti sedang memilih kalimat terbaik untuk me-mulai cerita. ”Dua ribu tahun lalu, lahir seorang bayi yang gagah dan tampan. Sejak kecil sudah terlihat sekali betapa besar ke-kuatan anak ini. Tumbu h remaja, beranjak dewasa, pemuda ini me-mutus-kan pergi melihat dunia . Dia ingin belajar apa pun. Dia men-datangi setiap sudut. Tidak puas di Klan Bulan ini, dia mem-buka sekat ke dunia lain. Mendatangi Klan Matah ar i, dunia Makhluk Rendah, bahkan hingga Klan Bintang yang berada di titik jauh. Tidak terbayangkan betapa jauh perjalanan yang per-nah dia lakuka n. ”Saat usiany a dua puluh tahun, terbetik kabar, ibunya me­ning g a l dunia. Pemuda ini bergegas kembali, hanya untuk me-nemu-kan pusara ibunya. Ayahnya memeluknya penuh kesedihan. Itu kabar malang bagi seluruh negeri. Pemuda ini menjadi piatu. Ayahnya kehilangan istri yang amat dia cintai. ”Tetapi dua tahun setelah ibunya meninggal, ayahnya menikah lagi dengan seorang gadis jelita, ke-cantik- annya terkenal di se-luruh negeri. Dan tidak lama setelah pernikahan itu berlangsung, lahir-lah si kecil adik tiriny a. Pemuda gagah ini kembali me-ngunjungi banyak tempat, dia tahu kabar bahagia dari ayah-nya yang kembali menikah, juga tahu kelahiran adik tirinya, tapi dia sibuk belajar untuk melupakan kesedihan karena mengin g at ibu-nya. ”Usia empat puluh tahun, pemuda ini telah menjad i seseorang yang begitu lengkap. Wajah ny a gagah, perawakannya memesona, ilmuny a tingg i, dan kekuatan yang dimilikinya tidak terbilang. Dia adalah putra pertama ayahnya, maka bahkan tanpa se-mua kehebatan itu, dia jelas lebih berhak mewarisi apa pun yang dimiliki ayahnya, termasuk mahkota raja. ”Tapi apa yang terjadi? Ayahnya yang sepuh, sakit­sakitan, justru menunjuk adik tirinya. Keputusan yang mengejutkan se-luruh negeri. Pemuda ini datang menghadap ayahnya, me-minta penjelasan. Ayahnya

asi.com

TereLiye “Bumi” 353

menggeleng, keputusan itu telah bulat, ayah-nya telah memilih pengg a nt i terbaik. Marah sekali pemuda ini. Dia hendak berteriak marah, tapi demi mengingat ibunya, se-luruh kebaikan ayahnya, dia memutuskan menga la h . Maka sejak hari itu, pemuda ini sekali lagi pergi meninggalkan negeri, me­netap di tempat jauh, dan semua orang memanggilnya ‘Si Tanpa Mahkota’. ”Kamu harus tahu, siapa yang jahat dalam situasi ini? Bukan ayahny a, tapi ibu tirinya yang tamak dan ambisius. Dia mem-bisiki suaminya yang telah tua, sakit-sakitan, tidak cakap meng-ambil keputusan, dengan bisika n beracun setiap hari, sehingga ayahnya buta penilaian, menjad ikan si kecil, si bungsu yang tidak becus dalam hal apa pun, sebagai raja. Lihatlah, masih persis se-perti remaja manja, berada di bawah ketiak ibunya. Tapi ke-putusan ayahnya sudah bulat, maka sejak hari kematian ayahny a, kerajaan resmi dipimpin oleh adik tirinya. ”Si Tanpa Mahkota memutuskan hidup tenang di tempat jauh, menekuni ilmu pengetahuan. Pengikutny a banyak, orang yang menyata ka n kesetiaan padanya terus bertambah. Apa-lagi dengan keadaan negeri yang kacau-balau karena ibu tirinya justru lebih asyik hidup bermewah- m e w a h dan memaksa pen-duduk mengongkosi kemewahan tersebut. ”Hanya soal waktu, orang­ orang semakin mencintai si Tanpa Mahkota, dan sebaliknya, membenci Raja. Melihat situasi itu, ibu tiriny a merasa terancam, mahkota anaknya dalam posisi teranca m. Jahat sekali hati yang dimiliki wanita jelita itu, maka dia melepaskan berita bahwa si Tanpa Mahkota dan pengikutnya adalah pengkhianat besar, mereka orang tamak yang haus ke-kuasa-an, penjahat yang menekuni pengetahuan gelap dari dunia lain.” Tamus diam sejenak, menatapku tajam. ”Kenapa, Gadis Kecil? Versi yang kamu dengar tidak seperti itu?” Tamus tertawa. ”Terlalu banyak dusta yang ditulis dalam buku sejarah, Nak. Bahkan kamu sendiri tahu, cerita ini sama sekali tidak ada dalam buku sejarah, hanya ada dalam dongeng, kisah yang disampa ika n lewat nyanyian.

asi.com

TereLiye “Bumi” 354

”Lihat, aduh, lihatlah Itu si Tanpa Mahkota berdiri gagah Dia adalah pemilik kekuatan paling hebat Menjelajah dunia tanpa tepian Untuk tiba di titik paling jauh Bumi, Bulan, Matahari, dan Bintang Ada dalam genggam an tangan.”

Tamus menyany ikan potongan lagu itu dengan suara serak. Lantas terkekeh lagi. ”Pertempuran pecah di seluruh negeri. Raja dan ibunya yang tamak mengirim pasukan untuk menangkap si Tanpa Mahkota. Segala cara dilakukan ibuny a, termasuk menutup langit dengan asap pekat agar bulan tidak terlihat, karena itu sumber kekuatan Klan Bulan terbesar. Tetapi mereka keliru, kekuatan si Tanpa Mahkota lebih besar dari yang diduga, dia justru berhasil me-naklukkan istana, mengambil alih kerajaan. Mereka terusir, mengungsi. ”Setelah berbulan­ bulan tinggal di tempat pengungsian, ibunya yang tamak mengirim anakny a untuk berdamai, meminta peng-ampunan. Si adik tiri datang ke istana menyerahkan diri. Tapi itu dusta! Itu jebakan maut. Ketika si Tanpa Mahkota hendak me-meluk adikny a, tanpa rasa malu, adikny a mengangkat Buku Ke-matian, mem-buka sekat menuju petak kecil yang disebut pen­jara ’Bayang­ an di bawah Bayangan’. Si Tanpa Mahkot a terseret dalam lubang itu, terperangkap, dan berhasil disingkir ka n se-lama- lamany a. ”Seribu tahun berlalu sejak kejadian itu, semua orang lupa. Tidak ada catatan sejarahnya. Pihak yang menang selalu bisa menulis sendiri sejara h yang diinginkannya. Maka pengikut yang masih setia dengan si Tanpa Mahkota mewariskan kisah itu lewat lagu, dongeng pengantar tidur, tanpa tahu itulah bukti ke-benaran. Seribu tahun berlalu,

asi.com

TereLiye “Bumi” 355

kekuasaan si bungsu semakin besar, ibunya yang tamak semakin kuat, maka tibalah mereka dengan ide menguasai dunia lain. Tidak merasa cukup atas Klan Bulan. ”Aku Panglim a Pasukan Bayangan saat itu, pemimpin delapa n panglima lainny a. Usiaku masih muda, seratus tahun. Raja memanggi lk u , memintaku memimpin penyerangan ke dunia lain, menguasai dunia Makhluk Rendah. Aku bertanya, bagai- mana sekat itu akan dibuka? Ra ja mengacungkan Buku Ke-mati-an yang dia miliki. Aku masih terlalu muda, dan dengan janji gelimang kekuasaan, dijanjikan menjadi raja di dunia itu, tunduk dalam perintah mereka, aku membantu rencana Raja dan ibuny a . Adalah tugasku sebagai Panglim a untuk setia pada Raja. Tapi banyak yang menolak rencana gila itu. Av salah satu-nya, juga ayah Tog, Panglim a Timur saat itu. Mereka meminta bantuan Pasuk-an Cahaya dari Klan Matah ar i. Pertempuran besar me-letus. ”Raja dan ibunya yang tamak terbunuh, puluhan ribu Pasuk- a n Cahaya tewas, apalagi Pasukan Bayangan, tidak terhitung. Kami kalah pengetah uan dan teknologi dibanding mereka. Pasukan Cahaya kembali ke dunia mereka, mengunci seluruh sekat. Keraja- an hancur lebur. Pendu d u k memutuskan untuk mem-bentuk Komite Kota sebagai penguasa baru. Aku? Av dan ayah Tog tidak pernah tahu intrik politik sebenarny a. Mereka hany a memahami kulit luarnya saja, bahwa aku penjahat- nya. Bahwa aku akal keji dari seluruh rencana itu. Ke-nyataanny a? Tidak sama sekali. Aku korban ambisi. Apa dosany a dengan setia pada raja? Bahkan aku tidak tahu bahwa dia seharusny a tidak pernah jadi raja.” Tamus menghela napas berguguran di sekitar kami.

perlahan,

yang

membuat

butir

salju

”Siapa pun yang memenangkan pertempuran, maka dialah yang menulis catatan sejarah. Aku adalah pihak yang kalah pe-rang, melarika n diri, memutuskan mulai mempelajari banyak buku tua, catatan- cata ta n lama, hingga akhirny a aku tahu ke-benaran itu. Si Tanpa Mahkota adala h orang yang paling berhak menguasai dunia ini. Aku adalah korban ambis i raja palsu dan ibunya yang tamak.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 356

”Kamu bohong!” Aku akhirny a bisa berseru, memotong pen­jelas a n Tamus. ”Oh ya? Aku berdusta? Gadis kecil lima belas tahun, denga n pengetah uan dangkal, menuduhku berdusta?” Tamus tertawa, dia melangkah mendekati Miss Selena, mengangkat tanganny a. Tu-buh Miss Selena yang meringkuk mengambang, lantas berganti posisi menjadi dudu k . Tamus mengulurkan tangan, menebas pelan jaring perak di mulut Miss Selena. ”Kamu tanyakan pada guru berhitungm u ini, Gadis Kecil. Apa­ kah cerita versiku yang benar atau cerita versi lain?” Aku menatap wajah lebam Miss Selena. Hatiku teriris me-lihat kon dis i Miss Selena. Jaring perak itu membuatnya sama sekali tidak bisa bergerak, bahkan menoleh pun tidak. Dia hanya bisa membuka mulut. ”Ayo! Tanyakan kepada gurumu ini!” Tamus membentakku. Aku gemetar menahan rasa marah dan sedih. Andai saja tenaga k u pulih, akan kupukul sosok tinggi kurus ini. ”Dia benar, Ra.” Suara Miss Selena terdengar pelan. Aku menoleh. Apa yang dikatakan Miss Selena? ”Seluruh ceritany a benar.” Miss Selena menatapku, mata itu terlihat bengkak. Astaga! Aku tidak percaya. ”Tapi kamu sama saja seperti mereka, Tamus.” Miss Selena susah payah terus bicara, suaranya pelan sekali. ”Dengan pen­jelasan itu, denga n semua kejadian menyedihkan itu, bukan berarti kamu berhak memba la s siapa pun.” Aku menatap Miss Selena. Tidak mengerti.

asi.com

TereLiye “Bumi” 357

”Kamu sekarang sama jahatny a seperti Raja dan ibunya. Kamu mengintim idasi, mengancam, bahkan membunuh orang- orang yang berseberangan dengan rencanamu. Anak-anak ini, bahkan kamu enteng saja akan membunuh mereka jika tidak me-nuruti keinginanm u. Kamu ingin mengembalikan si Tanpa Mahkota melalui jalan penuh darah, dan tidak ada yang men-jam in apakah si Tanpa Mahkota akan kembali dengan baik atau dia akan membenci seluruh klan ini, membalas semua orang, sama persis seperti yang kamu lakukan. Kamu sama jahatnya dengan Raja dan ibuny a yang tamak.” Tamus tiba-tiba menampar Miss Selena. Tubuh Miss Selena terbanting ke lantai. Aku berseru. Seli yang terbaring di lantai pualam ikut ber-seru. Ali hanya meringkuk, entah apakah dia masih pingsan atau tidak. ”Tutup mulutm u, Selena! Lancang sekali kamu mengajar ik u , seseorang yang mendidikm u sejak kecil, kamu ajari tentang mora-lit a s , hah?” Tamus menggeram . Aku berontak, panglima itu kokoh.

hendak

melepaskan

diri,

tapi cengkeram an

dua

”Aku menyesal menjadi muridm u, Tamus,” Miss Selena ber­seru dengan suara bergetar. ”Aku menyesal. Dulu aku sangat per­caya kamu memang berniat baik. Kamulah yang berkhianat.” ”Sekali lagi kamu bicara, aku akan menghancurkan kepalamu,” Tamus membentak. Ruangan besar itu lengang sejenak. Napas Miss Selena ter-sengal pelan. ”Ceritaku belum selesai, Gadis Kecil.” Tamus menatapku lagi. ”Ceritaku bahkan baru saja dimulai. Dan jika kamu membenci versi ceritaku , tidak mau memercay ainy a, maka kamu harus me-nerim a kenyataa n menyakitkan, kamu adalah bagian dari cerita itu. ”Kenapa kamu sejak usia dua tahun sudah bisa menghilang? Karena di tubuhmu mengalir darah petarung terbaik seluruh Klan Bulan.

asi.com

TereLiye “Bumi” 358

Ketika Raja lama wafat, dia memberikan dua buku kepada dua anakny a. Satu buku dengan sampul ber-gambar bulan sabit menghadap ke bawah, dipili h sendiri oleh istri-nya yang culas, Buku Kematian, yang digunakan anakny a yang licik untuk memenjarakan kakak tirinya. Satu buku lagi, di-berika n kepada kakak tirinya tersebut, Buku Kehidupan. Si Tanpa Mahkota. ”Maka inilah rahasia besarnya. Sebelum dia dilemparkan dalam penjara Bayangan di Bawah Bayangan, si Tanpa Mahkota telah menik a h , memiliki seorang putra. Setelah kejadian itu, peng-ikut setia si Tanpa Mahkota mengirim pergi putranya ke dunia lain agar tidak dibunuh Raja dan ibunya. Dua ribu tahun berlalu, garis keturunan itu tetap terjaga di dunia Makhluk Ren-dah. Kamu adalah cucu dari cucu cucunya si Tanpa Mahkot a . Orangtuamu adalah Klan Bulan, mereka meninggal saat kamu masih bay i dalam sebuah kecelakaan. Di dunia hina itu orang- orang sayangny a tidak menggunakan lorong berpindah, tapi memilih benda mati yang diseb ut pesawat terbang. Kamu se-lamat, dan dititipkan kepada orangt u a m u sekarang.” Aku menahan napas mendengar penjelasan Tamus. ”Buku ini, Buku Kehidupan, adalah milik kakek dari kakek kakekmu , si Tanpa Mahkota. Dulu dia menghabiskan banyak waktu mempelajariny a , menyingkap misteri kehidupan. Buku ini dipenuhi kebaika n, mengembalikan yang telah pergi, menyembuh-kan yang sakit, menjelas ka n yang tidak dipaham i, melindungi yang lemah dan tidak berdaya. ”Maka malam ini,” Tamus mendongak, menatap langit­la n g it ruangan, tertawa, ”malam ini, buku ini akan mengembalikan si Tanpa Mahkota. Kamu akan melakukannya untukku, Gadis Kecil. Kamu ak an melakukannya untuk kakek dari kakek kakek-mu sendiri. Dia akan bangg a melihatm u membawanya pu­lang.” Tamus mendekatiku, lantas tanganku.

meletakkan buku itu di gengga m – a n

”Jangan lakukan, Ra!” Miss Selena berkata serak. Aku menoleh.

asi.com

TereLiye “Bumi” 359

”Jangan lakukan.” Miss Selena meringkuk kesakitan. ”Kamu akan mengembalikan orang yang dua ribu tahun telah pergi. Dia bisa menja d i ancaman bagi seluruh empat dunia.” Tamus terkekeh. ”Aku tahu ini tidak akan mudah. Jadi aku su­ dah menyiapkan rencana cadangan agar kamu bersedia melaku­kanny a.” Tamus mengeluarkan sebuah buku dari balik pakaian gelap- nya. Buku dengan sampul bulan sabit menghadap ke bawah. Tamus mengangkat Buku Kematian, lantas bergumam pelan. Seketika, di depanny a terbentuk sebuah lubang. Awalny a kecil, tapi lama-kelamaan membesar setinggi orang dewasa. Pinggir lubang itu seperti awan pekat berpilin, dengan butiran salju runtuh. Di dalam lubang hanya kosong, gelap, tidak terlihat apa pun. Tamus memandangku dengan tatapan mengancam. ”Aku bukan pewaris buku ini, aku justru mencuriny a dari tubuh Raja yang tewas. Tapi setelah berpuluh tahun mempelajarinya, aku tahu cara menggunakanny a . Kamu dengarkan aku baik-baik, Buku Kematian hanya bisa membuka sekat menuju penjara Bayangan di Bawah Bayangan, tapi tidak sebaliknya. Nah, aku sudah membuka lorong menuju petak itu.” Tamus menatapku semakin serius. ”Gadis Kecil, sekarang gilir­ a nm u yang akan membuka jalan pulang dari penjara itu ke dunia ini. Hany a bukumu yang bisa melakukannya.” Aku menggeleng, tidak mau melakukanny a. ”Malam ini, semua harus berakhir, Nak.” Napas Tamus men­ der u dingin di wajahku. ”Jika kamu menolak membuka lorong itu, memba w a pulang si Tanpa Mahkota, maka aku akan me-ngir im siapa pun di sini yang kamu sayangi ke penjara tersebut.” Aku menggeleng semakin kuat. ”Baik! Kamu yang memilihnya sendiri. Jangan salahkan siapa pun.” Tamus mengangkat tangan, tubuh Miss Selena langsung mengamb a ng . Tangan Tamus bergerak mendorong, dan tubuh Miss Selena juga bergerak, menuju lorong gelap pekat. ”Yang per­tama adalah guru berhitungmu.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 360

Seli di sebelahku menjerit. Aku menggigit bibir. ”Kamu lakukan, atau aku lempar gurumu ini ke penjara tanpa kehidupan. Dia tidak akan pernah bisa pulang, kecuali kamu bukaka n lorongny a.” ”Aku tidak tahu cara melakukanny a!” aku berteriak parau, suaraku panik. Tamus menggeleng. ”Kamu pewaris buku itu, kamu tidak perlu tahu caranya. Dia menuruti perintah yang diberikan tuan­nya.” ”Jangan lakukan, Ra. Kumohon!” Miss Selena yang me­ng­amb a n g dua meter dari lorong gelap berseru serak. Aku menggigit bibir. Apa yang harus kulakukan? ”Sepertiny a aku harus memberikan motivasi tambahan.” Tamus menatapku. ”Baiklah. Aku akan menghitung hingga se­puluh, Gadis Kecil. Sama seperti ketika aku melatih mu lewat cermin itu.” ”Sepuluh!” dia mulai menghitung. Tanganku gemetar memegang buku PR matematikaku. Dua Panglim a Pasukan Bayangan masih mencengkeram bahuku. ”Sembilan!” ”Jangan lakukan, Ra,” Miss Selena berkata pelan. Aku tahu, dia susah payah mengeluarkan suara. Miss Selena memaksakan diri dengan seluru h rasa sakit. ”Delapan!” Tamus terus menghitu ng. Apa yang harus kulakukan? ”Tujuh!” Lubang hitam pekat itu terlihat mengerikan. Jarak Miss Selena hany a dua meter dariny a. Aku menatap gentar.

asi.com

TereLiye “Bumi” 361

”Enam! Waktumu semakin sempit, Gadis Kecil.” Aku mulai mate-matikaku.

panik.

Tanganku

mencengkeram

buku

PR

”Lima!” Seberkas cahaya keluar dari buku yang kupegang. ”Empat! Bagus sekali, buku itu menuruti apa yang kamu pikirkan.” Apa yang telah kulakukan? Aku mengelu h tertahan. Cahaya itu merambat keluar dari bukuku, lantas membentuk lubang kecil terang benderang di depan kami, yang terus membesar. Aku menginginkan Miss Selena selamat. Buku yang kupegang menuruti perintahku, tanpa bisa kucegah dia mulai membuka lorong menuju penjara Bayangan di Bawa h Bayangan. Tetapi aku tidak ingin membukanya. ”Tiga! Lebih besar lagi!” Tamus terus menghitu ng. ”Jangan lakukan, Ra! Biarkan aku yang pergi,” Miss Selena berseru. Aku gemetar memegang buku PR matematikaku. Aku tidak ingin membuka lorong itu. Aku hanya ingin Miss Selena se-lamat. Lubang denga n cahaya terang benderang itu semakin besar, sedikit lagi sempurna sudah bisa dilewati. ”Dua!” Tamus tertawa penuh kemenangan. Tidak! Aku tidak akan membuka lorong itu. Aku menggeleng panik . Aku tidak akan membukany a demi Tamus. Aku berseru parau. Di detik terakhir, sebelum lorong itu sempurna terbuka, aku melepaskan buku PR matematikaku. Buku itu jatuh ke lantai pualam, dan lubang dengan cahay a terang itu lenyap seketika. Tawa Tamus bungkam. Dengan marah dia menepis tangannya ke depan, dan tubuh Miss Selena langsung meluncur, terseret ke dalam lubang gelap pekat. ”Miss Selena!!” aku berteriak panik.

asi.com

TereLiye “Bumi” 362

Ali juga berteriak. Ternyata dia sudah siuman sejak tadi. Dia beranja k duduk. Tetapi tubuh Miss Selena yang meluncur ke dalam lubang terhenti, ada aliran listrik yang merambat di tubuhny a. Seli! Dengan posisi duduk, Seli mengangkat tanganny a, ber-usah a menahan tubuh Miss Selena dari jarak jauh, meng-gunakan kekuatanny a. Tangan Seli gemetar, wajahnya meringis menahan sakit. ”Biarkan saja!” Tamus mencegah salah seorang Panglim a Pa­suk­ ­ an Bayangan yang hendak menghentikan Seli. ”Dia tidak akan kuat menahannya.” Tamus menatap Seli. ”Dan ini semakin menarik.” Apa yang dikatakan sosok tinggi kurus menyebalkan ini benar, Seli tidak kuat menahan tubuh Miss Selena. Seli justru sekarang terangkat dari lantai pualam. Tubuh Miss Selena mulai terseret ke dalam lorong pekat gelap. ”Kamu sendiri yang memintany a. Jangan salahkan siapa pun, Gadis Kecil.” Tamus menatapku. Situasi semakin kacau. Seli mati-matian mengerahkan tenaga tersisa. Sarung tanganny a bersinar redup, berusaha me-nahan tubuh Miss Selena . Sejenak Seli bisa kembali duduk, tapi hanya sebentar. Tubuhny a segera terangkat, dan kali ini lebih cepat. ”Hentikan!” aku berteriak panik. ”Tidak ada yang bisa menghentikanny a, Gadis Kecil.” Tamus ter­tawa. ”Guru berhitungmu dan teman terbaikmu akan terseret ke dalam lorong itu. Maka kita lihat, apakah setelah itu kamu akan bersedia membuk a ka n jalan pulang untuk mereka.” ”Lepaskan aku, Seli!” Miss Selena berseru, tubuhny a sudah masuk separuh ke dalam lorong. ”Aku tidak akan melepaskan Miss Selena!” Seli meraung.

asi.com

TereLiye “Bumi” 363

Aku berontak, hendak melepaskan diri dari cengkeraman tanga n Panglim a Pasukan Bayangan. Mereka sebaliknya, meme-ga ng-ku lebih kokoh. Tubuh Seli sudah naik satu meter. Hany a soal waktu, di detik kapan pun, saat dia tidak kuat lagi, dia dan Miss Selena akan diseret habis oleh lubang pekat gelap itu. ”Hentikan! Aku mohon! Aku akan melakukan apa pun yang kamu minta!” Tamus menggeleng. ”Sudah terlambat, Nak. Kita akan me­mak a i rencanaku. Hanya dengan begini kamu benar-benar ber-sedia membu k a lorong itu untukku. Dan ini jadi semakin me-narik, karena setelah kamu membuka lorong itu, boleh jadi si Tanpa Mahkota tidak mengizinkan guru dan temanmu itu pu­lang.” Aku menggigit bibir, menangis. ”Aku mohon. Hentikan…” Lihatlah, tubuh Miss Selena sudah terseret semakin dalam, dan Seli ikut bersamanya. ”Aku mohon, siapa pun yang bisa menolong, tolong hentikan se­ mua ini.” Tamus bersedekap, menonton.

asi.com

TereLiye “Bumi” 364

AAT itulah, ketika sepertinya tidak ada lagi bantuan yang datang , dari tengah ruangan terdengar teriakan marah. Tapi itu bu-kan teriaka n manusia. Itu raungan hewan buas. Seperti b-e-ruang besar yang sedang amat marah. Kami menoleh ke sumber suara. Aku tidak pernah menduga. Bahkan Tamus boleh jadi tahu bahwa Makhluk Rendah juga memiliki kekuatan ter-baik Mereka tidak menghilang, mereka juga tidak meniti mengeluarkan petir. Mereka menggunakan naluri bertahan primitif, tapi sekaligus paling me-ngerikan.

tidak pernah alamiah ny a . cahaya atau yang sangat

Ali, tubuh Ali membesar berkali-kali lipat. Dia meraung lagi, lebih kencang dan mengerikan, membuat dinding ruangan ber-getar. Tanga nny a membesar, kakinya membesar, dan seluruh tubuh- nya dibungkus denga n cepat oleh bulu tebal berwarna hitam. Hanya dalam hitungan detik, Ali berubah menjadi beruang denga n tinggi badan menyentuh langit- langit ruangan. Kuku-kuku panjang dan tajam muncul. Tangannya bahkan sebesar orang dewasa. Matany a merah. Taring berlumuran ludah keluar dari mulutny a. Ali meraung, membuat langit-langit berguguran. Belum habis suara raunganny a, tangan kanan Ali menyambar Tamus, seperti memukul bonek a , Tamus terlempar jauh. Satu tangan berbulu tebal hitam itu meraih Seli dan Miss Selena , melempar mereka ke dinding seberang, menye-lamatkan mereka dari lorong gelap. Lima Panglim a Pasukan Bayangan berseru—termasuk Stad yang telah pulih. Mereka loncat, menghindari pukulan dari be-ruang besar yang mengam uk. Lima Panglim a Pasukan Bayangan tiba-tiba menghila ng , kemudian muncul di sekitar tubuh Ali, mengirimkan pukulan mematik a n, berdentum. Lima dentum- an kencang.

asi.com

TereLiye “Bumi” 365

Beruang itu meraung marah, terhuyung sebentar, tapi segera me-mukul dua orang paling dekat. Dua Panglim a Pasukan Bayang- a n terpelanting kencang. Stad berusaha memukul wajah beruang besar, tapi Ali meninjunya lebih dulu. Stad terbanting ke dinding, jatuh ke lantai puala m , kaki besar Ali menginjaknya. Dua Panglim a Pasukan Bayangan lainny a lompat mundur, meng- hilang, dan mun-cul di sudut ruangan dengan wajah pucat. Tamus berusaha bangkit. Dia jelas tidak menduga hal ini akan terjadi, wajahnya merah padam. Tangan kirinya masih me-megang Buku Kematia n, lubang menuju penjara Bayangan di Bawah Bayangan itu masih terbuka. Tiba-tiba tubuh Tamus menghilang, dan muncul di de-pan Ali. Tamus berteriak, mengirim pukulan. Beruang besar itu ter-banting ke belaka ng , menabrak dinding, membuat retak besar. Aku menjerit ngeri. Itu pukulan yang amat keras. Ali meraung marah. Tubuh Tamus menghilang lagi, lalu muncul di samping Ali. Tamus mengirim pukulan kedua. Beruang besar itu terbanting lagi, terduduk. Dua panglima lain yang merasa Tamus kewalahan mengatasi beruang besar itu, loncat hendak ikut mem-bantu. Tubuh Tamus menghilang lagi, muncul di atas kepala Ali. Tapi dia keliru, kali ini tangan Ali sudah sejak tadi menunggu- ny a. Sebelum Tamus sempat melepaskan pukulan, Ali sudah menyambarny a. Jemari besar Ali yang berbulu men-cekik Tamus hingga dia tidak bisa bergerak, apala g i melepas pukulan. Ali meraung ke depan, meninju dua Panglima Pasukan Bayang- – a n lainnya dengan tangan kiri. Dua panglima itu terpe-lanting. Kaki- kak i beruang besar bergerak cepat menuju tengah ruangan, tangan kananny a masih menggenggam badan Tamus. Sebelum Tamus menyusun rencana dan berhasil membebaskan diri, bah-kan sebelum dia tahu apa yang akan dilakukan Ali, ta-ngan besar beruang itu sudah melemparkan tubuhny a ke lorong gelap.

asi.com

TereLiye “Bumi” 366

Tamus berteriak parau. Suaranya terdengar penuh kemarah-an. Tapi terlambat, tubuhny a sudah masuk, terseret ke dalam lorong. Lubang itu mengecil, kemudian hilang. Ali meraung, panjang dan kencang. Aku sampai menutup teling a , tidak tahan mendengarnya. Seli memeluk Miss Selena. Langit-la n g it ruangan berguguran. Dua Panglim a Pasukan Bayang–an yang masih mampu berdiri terduduk di lantai pualam, menatap ngeri. Semua telah berakhir.

asi.com

TereLiye “Bumi” 367

V, Ilo, Tog, dan beberapa orang muncul di ambang pintu. Aku yakin, ketika Ou tidak menemukan kami di kamar, Av segera tahu harus mencari ke mana. Mereka me-mutuskan me-nyusul kami, membatalkan pertemuan. Mereka berseru cemas melihat seluruh ruangan. Seli memeluk Miss Selena, bersandarkan dinding sebelah kiri. Aku di tengah ruang a n, mendongak menatap beruang besar yang masih meng-gerung marah. Cakar besarnya bergetar, menggaruk lantai pualam. Stad entah apa yang terjadi dengannya, tergeletak, injak-an beruang besar tadi membuatny a terkapar tanpa bergerak. Dua Panglima Pasukan Bayangan lain yang terkena hantaman tangan besar Ali, meringkuk tidak bergerak. Yang lain masih ter-duduk dengan wajah pucat. Tubuh Ali mulai menyusut. Tangan, kaki, dan seluruh tubuh-ny a yang dipenuh i bulu tebal kembali ke ukuran semula, lantas tergeletak lemah di atas lantai pualam. Ilo berlari mendekati kami, disusul oleh Av. ”Kamu baik­baik saja, Ra?” Ilo memegang lenganku, panik. Aku mengangguk. Av melepas jubah yang dipakainya, menutupi tubuh Ali. ”Miss Selena, mem-beritahu.

dia

butuh

pertolongan,”

aku

berkata

pelan,

Av mengangguk, lalu segera berlari mendekati Miss Selena. Tangan Av memutus jaring perak dengan cepat—yang lebih mudah dirobek setelah Tamus terlempar ke lorong gelap. Av menyentuh leher Miss Selena , konsentrasi penuh mengeluar-kan seluruh tenaga penyembuh an yang dia miliki.

asi.com

TereLiye “Bumi” 368

Tog, dan beberapa Ketua Akademi yang menyertainya, men-deka t i Stad dan empat Panglima Pasukan Bayangan. Dua Panglim a yang masih bisa berdiri tidak melawan, mereka me-nyerah. Aku merangkak mendekati Ali yang diselimuti jubah Av. Mata Ali terbuka, menatapku lemah. ”Apa yang terjadi, Ra?” ”Kamu tidak ingat apa yang terjadi?” ”Entahlah. Kepalaku pusing. Aku tidak bisa mengingat apa pun. Tiba-tiba semua gelap. Tubuhku seperti melayang, lantas luruh denga n seluruh badan terasa sakit.” Aku tersenyum. ”Kamu baru saja membuktikan teori ikan buntal, Ali.” ”Ikan buntal?” Ali menatapku bingung—sepertiny a mengetahui dia baru saja berubah menjad i beruang be-sar.

dia

tidak

Aku mengangguk. Ali sendiri yang menjelaskan, ketika ter-desak, panik, seekor ikan buntal akan menggelem bung besar, berkali lipat ukuran asliny a, duri-durinya berdiri tajam. Ikan buntal mewarisi gen spesial itu. Kekuatan spesial. ”Apakah Seli dan Miss Selena baik­baik saja?” Ali bertanya. ”Mereka baik­baik saja,” Av yang menjawab, melangkah men­dek at i kami. ”Miss Selena kondisinya serius. Terlambat be­berapa detik saja, dia tidak bisa diselamatkan lagi, tapi dia akan sembuh. Sebentar lagi dia sudah bisa duduk dan bicara normal. Seli hanya terluka kecil, tubuhny a akan pulih sendiri dalam hitung–an menit. Boleh aku memeriksamu?” Ali mengangguk. Av menyentuh leher Ali, mengalirkan sentuhan hangat selama tiga puluh detik. ”Kamu telah merusak ruangan favoritku, Ali.” Av melepas ka n tanganny a. ”Di ruangan ini terdapat novel­nov el terbaik seluruh negeri. Aku paling suka menghabiskan waktu di sini.”

asi.com

TereLiye “Bumi” 369

”Aku merusak apa?” Ali beranjak duduk, masih berselimutkan jubah. Dia menatap sekitar dengan bingung. Dinding ruangan dipenuhi lubang dan cakaran. Juga lantai pualam, ada bekas cakar dalam di dua tempat. Langit-langit runtuh di sudut-sudut-nya. Av mengangkat bahu. ”Kamu berubah menjadi beruang besar, Ali. Aku sempat me-nyaksikannya meski di detik terakhir. Beruang besar yang me­lemparkan Tamus ke dalam lubang gelap. Kamu tidak ingat?” Ali sekali lagi menatap kami bergantian, dia juga menatap jubah yang menyelimutiny a, tidak mengerti ke mana pakaian gelap-ny a. Aku dan Av saling tatap. Masih banyak sekali masalah yang harus diselesaikan, di luar penjelasan kepada Ali bahwa dia tadi tiba-tiba menjad i beruang besar. T og menangkap Stad dan Panglima Pasukan Bayangan yang membelot. Puluh a n anak buah Tog menyusul masuk ke da-lam ruangan. Pertikaian politik itu telah selesai. Akan ada ba-nyak pekerjaan bagi Tog, termasuk memulihk a n Komite Kota. Av juga harus mengurus perpustakaan besarnya. Dengan separu h gedung hancur, akan butuh waktu lama untuk mem-perbaiki dan mengembalikan kemegahan Perpustakaan Sentral, belum lagi ratusan ribu koleksiny a yang rusak.

Aku mendekati Miss Selena yang sudah bisa duduk. Tubuh-ny a lebam dan terluka. Baju gelapny a robek di banyak tempat, tapi wajahny a mula i bercahaya. Aku lompat memeluk guru matematikaku itu erat-erat. ”Terima kasih, Ra,” Miss Selena berbisik. ”Aku yang harus bilang terima kasih. Terima kasih ba­nyak, Miss Selena.” Seli sekali lagi ikut memeluk Miss Selena. Kami bertiga berpelukan. Masih banyak hal yang harus kami lakukan di dunia ini, tapi kami bisa pulang. Miss Selena bisa membuka portal me-nuju kota kami. Juga ada banyak yang bisa kami tanyakan ke-pada-ny a, Miss Selena yang

asi.com

TereLiye “Bumi” 370

sengaja mengum pulkan kami ber-tiga di se-kolah, dia menyimpan banyak penjelasan yang kami butuhkan. Dan setelah kami pulang ke kota kami, akan lebih banyak lagi hal yang harus diselesaikan. Gardu trafo yang meledak. Bangun-an sekolah yang runtuh. Kecemasan orangtua kami selama ber-hari- hari. Klub Menulis Mr. Theo. Rencana Mama mengadakan arisan di rumah, masalah mesin pencacah di pabrik tempat Papa bekerja. Termasuk yang sangat penting , bagaimana aku akan bertanya tentang orangtua asliku kepada Mama dan Papa. ”Kita akan menyelesaikanny a bersama, Ra. Jangan cemas.” Miss Selena masih memelukku. Aku dan Seli mengangguk. ”Kalian membicarakan apa?” Ali ikut mendekat, menjadi­kan juba h Av seperti kain, melilit tubuhnya hingga ke-tiak. ”Membicarakanm u,” aku menjawab sambil nyengir. ”Aku?” ”Iya, kenapa kamu malas sekali mengerjakan PR matematika selam a ini, dan terpaksa diusir Miss Selena ke lorong kelas.” Ali menggaruk rambut berantakanny a. Aku, Seli, dan Miss Selena tertawa. Saat matahari semakin tinggi, kami meninggalkan ruangan itu diserta i Ilo, Tog, dan anak buahny a. Lorong berpindah telah di-aktifkan, kami bisa segera menuju Rumah Bulan Ilo. “Aku lupa satu hal,” aku berkata kepada Av. Kami sedang bersiap memasuki lorong berpindah yang dinyala-kan Ilo. Av menoleh kepadaku. “Apa?” tanyanya. Yang lain ikut me­noleh.

asi.com

TereLiye “Bumi” 371

“Aku lupa memberitahu, Tamus membawa Buku Kematian ke lorong gelap tadi. Bagaimana kalau buku itu dikuasai oleh si Tanpa Mahkot a . Bukankah itu berbahaya?”

Apa judul lagu bangun tidur kuterus mandi Tidak lupa menggosok gigi?

JAKARTA, KOMPAS.com – “Bangun Tidur” merupakan salah satu lagu anak populer di Indonesia. Lagu tersebut diciptakan oleh Pak Soerjono atau lebih dikenal dengan nama Pak Kasur.

Bangun tidur ku terus mandi diciptakan oleh siapa?

Lagu tersebut diciptakan oleh Pak Soerjono atau lebih dikenal dengan nama Pak Kasur. Tidak hanya “Bangun Tidur“, Pak Kasur juga telah menciptakan berbagai lagu anak.

Siapa yang menyanyikan lagu Bangun Tidur?

Lagu Anak-AnakBangun Tidur / Artisnull

Berapa birama lagu bangun tidur?

Jawaban. Jawaban: dapat dinyanyikan dgn tempo sedang, dgn birama 2/4 dan 3/4 untuk memberikan kesan yang gembira dan ceria ketika menyanyikan lagu tersebut.



Selengkapnya Disini

Leave a Reply

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *